Sunday, August 30, 2015

Kemari, Kamu Harus Kemari


Selamat datang di dunia
Pergi, aku melangkah pergi
Arahkan kakiku
Menuju sesuatu yang belum kuketahui

Terkadang yang manis terasa pahit
Antara itu memang pahit sepahit-pahitnya
Atau lidah kamu yang memaksanya menjadi pahit
Jangan, sayang.

Aku bisa menjadi diriku, dan kamu tetap menjadi dirimu.
Aku tidak perlu menjadi kamu, dan kamu tidak perlu menjadi diriku.
Aku hebat, begitupun kamu.
Aku kuat, begitupun kamu.

Bibirku bersenandung, begitupun bibirmu.
Kakiku menari, begitupun kakimu.
Telingaku menikmati irama dalam harmoni, begitupun telingamu.
Mataku terpejam beristirahat, begitupun matamu.

Manis, semua manis.
Antara itu memang manis semanis-manisnya.
Atau lidah kamu yang memaksanya menjadi manis.
Lanjutkanlah, sayang.

Kamu bisa menjadi dirimu, dan aku tetaplah aku.
Kamu tidak perlu menjadi aku, dan aku tidak perlu menjadi dirimu.
Kamu hebat, begitupun aku.
Kamu kuat, begitupun aku.

Jangan berhenti bersenandung.
Jangan berhenti menari.
Jangan berhenti mendengarkan dentuman ritme semangat.
Setelah itu, tutup harimu; tutup matamu.

Sebelum dunia ucapkan selamat tinggal
Kemari, kamu harus kemari
Arahkan kakimu
Menuju sesuatu yang belum kamu ketahui




Tuesday, August 4, 2015

Pesan-pesan yang Mempengaruhi Hidupku

Disaat aku tidak tahu mau bagaimana, aku akan menjadi si cengeng.

Secara sadar ataupun tidak sadar, aku berhasil menemukan beberapa cara menjalani hidup dengan lebih menyenangkan dan sangat membantu. .

Berikut ini pesan-pesan, nasihat dan pemikiran orang-orang (terima kasih, kalian!) yang berhasil mempengaruhi aku secara positif:

1. 'Jika kita salah, kita minta maaf. Jika kita benar, lawan terus sampai mati.'

Aku harus menjadi orang sukses yang bisa mempertahankan diri.

Jika bukan kita yang menghargai dan membela diri kita sendiri, siapa lagi?

2. 'kalau kamu miskin, teman kamu tidak akan membantu kamu. Jangan pernah bergantung pada teman.'

Ya, banyak pengalaman pertemanan yang berakhir menghilang atau bahkan bertengkar. Separah-parahnya hubungan kita dengan orang tua, mereka adalah tempat kita bersandar.

Teman juga membantu kita, kan?

Ya. Pertanyaannya adalah, sejauh apa mereka membantu? Apakah mereka rela mengorbankan materi dan waktu untuk kalian saat kita masuk ke dunia kerja yang bersikut-sikutan?

Belum tentu.

Intinya, jangan terlalu baik sama teman, jangan terlalu percaya sama teman. Sewajarnya saja.

3. 'Ubah rasa minder dan rendah diri 180 derajat.'

Mereka selalu mengatakan kekurangan terbesarku adalah 'ketidak-yakinan'. Nasihat yang sering kuterima adalah; jika resikonya 'cetek' begitu, yah ambil saja. Kesuksesan seseorang bukan ditentukan nilai, grade, dan IP.

Seseorang akan sukses jika ia berani mengambil keputusan. Ia tidak akan down dan maju terus selama ia membela dirinya sendiri.

4. 'filter the anger, control the fear.'

Kita mempunyai energi untuk fokus pada hal-hal baik. Kemarahan itu perlu dikontrol, dan bukan ketakutan yang menekan kita, namun sebaliknya.

Begini, kita selalu memikirkan hal-hal yang orang lain katakan dan akhirnya malah makan hati sendiri. Sementara, mereka sedang bersantai minum kelapa dan lupa, Mereka tidak berpikir saat mereka mengatakan hal itu. Mereka berbicara tanpa menggunakan otak, dan kita menguras energi berpikir karena mereka.

Tidak adil untuk diri kita tersiksa karena mereka.

Sepenting itukah orang-orang itu? Presiden-kah dia? Penguasa alam-kah dia?

Susah untuk diterapkan, ya, aku mengerti. Aku sendiri juga masih belajar, kok.

Kita belajar untuk cuek bersama-sama, ya!

5.'Mendaki Mount Everest jauh lebih gampang dari menjalani kerasnya hidup.'

Ya, hidup penuh lika-liku. Dalam pendakian gunung, kita dapat mempersiapkan diri karena sudah diberikan rambu-rambu, peringatan dan himbauan.

Hidup ini tak terprediksi, persiapan pun akan percuma jika Tuhan berkehendak lain. Tidak ada yang bilang hidup itu gampang, makanya, rajin berdoa dan menyerahkan diri. Seorang kawan menasihatiku demikian, dan menurutnya juga, jalan secara tidak langsung akan terbuka.

Kesalahan terbesar manusia adalah lupa berpasrah kepada Tuhan, yang tentunya harus dilaksanakan dengan usaha dan keberanian juga.
________________________

Kenapa ya, mereka pintar? Kenapa ya, mereka cantik?

Mereka punya banyak teman dan mudah berkomunikasi. Punya pacar yang menyayangi mereka dan juga memiliki kepribadian menyenangkan.

Aku sering banget minder. Hal-hal yang membuatku rendah diri diperparah oleh omongan orang-orang yang selalu kumasukkan hati.

Aku tahu itu salah, aku juga mau kalau omongan menyakitkan tidak sampai ke hati. Susah, kawan. Easier said than to be done.

Dengan tips-tips diatas, aku akan belajar untuk enjoy. Aku ya aku, mereka ya mereka. Bahkan, salah satu siasatku untuk bertahan adalah dengan tidak mengecek nilai tugas sering-sering.

Terima kasih untuk kalian yang aku sebutkan diatas, mungkin kalian tidak sadar namun cerita dan pesan kalian sangat meresap untuk aku.

Pertanyaan yang tadi, kenapa ya, mereka pintar dan cantik, akan kulanjutkan dengan, 'memangnya kenapa kalau aku begini?'

Teledor, tidak rapih, pendiam, pemalu, canggung, minderan.

'Selama tidak merugikan orang lain, ada masalah dengan diriku yang seperti ini?'



Hari ini, hari esok



(ditulis 27 Oktober 2013)

rintik-rintik menambah hawa dingin di dalam kamar seorang gadis. Remaja manis tersebut memeluk bantal guling merah muda mungil miliknya dan tersenyum kecil. Ia meringkuk didalam selimut merah muda yang melapisi tubuh mungilnya.

 Ponsel yang digenggamnya erat bergetar pelan, yang membuatnya melonjak dari posisinya rebahnya. 

Ia menyingkirkan selimut, kemudian duduk dan jari-jemari tangannya dengan lincah membuka sebuah pesan singkat yang masuk.

“Selamat malam cantik, tidur yang nyenyak yah.”

Wajah Clea kini berseri-seri. Lagi-lagi sms dari sosok misterius yang akhir-akhir ini terus membuat hatinya berbunga-bunga. Kali itu ia memejamkan matanya  dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Clea tersenyum lebar, ia bermimpi indah diiringi oleh suara rintikan hujan yang menenangkan.

**

“Cle, gue saranin lo jangan terpengaruh sms-sms itu.” Reina menatap sahabatnya dengan raut serius. Ia benar-benar khawatir dengan Clea yang tak henti-hentinya membicarakan penggemar misterius yang terus-menerus mengiriminya pesan sejak dua minggu yang lalu. Bukannya Reina tidak ingin Clea senang, tapi ia takut Clea akan terus mengacuhkan kehidupan nyata yang seharusnya dijalaninya.

“Ah, Rei, tapi gue seneng banget. Walaupun tadi gue di hukum Bu Reni, gue sama sekali gak peduli.” Gadis berambut sebahu tersebut terus berceloteh.

 Ini dia nih yang membuat Reina benar-benar cemas. Clea sangat polos dan lugu. Ia mudah sekali mempercayai segala sesuatu. Yah, walaupun terkadang hal tersebut membawa efek positif, namun belum tentu orang lain tidak memanfaatkan kepolosan Clea. 

“Rei, lo kenapa sih? Lo gak seneng kalo gue seneng?”

Reina geleng-geleng kepala. Ia sangat bingung. Sobat sekaligus tetangga seberangnya tersebut sangat kelas kepala.  “Lo jangan negative thinking gitu dong Cle. Gue sebagai sahabat cuman pengen mengingatkan lo.”

Clea menatap Reina tajam dengan mengeluarkan sebuah desisan pelan. “Gue kira lo sobat yang ngerti gue.”

Reina mendesah pelan. Ia sudah terbiasa dengan mood Clea yang naik turun. Saat perasaanya sedang baik, Clea sangat manis dan perhatian. Namun jika ia sedang kesal, semua sifat-sifat baiknya hilang seketika. Di saat-saat tertentu ia bagaikan monster pemakan manusia yang wajib dihindari.

Namun, Reina mengerti. Bukankah setiap orang ada sifat-sifat baik dan sifat-sifat buruk? Ia terdiam dan memilih tidak melanjutkan perdebatannya dengan Clea. Ia tidak ingin sahabat manisnya tersebut marah padanya, karena ia adalah salah seorang yang paling berharga di hidupnya.

“Hai.” Seorang suara nge-bass menggema di kantin yang tengah mereka tempati. Clea dan Reina serentak menoleh dan keduanya menyunggingkan sebuah senyum. Nito, pemilik suara nge-bass tersebut segera duduk di sebelah Reina. Ya, ia memang telah  memiliki hati Reina sejak mereka kelas sepuluh, yang berarti hari ini adalah hari tepat dua tahunnya mereka jadian.

Clea menepuk jidat. “Astaga! Kenapa gue bisa lupa! Selamat dua tahunan yah, kalian berdua.” Tanpa menunggu balasan, Clea segera menyalami baik Reina maupun Dito.

“Makan-makan dong.” Ujar Clea lagi, yang jelas-jelas telah melupakan kekesalannya pada Reina tadi.  Reina tertawa kecil, matanya berbinar. Dengan senang ia menggenggam tangan Nito. Cowok ini memang sangat popular diangkatan mereka yang ketiga-tiganya telah kelas dua belas dan sama-sama duduk di kelas dua belas A. Nito ikut tersenyum, namun Clea merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Sesuatu yang besar. Clea semakin curiga melihat Nito yang menunduk. Tatapan matanya mengatakan ada yang tidak beres.

Bel berbunyi, mengakhiri waktu istirahat mereka. Cleo, Reina dan Nito berlari kecil menuju kelas mereka.

**

Hari itu Clea pulang terlambat. Ia harus mengerjakan tugas fisika yang ia tidak kerjakan kemarin. Seharusnya ia mengumpulkannya tadi  pagi, namun lagi-lagi ia terlalu asyik membaca pesan-pesan singkat yang diterima ponselnya. Ia melalaikan tugas-tugas yang seharusnya ia kerjakan, dan Clea tahu betul ia salah. Bu Reni member waktu terakhir hari ini, atau Clea tidak boleh mengikuti pelajaran yang beliau ajarkan untuk seterusnya. Dan ini bencana bagi Clea yang biasanya selalu mendapatkan nilai tinggi. Yah, sebelum ia meninggalkan semua tugas-tugasnya. Dan kini ia harus menanggung akibatnya. Reina yang sebenarnya ingin sekali menemani Clea terpaksa pulang karena adanya les Inggris yang harus ia hadiri.

“Dor!”

Clea melonjak kaget, disusul dengan tawa lepas dari seseorang dibelakangnya. Nito nyengir, ia sangat puas berhasil mengageti Clea. Cewek tersebut manyun dan pura-pura ngambek. “Rese lo, Nit! Gue laporin Reina juga lo!”

“Oh iya Cle. Gue mau ngomong sesuatu dengan lo,” ujar Nito yang kini duduk di meja sebelah meja Clea. Suasana kelas saat itu sepi. Bahkan di luar kelas juga sudah sepi, mungkin karena jam sudah menunjukan pukul empat sore. Sudah satu jam lewat dari jam pulang siswa-siswi SMA Prestasi.

“Ngomong apa, Nit? Nggak usah tegang begitu, santai saja.” Ucap Clea cuek sembari terus mengerjakan tugas fisikanya. Bu Reni bisa marah besar kalau ia tidak segera mengumpulkan tugas fisikanya. Untung saja Bu Reni hari ini pulang lebih sore, jadi Clea ada waktu untuk membuat tugasnya.

“Cle. Gue sebenarnya suka sama lo. Dan gue yang selalu mengirim pesan singkat ke lo akhir-akhir ini.”

Clea melongo. Pengakuan Nito tersebut membuatnya  mengorek telinganya dan membuka bibir tipisnya lebar-lebar. Ia tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Mungkinkah ia hanya salah dengar? Mungkin ini hanya mimpi?

Nito terus mencurahkan isi hatinya. “Lo ingat Cle, dua minggu yang lalu? Lo marah sama Reina karena ia membatalkan janjinya dengan gue. Sekalipun Reina membatalkan karena ingin menemani lo, lo lebih mementingkan kepentingan gue.”

Clea masih terus terdiam.

“Gue suka sama lo, Clea. Gue jatuh cinta sama sifat lo, lebih dari gue sayang Reina.”
Brak! Pintu terbuka lebar. Seorang gadis berambut panjang masuk dengan mata berkilat marah. Ia menahan tangisnya yang hampir pecah. Reina. Ia mematung menatap Clea dan Nito untuk beberapa detik, dan suasana saat itu sangat mencekam.

Nito terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

“Hahaha, sebenarnya gue kesini nggak mau kelihatan emosional. Ia sudah tidak tahan lagi.
“Rei..” Clea mencoba menahan Reina, namun hal itu terlambat dilakukannya. Reina segera mengambil buku les yang dicarinya dan berlari keluar kelas tanpa sempat dicegah. Air matanya menetes deras.

Nito merasa sangat bersalah. Ia menatap Clea meminta petunjuk tentang apa yang harus dilakukannya. Gadis yang telah tulus mencintainya kini marah.

PLAK!

Sebuah tamparan dengan mulus mendarat di pipi Nito. Dengan puas Clea mendorong Nito.
“Pertama, lo udah bikin sahabat gue nangis. Kedua, lo udah lancang.” Badan Clea bergetar menahan amarah. Ia kini sangat kesal. Hatinya terasa teriris-iris melihat sahabat yang sangat sabar padanya menangis.

“Dengan lo sms gue, lo udah bikin banyak masalah. Gue jadi nyesel tidak mendengarkan kata-kata Reina.”

Clea pun menutup buku fisikanya. Ia beranjak ke ruang guru, menaruh tugas fisikanya ke meja coklat tua berbahan kayu milik Bu Reni, kemudian berlari secepat yang ia bisa. Ia harus segera menemui tetangga sekaligus sahabat terbaiknya. Ia harus menenangkan sahabatnya dan tentu saja ia harus menjelaskan apa yang terjadi. Ia tidak ingin Reina salah paham. Ia terus berlari dan berlari menuju rumah megah yang terletak di dekat jalan raya di seberang sekolah. Clea yang sedang panik tidak menyadari ada sebuah mobil berkecepatan tinggi yang melesat tanpa memerhatikan sekitar. Ia terus saja berlari. Hantaman keduanya tidak bisa dihindari lagi. 

Untuk sesaat Reina merasa sakit sekali, dan tak lama kemudian semua menjadi gelap.
**
Clea terbangun dengan ngilu diseluruh badannya. Hal pertama yang dirasakannya adalah genggaman erat seseorang. Ia membuka kedua matanya yang telah tertutup entah setelah berapa lama.

“Cle?”

Setelah mulai bisa membiasakan diri dengan cahaya disekitarnya, Clea mulai bisa melihat dengan jelas. Seorang cewek duduk dihadapannya. Pandangannya beralih pada jam digital besar yang tertempel di ruangan tersebut.

“Rei? Lo.. lo kok disini? Sekarang jam setengah lima pagi loh Rei. Dan gue..”

Ucapan Clea terhenti saat Reina menaruh jarinya di bibir Clea. Reina menitikkan air mata. Ia tersedu-sedu. “Rei, lo jangan nangis, soal Nito, gue..”

“Sst. Gue seneng banget bisa melihat lo begini lagi. Gue takut kehilangan lo, Cle. Gue nggak akan pernah maafin diri gue sendiri kalo lo kenapa-kenapa Cle.. Gue..”

Clea menggenggam tangan Reina lebih erat. Reina tersenyum dan segera menghapus air mata yang tak ingin berhenti mengalir. Air mata yang telah menunjukkan segenap perasaannya.

“Gitu dong Rei. Lo jangan diam-diam saja. Lo harus bilang kalau lo kesal, atau sedih, atau senang. Lo harus lebih jujur Rei.” Clea ngoceh. Ia telah kembali pada sifat bawelnya. Reina tertawa kecil.

“Gue mutusin nito. Dan Cle, ini bukan salah lo. Lo sama sekali tidak terlibat.” Reina meminum kopi yang sepertinya telah ia minum sebelumnya, dan membelai rambut Clea. “Pokoknya gue bakal temani lo sampai lo sembuh. Teman saat senang, teman saat susah.”

“Soal Nito, gue setuju. Kita sebagai cewek tidak boleh dianggap mainan. Dan lo memang harus tegas.” Ujar Clea mengacungkan kedua jempolnya, yang segera ia hentikan karena rasa sakit yang menderanya.

“Untuk sementara ini mungkin kita tidak akan berbicara dengan Nito. Dan lo istirahat ya, Cle, biar cepat sembuh dan cepat ke sekolah. Nanti kita makan bakso kantin sama-sama lagi.” Reina tersenyum kecil. Air matanya kembali memaksa untuk keluar. “Gue seneng punya sahabat kayak lo, Cle. Lo tetangga yang selalu bisa diandalkan, hahaha.”

Clea tersenyum mengingat saat Reina pertama kali menjadi tetangga baru gang tersebut. Reina sangat pemalu. Saat itu Clea lah yang terus menemani Reina karena mereka kebetulan satu sekolah dan satu kelas. Mereka menjadi tidak terpisahkan.


Keduanya kembali tertidur dengan bergenggaman tangan setelah bercerita panjang lebar, Mentari mulai menunjukkan rupanya, memberikan harapan baru.  Mungkin keadaan tidak akan sama seperti dulu lagi. Namun baik Clea dan Reina harus menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya, karena hari inilah yang akan menentukan hari esok.

Monday, August 3, 2015

Hidupku sangat Sempurna



(ditulis 18 Januari 2013)

Aku menatap jam tanganku gelisah. Cowok dihadapanku kini telah memainkan jarinya semenjak kami  pertama bertemu tadi siang. Aku yakin ada yang tidak beres disini, karena ia hanya bermain dengan tangan dan rambutnya seperti itu saat ia tengah diliputi kebingungan. Ia memegang rambut berduri-seperti-landak nya dan mengusap keringat dingin yang mulai mengalir di pelipisnya.

“Aku sayang sama kamu.” Ia bersuara lirih, nyaris berbisik. Hal tersebut entah mengapa membuatku merinding. Mataku bertemu dengan matanya, ia melirikku penuh arti.

 “Tetapi..”

Perasaanku mulai tidak enak. Tetapi? Mengapa harus ada tetapi? Biasanya tetapi akan diikuti kata-kata yang memberitakan sesuatu yang buruk. Aku mulai membayangkan segala macam kemungkinan ucapannya selanjutnya. Tetapi, aku akan meninggalkan kamu? Tetapi, aku tidak suka denganmu? Tetapi, aku belum keramas pagi ini? Oh tidak, aku tidak boleh berpikir secara negatif.

“Aku sibuk dengan sekolahku.”

Jeger! Rasanya hatiku pecah berkeping-keping saat ia mengucapkan hal itu. Hatiku terasa sakit sekali. Aku merasakan mataku yang mulai memanas, sepanas perasaanku saat ini. Perasaanku kacau balau. Mungkin seperti rujak, karena aku merasa hatiku ditumbuk-tumbuk olehnya. Perasaanku tambah tidak enak.

“Kita putus saja, yah?” ujarnya tenang sembari melihat ke lantai marmer dibawah kami. Akhirnya ia mengucapkan kata-kata yang paling aku takutkan. Sial, aku pun salah tingkah dibuatnya. Aku menggigit lidahku, menahan caci-maki yang sebenarnya ingin kukeluarkan. Tetapi tentu saja aku harus menjaga image dinginku. Aku tidak mau reputasiku dingin-dan-keren ku hancur karena dia seorang.

“Oke deh.” Aku berkata sok tegar. Padahal dalam hatiku aku ingin menjerit sekeras-kerasnya. Kenapa? Mengapa oh mengapa? Bagaimana ini bisa terjadi? Kapan Mengapa Bagaimana
Dimana?

Aku melihat sekeliling kami. Semua sibuk masing-masing. Pelayan restoran sibuk menyajikan pesanan yang telah dipesan pengunjung. Orang-orang yang mengunjungi restoran tersebut juga sibuk. Ada yang sibuk menguap, ada yang sibuk bercengkrama, ada yang sibuk mengetik di laptop, ada yang sibuk joget. Semua terlihat tidak peduli.

“Kamu enggak apa-apa?” Ujarnya lagi. Ketegangan meliputi kami berdua. Aku harus stay-cool. Harga diriku lebih penting, aku mengingatkan diriku.

“Enggak apa-apa. Hahaha.” Aku tertawa hambar mirip deritan pintu untuk menutupi tangisku yang hampir pecah. Ya, hubunganku yang telah berlangsung selama dua bulan ini sukses hancur. Hanya karena beberapa yang ia ucapkan.

Ia pun membayar pesanan kami yang telah dihidangkan dan pamit padaku. Tak lama kemudian ia melangkah pergi meninggalkan ku sendiri dalam kebingungan dan kesedihanku. Aku menarik napas dalam-dalam. Aku tidak boleh menangis di keramaian seperti ini. Aku menutup mataku dan mulai merenung. Apakah kesibukan sekolah kekasihku lebih penting daripada hubungan yang kami laksanakan? Tunggu, ia kini berstatus MANTAN bagiku. Memikirkannya saja sudah membuatku sakit.

Aku meneguk es coklat ku dalam-dalam. Aku sangat berharap minuman tersebut dapat mendinginkan dan menenangkan perasaan-perasaan negatif yang muncul dibenakku. Aku pasti bisa mengatasi perasaan ini. Mengapa masih terasa sakit?

Dasar lelaki tak tahu diri. Aku tak dapat menahan air mata yang memaksa keluar. Pertahananku jebol. Sepertinya aku tak peduli pada imageku lagi, aku tak peduli pada orang lain. Biar saja orang lain mengatai ku lemah. Aku pun mulai menangis dalam kesendirianku itu.

“Kak.”

Aku membuka mataku dan mendapati seorang bocah mungil didepanku. Ia tengah memegang sebuah permen loli dan menatapku heran.

“Kakak enggak apa-apa?” ujarnya. “Mengapa kakak menangis?”

Aku pun terharu dibuatnya. Anak ini manis sekali.

“Enggak apa-apa dik. Kamu sedang apa?” tanyaku sembari menghapus air mata yang masih saja mengalir. Duh, bikin malu saja.

“Sedang mengamati kakak. Aneh.”

Aku bengong. Perasaan sedihku hilang dalam sekejap. Anak ini sangat tidak sopan. Ia mengatai mukaku aneh? Memangnya mukaku sekacau itu?

“Sejak tadi Kakak terlihat sedih. Aku merasa itu aneh. Power Ranger tidak pernah nangis loh Kak.”

Oh begitu rupanya. Aku pun tidak jadi marah padanya dan tersenyum, walaupun sedikit bingung dengan kata-katanya.

“Aku sudah tidak apa-apa Dik.”

Benarkah aku sudah tidak apa-apa? Hatiku masih terasa nyut-nyutan. Rasanya seperti sakit gigi, atau bahkan lebih parah lagi. Aku pun menguatkan diriku.

“Adik bersama siapa?” tanyaku sembari mengamatinya. Bocah kecil tersebut mengenakan sebuah topi coklat bermotif beruang. Topi tersebut menambah kemanisan anak tersebut.

“Aku tak tahu Mama dimana. Power Rangerku ada di Mama.” Jawab anak mungil bertopi coklat tersebut. “Aku sendiri.”

Aku pun bersimpati dan berniat membantunya. Sepertinya ia tersasar di mall besar ini. Dan aku tahu rasanya tidak enak, karena aku juga sering tersasar. Apakah aku dapat membantunya?

“Kakak mau menemani aku mencari Mama?” tanyanya dengan wajah memelas. Matanya melebar, dan sebuah senyum kecil ia sunggingkan. Ia terlihat begitu polos. Tanpa kusadari kepalaku sudah mengangguk mengiyakan permintaannya. Tidak ada ruginya membantu.

Kami bergandengan tangan mengitari mall tersebut. Anak manis disebelahku tetap mengemut permen lolinya dengan tenang. Aku melihat sekeliling dan mengamati orang-orang disekitarku. Semua sibuk. Ada yang berjualan, ada yang sibuk bercengkrama, dan ada pula yang tengah berpacaran. Ah, memikirkan pacar membuatku sedih lagi.

Leon. Cowok berparas tampan itu berhasil memenangkan hatiku beberapa bulan yang lalu. Ia selalu mencari perhatianku. Ia bermain gitar, menyanyi, dan bahkan memanggil namaku kencang-kencang di lorong sekolah. Ia berhasil mempesonaku dengan perhatian dan keceriaannya. Aku suka semua yang ada pada dirinya, bahkan rambutnya yang katanya mirip artis itu.

Gubrak! Aku asyik bengong sampai tak melihat tas yang berada di depanku. Aku terjatuh dengan sukses. Berpasang-pasang mata kurasakan melihatku. Anak disebelahku yang tengah bergandengan denganku pun ikut kaget dan refleks melompat. Aku merasakan sakit didengkulku.

Aku mencoba berdiri, dan kemudian terjatuh lagi akibat tas yang sama. Aku pun berdiri sambil menahan malu. Anak disebelahku menatapku tanpa ekspresi. Aku pun baru menyadari aku belum menanyakan namanya.

“Dik. Namamu siapa?” Tanyaku sambil menjajarkan mataku dengan matanya. Ia tengah mengenakan kaos berwarna hitam. Sangat cocok dengan topi coklat manis miliknya.

“Leon.” Jawabnya tenang.

Leon? LEON?! Ia memiliki nama yang sama dengan mantanku? Mengapa bisa terjadi kebetulan seperti ini? Mengapa Leon?

“Kak. Kenapa?” tanyanya lagi. Aku pun menenangkan perasaanku dan degup jantungnya yang tanpa kusadari juga berdetak kencang.

“Tidak apa-apa. Panggil aku Kak Thea yah.” Jawabku yang masih berusaha menetralkan perasaanku.

Kami pun kembali berjalan. Aku masih merasakan tatapan geli orang-orang akibat aku tersandung tadi. Aku bahkan merasakan mereka tertawa. Aku merasakan pipiku yang memanas.

“Itu Mama!” jerit Leon tiba-tiba sambil berlari kencang. Ia lupa melepaskan genggamanku sehingga aku terseret olehnya.

“Leon!” jeritku refleks. Aku pun tersandung oleh kakiku sendiri dan terjatuh kembali. Astaga. Aku mengutuki kecerobohanku.

Seorang lelaki didepanku menoleh saat aku menjerit Leon. Dan ternyata dia memang Leon. Leon mantanku. Ia tengah bersama gadis manis berambut sebahu dan ia tengah merangkulnya. Secepat itukah ia berpindah hati?

Perasaanku yang tadinya telah tenang kembali memanas. Rasanya aku bisa merasakan emosiku yang memuncak. Aku ingin melabraknya, namun tentu saja itu bukan hakku. Kami telah menjadi mantan, bukan?

Leon kecil berlari kearah seorang wanita paruh baya didekat kami. Wanita tersebut tersenyum lega karena berhasil menemukan buah hatinya, ia memberikan mainan robot yang tadi dingenggamnya pada Leon kecil. Aku merasa senang namun juga kesal.

Leon- mantanku- melangkah pergi dengan cepat. Sepertinya ia merasa tidak enak denganku. Ia menggenggam erat gadis disebelahnya.

Emosiku pun semakin memanas. Aku mengepalkan tanganku yang mengeras. Tubuhku gemetar. Rupanya aku masih belum bisa menerima Leon pergi dariku.

“Kak?”

Leon menghampiriku bersama wanita yang merupakan Mamanya. Aku melirik ke arah pasangan kekasih tadi. Sudah hilang.

“Kakak hati-hati jangan jatuh lagi. Tadi sudah tiga kali jatuh, Ma.” Ujarnya polos kepada Mama nya. Ia pun masih mengemut permen loli berwarna merahnya. Aku menarik napas dan tersenyum.

“Kak Thea tadi menangis ma. Padahal Power Ranger aja enggak nangis, iya kan Ma?”

Wanita anggun disebelah anak tersebut pun mengangguk padaku. “Terima kasih sudah menemani Leon, Nak. Maaf merepotkan.”

Aku pun mengangguk dan tersenyum. Tatapanku masih terpaku pada Leon kecil bersama Mamanya.

“Hati-hati Kak. Jangan jatuh lagi.” Cowok mungil tersebut sangat polos dan mengatakan apa yang ada dirasakannya. Leon pergi bersama Mamanya. Aku yang masih merasa kesal karena mantanku pun bergegas pergi.

Aku yang tengah sendirian pun memutuskan untuk ke tempat karaoke dan bernyanyi sekencang-kencangnya.

Why?! Why?! Why?!” jeritku keras-keras menyanyikan Forget You nya Cee Lo Green.

I love you! I still Love you! Ooooh!”

Tiba-tiba aku merasakan orang-orang menertawaiku. Beberapa orang terpaku dengan mulut menganga. Yang lainnya menatapku tanpa ekspresi dan dengan mulut berbusa. Aku melihat kesampingku dan ternyata aku belum menutup pintu tempat karaoke tersebut dengan rapat. Aku pun menahan malu dan bergegas pergi dari situ. Dan lagi-lagi, aku tersandung karena tas di depanku.

Aku mengerang mendapati lututku yang tergores. Namun entah mengapa aku menyukai sensasi sakit tersebut.

Aku pun mengingat kembali Leon kecil yang mengingatkanku untuk berhati-hati. Ternyata ucapannya memang tepat. Aku sudah berkali-kali jatuh tersandung. Dan mungkin ia menganggapku lebih kuat dari Power Ranger. Aku tidak boleh menangis.

Berkali-kali aku jatuh. Berkali-kali aku tidak berhati-hati. Berkali-kali pula aku menahan malu. Namun hal tersebut menjadi pelajaranku untuk berhati-hati lain kalinya. Dan Leon kecil, ia tidak peduli pada orang lain dan bertindak sesuai apa yang dirasakannya.

Ia tetap tenang saat ia tersasar. Aku pun tersenyum kecil. Aku tidak peduli mantanku bagaimana, karena aku harus melupakannya. Aku harus maju. Untuk apa aku terus terikat oleh bayangannya?

Aku punya orang-orang yang menyayangiku. Mereka peduli padaku. Untuk apa membuang-buang waktu memikirkan yang lalu?

Semua orang akan terus sibuk dan maju. Waktu pun tak akan berhenti. Akupun harus demikian. Hidupku sangat sempurna. Bahkan tanpa Leon sekalipun.

Aku pun berjalan dan, gubrak, aku tersandung kakiku kembali. Duh, rupanya aku ceroboh sekali..

 

 

 

Cinta Seputih Salju


(ditulis 4 Desember 2013)
BASED ON A TRUE STORY.
Ik hou van je, Mami!
 
Butiran salju mulai berjatuhan, menambah keindahan pemandangan di kota kecil ini. Walaupun aku memakai berlapis-lapis pakaian ditambah dengan sehelai syal berwarna orange kesayanganku, dingin tetap dengan ganas menyelimuti tubuhku. Aku menggigil hebat. Musim salju memang menusuk.

“Ayo kita berangkat, sayang.”

Seorang wanita nan anggun menggenggam tanganku dan mengajakku mulai melangkah. Rambut hitam yang bermodel pendek tersebut terlihat sangat trendi  dan cocok sekali dengan wajahnya. Sosok mungilnya terus berjalan maju tanpa ragu di tengah salju yang turun.

“Tapi saat ini dingin sekali, Ma. Aku jadi malas ke sekolah.” Rengekku pelan. Salju di pagi hari membuatku ingin berguling-guling di ranjang saja. Perjalanan yang tidak terlalu dekat juga menghambat niatku untuk belajar.

“Hari ini hari pertamamu, sayang. Apakah kau tidak bersemangat di Belanda?” ujarnya sembari menatapku dalam-dalam. “Ini akan menjadi hari yang tak terlupakan!”

Matanya berseri-seri, aku tahu ia tengah berusaha menyemangatiku. Aku pun memilih untuk diam dan mengikutinya terus melangkah. Tangannya dingin sekali, namun ia tak ada sedikitpun keluhan yang terucap dari bibir tipisnya.

Disekitarku banyak sekali orang-orang berkewarganegaraan Belanda yang, sepertiku, memakai jaket tebal dan perlengkapan melawan musim dingin lainnya. Bahkan beberapa orang masih berani bersepeda. Sebenarnya salju dilantai belum tebal, namun bukankah tetap saja berbahaya?

“Kau tahu.” Mama tiba-tiba berujar. “Sebentar lagi adalah hari Natal.”

Aku mengangguk senang. Natal memang salah satu hari yang kutunggu-tunggu. Hadiah, bertukar kado, bernyanyi-nyanyi riang, Sinterklas. Segala momentum yang ada membuatku menantikannya sepanjang tahun.

“Waktu berjalan sangat cepat.” Ucap Mama lirih. “Dan aku pun bertambah tua, sayang.”

Aku menatapnya bingung, sama sekali tak mengerti apa yang dibicarakannya. Yah, anak kecil memang belum bisa mengerti hal-hal seperti itu, bukan?

Aku hendak bertanya lebih lanjut namun Mama tak melanjutkan ucapannya, ia hanya menatap lurus kedepan dan dalam genggamannya aku pun mengikuti langkah mantapnya menuju sekolahku yang baru.

**

“Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru dari Indonesia.” Seorang wanita muda berpostur tubuh tinggi menggandengku menuju kelas dan mengenalkanku dalam bahasa yang belum bisa kumengerti. Anak-anak kecil berambut pirang dan coklat yang tengah mengikuti pelajaran menatapku heran. Mungkin mereka tengah berpikir, mahluk dari planet mana itu? Aku dengan rambut hitam sebahuku memang terlihat mencolok sekali. Aku pun menunduk malu, sedikit tidak tahan dengan tatapan siswa-siswi sekolah tersebut. “Namanya adalah Anetta. Ia baru saja saja sampai di Enschede minggu lalu.” Ia terus saja mengoceh dalam bahasa Belanda. Mama yang berdiri dibelakangku kelihatannya juga belum mengerti. Kemudian wanita yang tak lain dan tak bukan adalah kepala sekolah tersebut tersenyum pada Mama.

“Anakmu akan baik-baik saja, kami akan menjaganya.” Ucapnya dalam bahasa Inggris. Aku yang masih kecil juga belum mengerti bahasa Inggris maupun bahasa Belanda, sehingga aku sama sekali tak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan.

“Terima kasih, Juf[1] Linda.” Ucap Mama sembari berjabat tangan dengan wanita tersebut. Beliau menatapku cemas namun menepuk pipiku pelan. “Semangat, sayang.”

Hari itu pun kulalui dengan diam. Aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka minta. Aku sedikit kesal pada Mama dan Papa yang membuatku masuk sekolah di Belanda di tengah-tengah semester seperti ini. Sudah pasti aku banyak tertinggal, dan lagipula aku juga tak mengerti sama sekali bahasa Belanda. Aku tak mengerti saat ibu guru cantik yang menjadi wali kelasku mengajakku berbicara. Aku juga tak mengerti saat teman sekelasku mengajakku berbincang-bincang. Ah, aku benci sekali suasana canggung seperti ini.

Dan yang paling parah adalah penindas-penindas kecil di kelas tersebut. Bel berbunyi, dan aku menduga itu adalah bel menandakan dimulainya istirahat. Yah, mungkin system bel nya masih sama seperti saat aku bersekolah di Jakarta dulu. Di sekolahku yang dulu aku tidak ada kesulitan sama sekali. Aku cukup berprestasi dulu, teman-temannya menyenangkan dan guru-guru menyukaiku. Bukannya terlalu percaya diri, namun Mama pernah berkata kalau ia sangat bangga denganku.

Anetta, hoe gaat het met jou[2]?” wali kelasku berjongkok dan bertanya dengan lembut padaku. Mata birunya indah sekali saat dilihat dari dekat, aku iri sekali pada mata indahnya. Di bajunya terdapat sebuah pin bertuliskan ‘Cornelieke’. Sepertinya memang itulah nama beliau.

Aku hanya tersenyum, aku tidak mengerti apa yang diucapkannya. Namun karena ia tersenyum, sepertinya hal tersebut hal yang baik. “Het is pauze, hoor. Wil je naar de speeltuin gaan[3]?”

Aduh bagaimana ini, aku tak mengerti. Guru baik hati tersebut mengangguk memaklumi dan menggandengku menuju sebuah lapangan luas. Disana banyak sekali anak-anak yang tengah bermain tali. Mereka menyebut permainan tersebut sebagai ‘Tip-Tap-Top’, dimana kita harus melompati tali tersebut dengan pola-pola tertentu.

Guru tersebut mengantarku kepada sekelompok anak dan dengan gerakan tubuhnya memintaku untuk bergabung dengan mereka. Juf Cornelieke meninggalkanku dan menuju seorang anak yang tiba-tiba saja menangis keras. Aku takut ditinggal sendirian.

Tiba-tiba seorang anak berambut coklat menghampiriku dan menginjak kakiku. “Wie ben jij?”[4] geramnya. Perempuan tersebut berbadan cukup besar sehingga membuatku ketakutan. Ia mendekatiku dan mengamatiku dari atas sampai bawah. Aku tak tahan dan segera berlari. Tanpa disangka ia juga mengejarku dan kami pun berkejar-kejaran di lapangan luas tersebut, diiringi tatapan heran teman-teman kelas yang lain. Juf Cornelieke masih sibuk mengurusi anak yang terjatuh dari ayunan sehingga tidak menyadari aku tengah dikejar olehnya.

Ik heb je!”[5] ucapnya senang saat berhasil menangkapku. Badanku gemetar, sepertinya dulu di Jakarta aku tak pernah ditekan seperti ini. Ia kemudian menarik-narik rambutku dan menjambaknya kencang. Aku pun tak tahan dengan rasa sakit dan tekanan darinya sehingga aku pun mulai menangis. Anak tersebut semakin menjadi-jadi dan mendorongku.

Stop!” Juf Cornelieke menghampiriku dan memisahkanku dengan anak yang setelah kuselidiki di kelas ternyata bernama Shira. Juf Cornelieke yang berambut pirang menenangkanku dan salju yang tadi sempat berhenti kembali turun. Aku pun mengikuti pelajaran hari itu dengan perasaan kesal dan aku sangat bahagia saat akhirnya waktu pulang tiba.

Mama berbicara sebentar dengan Juf Cornelieke dan sesekali mengangguk. Aku yang diminta menunggu disebuah bangku tak dapat mendengarkan percakapan mereka, telingaku tidak setajam itu. Mama kemudian menghampiriku dan menggengam tanganku keras sekali.

“Bagaimana hari ini, Anetta sayang?” ucapnya lembut sembari berjalan menuju rumah kami yang berupa apartemen dua lantai. “Papa hari ini sedang sibuk di kampus sehingga tidak bisa mengantarmu.”

Aku mengangguk memaklumi. Lagi pula aku bisa tinggal di Belanda sini kan juga karena Papa. “Tidak apa-apa, Ma.”

Tentu saja aku memaklumi Papa yang sibuk. Beliau tengah melanjutkan studinya disini. Dan aku sama sekali tidak merasa kesal beliau tidak dapat menemaniku hari ini.

“Sayang, tadi kata Juf Cornelieke kamu ditindas?” ucap Mama lirih. Beliau sepertinya berat sekali mengucapkan kalimat tersebut. Seperti ada sesuatu yang menahan.

Aku terdiam dan mengangguk. Namun aku sama sekali tidak merasa sedih, karena aku tidak terlalu memikirkannya.

Mama ternyata mengajakku ke sebuah stasiun bus yang bernama Deppenbroek. Bus-bus tersebut terlihat sangat megah dan pikiranku terbukti, karena saat aku masuk dan duduk didalam, rasanya sangat nyaman sekali. Bangku-bangku yang empuk membuatku ingin meloncat-loncat disana. Aku melepaskan jaketku yang sudah kotor dengan salju dan duduk dengan tertib. Bus pun mulai melaju ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu. Wajar kalau aku tidak tahu, aku belum pernah tinggal di sini sebelumnya. Enschede adalah sebuah kota yang tenang dan nyaman, aku sangat suka lingkungannya yang baik. Yah, kecuali di sekolah.

“Kita akan ke Centrum, Anetta. Kita akan belanja dan bersenang-senang.” Ucap Mama seraya mengedipkan mata kirinya. Aku yang masih bingung tersenyum saja.

**

Suasana centrum cukup ramai dengan pengendara sepeda. Lantai yang belum terlalu licin memungkinkan mereka untuk bersepeda dengan lancar, walaupun memang harus tetap waspada. Mama mengajakku ke sebuah toko mainan dan aku girang sekali masuk ke sebuah toko yang penuh dengan benda kesukaanku. Aku mengitari toko tersebut dan menemukan banyak sekali boneka dengan berbagai macam bentuk. Aku pun jatuh hati pada sebuah boneka harimau mungil dan merengek Mama untuk membelikannya padaku. Mama yang awalnya terlihat enggan pun akhirnya mengeluarkan uang sambil tersenyum. Aku sempat mendengarnya berbisik pelan. “Akan kulakukan apapun asal kau senang, Anetta.”

Hari itupun kami lanjutkan dengan melihat-lihat keadaan pusat kota tersebut dan aku terkagum-kagum melihat deretan toko yang terletak outdoor. Suhu yang dingin pun kulupakan karena semangatku meluap-luap. Aku dan Mama memasuki berbagai macam toko satu demi satu. Hari ini sebenarnya tidak buruk-buruk amat.

Kami pulang dengan wajah sumringah. Hari itu indah kecuali bus aroma yang cukup membuat mual. Hal itu tidak sebanding dengan kebahagiaan yang hari ini aku dapatkan bersama Mama. Langit berwarna kemerahan, dan dari kejauhan aku melihat sebuah sepeda melaju kencang.
Papa sudah pulang!
Postur gagahnya semakin mendekat dan aku menyambutnya dengan senang. Beliau pasti lelah setelah seharian berusaha keras belajar. Kami naik ke rumah kami yang berada di lantai dua apartemen tersebut. Sebenarnya lebih banyak orang lanjut usia yang tinggal disitu. Mungkin karena daerah tersebut tenang sekali dan jarang ada keributan. Sejauh pengamatanku, daerah tersebut sama sekali tidak rawan kejahatan dan nyaman untuk ditinggali.

Papa menggantung jaketnya dan duduk disebuah bangku mungil. Mama menyiapkan sebuah minuman hangat untuk kami bertiga. Aku memang anak tunggal, walaupun aku sangat mengharapkan seorang adik yang lucu dan manis.

“Bagaimana hari ini, Anetta?” Papa berkata seraya meminum coklat hangat yang telah diseduh Mama. Beliau duduk dan menyalakan TV yang tengah menyiarkan sebuah berita. “Apakah sekolah barumu enak?”

Aku pun terdiam sejenak mengingat perlakuan Shira padaku. Penindasan yang ia lakukan sudah berusaha kulupakan, namun entah mengapa saat ini aku terus mengingatnya. Aku berusaha untuk tidak peduli, namun mengapa sulit sekali untuk bertindak demikian?

“Ehm, tapi hari ini aku mendapatkan sebuah boneka dari Mama, Pa!” ujarku berusaha mengalihkan pembicaraan. Papa pun menatap Mama penuh arti.  “Bukankah sudah kubilang untuk berhemat? Jangan membeli barang yang tidak terlalu penting.”

“Tidak penting? Tidakkah kebahagiaan putri kita penting?” balas Mama berusaha tenang. Sepertinya beliau mulai sedikit kesal. “Kau tahu, aku akan berusaha habis-habisan demi Anetta.”

“Aku mengerti. Hanya saja sebuah boneka mahal? Bukankah itu melebihi budget kita di sini?” ujarnya sembari menatap keluar jendela. Salju semakin deras dan jalanan mulai tertimbun salju.

“Kau tidak tahu apa yang Anetta alami hari ini, Pa. Aku hanya ingin ia merasa lebih baik.” Ujar Mama. Tanpa sadar mereka berdebat didepanku yang hanya bisa celingukan. Akupun memilih ikut menatap salju yang semakin deras.

“Demi Anetta, apapun akan ku lakukan. Aku rela membanting tulang deminya.” Ucap Mama singkat sembari menatapku penuh arti. Papa pun memilih diam dan tak melanjutkan perdebatan tersebut.

“Ya, sayang. Kau telah berusaha habis-habisan dan aku bangga sekali padamu. Bekerja diam-diam disebuah toko dan dimarahi pelanggan adalah hal yang berat bagimu.” Bisik Papa lirih namun masih dapat terdengar olehku. Mama beranjak kedapur hendak memasak. Namun peluh berjatuhan dari pelipisnya. Dan beliau tidak memberi tahuku apa yang telah beliau lakukan selama aku sekolah, namun semangat Mama wajib diacungi ratusan jempol. Papa pun segera memeluk Mama penuh sayang. “Maafkan aku.”

**

“Selamat hari ibu!”

Sebuah ciuman ku daratkan di pipi Mama. Walaupun di Belanda hari ibu dirayakan saat pertengahan tahun, aku memilih tetap mengikuti tanggal yang ditetapkan di Indonesia. 22 Desember.

Mama terperangah melihat prakarya yang telah kubuat. Berantakan dan tidak teratur, bahkan sebenarnya sangat kacau. Ya, aku memang teledor. Namun Mama sama sekali tidak peduli. Papa juga mencium kening Mama dan memeluknya erat.

“Kau ibu terhebat didunia.” Ucap Papa sembari tersenyum lebar. Mama pun tertawa kecil dan sepasang mata indah miliknya mulai berkaca-kaca. Aku pun mengangguk dan menyetujui kata-kata Papa.

Thank you, my little princess.” Ujar Mama sembari menerima prakarya kartu tiga dimensi buatanku. Warna nya cerah dan aku sudah berusaha menggambar sebuah bunga di kartu tersebut.

“Kau ingat, aku pernah bilang aku semakin bertambah tua?” ujar Mama. “Tapi aku sama sekali tidak peduli, selama aku masih bisa bersama keluarga dan putri tercintaku ini.”

Aku mengangguk. Penuaan memang merupakan proses yang tak bisa dicegah atau dihindari. Itulah yang dinamakan siklus hidup. Kita pernah kecil dan akan menjadi besar. Namun mengapa harus memedulikan itu selama kita melakukan yang terbaik?

“Waktu memang cepat berlalu, dan aku tak sabar melihatmu sebagai seorang wanita dewasa.” Ucap Mama lagi. Aku pun memeluknya tersenyum. Aku tahu Mama diam-diam telah bekerja sangat keras demiku dan hal tersebut membuatku terharu.

“Aku rela mengorbankan apapun demimu, Anetta.” Ucap Mama. Kali ini beliau tidak dapat menahan air mata yang sedari tadi mendesak untuk keluar. “Kau tahu, saat kutahu ada orang yang menindasmu, aku merasa sangat marah.”

Aku terdiam. Sebegitu sayangnya kah beliau kepadaku?

“Namun kita hadapi semua permasalahan bersama, ya, sayang.” Ucapnya. Kini aku, Mama dan Papa saling berpelukan dibawah naungan salju yang turun dibalik jendela.

“Terima kasih Ma karena sudah berjuang untukku. Akupun akan berjuang keras untuk Mama.” Ucapku pelan, bersyukur atas cintanya yang sangat tulus sepertiku. Seandainya digambarkan dengan warna, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya adalah warna putih. Putih seputih salju.





[1] Ibu Guru


[2] Anetta, bagaimana kabarmu?


[3] Saat ini istirahat, apakah kau mau ke arena bermain?


[4] Siapa kamu


[5] Aku mendapatkanmu!