Saturday, March 28, 2015

Kedashyatan Sang Api di Belanda

Kesalahan setitik memang merusak keseluruhan citra, sebaik apapun image itu. Api yang merah menyala, mulai dari sebuah lilin mungil hingga kembang api raksasa, ditakuti karena bencana-bencana yang terjadi.

Malam itu tanggal 12 Mei 1999; langit dipenuhi gema sukacita warga Belanda yang akan menyambut sebuah abad baru. Harapan dan doa terlontar di seluruh pelosok, dan kota Enschede yang kecil itu tentunya tidak mau pasif. Kebaruan yang telah dinantikan tersebut tentunya harus dirayakan secara besar dan meriah sebagai sebuah keberhasilan dan pencapaian.

Malangnya, tidak semua rencana diizinkan Tuhan. 


 Kepanikan dan jeritan-jeritan histeris mengilukan telinga; saya dapat membayangkan kepanikan yang terjadi.  Selain 947 raga yang terluka, kebuasan berton-ton bunga api yang meledak tanpa ampun juga merenggut nyawa 23 orang tanpa pandang bulu. 

Takut akan sang biang kerok, masyakat lebih was-was dalam penggunaan api ini.

Pada akhirnya, masyarakat menyadari kesalahan standar pengamanan dan tidak ‘nakal’ lagi menyusupkan benda-benda beresiko tersebut secara illegal. Polisi pun lebih sigap dalam bertindak; tanpa segan penegak hukum ini menggunakan bantuan anjing pelacak menghindari terjadinya penyelundupan gelap. Standar keamanan harus diprioritaskan.

Dibalik musibah yang terjadi, bara api juga berperan sebagai bala bantuan.
Makanan yang dingin akan mengurangi hasrat untuk makan, terutama saat cuaca sedang dingin tidak bersahabat. Masyarakat Belanda menciptakan sebuah alat untuk menggoreng, dan mereka menyebutnya dengan istilah braadpan. Perabotan dapur yang bahasa inggrisnya Dutch Oven ini diciptakan tahun 1891 oleh seorang warga kota bunga tulip tersebut; diinisialkan dengan BK.


Peran api dalam teknologi ini tidaklah kecil. Cara penggunaannya, braadpan ini akan diletakkan diatas api dan panas yang disalurkan hingga kelapisan teratas akan mematangkan atau menghangatkan hidangan yang dinanti-nantikan. Tentu saja inovasi ini masih beredar sebagai perabotan dapur yang popular bagi warga Belanda. 

Selain itu, di Belanda juga beredar sebuah alat bernama Stoof atau Foot Stove. Alat ini berupa sebuah kotak kayu dengan lubang-lubang berukuran kecil diatasnya; bertujuan menghangatkan kaki di saat winter; musim turunnya salju. Faktor utama yang menyebarkan rasa hangat tersebut adalah arang yang dibakar. Lagi-lagi, api berperan besar dalam penemuan-penemuan penting.


Kehebatan sebuah teknologi sudah semestinya disertai dengan kewaspadaan. Kejadian-kejadian yang telah terjadi silam ada baiknya dijadikan pelajaran, karena pengalamanlah yang menjadi guru terbaik. Negeri kincir angin, dengan kewaspadaan dan kekritisannya, berhasil menginovasikan api tersebut menjadi sesuatu yang ikonik.  Sang api; simbol kebrutalan dan juga keberanian; berlaku kepada manusia sesuai dengan apa yang dilakukan kepada mereka. 

Apakah kita sudah memperlakukan api dengan kewaspadaan?







Thursday, March 26, 2015

Creativity Is Great, Dear

Dingin.

Hari ini dingin, kemarin dan kemarinnya lagi juga sangat dingin. Rasanya beku sekali, sekujur tubuh dan jiwaku mengeras dalam suhu berderajat empat ini.

Aku melihat jam tangan hitam yang setia menemaniku selama tiga hari terakhir. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, dan aku masih berada disini.

Penantian itu sangat melelahkan, dan tiap sosok yang berlalu-lalang tidak tahu apa-apa mengenai diriku. Beberapa barangkali berujar mengenai ketidakwarasan seorang gadis berambut hitam yang bertengger tanpa lelah di kotak telepon merah di sebuah pojok jalan.



Bulu kudukku sudah berkali-kali melonjak, namun tetap saja aku tak bergeming.

“Kau sudah berdiri ditempat ini terlalu lama. Kami khawatir padamu.”
Balasan yang dapat kuberikan kepada wanita paruh baya tersebut hanyalah sebuah senyuman kecil. Lengkungan bibir yang merupakan perpaduan antara ketulusan dan kepasrahan dalam batin ini sudah kulontarkan berjuta-juta di gang mungil bertempatkan rumah susun ini.

 “Mama akan kembali setengah jam lagi. Tunggu Mama di telepon merah diujung gang ini.”
Mama. Kekhawatiranku padanya sangat besar, ia hanyalah seorang diri dalam kehebohan ibukota kerajaan ini. Tiga hari sudah berulang kali matahari terbit dan terbenam, dan ia tidak kembali. Sumber kehidupanku belum kembali.

Tangisan pilu tidak dapat terkeluarkan lebih lagi. Aku pastinya akan sebatang kara dalam ruangan di lantai dua  bernomor tiga belas tersebut. Kamarku memiliki mesin penghangat, namun tetap kurasakan rasa dingin; kedinginan terparah dalam hidupku.

Mungkin aku terlalu dimanjakan Tuhan, sehingga tekanan yang menimpaku ini terasa sangat mematikan.

Hidupku di Indonesia selalu penuh tawa dan bahagia; orang tua yang menyayangiku apa adanya, seorang bintang kelas di sekolah yang dikagumi sepenjuru kota, peraih sebuah beasiswa di kota London yang sangat percaya diri..
Keberangkatanku ke London dengan Mama tidak mengecewakan, nasihat-nasihat penuh kebijaksanaannya membuatku merasa siap untuk berkuliah di University of London. Gedung kampus yang memiliki keindahan bagai istana membuatku sangat penasaran. Apakah suasana kelas akan menyenangkan atau malah berisikan konflik dan persaingan? Bagaimana dengan perkuliahan yang akan kujalani, dan apa yang harus kulakukan jikaku disingkirkan dalam pergaulan?

“Semua akan lancar saja asal kau lakukan yang terbaik. Serahkan kepada Tuhan, ingatlah bahwa Mama akan selalu menjadi kekuatanmu juga.”

Wanita cantik yang duduk bersamaku di taxi menuju sebuah rumah susun di kota London membelai rambut sebahuku yang sedikit bergelombang. Tanganku yang berkeringat digenggam erat olehnya, dan aku saat itu tidak bisa membayangkan kesendirianku saat Mama akan kembali ke Indonesia yang berkepulauan banyak, negara yang kucintai sepenuh hatiku.

 “Lea, kamu harus segera kembali kerumahmu. Mari kuantar, kau terlihat lelah.” Wanita paruh baya yang tinggal di lantai bawah menjangkau parasku yang tidak mau meninggalkan kotak telepon merah.
Sebuah usapan dipunggung diberikan olehnya, dan kali ini aku tidak sanggup. Gadis yang ceria dan dikagumi teman-teman tidaklah sekuat itu. Batu karang yang berdiri kokoh dan tegar juga bisa runtuh, dan hancur berkeping-keping.

Mama, aku rindu mama yang jahil dan kreatif. Hatiku ingin bertemu Mama yang biasanya selalu mengabari, dan kekuatanku ada padamu.

Madam Kathleen yang baik hati itu memelukku erat dan menggiringku ke rumah diatas tangga. Tangannya yang menuntunku sangat hangat.

“Masuklah ke rumahku terlebih dahulu, aku akan menyiapkan secangkir coklat hangat. Bulan Januari memang cukup dingin, dan aku tahu kamu belum terbiasa dengan iklim di London ini.” Ia menuangkan secangkit coklat hangat untukku. “Kau masih muda, tidak boleh sakit dan harus menjaga kesehatan.”
"Terima kasih, Madam.” Ucapku yang masih penuh duka.  “Dukungan tulus anda sangat berarti, aku sendirian. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

Mom?”

Seorang balita berambut coklat mengintip dari kamar dan menatapku dengan mata bulatnya. Lelaki mungil itu tidak berani menghampiriku; setidaknya itulah yang kuduga dari gestur tubuh mungilnya.

“Clark.” Madam Kathleen berujar sembari tersenyum. “Tidak perlu sembunyi begitu, Kak Lea tidak menggigit.”
Perlahan-lahan ia keluar dan mengendap-endap mendekatiku. Boneka superhero didekapannya diberikannya kepadaku, dan aku memberikan senyumanku kepadanya.

“Selamat malam superhero kecil, aku Lea.”
Bocah bermata biru tersebut membalas uluran tanganku dengan malu-malu.

“Kak Lea mau menjadi model untuk kugambar?”  ucap bibir tipis Clark yang berupaya naik ke sofa kuning di ruang tamu dan menyandarkan dirinya disebelahku. “Teman-teman mengejek, katanya gambarku jelek dan tidak kreatif.”
Aku menundukkan kepalaku sejajar dengan Clark, tidaklah akan kubiarkan bocah ini merasa rendah diri.

“Setiap orang punya gaya kreatifitasnya sendiri, Clark.” Ujarku sembari mengingat kata-kata Mama padaku saatku benci dan kecewa dengan segala hal dalam diriku. “Kau tidak boleh percaya dengan teman-teman yang mengatakan kamu tidak kreatif.”

“Betulkah?” cowok manis berusia enam tahun tersenyum membulatkan matanya. “Aku tidak punya inspirasi untuk menggambar.”
“Kau pernah melihat gambar-gambar abstrak di tembok-tembok di London ini?” Aku berujar sembari menaruh cangkit minuman coklatku yang kini telah tiada. “Orang-orang itu seringkali dianggap gila dan tidak berotak.”

Clark mencondongkan tubuhnya padaku. “Street art, kak?”



“Namun kau tahu kalau ternyata kegilaan itu dipandang dunia saat ini sampai ada pameran mengenai itu?”  
Aku melihat Madam Kathleen yang akan membuka pintu depan yang diketuk.

“Yah, kreatifitas hanyalah masalah sudut pandang, Clark.”
Creativity is great, dear.”

Suara itu.

Mataku membelalak sebesar-besarnya dan aku merinding. Tidak, bukan merinding karena tidak enak badan seperti yang sebelumnya, dan bukan juga karena suhu yang terlalu berderajat terlalu rendah di bulan Januari ini.

“Mama!”
Aku mendapatkan hidupku kembali.

“Kita harus selalu waspada, Lea. Kriminalitas selalu terjadi dimana-mana, ditempat yang terlihat aman sekalipun.”

Mama yang terlihat lemas duduk disofa bersama kami, aku menghangatkan tubuhnya dengan sebuah pelukan erat.
“Untunglah aparat polisi di London ini sangat sigap dan membawa ibumu kembali kepadamu.”

Madam Kathleen terlihat sangat lega dan membawakan handuk dan pakaian baru, warga di London ternyata memang ada yang tulus dan mau membuka hati; kepada pendatang baru sekalipun.
Aku menangis, senang dan kelegaanku berpadu menjadi satu.

“Kreativitas penting, pahlawan cilik.” Mama berujar sembari menatap Clark. “Aku merasakan kenikmatan dari memedulikan hal-hal cantik namun juga mengabaikan hal-hal menyebalkan.”

“Kreatif juga berarti cerdik. Seperti diriku, loloskan diri dari ancaman dengan kreativitas dan kecerdikan.”  Mama berujar sembari mengeluarkan air mata yang sangat memedihkan hatiku.
 “Dalam kasus tertentu, terkadang kita hanya dapat mengandalkan otak kanan kita.”
“Cara yang tidak terpikirkanpun jadi terpikirkan. Kreativitaslah yang membawa mama kembali kepadaku.” Aku yang masih menangis menyenderkan kepalaku dipundak beliau.
Bulan pertama tahun baru yang dingin ternyata tidak berhasil menghancurkan diriku.
Creativity is great, never forget that.”

Tuesday, March 24, 2015

Air; Kehadirannya Memberikan Berjuta-juta Potensi Bagi Negeri Kincir

Setetes air; sesuatu yang dibentuk namun sesungguhnya tidak berbentuk. Bentuk penampang akan menentukan bentuk air tersebut, dan ia tidak akan bisa membentuk dirinya sendiri tanpa uluran tangan sang wadah. Adanya tetesan air tersebut membuat manusia penasaran dan  berpikir lebih dalam. Apakah memang fungsi air hanya sebatas itu?

Belanda merupakan sebuah negara penuh rasa penasaran dan tidak ingin berhenti pada suatu pencapaian; setiap hal tentunya bisa dikembangkan dan bisa fungsikan secara bercabang. Kehadiran air ini membuat negara bunga tulip ini menganalisa potensi-potensi yang ada dan menjadikannya sebagai bantuan tanpa batas.
Air yang jatuh karena pengaruh gravitasi cukup deras dan betul-betul menjadi suatu fenomena yang menarik. Namun betulkah hal itu hanya sekedar untuk tontonan yang cantik saja?

Warga Belanda tidak berpendapat demikian, pengembangan-pengembangan tentunya harus terus terjadi.Tidak puas jika keindahan tersebut menjadi kesia-siaan belaka, maka mereka memanfaatkan keadaan melalui watermolen, suatu inovasi yang memberikan  efisienitas bagi beragam pihak.
Belanda  membutuhkan penggerak untuk pabrik? Bagaimana dengan produksi pertambangan, industri tekstil dan pembuatan bubuk mesiu yang boros tenaga dan apakah ada cara agar penambahan biaya negara bisa diakali?

Kincir air tersebut mengubah air yang jatuh menjadi suatu energi rotasi yang pemanfaatannya dilakukan dengan baik; dan tentu saja penggunaannya tidak dibatasi.  Hal ini merupakan suatu solusi yang brilian bagi kasus tersebut dan tidak membebani pihak-pihak manapun.
Barangkali banyak keluhan warga yang tidak mampu mencukupi persediaan air untuk minum. Kebutuhan manusia yang satu ini memang sangat krusial dan tidak ada manusia yang bisa melawan hukum alam dengan tidak memasukkan cairan ke dalam dirinya.

Seringkali masalah keuangan menjadi faktor penghambat kesehatan banyak orang. Pertanyaannya, mungkinkah inovasi mengurangi beban anggaran masyrakat tanpa membuat mereka kehausan?
Bisa.

Belanda, sama seperti negara-negara di Eropa pada umumnya, menerapkan sistem penyaringan canggih yang menyebabkan sterilnya air yang didistrubiskan ke rumah tangga. Sebagai dampak positif, warga dapat langsung mengonsumsi air berasal dari keran tersebut tanpa merasa cemas.

Memang dibutuhkan modal awal yang cukup besar untuk teknologi seperti ini. Namun jika berdampak positif dan lebih efisien untuk kedepannya, tentu saja tidak ada ruginya untuk mempertimbangkan hal tersebut.
Selain itu, air dapat juga dimanfaatkan sebagai alur untuk menjangkau kota. Hal ini merupakan ciri-ciri kota Amsterdam, yang dapat memanfaatkannya sebagai objek wisata yang banyak diinginkan orang.

Suasana dan sensasi saat ‘menunggangi’ air itu sendiri memang tidak bisa dibeli. Ketenangan, keliaran dan perasaan yang ingin terus mengalir pastinya akan menggejolak dalam batin.

Selama manusia terus berkreasi, ilmu pengetahuan akan terus berkembang dan penciptaan dan strategi-strategi baru dalam penggunaan air ini akan terus berkembang. Masyarakat Belanda, tidak akan berhenti berinovasi dan kehadiran air ini barangkali menjadi suatu ‘wadah’ untuk mengekspresikan rasa penasaran dalam diri.





Saturday, March 21, 2015

My Very Own Fairy Godmother

And they lived happily ever after.

Don't you wish you could be within the happy ending tales; won't it be so freaking cool to meet the prince of your life and grab those kind of happiness in your hands?

I definitely do, I keep on wondering when will these things turn 180 degrees.

At certain times, it is so boring to be ordinary and normal; not the kind of life I wish to live in. I'm not really happy; I am dissapointed of myself for being not good, awesome, special, confident and happy enough. Everyday I give hate on my self for not being outstanding at every aspects I try; the academic grades at campus, my writings, my drawings, my friendship life, my love life..

You know, you listen to those common encouraging messages every time; be yourself, self-acceptance is important, stop pleasing others, and blah blah blah.

Easier said than done.

I know those are right, very truthful. I should do that, I'm learning to do that, I have to do that. Accepting yourself just the way you are is very hard to be done; and one of those external factors causing it because you keep on thinking how people are much, much better than you.

Every smile I give when people tell me about how successful and talented they are is actually a needle destroying my heart more.

 I won't deny that I keep feeling jealousy in my heart every time someone praised anyone but me; and the 'devil' within me starts smirking every time those negative thoughts attack.

This time and this moment, I decided to rule my self from being a ferocious monster killing people within my imagination. It's self torture, and it just give me more dose of jealousy. Being jealous is just a waste of energy; it hurts me more and prevent me from stepping ahead.

No one can control me but myself.

I have to be my own fairy godmother, climbing myself out of the deep hole inside and turn that dark side into a very bright one. I have to release the more mature side of me to help myself.

I need myself to remind me that it's okay. It really is okay.

It doesn't matter whether you get a C for every subjects; it's okay if no one wants you because of your lack of skills. It's okay, you will find people way better everywhere and it's okay to give those attempts to be better.

Don't forget that it is not okay to lie to yourself. Remember to look downwards; there is 'worse' below 'bad'. Start everyday thanking God for being able to see yourself now as a living, thinking human; it's okay to be a human who needs to learn from it's mistakes.

It's okay and it's also not okay, don't forget that.