Tuesday, June 16, 2015

Sweet Dreams!


"Aku bobo dulu, yah."
"Sweet dreams!"

Pernah nggak sih kita bangun dengan deg-degan walaupun udah didoakan mimpi yang indah oleh sang gebetan?

 Nightmare, mimpi buruk yang sering banget jadi beban pikiran kita. Bukannya bermimpi manis, tapi malah 'mencakar' pikiran.

Kalau aku pribadi sih, pernah punya mimpi buruk masa kecil yang entah kenapa nggak terlupakan.

Jadi ceritanya, mamaku menurunkanku dan adikku di sebuah hutan gelap dan ia pergi. Tanpa pamit.

 Aku yang di tinggalkan berdua, dijemput oleh seorang nenek sihir dan dibawa menuju kastil sihirnya.



Aku dijadikan pembantu dan adikku mau dimasak dalam pot besar. Dan aku terbangun saat adikku meronta-ronta dalam cengkraman sang nenek. Klimaks banget deh, pokoknya.

Yah, saat itu aku mikirin banget perihal itu. Aku sering banget sih, mimpi yang aneh-aneh.

Mati karena ketelan permen karet, semua orang yang aku kenal jadi hantu, melihat orang yang tenggelam tanpa ada keinginan menolong, kabur dari dosen-dosen yang mengejarku, sampai pada mimpi mataku yang rusak sebelah.

Aku beberapa waktu terakhir ini ga pernah mimpi lagi. Ini juga karena tugas-tugas kuliah arsitektur yang meminimalisir waktu tidur, I'm literally struggling at it.

Bahkan, Mama sering marahin aku karena bisa nggak tidur sama sekali dalam dua hari.

Mungkin lain kali aku harus bersyukur kalau bermimpi, mau mimpi yang manis maupun yang buruk.

Karena kalau aku bermimpi, itu artinya aku tidur dengan nyenyak. Dan, badanku bisa men-charge dirinya.

Jadi, kalau mimpi buruk, kita bisa apa? Kalau menurutku sih simpel aja, berdoa dan jalani hidup seperti biasa.

Nggak mungkin banget dong, jadi malas-malasan karena mimpi buruk itu?

Hidup adalah dunia yang sebenarnya. Mau semenyenangkan atau seseram apapun mimpi, nggak ada yg bisa menjadikan itu kenyataan.

Yah, dinikmatin saja. Mimpimu adalah dunia milik kamu seorang.

Jangan lupa mendoakan gebetanmu juga untuk mimpi yang indah, yah.

Saturday, June 13, 2015

Coretan Visual Seorang Bocah

Halo,

Setiap orang pernah muda. Setiap orang pernah lahir dan menjadi bayi yang nggak bisa apa-apa, dan kamu juga pasti pernah menjadi seorang anak berimajinasi liar.

Rasanya itu campur-aduk. Kadang ceroboh sehingga melakukan kesalahan yang membuatku diomeli habis-habisan, kadang juga menjadi anak baik yang dipuji kerabat. Bahkan, nggak jarang aku menangis akibat keteledoran dan kepolosanku.

Aku, sebagai seorang bocah, menorehkan imajinasiku pada beberapa buku, aku menyebutnya sebagai Visual Note. Keduanya sahabatku yang bisa kuajak kemana pun aku pergi. Aku bercerita dan tertawa pada mereka, dan sampai saat aku mengetik ini, aku masih bisa merasakan sensasinya.


Biarkan aku cerita sedikit tentang goresan sang bocah ini.

1. Sammie, adik imajinerku.



Kenalkan, ini aku dan 'adik'ku. Saat itu aku adalah awal-awal aku tinggal di Belanda, dan tanteku menghadiahkan sebuah boneka untuk menceriakan aku kembali. Ia membelinya di Jerman saat tengah mengunjungi kerabatnya. Dan aku saat itu berjanji untuk merawatnya dengan baik, botol susu palsu yang juga diberikan selalu kuberikan padanya.

Yah, aku memang punya adik sungguhan, tetapi yang ini bisa kurawat sesuka hatiku. Nah, Sammie ini juga bisa bersuara lho! Biasanya yang terdengar adalah suara tangisan ataupun tawa.

Adik manis ini menjadi bagian dari pembelajaranku akan tanggung jawab.

2. Perjalanan-perjalanan yang kualami.


 Saat aku ke Barcelona, aku menaiki sebuah gunung. Tinggi sekali, dan aku yang masih polos memang belum takut. Mamaku, yang memang panikan, ketakutan. Ia menolak dengan khawatir saat Papaku memintanya foto. Nah, adegan yang ku gambarkan tersebut memang terjadi literally


Ini adalah saat-saat aku bermain ke kebun binatang, Aku menggambar semua yang kulihat, dan inilah salah satunya. Kuda nil yang menjalankan kehidupan mereka dibalik layar kaca seperti biasa, kuanalisa sebisaku. Ada yang sedang dibawah air, ada yang sedang tidur.


Ini adalah saat aku ke monumen perbebasan di Berlin, Jerman. Saat itu aku memang nggak ngerti tentang sejarahnya, namun sangat menarik! Aku bukan sejarawan, namun aku mencoba men-share apa yang aku tahu.

Jadi, di Jerman pernah ada perang dingin dan Berlin terpecah menjadi Berlin Timur dan Berlin Barat. Dibatasi oleh sebuah tembok bernama Tembok Berlin, kedua pihak warga kota tidak bisa saling mengunjungi, dan apabila ia menyelundup untuk ke daerah lawannya, ia akan ditembak dan dihukum. 

Pada akhirnya, perang dingin usai dan tembok Berlin diruntuhkan. Sebuah monumen perbebasan pun dibangun, dan Berlin, yang akhirnya dijadikan ibukota, bersatu kembali.

Menara Eiffel di Paris.

3. Keluargaku, The Uranus




 Jadi, aku berharap mereka nggak marah kugambarkan sedemikian rupa. Mereka-lah yang mengisi hari-hari aku yang suka bertingkah konyol. Di keluarga Uranus, kebersamaan dijunjung paling tinggi. Ulang tahun setiap anggota keluarga nggak pernah terlewatkan dan dirayakan dengan sederhana namun bermakna.



Masing-masing memiliki keunikan masing-masing, kadang menyebalkan dan kadang menyenangkan. Papaku hobi memfoto di setiap objek hingga kami semua kelelahan. Mamaku benci jika ada sesuatu yang tidak rapi. Adikku saat itu sering menangis dan menggangguku. Aku sendiri sangat berantakan dan sering mengejek adikku.

 Kejadian paling parah adalah aku yang menonjok pipi sang adik hingga gigi susu milik bocah berkacamata itu patah sebelum waktunya.
 
Wawancara Eksklufif dengan Papa.



Berikut ini adalah wawancaraku dengan Papa karena terlalu penasaran dan sok jadi jurnalis.

H: Binatang kesukaan?
P: Kelinci.
H: Penyanyi kesukaan?
P: Inul.
H: Teman baik?
P: Trisyanti. (Mamaku)
H: Impian?
P: Jadi orang hebat.

Yah, aku memang seorang anak yang kurang kerjaan. Tapi, itu jugalah yang membuat kami berbeda dan ramai.

_____________

Goresan tangan akan lebih membawa memori dari pada sekedar foto digital, menurutku. Aku bisa mengingat peristiwa dan segala hobiku, karena tanganku sendiri yang mengalaminya.

Sampai sekarang aku memang nggak bisa menggambar dengan baik, tapi setidaknya, aku pernah menggambar dengan sepenuh hatiku. 

Bukan untuk tugas, tapi untuk diriku sendiri.

Wednesday, June 10, 2015

Dear, Me (and You)

    
    

Pernahkah kamu mengecewakan dirimu sendiri, sahabat?

Perasaan benci dan ketidakberanian yang begitu mengurungmu dalam sebuah sangkar baja, tidak memberimu kebebasan sejati. 

Tidak, bukan saja merampas kebebasan, tetapi mereka jugalah yang menghentikan laju langkahmu. Keduanya membuatmu berjalan di tempat, berhenti, atau bahkan lebih parahnya lagi; berjalan ke belakang. 

Sebetulnya, kamu juga harus menganalisa sebab dari penyiksaan diri tersebut. Sebuah ‘ekskresi’ yang harus dikeluarkan tanpa perlu diraih kembali.

Bagaikan sang pangeran katak yang menanti kecupan sang putri, pegharapan yang terlalu tinggi bisa saja mencukai hatimu.

Kemungkinan sebuah harapan hanyalah dua, entah itu akan membuat pipimu bersemu, ataulah ia akan memilukan hati cantikmu.

 Jadi, kita tidak perlu melakukan yang terbaik?

Bukan, aku tidak berkata demikian.

Kenalilah potensi dan segala pesonamu. Menurutku, tidaklah perlu kita menyesali segala sesuatu yang telah diusahakan jiwa dan raga.

Terlihat beberapa orang-orang yang berambut halus, pandai bersenda gurau, ahli ilmu fisika dan juga menari. Jika dirangkum dalam satu kata, sempurna.

Adilkah? Perlukah kita menyesali dan meratapi diri kita sendiri?

Pertanyaannya lagi, memangnya kamu yakin kalau mereka ‘sempurna’?

Seperti kata sebuah perumpamaan, hidup itu bagaikan sebuah roda yang berputar tanpa henti.

Dalam fase-fase tertentu, roda tersebut akan berada diatas; ia berada pada suatu kejayaan yang membuatnya lupa waktu. Pada saat dia ingin terus melaju, ia secara tajam terperosok kebawah; menciumi lantai yang kasar dan menyakitkan. Untuk kembali naik dan pergi dari bebannya, ia harus memaksa dirinya berputar kembali, seberat apapun tenaga yang dibutuhkan.

Hidup teman-teman, kerabat atau bahkan saudara yang menumbuhkan bibit-bibit dengki tidaklah semulus yang kamu kira.

Hal yang mungkin saja membedakan mereka dan kamu, adalah ‘topeng’ yang mereka gunakan. Hal itu tidak buruk, ada saatnya kita harus memakai ‘topeng’ dan bersikap profesional. Ada saatnya kita melepaskannya sejenak dan mengeluarkan segala seluk-beluk dalam perasaanmu.

Kamulah yang bisa menolong dirimu sendiri.

Jadi, perlukah kita meraung dan menyesali segala ketidakbisaan kita?

Tidak. Janganlah dibiarkan, berhentilah!

Berhenti, dan kasihanilah dirimu dan hatimu. Jika kamu tidak bisa melakukannya demi dirimu, lakukanlah demi orang-orang yang menyayangimu. Mereka yang ingin melihatmu bahagia dan maju, mereka yang ingin kisah hidupmu membentuk senyuman banyak orang.

Kamu kuat dan bahagia. Karena kamu hebat, kamu pasti bisa meraih kebebasan sejati yang melepaskanmu dari ‘jerat tikus’.

Salam hangat dan berjuta-juta pelukan untukmu!

Dirimu sendiri yang sedang membaca tulisan ini.

Saturday, June 6, 2015

#ceritakitacastingcall

Casting?

Tunggu, tunggu. Jangan salah paham dulu, ya guys. Casting yang dimaksud bukanlah casting iklan ataupun sinetron. Wajahku layak disensor untuk itu.

Jadi, aku ceritakan awal mulanya dulu aku bisa mengikuti ajang pencarian kontributor Cerita Kita.

Waktu itu aku lagi di perpustakaan dan bosan, menunggu jam pulang kuliah. Karena nggak ada kerjaan, aku pun menjalankan ritualku men-scroll instagram. Ke atas, kebawah, dan tekan dua kali hingga muncul sebuah logo hati.

Sebuah post dari @ceritakitaid menarik perhatianku. Kira-kira intinya seperti ini:

'Kamukah kontributor untuk cerita-kita.co.id? Pilih bagian yang ingin kamu kontribusikan.'

Ada bagian writer, fotografer, desainer grafis, fashion stylist dan beauty enthusiast. Karena aku tak bisa fotografi dan fashion tidak cocok dengan style-ku, aku mikir; 'coba saja ah, mumpung bosan.'

Pendaftaranku dan tulisan yang kubuat kilat aku anggap angin lalu saja. Hidupku berjalan normal kembali, tanpa berekspektasi apa-apa.

**
1 Juni 2015.

Aku bangun tidur di mobil Papaku dan refleks membuka social media ku lagi. Maklumlah, anak masa kini memang gatal kalau jarinya nggak gerak.

Akun @ceritakitaid menyatakan sudah memilih 10 orang ditiap bagian yang didaftar.
Lagi-lagi, aku tidak mengharapkan apa-apa.

Aku membuka mulutku lebar-lebar melihat pengumumannya.

 Ya Tuhan! Writer nomor 5!

Singkat cerita, aku histeris dan pecicilan dimobil. Papaku menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku yang seperti baru dinobatkan menjadi jutawan.

** 
6 Juni 2015

Aku datang dengan senyum berseri-seri ke venue yang telah diberitahukan kakak redaksi Majalah GoGirl sebelumnya.

Baju putih yang kupakai memang sudah sesuai dress code, sudah rapi. Namun, tetap aja aku merasa ada sesuatu yang salah. 

Seperti, ini aku betul-betul terpilih dan berada di 10 besar? Aku terpilih untuk mengikuti workshop ini?



Setelah registrasi dan dikumpulkan disuatu hall, dipandu MC cantik bernama kak Grace, kami dibagi-bagi sesuai kelas masing-masing.

"Selamat datang kepada cewek-cewek ter-talented di Jakarta!"

Tempatnya lumayan cozy, dan cafe di Jakarta Selatan ini hari itu dipenuhi banner-banner cantik yang menampangkan acara besar sore itu.

Untuk aku yang kelas writer, kak Anita Moran-lah yang meng-coach kami.

Aku sempat heboh sendiri melihat kak Anita. Biasanya aku hanya melihatnya dihalaman depan majalah, dan aku tak bisa menahan diri untuk mengajaknya selfie. Aku agak malu-malu kucing, tapi kuputuskan sejenak untuk nekad. Kapan lagi, kan?

Wanita inspiratif ini ramah sekali, dengan lembut ia menanggapiku dan omongan nggak nyambungku.


Pendiri majalah Gogirl yang menawan tersebut bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kami tentang penulisan dengan sangat baik. Beliau menjelaskan  mengenai mencari data dengan interview, survey, cara menulis paragraf yang flowing, hingga mengatasi writer's block yang menghambat.

Dalam waktu satu jam, kami diminta menulis sesuatu. Ya, tulisan ini akan digunakan untuk menyeleksi dua dari 10 orang penulis yang terpilih.


Walaupun agak panik, aku berhasil menyelesaikannya.

Selesai kelas, aku dan teman-teman berselfie ria dan ketawa-ketiwi. Walaupun baru kenal, aku sudah bisa luwes dengan mereka. Bukan waktulah yang menentukan sebuah kedekatan, tapi lebih ke chemistry-nya.




Pada akhirnya, aku memang tidak menjadi kontributor. 

Namun masuk dalam 10 besar dari entry-entry yang masuk, sudah merupakan kebanggaan yang luar biasa untukku. Tak ada sedikitpun rasa kecewa yang terbesit dalam hati.

Selesai foto-foto dan bertukar sosial media dengan kawan-kawan baruku; aku pulang kepada kenyataan tugas-tugas kuliah yang belum selesai. 

Penuh ilmu dan semangat baru, aku semakin passionate untuk menulis.

Aku belajar satu hal hari itu; aku tidak se-hopeless seperti yang kukira. Ya, aku memang penuh kekurangan dan mengecewakan. Tapi setidaknya, ada sedikit hal yang bisa kubanggakan dan kukembangkan. Aku berdiri untuk diriku sendiri, aku percaya pada diriku sendiri.

#ceritakitacastingcall persembahan GoGirl dan CleanAndClear, thanks for choosing me to participate! :)