Tuesday, March 29, 2016

puisi cinta ala mahasiswa stres



Kata orang-orang sih, sistem syaraf pusat adalah otak dan tulang belakang
Tapi, pusat dari hati kok kamu ya?
 
Kamu itu..
bagaikan arousal yang merusak keseluruhan limbic system-ku
khususnya di amygdala, segala emosi menjadi bercampur tak karuan
Kamu membawa materi-materi berupa cinta ke sistem syarafku, sama seperti si cerebrospinal fluid
Superior colliculi terkadang dipersulit olehmu, karena pandangan mata menjadi tidak bisa fokus
Selalu ingin menengok ke arahmu kemanapun kamu pergi
Selain itu, kamu juga memekakan inferior colliculi
Suaramu selalu kucari, dimanapun itu terdengarnya
 
Kau membuat hipothalamus-ku meledak-ledak, sadarkah kamu?
Banyak drive dalam hipothalamus itu yang ingin kulakukan, entah itu mencubitmu, memelukmu
Dasar, kau juga merusak pineal gland-ku, ia jadi tidak bisa membuatku tidur karena terbayang-bayang senyummu kemarin
Akhirnya, aku pun melakukan circuit formation dan berusaha berfungsi untuk menargetkan diri padamu
Aku pun mengalami homeostatis bersamamu, cairan tubuhku, hatiku, dan masa depanku terasa stabil bersamamu
 
Kau meningkatkan hormone serotoninku, kau membuatku bisa tertawa lepas
Kau jugalah yang menurunkan dopamine dan gamma aminobutyric acid-ku, aku pun jadi bisa mengontrol agresi
Otak frontal kiriku jadi semakin aktif karena banyaknya emosi positif saat berada dalam pelukanmu
Aku merasakan banyak kupu-kupu dalam perut saat bersamamu
Epinephrine dan norepinephrine pun membuat syaraf autonomik simpatetikku berfungsi
Oh ya, kau tidak tahu rasanya?
jantung berdebar keras, pupil melebar, kulit berkeringat, dan bahkan pencernaanku jadi melambat karenamu
 
Pancaranmu seolah bisa menembus tiga lapisan meninges di otakku
Dan kau mampu memasuki bagian terdalam dari otak, melewati bagian kiri dan bagian kanan melalui corpus callosum
Bahkan, blood-brain barrier yang bertugas menghalangi toxic masuk ke otak pun kau tembus
dasar kau, toxic yang nakal
Aku tidak memiliki tolerance sama sekai, karena aku sudah menjadikan matamu sebagai sebuah candu
Aku tidak bisa mentolerir sehari saja tanpa melihatmu
 
Kau memiliki efek analgelnik, hypnotic, dan euphoria padaku
Kau menghilangkan sakit-sakit dari masa lalu, kau membuatku terbang jauh ke dalam mimpi indah bersamamu, kau membuat hati ini berdetak kencang ditemani pipi yang merona
 
Bagaikan motor neuron, kau sanggup memerintahkan dari otakku ke kakiku melangkah mengejarmu
Dan bagaikan sensori neuron, kau bsa memasukkan sugesti ke otakku melalui sentuhan lembut tanganmu
Kau membuat prefrontal cortexku agak kacau, aku selalu tidak bisa memutuskan dan merencanakan mana yang terbaik karena grogi
bersamamu atau tanpamu, aku selalu memikirkanmu
 
Tapi, kamu itu bagaikan aversive treatment
Setiap dirasakan, malah menyakiti
Terkadang juga malah memberi efek withdrawal, rasanya diri ini teradiksi olehmu dan sakit kalau melupakanmu sehari saja
Biarkan hati ini melakukan detoxification, biarkan ia membersihkan dirinya sendiri dari hal-hal negatif
Sudah saatnya aku melakukan circuit pruning, aku harus mengeliminasi koneksi-koneksi yang tidak diperlukan
Aku juga harus menjadikan learned taste aversion sebagai pemanduku, ia harus membantuku menghindari perasaan-perasaan darimu agar tidak sakit lagi
Seandainya saja aku bisa memiliki congengintal insensitivity to pain
Pasti akan indah kalau aku tidak merasakan sakitnya kesedihan
 
 
-----
 
salam dari mahasiswa psikologi yang kamis akan ujian pelajaran neuropsikologi. Wish me luck! :")

Monday, March 28, 2016

delusi di usia 20

"Nak, kau sudah besar,"
Kata-kata tersebut menggema dalam lorong-lorong otakku
Bagaikan cahaya putih yang bertabrakkan cermin,
kalimat tersebut terus berputar tanpa kenal lelah
 
Aku masih memikirkan putri salju yang dijamu di rumah para kurcaci
juga si gadis malang yang tidak dianggap oleh saudara-saudara dan ibu tirinya
Kini, cerita-cerita tersebut tinggal omong kosong belaka
Hal-hal tersebut hanyalah kebohongan indah untuk diceritakan sebelum tidur
 
Uang, rumah, pasangan, hutang
Sekolah, pekerjaan, bahkan bos gila
Semua itu menggantikan monster, alien, penyihir, dan ibu tiri yang kejam
Bukannya apa, namun diri serasa tidak siap meninggalkan kebohongan-kebohongan tersebut
 
", berjuanglah untuk dirimu sendiri."
Sambung wanita kuat bernama ibu tersebut penuh kehangatan
Tatapan matanya bagai dorongan lembut di punggung
Juga sebagai peringatan keras untuk hidup dalam realita
 
Ini hidup, ini kenyataan
Realita tidaklah manis, tidaklah menawan dan tidaklah secantik akhir bahagia dalam dongeng
Aku harus berpisah dengan putri salju dan si boneka babi yang selalu hadir dalam setiap petualanganku
Tidak rela, namun selamat tinggal masa kanak-kanak yang penuh delusi



 

Sunday, March 27, 2016

reviewlagu: tapi aku tetap mau kamu

Hei,

jadi aku lagi senang dengan lagu-lagunya Jon McLaughlin. Dia itu penulis lagu yang bisa bikin pendengarnya klepek-klepek dan meleleh saking sweet-nya. Pangeran idaman banget deh si Jon kalau lagi ngegombal.

Pertama kali aku mendengar lagu dia itu di film Disney berjudul Enchanted. Lagu-lagunya selalu cute atau kena banget dengan perasaan. Nah, salah satu lagu yang sweet banget itu berjudul I want you anyway. Berhubung aku memang jadi 'terbang' karena keimutan lagunya, baiklah akan ku review. <3 p=""> 



I gave up a long time ago
Trying to find love
TV told me it was like the movies
But it never was

I couldn't beat it or join it
So I just avoided it 
Come what may
Then you came
Jadi, si Jon menulis tentang keputusasaan seseorang dalam mengharapkan cinta. Lagu ini bercerita bahwa, 'ah yasudahlah. buat apa mikirin cinta yang nggak bakal datang'. Ia apatis terhadap perasaan hingga munculnya 'you', seseorang. Oh ya, perasaan menjadi tenang karena music instrumental di awal lagu, walaupun liriknya muram. Jon terlihat karismatik dengan pianonya <3 p="">
 
And I wanna hold you in my arms
I wanna let you break my heart
I wanna feel the way it feels to make you stay

And I know you'll bring me to my knees
I know you're way out of my league
I know I can't afford the price I'm gonna pay
But I want you anyway
 
Kemudian setelah bait pertama, Jon masuk ke refrain. Ia tahu bahwa bisa jadi cinta kali ini akan mengecewakan lagi, mungkin malah sampai down. Tapi, ia tetap mau memiliki si cewek ini. Lirik lagu ini ingin merasakan bagaimana caranya mempertahankan si cewek sampai mati-matian. I want you anyway, kata lagu ini.
 
It's so self-betrayal of me
I'm about to say all the things
Swore I'd never say
But my heart's in my mind
Drawing lines I can't erase

And all of a sudden
All that wasn't
So beautifully is
When we kiss
 
Di bait berikutnya, lagu Jon seperti berada dalam dilemma. Padahal, tadinya ia tidak berminat jatuh cinta lagi. Namun kok, semua menjadi indah? Ini seperti mengkhianati diri sendiri, namun lagu ini mengatakan perasaan oleh hati memang tidak bisa dihapus. *azek*
 
The way the light hangs off you
I never stood a chance
See you changed every plan I had with one glance
Kata lagu ini lagi, ternyata si cewek mengubah semua rencana muramnya, hanya dengan satu tatapan. Lagu ini pun membawa pendengar (apalagi yang cewek) menjadi melting. Seandainya aku biang es, aku sudah berasap nggak jelas saking melelehnya. Secara tidak langsung, Jon mengatakan bahwa anything's possible, anything's unpredictable.
 
Kalau menurut Jon nih ya, resiko perlu diambil. Ia tetap menginginkan si cewek, apapun tantangannya.
 
Ya, kita memang harus menjadi pemberani yang berhati-hati, bukan?
 
Cheers!
 
 


Tipe-tipe pelajar yang salah fokus belajar

Hai,

kalau pelajar atau mahasiswa pasti udah familiar banget dong sama ulangan, kuis, ujian, dan teman-teman segengnya. Bukan familiar lagi, malah udah sampai pengen muntah pelangi.Tapi saat kalian mau belajar, apakah bisa langsung fokus? Apalagi kalau ujiannya masih lama, sudah dapat dipastikan akan malas belajar. *curhat*

Nah, kali ini aku ingin mengklasifikasikan berbagai macam salah fokus dari belajar yang dapat terjadi. Check it out!



1. Bukannya belajar malah nge-blog
Ini aku saat ini (ngaku), karena aku kalau ada keinginan pasti harus dipenuhin dulu biar bisa tenang lagi. Seharusnya sekarang aku memantapkan pelajaran, namun berhubung aku lelah jadi ya gini deh. Malah nulis klasifikasi-klasifikasi gitu. Hayo, siapa yang sekarang harusnya belajar juga tapi malah mantengin blog ini? Habis baca post ini harus langsung balik fokus loh ya. :"D

2. Bukannya belajar malah main snapchat
Seharusnya sih belajar, tapi malah keasyikan nyoba-nyoba fitur lucu di aplikasi snapchat. Sekarang ada filter-filter keren dan kreatif loh! Sekarang lagi nge-tren yang filter doggy, kan ya. Oleh karena kelucuannya, belajarnya nanti dulu deh ya.

3. Bukannya belajar malah merhatiin pola tembok
Tembok yang bertekstur dan berpola macam-macam pun bisa menjadi lebih menarik daripada buku teks yang tebalnya enak buat nimpuk ayam.

4. Bukannya belajar malah ngegalau
Mikirin mantan, mikirin si doi, mikirin jodoh? Selamat, anda salah fokus dan berhasil masuk ke kategori ini. Puk puk, ya.

5. Bukannya belajar malah keasyikan nge-update Path
Kalau lagi belajar, jangan kebanyakan update listening to, watching to, atau quote-quote yah. Karena berpotensi menyebabkan ketagihan dan kita bakal ngecek lagi, siapa saja yang udah liat post kita? Siapa aja yang nge-love?

6. Bukannya belajar malah loncat-loncat dan joget-joget
Kalau aku, kadang seperti ini kalau belajarnya sambil muter lagu. Ya enak sih enak, tapi belajarnya apa kabar ya? Soalnya musik seperti membawa kita ke dunia yang lain, sih. Kabur dari kenyataan, ya.

7. Bukanya belajar malah nge-stalk orang
Gaya belajar zaman sekarang rentan salah fokus, karena banyak akun social media yang keren-keren dan bikin pengen nge-stalk mulu. Entah itu akun fashion blogger, akun fotografi, akun artis, akun teman, akun kecengan, akun dosen, ataupun akun kutipan-kutipan yang bikin sedih saking dalamnya

8. Bukannya belajar malah overthinking hal-hal yang nggak perlu dipikirin
Gini, aku pernah baca tulisan di suatu tempat. Misal, kita ada masalah. Apakah ada yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikannya? Ya, bagus, laksanakanlah. Tidak? Kalau memang tidak ada yang bisa kita lakukan, dipikirkan percuma dong? Nah, aku lagi bijak tuh. Oh ya, kalau aku kadang memang suka overthinking untuk hal-hal seperti body image, ataupun keputusasaan. Jangan ditiru ya guys.

9. Bukannya belajar malah keasyikan selfie
Selfie berpotensi menyebabkan ketagihan dan dapat menyebabkan tertundanya proses belajar. Pasti sekali cekrek, bakal cekrek-cekrek lagi. Lightingnya udah oke belum, ya? Poni udah rapi? Harap diperhatikan nih.

10. Bukannya belajar malah nongkrong di Youtube
Malah asyik nonton vlog ataupun video parodi music. Eh, kalau aku sih biasanya lebih suka nonton video clip yang official di Youtube. Seringkali menunda proses belajar juga, tuh.

-----

Selamat belajar!

Thursday, March 24, 2016

dreams

Halo,

hari ini aku bermimpi, dan yang aku ingat memang hanya bagian terakhirnya saja sih. Aku sedang berbicara kepada seseorang, kemudian orang tersebut mengatakan, 'masa sih kamu nggak sadar kalau kamu jatuh cinta?'. Dan yak, di klimaks dramatis tersebut aku terbangun. :"D. Bisa jadi inspirasi buat ngelanjutin novel nih.

Biasanya nih, mimpi bias menjadi inspirasi. Inspirasi untuk menulis, inspirasi agar semangat, atau kalau mimpi buruk juga inspirasi agar berhati-hati.

Oh ya, aku pun langsung teringat pada sebuah lagu dari Tiffany Alvord. Rasanya mood-nya sesuai dengan mimpi.

Check it out!





Post ini cuman sekedar sharing dan curcol, dan maaf banget nggak informatif. Namun, bunga tidur layaknya hidup kedua ya..

See you!

Wednesday, March 23, 2016

Een nieuwe dag

Een nieuwe dag, een nieuwe dag is weer gekomen
Een nieuwe dag, kom en vergeet de vorige dag
Een nieuwe dag, een nieuwe hoop, een nieuwe zon
 



Ik moet mijzelf te zijn
Op deze wondermooie nieuwe dag
Maar... op deze nieuwe dag ik wil ziek te zijn, en niet te leven.
Ik moet het toch steeds doen.
Omdat, alleen ik kan mijzelf blij te maken.
Andere mensen kan alles tegen mij te zegen, but alleen ik kan het doen. Voor mijzelf.
Kom, je moet braaf te zijn. Ik weet niet waarom je bang moet te zijn.
Geef jouw lieve glimlach, omdat glimlach kan andere people hoop and liefde geven. Ik moet het doen, ik moet te leven.
Het leven is geen sprookje, maar ik weet dat het einde will goed gaan. Als het leven maar zo makkelijk is. Maar nee, er zijn er geen prins on de witte paard, er zijn er ook geen lieve mensen dat willen zeggen dat ze van mij houd.
Ik wil iemand tegen mij zegen dat ze van mij houd. Ik will ook lieve vriendjes, en ook een lieve fee dat wil mij altijd optreuren.
maar ik kan tegen mijzelf zegen dat ik van mijzelf houd.
Zo, lach op deze nieuwe dag. Het leven moet altijd door gaan, vind je dat ook niet?

Spot langit favorit

Rasanya menyenangkan sekali punya spot langit favorit yang tiap hari dilewati. Aku merasa lebih tenang dan terpesona. Terkadang jam lewat tempat tersebut siang, terkadang pas sunset, dan terkadang saat malam juga.
 
I love this spot so much, karena gedung-gedung tidak tinggi sehingga memperlebar jarak pandang si langit dan awan.
 
Mood ku saat melewati tempat tersebut pun bermacam-macam. Kadang senang, kadang marah, kadang sedih, kadang khawatir. Seolah-olah, tempat tersebut tahu banyak tentangku. Ciailah haha.
Pernahkah kalian mempunyai suatu tempat favorit juga? Di share yuk!
 

Tuesday, March 22, 2016

selective attention

Halooooo,

Hari ini dingin karena hujan. Rasanya ingin selimutan saja, deh. Terus habis itu bobo deh, say goodbye ke segala tugas dan tanggung jawab *jangan ditiru ya teman-teman* *pelari tercepat dari realita* :"D

Nah, tadi sore pas aku pulang kuliah aku mengambil sebuah pemandangan yang sama, namun dari sudut pandang yang berbeda. Pemandangan tersebut terlihat dari balik jendela mobil Mama. Yuks, di lihat hasil foto-fotoku ini.



Nggak tahu kenapa, aku merasa fenomena ini keren. Oh ya, karena aku belajar psikologi, aku pun langsung teringat pada teori selective attention. Selective attention itu saat kita fokus pada suatu objek/kejadian dan mengabaikan yang lainnya. Misalnya nih, kita melihat boneka lucu dan mengabaikan benda-benda lain di sekitar boneka tersebut. Mata kita terpaku padanya *weiz*

Di foto pertama, kamera ponselku fokus pada awan dan gedung di kejauhan. Kelihatannya awan tersebut keren ya dengan warna-warna kontras bergradasinya. Gedungnya juga berdiri kokoh dan keras.


Di jepretan kedua, kamera berfokus pada tetesan-tetesan hujan di jendela. Bening dan minta di toel. Bentuknya pun bermacam-macam, ada yang bulat, lonjong, ataupun segilima. Gemas melihat mereka ini!

Terkadang, mata kita bagaikan kamera tersebut. Dengan selective attention, kita memerhatikan hal-hal yang memang kita ingin perhatikan. Kita pun seolah punya fitur memburamkan objek, hal-hal lainnya menjadi tersamarkan dan tidak masuk ke dalam pikiran.

Nah, yang ingin aku sampaikan adalah bahwa belum tentu yang di-blur-kan tidak penting, dan belum tentu yang kita fokuskan itu penting. Atau bahkan, keduanya bisa jadipenting dan perlu dilihat satu-satu.

Jadi, peka dan coba perhatikan hal-hal yang selama ini kita buramkan, ya.

Cheers!

Sunday, March 20, 2016

reviewlagu: berikan aku tidak bisa tidur, aku mau tidak bisa tidur

Haihai,

berhubung aku lelah dan sudah menyelesaikan tugas sebelum garis kematian, eh deadline, aku mau review lagu yang aku suka banget ya. Hitung-hitung refreshing hahaha. Otak penat, hati lelah, perasaan galau (?)





Jadi, aku lagi suka banget sama lagunya Pentatonix. Itu lho, band accapela yang kece abis. Harmonisasi suaranya itu selalu bikin merinding. Nah, dulu tuh mereka bikin cover lagu-lagu lain. Sekarang, mereka sudah membuat album original dan salah satunya adalah lagu berjudul Can't Sleep Love. Yei!
 
Jadi, band accapela beranggotakan lima orang inspiratif ini tidak pernah menggunakan alat musik apapun selain microphone untuk diri mereka sendiri, karena ada Kevin yang jago beatbox, Avi yang suaranya nge-bass abis, Scott yang suaranya bikin meleleh, Mitch yang suaranya bisa tinggi setinggi cita-citaku, dan Kristie yang kyut banget <3 p="">
 
Pentatonix selalu dekat di hati deh!
 
Tell me am I going crazy
Tell me have I lost my mind
Am I just afraid of lovin
Or am I not the lovin kind?
 
Scott memulai bait pertama tersebut tetap dengan pesonanya yang charming parah. Ia bertanya, apakah dia yang salah kalau tidak ada yang mencintai dia, atau apakah memang dia yang punya aura 'gila' sampai orang takut sama dia? Duh Scott, peluk dulu sini *ngarep* *benua memisahkan kita*
 
Kissin in the moonlight
Movies on a late night
Getting old
 
I've been there, done that
supposed to be hot
But it's just cold
 
Somebody wake up my heart
light me up
set fire to my soul
cause I can't do it anymore
 
Sepertinya, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang despair karena sudah terlalu lama sendiri. Si tokoh ini mengatakan, I can't do it anymore. Duh, bait ini seolah tengah mencari kehangatan pelukan .
 
Gimme that can't sleep love
I want that can't sleep love
the kind I dream about all day
the kind that keeps me up all night
gimme that can't sleep love
 
Kemudian, ini nih refrain yang harus dinyanyikan sambil teriak-teriak saking asyiknya. Beat-nya bikin badan mau gerak-gerak terus, istilahnya pecicilan. Joget-joget sambil menjentikkan jari, haha.
 
Si tokoh dalam lagu ini mau seseorang yang memberikan percakapan dalam pada malam hari. Ia ingin di kabari kalau nggak bisa tidur, dan bukannya merasa terganggu, tapi ia malah sangat mengharapkannya. Wah, aku ngebayanginnya teleponan sambil melihat bulan sih. So sweet!
 
Kemudian, bagian yang catchy juga ini adalah bridge-nya, bukan jembatan penyebrangan loh ya
 
Oh, I'm tired of dreaming of no one
I need somebody next to mine
Cause I'm dyin to give it to someone
Because I can't do it anymore
 
Setelah kupikir-pikir, kok tema lagu Can't Sleep Love mirip-mirip Sudah Terlalu Lama Sendiri-nya Kunto Aji yah? Haha, jadi si lagu ini menceritakan, kok lelah banget yah nggak karena udah kelamaan nggak ada yang nungguin, nggak ada yang nanyain kabar, nggak ada yang nyuruh tidur, nggak ada yang bilang 'nggak bisa tidur nih', nggak ada yang...
 
ah, ya sudahlah *mulai baper* *abaikan*
 
:")
 
Jadi, lagu ini recommended buat yang senang nuansa-nuansa klasik namun nge-beat dan asik buat diajak goyang dan galau. Wih, goyang dan galau adalah kombinasi mematikan yang sangat mantap.
 
Oke banget dengerin lagu ini sambil santai, apalagi pas sore menjelang malam. Mood lagunya sebenarnya nggak suram juga, walaupun topiknya agak jomblo ngenes, tapi lagu ini berpikiran positif lho.
 
Pentatonix memang the best, lah! *nggak dapet komisi kok, aku promoin karena memang nge-fans haha*
 
 
 
So, gimme that can't sleep love!

Friday, March 18, 2016

Keep holding on! #randomthoughts


Keep holding on, karena kamu punya orang-orang yang masih sayang padamu.
Jangan menyerah, karena pintu keluar masih menunggu untuk ditemukan
Berdirilah dan carilah jalan tersebut
Percayalah, hidup memang seperti itu
Jadilah cahaya untuk dirimu sendiri dan pandulah dirimu sendiri
So, just keep holding on

:-)

 

Thursday, March 17, 2016

Someday

Someday, someone will look at you the same way you look at the moon
Someday, someone will be caught staring at you just the way you gaze at the shadows
Someday, someone will see the most inner layer of you as a beautiful, sparkling ray
Someday, someone will breathe you back alive
 
Someday, just someday.

Sunday, March 13, 2016

hidup yang plin-plan dan tegas


 


‘Halo’

Hidup berbisik ramah padaku

Dengan jabatan tangan hangat dan dua gelas es teh

Aku menunggu kelanjutan ceritanya di ruang tersebut

 
‘Bangun, bangun’

Bukankah hidup itu aneh

seringkali, ia meledek dan mencubitku yang nyaris ketiduran

Agar aku tidak bermimpi buruk, katanya

 
‘Rasakan, rasakan!’

Selain aneh, ia juga jahat

Sambil menjulurkan lidah dan bersorak

Ia menikmati diriku yang tersiram teh


Bukankah hidup itu lucu?

Ia menertawakanku dan orang lain ikut menertawakanku

Aku mulai membencinya

Lalu, ia bertanya mengapa aku sedih
 
 

‘Tenanglah’

Ia mendatangkan orang-orang untuk memberi pelukan hangat

Juga membantuku mencari handuk kering

Agar kami dapat melanjutkan perbincangan yang sempat terhenti


Hidup masih duduk bersamaku

Kami masih bercakap-cakap

Ditemani sejuta kisah dan lika-likunya

Aku mulai tahu, ia orang yang jahat namun juga baik


Si hidup itu

Tidak mau beranjak meninggalkan obrolan walau aku memintanya

Masih terlalu pagi, ujarnya

Syukurlah, ia plin-plan namun juga tegas

 

 

 

 

Friday, March 11, 2016

reviewlagu: untuk yang sedang memperjuangkan cinta

Halo,



jadi kali ini aku ingin me-review lagu dari The Sam Willows. Band tersebut berasal dari Singapore, dan aku sudah jatuh hati semenjak pertama kali menonton cover mereka di Youtube. Lagu yang aku bahas kali ini berjudul For Love, dan sangat cocok untuk yang lagi mellow. Cocok nih buat nangis sendirian di kamar *loh* *ngelap ingus* :")
 
Too many people on board this train
I gotta find my way around
Too many voices in my head
Gotta reach high turn it down

Lagu ini diawali dengan suara-suara menenangkan, menciptakan suasana yang anehnya berdesir-desir kayak ombak di pantai. Bait pertama dinyanyikan oleh Benyamin Kheng, dan bercerita tentang seseorang yang kehilangan arah dan motivasi hidup. Kebimbangan yang menyebabkan seseorang sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Diceritakan dalam lirik tersebut, bahwa orang ini goyah karena banyaknya tuntutan dan dorongan orang lain. Aku mengerti sih, terkadang suara orang lain menjadi begitu keras hingga kita tidak bisa mendengar suara hati sendiri. We lost directions and we lost ourselves.
 
Too many tear drops on the floor, anymore
gonna kiss the ground before I drown
are you even gonna try to reach me
too many words stuck in this phone
but your voice ain't even there

Too many nights spent home alone
with your laughter in the air
too many songs of the broken heart
try to shut you out, but you're everywhere
are you even gonna try to reach me
is this how it's gonna end

Lagu ini kemudian menceritakan tentang kesedihan, kesepian, dan kepasrahan. Sedihnya, memang banyak air mata yang terbuang untuk kenangan-kenangan yang menyakitkan. Pertanyaan yang sering muncul pula adalah, bagaimana kita harus bertahan mendengarkan suara tawa si doi yang menggema terus-terusan di kepala? *meluk guling*

Kalimat yang paling nyesek bagiku adalah yang dinyanyikan oleh Narelle Kheng, yakni are you even gonna try to reach me, is this how it's gonna end?

Aku langsung merasa, ya ampun kok perasaan bisa begini banget ya. Tapi tenang, merasa sedih, bimbang, takut, ataupun cemas itu manusiawi kok.

For love i'mma give it all
for love i'mma give it all
for love
for love i'mma give it all
for love i'mma give it all
you and I let's do it all
for love

Nah, ini nih refrain yang catchy banget. Bait tersebut memiliki kalimat yang diulang-ulang. Kalimat simpel namun bermakna luas. Untuk cinta, apapun akan diberikan. Demi si cinta itu juga, apapun akan diperjuangkan. Bait ini dinyanyikan oleh keempat anggota The Sam Willows, yakni Benjamin, Narelle, Sandra, dan Jonchua.
 
too many paper-shaped stars
falling out of broken jars
too many unforsaken scars
if it hurts bleed it out on this guitar
you build your glasshouse round your heart, like a work of art
break it and we'll never be apart
are you even gonna try to reach me
is this how it's gonna end

Kemudian, Sandra dengan suara serak dan cantiknya menyanyikan bahwa kesedihan yang dialami bisa di patahkan dengan cara membuka diri. Memang sakit kok membuka pertahanan diri tersebut, tapi bisa. Pembukaan diri tersebut diharapkan dapat menyatukan si cinta yang sudah 'berserakan', berkeping-keping. *puitis mendadak*

Give it all, give it all, for love love
give it all, give it all, for love

Berikan perjuangan sampai titik darah penghabisan untuk cinta, kata The Sam Willows. Lagu penuh romansa, sedih, dan pengharapan ini cocok untuk menemanimu mencari arti dari perjuangan cinta tersebut. Apakah itu worth it atau tidak? Sebetulnya, tergantung masing-masing orang. Nah, aku akan menutup review ini dengan quote yang pernah kulihat sekilas di media sosial dan akhirnya ku simpan dalam memori ponsel,

Whatever's meant to be will always find a way.

So, whatcha waiting for? smile and find that way right now. Cheers!



 

Thursday, March 10, 2016

Synesthesia- BAB II~ Kacau dan jatuh cinta

‘Korban mengalami luka bacok di kepala dan dada, sementara kelompok pelaku mengaku tidak mengingat apa-apa perihal kejadian mengenaskan ini.’

Aku mengernyitkan dahi menyimak si penyiar radio yang mengoceh pagi ini. Kak Angga, yang seperti biasa sibuk di laboratorium, ikut mendengarkan si speaker kecil yang kupasang di pojok ruangan. Biasanya, aku menyalakannya untuk mendengarkan musik-musik pop kesukaan. Kak Angga juga selalu menikmati musik berirama cepat. Otak jadi lancar, ujarnya.

“Kenapa ya, Kak, akhir-akhir ini muncul kejadian-kejadian aneh?” tanya sembari menatap langit pagi yang agak mendung. Sinar matahari yang biasanya menembus tirai biru muda jendela kali ini tidak nampak. Maka dari itu, si pajangan bebek bertenaga sinar matahari yang senang menggeleng-gelengkan kepala kini terdiam. Cahaya yang redup tidak cukup untuk menggerakannya.

“Entahlah, aku juga merasa ini aneh.” Ujar Kak Angga berhenti sejenak dengan obeng dan tangnya. Ia masih berusaha memperbaiki radar berbentuk layar miliknya, yang sedari kemarin-kemarin masih memiliki cacat. “Banyak kasus pembunuhan aneh, tanpa alasan yang jelas.”

“Apalagi para pelaku sepertinya juga tidak sadar mereka membunuh?” tanyaku penuh rasa penasaran. Ya iyalah, siapa juga yang tidak heran kalau sekelompok orang membunuh tanpa alasan dan mereka tidak ingat apa yang mendorong mereka untuk melakukan tindakan kriminal.

‘Menurut Dokter Hermawan, spesialis syaraf yang membantu proses otopsi korban perempuan bernama Wirna tersebut, terdapat hal janggal di otak dan leher Wirna.’

Kak Angga ikut duduk bersamaku di deretan bangku, dan kami hening sambil serius menyimak penyiar wanita bersuara serak tersebut memberitakan perkembangan terbaru dari kasus di Jakarta ini. Saat ini, kami tidak berminat mendengarkan siaran musik.

Kini, kami sudah terhubung langsung dengan Dokter Hermawan via telepon. Pagi, Dok!’

Aku meninggikan volum speaker yang terhubung dengan jaringan radio dan membiarkan suara tersebut menggema di sekeliling laboratorium yang tersembunyi di belakang rumah ini.

Selamat pagi, Lita.’ Suara berat dan teduh tersebut menyapa, terdengar agak tergesek-gesek karena Dokter Hermawan berbincang melalui teleponnya sendiri.

‘Dalam kasus ini, Dokter Hermawan adalah salah satu yang ikut meneliti. Bagaimanakah hasil penelitian yang janggal dan ramai diperbincangkan orang banyak tersebut?’ Ujar penyiar wanita mengarahkan percakapan dengan rapi dan sistemastis.

‘Ya, Lita. Jadi dalam kasus-kasus pembunuhan tanpa alasan yang marak terjadi selama tiga hari ini, aku membantu menganalisa semua korbannya. Dalam kasus pembunuhan dengan senjata tumpul kemarin, si korban tampak memiliki memar berwarna hitam yang tidak lazim. Seolah membentuk gambar sebuah burung gagak secara alami.’ Ujar Dokter Hermawan tanpa terbata-bata. Gaya berbicaranya sangat keren!

‘Kalau Wirna, Kasus pembunuhan karena pengeroyokan yang baru terjadi beberapa jam yang lalu, otaknya mengalami kerusakan parah di prefrontal cortex tanpa alazan yang jelas.’ Lanjut Dokter Hermawan berceloteh, sesekali aku dapat mendengar lembaran kertas yang dibalik dari sambungan telepon tersebut. ‘Kami pun penasaran dengan para pelaku yang tidak mengingat motif membunuh dan memutuskan untuk men-scan otak mereka.’

‘Bagaimanakah hasilnya, Dok?’ Lita bertanya dengan intonasi meninggi. Sepertinya, penyiar tersebut juga penasaran dan antusias.

‘Para pelaku memiliki kerusakan parah yang tidak wajar pada amygdala. Ada radiasi yang menonaktifkan neurotransmitter di sinapsis, sehingga otak secara tidak wajar tersumbat. Anehnya, yang rusak memang hanya bagian amygdala.’ Jelas Dokter Hermawan lagi.

Aku dan Kak Angga saling lihat-lihatan saat penyiar dan Dokter Hermawan masih berbicara.

“Radiasi?” Kak Angga mengernyitkan kening dan meremas celana di genggamannya. Tanpa menunggu jawabanku, ia pun langsung berlari ke radar miliknya dan langsung mengaktifkannya. Ia membuka lebar mulutnya, menampilkan rahang tegas yang lagi-lagi membuatku berpesta dalam hati. Tuh kan, dasar robot aneh yang memiliki perasaan.

“Mora, sini deh.” Ujar Kak Angga sambil tetap terpaku pada layar dihadapannya. Ia pun menggunakan tangannya untuk memanggilku mendekat kepadanya.

Aku menghampiri dan ikut berjongkok bersamanya, sampai terlihat banyak titik-titik hijau muda aneh di peta di layar tersebut. Aku kaget saat melihat sinar-sinar tersebut semakin banyak, dan banyak. Mereka membelah diri bagaikan amoeba.

“Apa itu, Kak Angga?” Aku bertanya, sambil khawatir melihat sinar hijau yang makin banyak. Entah apa itu dan apa yang sedang terjadi. Dunia yang kacau membuat manusia juga menjadi kacau. Ternyata, masalah saat ini tidak sesederhana pemanasan global lagi.

“Aku memprogramnya untuk mendeteksi berbagai jenis jaringan, atau radiasi. Seharusnya warnanya biru tua karena berasal dari bumi.” Jawab Kak Angga sambil mulai mengetik-ngetik di papan keyboard portable yang disambungkannya ke layar.

“Tapi jika warna hijau, itu artinya jaringan tersebut betul-betul berasal dari luar bumi.” Sambungnya, meninggalkan kebingungan besar dalam pikirian artificial kusutku.

“Dokter Hermawan bilang bahwa otak-otak dengan amygdala rusak tersebut terjadi akibat radiasi-radiasi aneh.” Ujarku mencoba menganalisa apa yang tengah terjadi. Aku betul-betul resah mendengarkan radio, tidak ada satu haripun yang tenang tanpa terjadinya tragedi apapun. Sebetulnya, mengapa hidup ini diciptakan untuk merasakan kekacauan?

“Jangan-jangan..” aku berujar pelan. “Jaringan yang mengacaukan itu jugalah jaringan aneh dari luar bumi yang Kak Angga deteksi?”

“Sepertinya bisa disimpulkan seperti itu.” Kak Angga mulai mengeluarkan kertas dan mengkalkulasikan sesuatu lagi. Dirinya yang sedang serius seperti itu sangat menarik dan imut bagiku. Memang adik robot macam apa aku ini, sungguh aneh.

“Pertama, jaringan hijau yang terus membelah diri ini terus bergerak, dan menghilang, kemudian muncul lagi. Anehnya, mereka menghilang setiap berpapasan dengan manusia.” Jelas cowok tersebut sembari menunjuk pada bulatan-bulatan hijau di layar tersebut. “Bahkan, jaringan-jaringan tersebut menghilang pada lokasi-lokasi ramai orang seperti di kafe dan sekolah.”

“Kak..” aku bertanya dengan suara lirih. “Apakah semua akan baik-baik saja?”

“Jalan pasti akan kita temukan, buktinya kini kita sudah punya pencerahan.” Jawab Kak Angga menepuk pundakku. Tindakan tersebut selalu di lakukannya setiap aku resah, membuat pupilku melebar dan jantungku berdetak tanpa kompromi. Kalau menurut memoriku tentang sistem syaraf, hal tersebut dikarenakan aktifnya syaraf simpatetik. Pengetahuan-pengetahuan tersebut tertanam dalam pemogramanku, walaupun aku memang tidak pernah disekolahkan layaknya manusia biasa.

Mungkin itu bisa menjelaskan mengapa aku tidak punya teman lain selain Kak Angga.

“Pasti ada seseorang atau sesuatu dibalik jaringan-jaringan mengerikan tersebut.” Lanjut Kak Angga sambil mengucek-ucek mata lelahnya yang anehnya tetap nggak ada minus. Padahal, ia bertahun-tahun berhadapan sama komputer melulu. Setiap bekerja di laboratorium, ia tidak pernah kenal lelah.

Kak Angga tiba-tiba mengangguk penuh tekad. “Aku tidak akan membiarkan manusia membinatangkan manusia lainnya.”

“Kakak punya solusi untuk menghentikan semua kegilaan ini?” tanyaku penasaran, sembari mengecilkan suara speaker yang sudah berganti topik menjadi ‘cinta monyet pada anak muda’. Siaran radio yang kudengarkan memang memiliki range pendengar dari semua usia, namun aku kagum karena mereka selalu menjaga profesionalitas dan keamanan topik.

“Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan, Ra.” Kak Angga berujar sembari menuliskan rumus penuh angka lagi. Aku tidak berani melihat, karena pasti kepalaku akan sakit lagi. Merasakan angka itu susah, sesusah merasakan nyeseknya cinta monyet.

‘Ya, sebetulnya apa itu cinta? Menurut Billa, seorang pendengar yang baru meng-SMS kami, cinta terkadang menyakitkan karena tidak bisa diterima untuk hal konyol. Duh, curhat ya, Bil?’ Samar-samar, aku mendengarkan si penyiar yang berceloteh sambil tertawa pelan. Suaranya terdengar lebih ceria dibandingkan Lita yang membawakan berita tadi. Ya, setiap segmen memang memiliki penanggung jawab yang berbeda-beda. ‘Di segmen Let’s Talk About Love ini, kita akan meminta pendapat teman-teman muda perihal cinta monyet. Jangan lupa di tweet ya, aku tunggu!’

Duh, kok jadi salah fokus. Menjadi robot yang memiliki perasaan layaknya manusia memang membingungkan. Namun, kebingungan akan perasaan tersebutlah yang menjadikanku manusia, bukan? Sesuai dengan kata-kata Pak Handoko.

“Tapi,” Kak Angga berkata sembari mengelap layar berbingkai hitam radarnya dengan kain lembut yang selalu disediakannya di samping peralatan-peralatan serba gunanya. Alat-alatnya lengkap sekali, mulai dari obeng dan kunci inggris hingga berjenis-jenis kabel yang memiliki kode-kode angka yang berbeda-beda pula. “Kita bisa tahu lokasi jaringan-jaringan hijau yang besar-besar. Sepertinya, dia seperti induk yang melahirkan jaringan-jaringan aneh yang lebih kecil.”

“Seperti ratu lebah yang kerjaannya melahirkan, ya?” celetukku spontan, entah benar atau tidak. Kak Angga sudah terbiasa dengan ke soktahuanku.

“Ya, dan lokasi si induk jaringan terdekat berada hanya sekitar lima kilometer dari rumah kita.” Jawab Kak Angga sambil menunjuk sebuah lokasi di peta. Aku memroses program pembacaan peta dalam kepalaku, dan langsung tahu bahwa lokasinya adalah di sebuah tanah lapang tempat patung berbentuk kuda berdiri.

“Ada di Taman Pacu Kuda dekat kompleks ini, Kak Angga.” Ujarku sembari mencari arah secara spasial. Pak Handoko dengan detailnya memberikan kemampuan-kemampuan synesthesia kepadaku, salah satunya adalah merasakan spasial visual secara angka maupun warna. Walaupun untuk kasus angka, aku masih payah dan butuh berlatih banyak. Kemampuan tersebut memungkinkanku untuk menggabungkan beberapa sensor dengan fungsi yang berbeda-beda perannya. Terdengar menarik, namun aku sebetulnya cukup bosan dengannya.

Kak Angga menaruh kertas coretan yang tadi di otak-atiknya. “Menurut rumusku, arahnya juga tidak jauh dari sini.”

‘Ya, kembali lagi bersama Olla di segmen Let’s Talk About Love. Ada pendapat dari seorang berinisial A, bahwa cinta itu perasaan nyaman dan pelukan. Cie A, kamu pasti lagi membayangkannya sama si doi ya? Kalau menurut teman-teman lain, cinta monyet itu seperti apa sih?’ aku kembali mendengarkan radio yang bersuara samar. Iklan-iklan produk sereal dan acara sudah selesai, dan kini segmen mulai kembali.

Aku berpikir keras dan mulai mengetik di hp untuk akun radio tersebut. Cinta monyet itu kacau, tapi cinta tetap adalah hadiah terindah yang bisa diberikan kepada manusia dan juga robot.

“Halo, earth to Mora?” ujarnya melakukkan kebiasaannya menjentikkan jari setiap aku bengong. Pipiku merona setiap aku kaget mendengarkan suaranya. Alis tebalnya bermain usil menggodaku, membuatku semakin salah tingkah. Sepertinya, emosi-emosi di amygdalaku seperti kebakaran dan berlari heboh kesana dan kemari setiap suaranya memasuki telinga robotku. Kak Angga nyengir bandel.

“Gini, sekarang kita sarapan dulu di ruang tamu. Kita minum teh hangat, keluar dari sini, menghirup udara segar, kemudian hadapi si jaringan menyebalkan di Taman Pacu Kuda. Kamu mau bergabung dalam misi menyelamatkan dunia ini?” ujarnya seolah-olah kami berada dalam film-film action. Aku tertawa saat ia mengambil kacamata hitam di meja dekat situ dan bergaya layaknya agen rahasia. Kacamata tersebut sebetulnya adalah kaca mata untuk mengelas, namun cukup oke karena terlihat seperti kacamata hitam gaya biasa.

Ia pun mendorong punggungku untuk naik lift keluar dari laboratorium yang berada di belakang bawah, kemudian kembali ke rumah. Sentuhannya lagi-lagi membuatku berdesir-desir.

“Oh, iya!” ujarku tiba-tiba saat lift hampir terbuka. “Aku lupa mematikan radio.”

Aku pun langsung berlari ke speaker tanpa menunggu jawaban Kak Angga. Saat ingin mematikan, aku terdiam malu mendengarkan penyiar Olla yang berceloteh.

‘Menurut cewek berinisial A lagi, cinta, walaupun judulnya ‘monyet’, tetap merupakan hadiah indah. Nah, menurut aku pribadi yang setuju, cinta juga kado yang diberikan sang Pencipta, lho. Jadi, nikmatin dan terima aja ya kado itu. Terima kasih sudah mendengarkan segmen mellow ini!’ penyiar tersebut kemudian tertawa kecil, dan sebuah lagu cinta pun diputarkan. Lagu bertempo lamban yang menambah kegalauan para pendengar di penjuru Jakarta.

Aku tersenyum kecil, mematikan speaker, mematikan lampu laboratorium, kemudian berlari ke Kak Angga yang sedang menahan lift untuk tetap terbuka dan menungguku. Kami akan kembali ke rumah, sarapan, minum teh, jatuh cinta, kemudian menyelamatkan dunia.  Ya, nikmati saja ya kado berupa perasaan indah ini.

Walaupun cinta berlabel monyet, tetap saja monyet tersebut menjadi monyet imut yang perlu dirasakan. Aku melihat kea rah Kak Angga yang tengah menatap tombol lift, kemudian mengalihkan pandanganku dengan berbagai pikiran berkecamuk dalam kepalaku. Keadaan kacau dan jatuh cinta ternyata tidak harus muncul pada saat yang berbeda.

Dalam hati, aku berterima kasih kepada Pak Handoko telah memberikanku hadiah indah. berupa perasaan cinta.

 

 

 

Wednesday, March 9, 2016

Synesthesia- BAB I~ Selalu heboh

“Angga.” Aku berucap, membuat laki-laki tinggi tersebut membalikkan badan dari benda berbentuk layar computer yang sedang di obengkannya. Ia cemberut melihatku. “Sudah kubilang, panggil aku Kak Angga. Aku sudah lebih tua darimu sekarang, Mora.”

16 tahun sudah berlalu semenjak tragedi hilangnya Pak Handoko tersebut. Angga sebagai anak menjadi pendiam, namun berambisius untuk menemukan sesuatu yang berguna. Ternyata, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Bakat bereksperimen Pak Handoko berhasil menurun ke sang anak. Saat itu, aku adalah Kak Amora dari Angga. Akulah yang menjaga dan memasak untuknya, aku yang membujuknya saat ia menolak untuk kembali ke sekolah. Aku jugalah Kak Amora yang memeluknya saat ia menangis karena diolok-olok temannya perihal pakaian kusamnya. Bekal kesukaan Angga saat itu adalah buah apel.

Kini, ia sudah lebih tinggi dariku. Sosok artifisialku membuat diriku tidak bisa menua dan bertumbuh. Alhasil, aku masih Nampak sebagai remaja pendek berambut sebahu. Mata besarku tidak pernah berubah dari dulu. Selain itu, aku juga tidak pernah mau melepaskan pita biru di leher. Entahlah, aku merasakan ikatan batin yang kuat dengan Pak Handoko.

“Mora.” Kak Angga menjentikkan jarinya di hadapanku yang pikirannya mulai melayang kemana-mana.
“Jangan bengong. Siapa tahu kamu juga bisa kesambet.”

Aku pun langsung salah tingkah dan gemas. Kak Angga selalu membuatku merasa kesal namun senang seperti ini. Seandainya saja ia tahu. Kak Angga senang mengenakan pakaian berwarna gelap, bertolak belakang dengan sang ayah yang senang dengan warna terang. Oh ya, sejak dulu sampai sekarang, kami hanya hidup berdua karena Kak Angga tidak memiliki sepupu, bibi, ataupun tante.

Tik, sebuah jentikan di depan hidungku muncul lagi. Kak Angga terkekeh melihatku melonjak ke belakang. “Halo, earth to Mora.”

“Iya, iya. Aku masih di sini.” Aku mendumel pelan sambil tetap senyum-senyum. Terkadang aku merasa emosi-emosi yang diberikan Pak Handoko menggangguku. Kini aku kasihan sekali pada manusia yang memiliki emosi dan tidak bisa menghentikannya. Hal yang paling menyebalkan adalah sakit perut setiap Kak Angga memanggilku dengan suara lantangnya. Ya ampun, dasar amygdala.

“Kak Angga.” Aku memanggilnya sekali lagi, kali ini lirih. Kak Angga duduk di sampingku yang sedari tadi nongkrong di deretan kursi tua dan usang.” Kak Angga kangen pada ibu Kak Angga?”

Kak Angga menghela napas berat. Pandangan dari kedua mata tajamnya menerawang entah kemana. Ia mengelus tanganku lembut, aku menikmati setiap detik bersama tangan kekar namun  penuh kehangatannya. Lelaki berambut jabrik tersebut melihat keluar jendela. “Mungkin kangennya aku ke Mama sama seperti kangennya kamu ke ayahku, Mora.”

“Mungkinkah kita melupakan rasa rindu?” Aku berucap, entah kenapa topik tersebut terus menghantui pikiranku. Setiap malam. Aku yang memang diprogramkan untuk tidur, makan, dan hidup layaknya manusia menjadi insomnia.

Kak Angga mengangkat kedua pundaknya sambil lagi-lagi mendesah. “Siapa yang bisa tahu, Ra? Aku sudah tidak bisa bertemu dengan Mama karena ulahku sendiri.”

“Bukan salah Kak Angga kalau kakak lahir di dunia dengan kondisi kritis.” Aku menepuk erat pundak Kak Angga yang mulai bergetar pelan. “Semua hal punya arti lain dibaliknya, walaupun mungkin sampai sekarang memang masih bermakna ambigu. Mamanya Kakak tidak akan senang kalau Kakak menyalahkan diri seperti ini”

Kak Angga tertawa pelan sambil terus menatap langit yang perlahan menjadi kemerahan. “Ayahku pintar sekali ya, memprogramkanmu untuk bisa berfilsafat seperti ini.”

“Mora.” Kak Angga berucap sembali mengusap pipiku. Sebuah senyum teduh disunggingkan bibir tipisnya.  “Kamu jangan terlalu khawatir, oke? Aku dulu saat bocah dikhawatirkan olehmu, masa sih sekarang kamu membalas dendam dan minta dikhawatirkan olehku?”

“Ya, rindu itu diciptakan untuk diabaikan, bukan untuk dipikirkan.” Aku berkata sembari mengangguk. Sesekali mimpi buruk tentang menghilangnya Pak Handoko masih menghantuiku, aku sampai harus melepaskan pita biru mudaku setiap ingin beristirahat dengan tenang. “Sebetulnya, aku bingung mengapa Kak Angga tidak membenciku.”

“Untuk apa membiarkan ego menghilangkan hal-hal yang berharga untukku, lagi?” Kak Angga mengedipkan mata kanannya usil dan beranjak berdiri, kembali pada alat pencahar radiasi yang sedang ditelitinya. Cowok tersebut walaupun sering diremehkan oleh dosen-dosen di jurusan teknik mesinnya tetap berlatih keras di rumah. Sebetulnya, Kak Angga memiliki potensial yang luar biasa. Hidup memang keras, terutama di kota serba sibuk seperti Jakarta ini.

“Bagaimana kelanjutan alat pencahar itu, Kak?” aku bertanya penasaran, melihat warna-warna aneh yang muncul dalam sebuah garis seperti detak jantung. Laboratorium pribadi milik Pak Handoko ini secara tidak langsung telah diwariskan kepada Kak Angga, walaupun caranya memang tidak terduga dan tidak diharapkan.

“Cukup baik, namun masih eror. Masa aku mendapatkan sinyal aneh dan besar dari beberapa bagian di Jakarta?” Ia berkata sembari mengerutkan dahinya. Alis tebalnya ikut membentuk lengkungan yang tegas dan keras. Aku sudah hapal betul ekspresinya setiap berpikir keras. Diam-diam, aku menganggap kerutan dan alis tersebut menawan.

“Seperti apa, Kak?” Aku bertanya, meminta Kak Angga untuk menjelaskan lebih detail. Orang yang bersangkutan masih belum merespon dan malah menghitung sebuah formula dalam kertas sobekan berwarna putih. Ukuran kertas tersebut kecil, namun cukup leluasa untuk tulisan kecil Kak Angga.

Kak An gga menyelesaikan hitungan tersebut dan meletekkan penanya. Wajahnya khawatir dan penasaran. “Sepertinya, radiasi tersebut bukan berasal dari bumi.

“Apakah hal tersebut buruk?” Aku menghampiri dan akhirnya duduk berjongkok disamping Kak Angga. Alat yang dirakitnya sendiri kini berbunyi-bunyi pendek bagaikan kayu tipis yang diputus-putuskan. Gambar-gambar yang muncul bukan sebatas garis lagi, tapi juga lengkungan-lengkungan aneh. Ada warna biru, ungu, hitam, hijau muda, hingga coklat terang.

“Mora, apa yang kau lihat dari rumusan di kertas ini?” ia menyodorkan secarik kertas lecek tersebut padaku. Aku pun menatap tulisannya dan jantungku mulai berdebar keras. Aku melihat warna-warna yang beraneka ragam, namun didominasi oleh warna terang. Oranye, kuning, dan adapula hijau muda. Aku juga bisa merasakan ketebalan warna-warna tersebut, dan variasinya luar biasa. Oke, setiap aku melakukan ini, kepalaku sakit parah. Aku segera menghentikannya dan mendorongkan kertas tersebut kembali ke Kak Angga.

“Kak, kemampuan merasakan angka masih belum bisa terkontrol.” Aku berujar sembari memijit jidat yang nyut-nyutan nggak karuan. “Apalagi bagian kemampuan synesthesia yang berkaitan dengan angka. Beneran deh, kepalaku sakit.”

“Tidak apa-apa, Amora. Papaku memang belum memaksimalkan fungsi synesthesia-mu, namun pasti bisa semakin kuat kalau dilatih.” Ujarnya mengangguk dan kembali berkutat dengan pena dan kertasnya. Ia sesekali menggigit tutup pena, sesekali ia juga mengetuk-ngetukan jarinya di meja kecil depan alatnya tersebut. Laboratorium tersebut sebetulnya besar, namun terlihat kecil karena menumpuknya perabotan seperti meja, kursi, lemari, dan alat-alat peninggalan Pak Handoko. Setiap aku menanyakan perihal ciptaan-ciptaan ayahnya, Kak Angga tidak pernah mau menjawab. Rahasia perusahaan, ujarnya selalu.

Aku tidak pernah mengerti mengapa Pak Handoko memberiku kemampuan synesthesia. Pada saat aku mengaktifkan pemrograman tersebut dalam diriku, aku dapat mendengar alunan musik dari desiran daun-daun di pinggir jalan. Aku juga dapat melihat angka di udara saat aku tengah mengamati interior ruangan. Bahkan, aku bisa merasakan kata ‘pensil’ yang asin bagaikan garam. Aku hanya dapat menceritakan pengalaman-pengalaman ajaibku pada Kak Angga. Ia pun berjanji untuk menyimpan rahasia tersebut untuk kita berdua, kami selalu mengaitkan jari kelingking kami sebagai landasan dari kepercayaan.

“Kemampuan grapheme color-mu belum oke ya, Ra. Buktinya kamu masih sakit kepala saat melihat warna dibalik rumusan angka.” Ujar Kak Angga yang kemudian mencatatnya dalam sebuah buku catatan kecil bersampul biru muda. Biru muda adalah warna kesukaan ayah, ujarnya saat kutanyakan mengenai buku-bukunya yang seringkali berwarna seragam.“Tenang, synanesthesia-mu akan membaik dan kau harus berusaha untuk bisa mengaplikasikan grapheme color sebaik mungkin.”

Ya, Kak Angga adalah orang yang melatihku dalam mengembangkan pemograman dan kemampuan-kemampuan yang diunduh Pak Handoko dalam diriku ini. Berhubung dari luar aku terlihat seperti tercipta dari daging, air, dan darah, dan mengenakan pakaian-pakaian layaknya anak muda, tetangga-tetangga sekitar di kompleks perumahan sepi tersebut tidak mencurigai kehadiranku. Manusia zaman sekarang memang sibuk dan tidak jeli. Hal tersebut memberikan keuntungan bagiku untuk terus mendampingi Dek Angga yang kini menjadi Kak Angga.

“Kak, terima kasih karena Kak Angga mau hidup bersamaku dan tidak menganggapku si-manusia-buatan-yang-abnormal’” ujarku tiba-tiba sambil langsung membuang pandanganku kea rah yang berlawan. Jantung buatan milikku yang menyebalkan itu selalu mau meloncat keluar setiap aku habis mengatakan sesuatu yang beresiko.

“Tidak apa-apa, Mora. Jangan mikir yang aneh-aneh, oke? Kan tadi sudah kubilang kau jangan terlalu banyak khawatir.” Kak Angga berujar dan kami mirip kakak-adik sungguhan yang saling menasihati. Aku masih tidak tahu mengapa aku ditakdirkan untuk muncul ke bumi seperti ini. Sebuah manusia buatan, bukan seorang manusia. Kak Angga mengelus rambutku, lagi-lagi dengan tangan besar yang seolah bisa melindungi dari mara bahaya apapun. “Aku sayang kok sama kamu, Amora kan adikku.”

Walaupun Kak Angga selalu mendengarkanku berceloteh tentang burung-burung yang bercerita, ia sebetulnya tidak terlalu suka dengan hal-hal tersebut. Apa indahnya sinar matahari di genteng, ujarnya suatu kali. Kak Angga lebih suka berkutat dengan penelitian-penelitian dan menyambungkan kabel-kabel daripada harus menatap sebuah ranting yang sebetulnya memiliki banyak sejarah. Kak Angga memiliki jiwa seorang peneliti yang empiris dan skeptis. “Aku ingin dan harus mengikuti jejak ayah sebagai peneliti dan penemu.”

Setiap kali ke kampus, ia selalu buru-buru pulang dan tidak pernah menceritakan padaku mengenai teman-teman sekelas, dosen-dosennya, atau bahkan nilai akademisnya sekalipun.

Laser penembus sistem internet, panci yang memiliki pelacak, blender yang bisa menciptakan sinyal-sinyal untuk wifi. Kak Angga ingin membuat semuanya dengan lancar, dan ia tidak akan berhenti sebelum berhasil mendapatinya sebagai sebuah benda konkret. Entah berhasil atau gagal, ia harus mencobanya terlebih dahulu.

Semua hal yang ia ceritakan dalam obrolan adalah penemuan selanjutnya yang sudah direncanakan matang-matang sepanjang ia bengong di kelas tadi. Cowok tersebut, yang anehnya tetap memiliki mata sehat dan normal, selalu membaca buku saat kami berdua hendak tidur. Eits, kami memang sekamar namun memiliki ranjang terpisah. Ingat, kami adalah ‘kakak’ dan ‘adik’.

Kak Angga tidak pernah bercerita tentang cewek yang ia kagumi, atau teman yang ia kejutkan. Atau tepuk tangan teman sekelas saat dirinya berhasil meraih nilai tertinggi seangkatan. Sebetulnya, aku sedih dan khawatir. Aku takut dirinya kehilangan mata hati yang bisa menuntunnya pada ketenangan. Sayangnya, ia selalu bilang untuk tidak boleh khawatir. Jadi, aku tidak boleh merasa aneh seperti ini dan amygdalaku apalagi. Si bagian otak menyebalkan itu selalu heboh setiap Kak Angga memperlihatkan cengiran nakalnya atau mengernyitkan alis tebal saat ia mendeteksi sinyal-sinyal aneh di layar alat radarnya.