Thursday, April 28, 2016

produk custom sebagai souvenir kepada mahasiswa, kenapa tidak? #merchandisekreatif

Halo,



Sadarkah kamu, bahwa sekarang ini zamannya segala sesuatu yang bersifat custom? Casing ponsel custom couple-an, kaos custom berupa tulisan quote inspiratif... Wih, pokoknya anak zaman sekarang senang banget deh sesuatu yang menunjukkan identitas dan kepribadiannya. Entah gothic, ceria, pemalu, penggalau.. Kalau gothic ya barang-barang dia kebanyakan berwarna gelap. Ceria berwarna-warni, untuk si pemalu barang-barang yang dimiliki berwarna kalem tapi menggemaskan. Sementara untuk si penggalau, biasa pakai tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang mewakili curahan hatinya, weiz. Produk custom menjadi tren menarik pada masa-masa sekarang.

Pernah kepikiran kalau desainmu akan diwujudkan sebagai merchandise dalam bentuk produk nyata? Untuk kamu yang pengen mendesain/meng-custom barang-barang, pasti bisa banget dibantu oleh www.custombagus.com. Website dengan layout yang nyaman dilihat  ini memungkinkan desain-desainmu menjadi nyata melalui produk-produk yang ditawarkan. Kau ingin mendesain botol tumblr, seragam kerja, dompet, gelang? Ah, kalau gitu nggak usah ragu lagi untuk mengecek www.custombagus.com yang memberi program gratis ongkos kirim se-Indonesia sampai 30 Juni 2016. Oh ya, untuk memesan di www.custombagus.com memang dibutuhkan jumlah minimal (minimal order) yang cukup banyak sehingga cocok sekali sebagai merchandise. Dengan harga yang juga tidak terlalu menipiskan dompet, kamu bisa mendapatkan souvenir yang ketje abis dan sesuai seleramu, tentunya. Keren kan?!

Kalau sekarang-sekarang ini yang hobi bereksperimen adalah kaum muda, salah satunya mahasiswa. Mereka ingin eksis dan tampil oke dimana-mana. Iya lah, masih muda jangan suram-suram dong. Harus berinovasi dan siap tampil dengan percaya diri tinggi. Nah, dalam postingan kali ini aku akan menawarkan beberapa ide sebagai merchandise untuk target mahasiswa ingin eksis. Secara, aku salah satu spesies mahasiswa ini, gitu loh. Jenis-jenis souvenir ini bisa dipakai dalam acara seminar, ataupun workshop di kampus.

Berikut ini produk-produk custom dari www.custombagus.com yang dapat digunakan sebagai souvenir kepada mahasiswa zaman sekarang:

1. Si mouse pad humoris


Berhubung sekarang teknologi sudah maju, mouse pasti banyak terpakai. Entah untuk mouse komputer ataupun mouse menggunakan bluetooth pada laptop. Pokoknya, benda yang satu ini akrab banget deh dipakai, terutama pada saat deadline tugas.

Biar nggak ngantuk ngerjain tugas kuliah, si mahasiswa ini kudu banget pakai mouse pad yang eye catching. Itu loh, si benda di bawah mouse yang bertujuan memperlancar pergerakan mouse. Kalau nggak ada mouse pad, pasti jadinya seret banget dan bikin kesel. Ntar mouse-nya malah dibanting lagi saking kesalnya.

Kalau mouse pad-nya lucu, jadinya seger dan semangat terus, kan tuh. Bisa saja kita tambahkan meme yang kocak mengenai kehidupan mahasiswa. Nah, www.custombagus.com memungkinkannya untuk menjadi nyata. Klik link ini untuk mencari tahu lagi, ya!

2. Jam dinding, si reminder wisuda ataupun target-target lainnya


Nah tuh, daripada suram ngelihatin menit demi menit berlalu, mendingan custom saja jamnya biar bisa berusaha menetapkan target lulus. Yah kalau aku sih, walaupun masih H-beribu-ribu hari menuju graduation, aku terkadang countdown saja biar lebih happy.

Jadi boleh juga tuh kasih gambar toga untuk dilihat sambil menatap jam. Biar yakin bahwa masa-masa lulus itu pasti datang. Semua akan terjadi pada waktu yang tepat, semua akan indah pada waktunya. Azek. Selain itu, bisa saja di custom dengan kutipan-kutipan yang berhubungan dengan cita-cita. Hal ini untuk meyakinkan bahwa waktu terus berjalan and we are moving forward.

Yuk, cek custom jam ini di sini.


3. Si sticker pembuat panik.

 
Sticker ini adalah salah satu produk yang paling simpel, namun bermakna. Sticker kan bisa di tempel dimana-mana, jadinya makin bisa dipakai untuk memotivasi diri nih. Stiker ini bisa ditempel di depan toilet dan untuk dilihatin pada saat 'menurunkan' makanan, di samping ranjang untuk dilihat sebelum bobo, di meja, dimana-mana untuk meneror si mahasiswa ini.

Misalnya nih, kasih aja stiker berisikan ajakan untuk bekerja keras dengan gambar pak dosen dan bu dosen,  hard work will pay off. Kadang-kadang, ingatan tentang dosen killer malah akan menggenjot semangat. Mungkin sambil diselingi panick attack, sih. Yuk cek di sini untuk memesan sticker custom.



4. Buku agenda dengan cover yang relatable dengan kehidupan mahasiswa


Misalnya, dengan cover bertuliskan 'need more sleep', 'butuh hiburan', 'sedang mencari pacar lain selain skripsi'. Pasti buku tersebut juga bakal dikomentarin oleh teman-teman si pemilik. Jadinya percakapan jadi makin seru, dan nugas makin bisa dibawa asik.

Buku agenda dengan desain yang lucu akan semakin oke untuk ditenteng kemana-mana. Dibawa kemana-mana dan dibawa ke hati juga, sama seperti si doi tentunya. Hayo, langsung aja meluncur ke link ini untuk memesan buku agenda custom.

_________________

Sebagai mahasiswa, aku pun merasa tertarik untuk memiliki produk-produk custom. Hal tersebut membuatku merasa lebih gaul, lebih bisa eksis, dan lebih bisa mengekspresikan diri. Dulu, aku senang sekali membeli gelang dengan warna dan tulisan yang cocok untukku (oh ya, untuk desain gelang ada juga lho di website www.custombagus.com).

Kalau benda kita custom dan autentik, benda tersebut tidak akan tertukar dengan milik yang lain serta membuat kita merasa punya identitas juga. Serius deh, berasanya jadi happy gimana gitu. Ya, banyak orang ingin tampil berbeda dan produk custom merupakan salah satu medianya. Souvenir custom yang unik pasti akan lebih bermakna dibandingkan souvenir yang tidak custom.

Nah, penjelasan poin-poin diatas hanyalah ide-ide yang dapat dimanfaatkan untuk merchandise yang diberikan kepada target mahasiswa, anak muda zaman sekarang. Tentunya, banyak konsep-konsep lain yang oke juga untuk diwujudkan dalam produk. Jangan lupa bahwa www.custombagus.com juga ditujukan untuk merchandise seperti souvenir pernikahan, kartu nama, atau apapun yang membutuhkan produk dalam jumlah banyak.

Pokoknya website ini partner in crime banget deh untuk meng-custom produk dalam jumlah banyak. Website ketje yang memungkinkan adanya produk-produk ketje. Thumbs up! Oh ya, tulisan ini dibuat sebagai bagian dari lomba #merchandisekreatif dari website www.custombagus.com. Untuk kamu yang ini mengecek lomba ini atau juga mengikutinya, silahkan baca link ini ya! Seru banget kok, menulis dan berkreasi tentang #merchandisekreatif ini.

Nah, boleh dong di sharing di kolom komentar jenis-jenis produk custom apa yang pernah kau miliki atau kau sukai. Atau bahkan, wishlist produk-produk custom yang kau idam-idamkan. Sip, terima kasih sudah membaca dan mampir, see ya!


Lomba Blog: Inovasi Produk Bersama CustomBagus

Wednesday, April 27, 2016

Seseorang yang terasa dekat

Jadi, hari ini Mama banyak bercerita soal nenek. Aku memang belum pernah bertemu dengan beliau,. Nenek meninggal dunia sebelum aku lahir. namun entah mengapa aku merasa terharu mendengar kisah-kisahnya. Benar-benar terharu.
Semua nasihat-nasihat Nenek diberi tahu oleh Mama untukku. Jangan pernah takut orang, kita sama-sama makan nasi, jangan menindas dan jangan mau ditindas.. aku diceritakan semua kebaikannya. Dan aku merasa dekat dan sedih.
Ah, seandainya Nenek masih ada.. pasti aku akan senang sekali meminta nasihat pada beliau.
Pernah merasakan hal yang sama denganku? :-)

Tuesday, April 26, 2016

untuk dibaca saat: stres


Apa itu stres? Perasaan saat kau nggak mendapat hasil sesuai yang kau harapkan, perasaan saat kau dituduh sesuatu yang tak kau lakukan, ataukah perasaan saat kau tidak bisa melakukan apa-apa kah?

Semuanya meruntuhkan duniamu, ya aku mengerti. Kau sedih. Kau kecewa, kehilangan motivasi dan kepercayaan diri. Kau merasa ingin menghilang dalam lubang yang amat, sangat dalam.

Prepare, confront, cope. Ketahuilah bahwa kita akan mengalami stres, pada saat-saat nggak terduga sekalipun. Katakan pada dirimu, aku pasti bisa meng-handle ini. Semua akan ketemu jalannya kalau aku tetap tenang.

Take your time. Semua orang butuh waktu yang berbeda-beda untuk mengatasinya, jadi jangan membandingkan waktu pemulihanmu dan orang lain. Jangan malu, apalagi menjadi down karena kau susah membangkitkan motivasimu. Anggap saja zona waktumu dan dia berbeda. Kita nggak bisa menyamakan waktu di bumi dan di mars, bukan?

Do things that take your energy away. Lakukan hal-hal yang membuatmu bergerak, berkeringat, dan emosi. Lampiaskan semua perasaan tidak menyenangkanmu melalui keringat. Menari-nari, menyanyi-nyanyi, nonjok-nonjok... Kalau aku bahkan memilih mensetrika baju dan membereskan kamar di saat stres.

Understand what your problem is. Terdengar simpel dan barangkali aneh, tapi terkadang kita memang stres untuk masalah yang kita sendiri nggak tahu apa. Jangan-jangan hal tersebut bukan masalah yang perlu kita pusingkan? Kalaupun hal tersebut betul-betul masalah, apakah ada solusi yang bisa dipikirkan daripada sakit kepala nggak jelas? Lagipula, siapa tahu sebetulnya ada strategi-strategi yang bisa kita tempuh untuk menghadapi masalah tersebut.

Talk to others. Aku dulu juga sempat malu untuk bercerita karena menganggap semua orang akan menghakimi dan bilang aku terlalu sensitif, dan bakal nyalahin aku. Tapi ingatkah bahwa kita nggak boleh nge-judge orang sembarangan? Nggak semua orang bakal menggosip dan meremehkan omongan kita. To be healthy, start talking to others.

Treat yourself right. Separah apapun keadaanmu, jangan lupa makan dan minum. Bercerminlah dengan perasaan senang, berbicaralah kepada dirimu sendiri sama halnya kau berbicara dengan orang yang kau kagumi. Belajarlah untuk menghargai diri dengan talking positively. Aku tahu ini easier said than done. Well, practice makes perfect!

Break down your problem solvings into concrete steps. Kalau kau sedang memikirkan solusi, lebih baik dibuat dalam langkah-langkah. Persis resep memasak. Ikuti dan percayalah pada langkah-langkah yang kau buat. Have faith in God, as well.

Take your time, but rush as well. Jangan membiarkan dirimu terlena dan jadi mengabaikan hal-hal yang penting. Bertanggungjawablah, jangan biarkan kejadian-kejadian menjadikanmu pengecut yang kabur-kaburan. I know it's hard. Beri pujian pada dirimu kalau kau berhasil melalui bad day tanpa kabur. You have to salute yourself!

Bersyukur. Lihatlah ke bawah dan ketahuilah, banyak orang mengalami keadaan yang lebih buruk darimu. Tips ini sangat berguna untukku. Dengarkan cerita-cerita tentang orang yang berjuang menghadapi atasan yang mengerikan, namun tetap bertahan demi memberi makan anak-anaknya. Atau tentang orang yang tiap hari dimaki-maki, namun tetap harus professional. Ya, jangan hanya melihat ke atas, kau harus melihat orang-orang yang lebih bermasalah agar kau bisa mensyukuri segala keadaan dan berkatmu.

Aku tahu ini susah, dan cliché. Tapi kau harus tahu betapa hebatnya kau jika berhasil melakukan pengendalian stres ini. Setiap orang pasti mengalami masalah, tapi justru stres adalah 'makanan' yang dibutuhkan oleh perkembangan (dikutip dari nasihat dosenku di kelas).

Kalau lagi pusing atau mengalami bad day, bacalah ulang tulisan ini. Breathe. ;)

Thursday, April 21, 2016

Tuesday, April 19, 2016

Cerita Kita Casting Call Batch 3 by Gogirl & Clean and Clear

Halo,
 
Hari Sabtu, pada 16 April 2016 aku diundang datang oleh majalah Gogirl dan Clean and Clear untuk mengikuti creative workshop. Workshop ini juga diadakan untuk menyeleksi cewek-cewek berbakat yang dapat menjadi kontributor untuk website cerita-kita.co.id. Jadi, masih dipilih lagi dan tentunya pemilihan tersebut dilakukan secara serius dan melihat bakat serta potensi yang ada.
 
Sebelum masuk ke acaranya, aku pengen cerita dulu nih soal cerita-kita.co.id ini. Jadi, website yang di khususkan untuk cewek remaja ini mencari kontributor dan membaginya dalam beberapa divisi. Ada divisi Fashion, Beauty, Writing, dan juga Instagram Specialist.
 
Oh ya, website ini sangat cocok untuk yang ingin berkarya dan mendalami lebih lanjut passion masing-masing. Asyik banget deh kalau bisa fokus pada bidang yang emang kita minati. Untuk cewek-cewek muda, di rekomendasi banget deh untuk ikutan lagi kalau Cerita Kita mengadakan pencarian kontributor berikutnya.
 
Nah, pas pertama datang ke kafe yang diberitahu oleh kakak redaksi Gogirl, aku langsung berusaha berkenalan dengan teman-teman yang lain. Jujur aja, biasanya aku kurang bisa berbaur dan berkenalan. Namun untungnya saat itu aku mendapatkan teman-teman baru yang baik dan ramah. Yay for new friends!
 
Kami melakukan daftar ulang, kemudian akhirnya memasuki venue yang menjadi tempat berlangsungnya acara utama. oh iya, suasananya cozy banget! Tidak terlalu terang, tapi menurut aku justru ciri remang-remang lah yang menjadikan tempat ini nyaman dan oke banget. Nama tempat tersebut adalah FJ Deli dan Bistro. Nggak bohong, aku betah disana.
 
 
Oh ya, dekor-dekornya juga kece banget deh! Meriah namun tidak berlebihan, serta colorful. Gogirl dan Clean&Clear sukses bikin mood makin happy hari itu.
 
 
 
 
 
 
Pertama-tama kami di beri waktu makan dan berfoto-foto di photobooth dulu. Waktu makan pun aku berkesempatan bercerita dan bertukar pikiran dengan teman-teman baru yang berlatar belakang beda-beda. Ada yang berasal dari jurusan fashion, IT. Pokoknya ngobrol-ngobrol seru dan makanannya juga enak, lho.
 
Kemudian, acara dibuka dengan MC Ucita Pohan, yang saat itu terlihat cantik dengan balutan sederhana bernada biru. Kakak ini ceria banget dan bisa bikin suasana jadi meriah. Aku senang sekali dengan pembawaannya yang sistematis dan kocak. She's so talented!
 
Oh ya, aku dan teman-teman peserta lainnya memang di beri dress code Touch of Blue. Wih, aku senang banget karena memang lumayan suka warna laut tersebut. Area tersebut pun terlihat heboh dengan balutan dan dekor biru dimana-mana. Blue shirts, blue dress, blue pants, it was absolutely cool!
 
 
Nah, hari itu kami menerima banyak wawasan baru! Ada Kak Nina Moran yang memberi materi tentang menulis yang efisien dan layak baca, ada si kakak cantik Agnes Oriza yang memberi demo no-make-up-make-up dan tips-tips beauty lainnya. Ada juga Kak Githa Moran yang sangat playful dalam memberi pengarahan mix-and-match fashion, dan hadir pula instragram specialist Olga Elisa yang memberi tips dan trik bagaimana menjadikan Instagram sebagai media untuk berkreasi. Oh ya, Kak Olga juga banyak sharing soal pengalamannya, dan aku bisa menyimpulkan kalau ia pekerja keras yang konsisten. Salut!
 
Setelah itu, kami diarahkan menuju bagian masing-masing. Aku masuk ke bagian writer, dan disana kami diberi kertas dan diminta menulis tiga paragraf yang padat dan baik. Tak lupa juga, Kak Nina Moran mengingatkan untuk memasukkan data faktual dan membuat outline. Nah, soal outline atau kerangka tulisan ini aku memang masih butuh banyak belajar. Ngaku nih ceritanya.
 
Ternyata, menulis itu cukup sulit, walaupun bisa dilatih terus. Menyenangkan sekali bisa menulis dan dibaca langsung oleh kakak-kakak yang berpengalaman dibidang tersebut.
 
Setelah itu adalah waktu pengumuman, dan aku memang belum terpilih sebagai kontributor. Tapi aku udah cukup hepi loh nambah kenalan dan diperkenankan ikut acara itu. Terus, bisa berguru sama pakar-pakar bidang masing-masing, lagi. Jarang-jarang dapat kesempatan seseru itu, dan aku senang sekali. Experiences are the best teachers ever.
 
congratz untuk pemenang-pemenangnya, kalian hebat!
 
 
 Terima kasih untuk semua keseruan, kesempatan, dan ilmunya. Thank you Gogirl and Clean&Clear!
 
 

Tuesday, April 12, 2016

Synesthesia- BAB V~ Sulit dimengerti

Kali ini, kami berjalan bertiga menuju lapangan basket dekat rumah Ray. Tadinya ia ingin mengajak kami naik mobil lagi, namun akhirnya tidak jadi. Kalau dekat, mengapa harus pakai mobil? Sang Pencipta udah ngasih dua kaki, kok nggak dimanfaatkan dengan benar?
Tampaknya cuman aku yang berpikiran demikian. Kak Angga tampak kepanasan, sekujur wajahnya berkeringat. Ia mulai ngos-ngosan, walaupun tetap mengikuti Ray yang semangat banget memainkan remot detektor milik Kak Angga.
"Kak Angga capek?" Aku bertanya pelan, menoel dirinya yang siang itu masih lemas. Aku melihat ke sekujur tangannya, baret-baret kemerahan yang mulai kering itu tampak ngilu dan menyakitkan. Oh ya, aku melupakan suatu hal penting yang belum kuomongkan padanya. Aku pun segera membuka mulut mengingat kejadian sebelumnya di hari yang sama. "Kak, terimakasih karena sudah melindungiku dari gagak dan manusia-manusia tadi."
Kak Angga mengelus rambutku, dan tersenyum semanis gula pasir. Sore itu, di tengah kekacauan yang terjadi, ia menampilkan senyuman tertulus yang pernah kulihat dari dirinya. "Kau bisa percaya dan mengandalkanku, Mora."
Wush, pipiku langsung bersemu kemerahan lagi. Duh, bisa nggak sih aku menghilangkan fitur merona yang sangat memalukan ini? Sepertinya salah tingkahku sangat mencolok, karena senyum tulus Kak Angga berubah menjadi cengiran bandel. Nyengir nakalnya itu memang terkadang menyebalkan, tapi itu juga yang selalu kutunggu-tunggu dari Kak Angga.
Wajahnya kini juga memiliki luka-luka bekas jatuh ke lantai. Untung saja giginya tidak ada yang patah, walaupun kulit mulusnya kini menjadi penuh luka dan goresan. Ia menoleh dan mendapatiku yang sedang menatap dirinya. Spontan, aku langsung membuang muka. Kak Angga terkekeh melihatku yang langsung fokus melihat rumah-rumah kompleks yang minimalis. Dirinya mengusap pelan rambutku. "Aku nggak capek, dan aku nggak apa-apa, Mora."
"Kawan-kawan!" Ray memanggil dari depan, menunjuk pada lapangan basket mungil yang tampak sepi sore itu. Ia melambai-lambaikan alat tersebut diudara, membuat bunyinya semakin melengking. Ray menghampiri kami berdua yang berjalan lebih lamban dari dirinya. Kukira Kak Angga-lah yang memiliki rekor sebagai pejalan kaki tercepat. Ternyata, Ray masih lebih cepat dan mengalahkan rekor Kak Angga tersebut. "Aku sudah menemukan lapangan basket tempat induk jaringan yang lainnya."
Sebelumnya, kami memang sempat mendeteksi induk jaringan mencurigakan lainnya melalui alat detektor Ray, dan menemukan lapangan basket di kompleks ini sebagai lokasi selanjutnya. Selain belajar syaraf, ternyata Ray juga memiliki alat yang sejenis ciptaan Kak Angga. Melihat kecanggihan alat Ray, ekspresi wajah Kak Angga menunjukkan bahwa ia tidak terlalu suka dan berniat meningkatkan kehebatan alat-alatnya. "Aku juga bisa menciptakan secanggih itu, Mora. Tunggu saja."
Disinilah kami sekarang, tempat kedua tempat induk jaringan selanjutnya. Kami harus menemukan petunjuk dari lokasi-lokasi yang ditetapkan 'si biang kerok'. Ya, begitulah kami menyebut seseorang yang menjadi pionir dari kekacauan-kekacauan sinar radiasi yang telah memakan banyak korban ini. 
Menurut Ray, si biang kerok ini melakukan hal ini sebagai sebuah 'tantangan', untuk siapapun yang berani menghentikan dan mencari dirinya. Posisinya yang tidak berada di bumi membuat kami harus memutar otak dan mencari cara agar dapat menghampirinya. Aku berharap, dengan ditemukannya lokasi-lokasi jaringan pemancar induk ini kami akan dapat bertemu dengannya. Uh, aku tidak sabar untuk menonjoknya dengan program jurus-jurus karateku.
Sepertinya, ia sengaja ingin seseorang menemukannya. Entah apa tujuannya, tapi kekacauan ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Apalagi, kami kini ingin menghentikannya bertiga. Bersama-sama, sebagai sebuah tim.
"Tumben sore-sore gini sepi. Biasanya banyak anak sekolah berseragam bermain basket ataupun sekedar nongkrong disini." Ujar Ray, mengamati sekitar sambil mengangkat remot detektor Kak Angga untuk mencari sinyal. Bunyinya sudah cukup keras, menandakan memang di sekitar sini ada jaringan besar yang mencurigakan.
"Mora, berlindung padaku." Kak Angga menaruh tangannya didepanku, memberi kode untuk berdiri dibelakang punggungnya. Ia memang protektif dan keren. Ia menatapku, kemudian melihat sekeliling karena tiba-tiba banyak bunyi burung gagak lagi. Apakah sebuah kebetulan bahwa burung gagak selalu terdengar dan hadir pada tempat-tempat induk jaringan ini?
"Raaaaaa....."
Tiba-tiba saja, sekujur tubuhku bergetar pelan. Aku dapat melihat pola dari burung gagak itu. Ia memiliki kalkulasi penghitungan frekuensi, memiliki getaran sekitar sepuluh desibel, dan ternyata ia memiliki warna juga. Coklat tua. Perhitungan angka-angka dimataku menunjukkan kepada sebuah lokasi. Coklat tua, dan berada disebelah kanan Ray. Ah, kemampuan synesthesia-ku mulai tidak terkontrol. Perhitungan-perhitungan ini mulai merambat kemana-mana, punggungku pegal dan kepalaku sakit!
Tunggu. 
Coklat dan tepat berada disebelah kanan Ray. Aku melihatnya dalam-dalam, dan menemukan sebuah pohon kecil disitu. Aku pun berlari dari belakang punggung Kak Angga menuju Ray. Aku berjongkok disekitar pohon tersebut, menyentuh akar-akarnya yang mulai merambat kemana-mana. Ia belum terlihat tua, karena warna coklatnya juga masih segar.
"Ada apa, Mora?" Ray ikut-ikutan berjongkok bersamaku dan mengamati akar pohon dan tanaman-tanaman kecil yang tumbuh disekitar akar-akar pohon tersebut. Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang aneh pada pohon tersebut. Ada sebuah keberanian yang mendorongku untuk menggunakan tenagaku dan mengangkat akar tersebut dari lantai. Berhubung aku robot dan kekuatanku ekstra kuat, aku berhasil mengangkat akar pohon tersebut tanpa kesulitan.
Tit!
Remot detektor yang dipegang Ray berbunyi kencang tiba-tiba, dan suasana menjadi tambah hening dan mencekam. Pintu-pintu perumahan sekitar terbuka, dan kami belum sempat berpikir panjang hingga anak-anak kecil berhamburan lari dari rumah dan menghampiri kami. Wajah mereka datar, dan mereka berteriak-teriak sambil mengejar kami.
"Kita harus melakukan sesuatu!" Tanpa pikir panjang, aku menarik tangan Ray yang langsung tersadar dari bengongnya. Aku menarik Ray menuju ke arah Kak Angga, yang sepertinya terlihat cemas karena rombongan anak-anak yang sedang berlari ingin mengeroyok kami.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi," Kak Angga berkata sambil memegang kepalanya. Wajahnya mengerut, menandakan Kak Angga sedang berpikir keras. Ia mengacak-acak rambut jabriknya frustasi. "Tapi kita tidak boleh lari dari kenyataan, bukan?"
"Kuncinya ada di akar tanaman tadi!" Ray berteriak, kemudian berlari kencang ke arah pohon kecil yang kutunjukkan. Ia berjongkok, kemudian mengambil bagian kecil dan dimasukkan ke dalam toples. Ia pun memeras cairan keluar dari akar tersebut, dan menutup kembali toples tersebut. Ray menoleh ke arah kami dan mengacungkan jempolnya. "Ini sebagai sampel dari petunjuk-petunjuk berikutnya."
Aku belum sempat menjawab karena kau melihat rombongan anak-anak yang berlari bagaikan tak bernyawa itu makin kencang. Kakiku berlari kencang menuju pohon Ray. Ternyata, Kak Angga mengikutiku dan ikut mencari cara apa yang bisa dilakukan untuk menghentikan anak-anak tersebut dari pengaruh jaringan. Tentu saja, menghancurkannya bukanlah opsi. Kami dan anak-anak tersebut akan terluka, dan si biang kerok akan semakin memperoleh kekuatan dari kerusakan otak kami.
Berpikir, Amora. Berpikir.Pada kejadian yang lalu, aku berhasil menghentikannya dengan angin topan. Mungkinkah aku harus melakukannya lagi?
Sepertinya tidak ada pilihan lain yang lebih baik, karena jarak anak-anak yang sedang terkena pengaruh radiasi tersebut sudah semakin dekat dan semakin dekat. Barangkali, jarak kami bertiga dengan rombongan yang semakin ramai itu sudah tinggal 10 meter lagi.
Aku pun berusaha fokus pada dedaunan sekitar, mencoba membantu dengan apa yang kubisa bantu. Fokus, pertahankan konsentrasi. Gagal, dedaunan tersebut tidak mau bergerak sama sekali. Aku berusaha mengeluarkan semua emosiku pada helaian-helaian daun yang sudah jatuh tersebut, namun mereka tetap saja tidak bergeming sama sekali.
"Aku akan menahan mereka!" Kak Angga tiba-tiba berlari ke arah anak-anak tersebut sambil membawa ranting pohon besar dan kuat. Ia memegangnya seolah-olah ranting tersebut pedang. Aku betul-betul takut Kak Angga ataupun anak-anak tak bersalah tersebut akan terluka. Aku mulai tidak bisa menahan tangis karena panik dan merasa tidak berdaya. Tolonglah, aku harus berguna pada saat-saat seperti ini. Jangan lagi ada Amora yang perlu dilindungi, jadilah Amora yang mampu melindungi.
"Mora!" Ray tiba-tiba berteriak, menyadari sesuatu. Kak Angga sudah mulai bertarung dengan rombongan yang berkelakukan seperti anjing liar. Ia mulai menghalau mereka dengan menyodorkan ranting pohon tersebut ke hidung mereka. "Synesthesia-mu! Pakailah itu."
Ayolah, Amora. Berpikir dan jadilah berguna. Tolong lakukan sesuatu, synesthesia. Motoku sedari dulu berbunyi demikian, aku berguna maka aku ada. Prinsip tersebut juga harus berfungsi pada saat-saat genting seperti ini. Astaga, kini aku terlalu banyak berpikir, bukan? Pikirkanlah sesuatu yang dapat membantu! Duh, aku mulai memarahi dirku sendiri. Kurasa inilah mengapa kemampuan synesthesia-ku belum sekuat yang seharusnya. Karena aku terlalu banyak berpikir dan berpikir. Aku mulai mengacak-acak rambut.
"Pikiran harus bekerja untuk kita, bukan kita yang harus bekerja untuknya." Ray tiba-tiba berujar pelan dan mengelus punggungku. Ia kini tidak menoleh ke Kak Angga yang masih menghalau musuh di belakang kami. Ia menggenggam erat pundakku. Seketika itu juga, kepanikanku hilang semua. Aku menatap burung gagak yang hinggap tiba-tiba di depanku. Ia melompat-lompat seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Raaaaa...."
Lagi-lagi, aku dapat melihat warna coklat tua dari omongan si gagak tersebut. Kemudian, warna tersebut berputar-putar dan membentuk sesuatu. Seperti sebuah pusaran magnet yang dapat mengisap apapun tanpa ampun. Tiba-tiba saja, sekujur tubuhku merasa berenergi. Aku fokus pada pusaran magnet yang dihasilkan gagak tersebut, kemudian ia berputar hebat. Pusaran berwarna ungu kehitaman itu berputar-putar seperti mesin cuci dan mulai mengeluarkan suara seperti mesin penyedot debu. Aku pun merasa energiku terserap hebat, dan tanpa berpikir panjang aku berteriak.
"Aaargh!"
Aku merasa energiku dan energi magnet itu melebur menjadi satu. Apa yang pusaran magnet itu rasakan, juga aku rasakan. Aku berteriak dan menumpahkan semua emosiku pada magnet tersebut. Tiba-tiba saja aku bisa meresap energi dari orang-orang disekitarku, dan langsung kuarahkan pada anak-anak yang masih bertarung dengan Kak Angga. 
"Hiyaaaa!"
Aku mampu menyedot energi dari anak-anak tersebut, dan mereka berjatuh lemas. Kekuatanku pulih kembali, sementara si anak-anak tampak sempoyongan dan bingung apa yang mereka lakukan di lapangan sore-sore begini. Ugh, aku merasa sakit kepala dan duduk di lantai setelah anak-anak itu sadar dan berhenti menyerang Kak Angga.
"Apa yang tadi kau lakukan, Mora?" Ray bertanya sembari menepuk-nepuk punggungku. Mungkin bagi manusia, rasanya seperti masuk angin. Kepalaku terasa berat, namun lega.
"Aku memfokuskan diri pada kekuatan, dan menyerap energi negatif dari anak-anak tersebut. Karena kemampuan synesthesia-ku, aku mampu melihat hal-hal yang bisa kujadikan kenyataan." jelasku sambil menepuk-nepuk kening. Kini, aku merebahkan diriku diatas lantai lapangan basket yang keras tersebut. "Aku tadi membuat pusaran magnet dari angin dan warna, Ray."
Ray mengangguk. Aku tahu ia tidak akan bisa paham sepenuhnya karena yang bisa melihat hal-hal ajaib hanyalah aku dan synesthesia-ku. Namun, aku berhasil melakukannya hari ini. Kemarin melalui angin topan dan kali ini pusaran magnet. 
"Kak?" Seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua menghampiriku dengan tampang kebingungan. Wajahnya tampak panik sekali, mengetahui ada sesuatu diluar dirinya yang bisa mengontrol gerakannya. "Aku tadi sedang nonton televisi, kemudian aku tidak tahu mengapa aku berlari kesini."
"Aku juga." Anak laki-laki disebelahnya menghampirinya, dan menggandeng tangan si anak perempuan tersebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, bingung dengan apa yang tengah terjadi. "Aku tadi lagi makan sereal ketika entah mengapa merasa sangat marah dan langsung berlari ke lapangan ini."
"Kalian bermimpi buruk." Kak Angga menghampiri kami sambil menggandeng anak-anak tersebut dalam barisan panjang. Wah, kurasa ia cocok sekali menjadi guru. Ia mengedipkan sebelah matanya padaku, membuat Ray yang berada disebelahku mendengus kesal. Sebetulnya ada masalah apa di antara kedua cowok ini?
Kak Angga berbalik dan membawa anak-anak tersebut keluar dari lapangan. Ia pandai sekali menenangkan anak-anak tersebut, dan mengatur mereka dengan efisien. Ini hal baru yang kutemukan dari dirinya, Kak Angga ternyata pandai berbaur dengan anak-anak.  "Yuk, sekarang Kakak antar kalian pulang ke rumah masing-masing."
Aku dan Ray membantunya mengarahkan mereka pulang dan menjelaskan ke orang tua masing-masing bahwa bukan anak mereka yang berkeinginan kabur dari rumah. Secara garis besar, kami menjelaskan tentang kekuatan aneh yang menarik mereka. Kebanyakan orang tua berespon panik dan berterima kasih pada kami. Mereka juga ketakutan hal-hal yang terjadi akan semakin parah.
"Tidak apa-apa, Bu. Doakan kami agar berhasil memberhentikan segala kegilaan ini." Ujar Kak Angga sambil menyalami orang tua si cewek berkuncir dua tersebut.
"Dan doakan aku juga agar berhasil meneliti sampel dari akar pohon tadi, untuk menemukan petunjuk berikutnya." Ray berbisik di telingaku, membuat jantungku kaget dan melompat. Ia semakin senang saat melihatku deg-degan, sambil pura-pura sibuk dengan anak-anak dan orang tuanya. Wajah imutnya mengedipkan sebelah mata saat ia menyadari aku malah bengong mengamatinya. Astaga.
Dasar cowok, memang sulit dimengerti.

Trailer: tenanglah, kiela

Halo, berhubung aku suka mem-post ceritaku di wattpad.com dan disana banyak orang yang  membuat trailer, alhasil ikut-ikutanlah aku.

Berikut ini video trailer dari cerita Tenanglah, Kiela yang kubuat melalui Adobe Flash (memang masih sangat pemula dan butuh banyak belajar)

Terima kasih, maaf karena masih kacau kemampuan flash-nya :-)

 


Monday, April 11, 2016

Synesthesia- BAB IV~ Proyek Baru

"Yuk, masuk."
Cowok berkacamata itu membawa aku dan Kak Angga untuk mengikutinya ke sebuah tempat yang simpel namun cukup luas. Banyak mikroskop dan peralatan-peralatan kedokteran berjejer disitu. Entah bagaimana, si cowok misterius ini berhasil mengambil kepercayaan kami. Aku menoleh pada Kak Angga, ia terlihat santai dan tidak curiga sama sekali. Ya iya sih, bagaimana bisa curiga pada keadaan dunia yang memang sudah darurat gini.
Saat ini, hari sudah siang. Untung saja ventikulasi dari tempatnya cukup baik, ternyata tidak jauh juga dari Taman Pacu Kuda yang tadi kami datangi. Angin sepoi-sepoi pun mengenaiku dan rambut sebahuku, membuatnya menjadi agak berantakan. Aku hendak menguncirnya ketika tiba-tiba merasakan sebuah sentuhan di kepala. "Nggak usah dikuncir, kamu lebih manis begini."
Kak Angga sukses membuat hati malangku berdesir-desir kembali. Iba sekali aku pada amygdala-ku, yang entah sudah berapa kali naik-turun seolah diajak main roller coaster terekstrim di dunia. Ia mengelus-elus kepalaku pelan, membuatku sangat menikmati posisi duduk kami di atas meja dekat jendela. Ya, aku dan Kak Angga memang agak tidak sopan karena duduk diatas meja. Namun si cowok berkacamata sepertinya tidak peduli dan malah asik membongkar laci-lacinya. Sepertinya, ia memiliki dunianya sendiri.
Ia tidak terlalu tinggi, namun kurus sehingga membuatnya kelihatan menjulan. Mukanya sebetulnya imut, apalagi karismanya bertambah karena ia memakai jas laboratorium putih. Duh, seharusnya Kak Angga kusuruh pakai jas laboratorium juga setiap kali ia sedang mengeksperimenkan sesuatu. Pasti imut banget, deh.
Ruangan tersebut sebetulnya jauh lebih rapi jika dibandingkan dengan ruangan Kak Angga. Aku punya perasaan Kak Angga dan si cowok berkacamata ini memiliki banyak kesamaan. Sama-sama peneliti, mungkin? Ah, tapi tidak ada gunanya menduga-duga karena mereka belum bercakap-cakap sama sekali. Cowok berkacamata berambut cepak itu masih sibuk mengeluarkan kertas-kertas, staples, map-map, dan dokumen-dokumen lainnya. Sepertinya, ia tahu dan mau menjelaskan sesuatu. Barangkali, berhubungan dengan kejadian keluarnya burung gagak dari patung tadi?
"Maaf membuat kalian menunggu." orang itu akhirnya duduk di atas meja dihadapan kami. Posisi kedua meja tersebut memang tepat di depan jendela, dan aku yakin jika dilihat dari samping kami semua akan terlihat seperti siluet. Hitam dan indah.
"Aku seorang ilmuwan bernama Ray." Ujarnya sembari menjabat tanganku dan Kak Angga. Tangannya kecil sekali, diam-diam aku menjadi gemas. Ia seperti cowok-cowok polos bertampang anak kecil yang berasal dari Korea. Imut dan lucu!
"Ehm, hai?" Kak Angga menaikkan sebelah alisnya dan nyengir secara menyebalkan-tapi-memesona. Ia mengamati Ray dari atas ke bawah. Secara spontan, aku malah ikut-ikutan melihat Ray yang sepertinya salah tingkah setelah berkontak mata denganku. Ia langsung memalingkan mukanya sambil menahan wajahnya yang merona. "Lebih tepatnya, aku seorang neuroscientist."
"Namaku  Amora, dan ini Kak Angga." Aku memperkenalkan diri, berhubung sepertinya Ray ini cukup ramah dan baik kepada kami. Suasana siang itu cukup adem, membuatku tidak terlalu berpikir aneh-aneh. Seperti, mengapa begini? Mengapa begitu?
Ah, terlalu banyak berpikir hanya menguras energi.
"Kau ahli dalam hal-hal syaraf?" Kak Angga bertanya sigap, sedikit terkejut melihat keahlian yang tidak matching sama sekali dengan muka polos Ray. Si cowok yang mengenakan kemeja abu-abu dalam jas laboratoriumnya memainkan jas laboratoriumnya dan tersenyum manis. Ia tidak menjawab melalui kata-kata, namun gesturnya sudah cukup menjawab pertanyaan tersebut.
Ray mengeluarkan sebuah file dari map berwarna kuning. Kertas-kertas putih yang sudah dicetak sesuatu pun dikeluarkannya. Tak lupa, Ray mengeluarkan pulpen hitam yang ternyata sudah berada di kantong jas laboratoriumnya dari tadi. Ia menghela napas panjang. "Selama ini, aku tertarik pada hal-hal yang bisa dilakukan syaraf."
"Tunggu, tunggu." Kak Angga menginterupsi pelan omongan Ray. Ia pun melihat Ray yang kini memainkan kacamatanya, tampak sedikit kesal karena omongannya di potong. Keduanya kini berkontak mata dengan suasana sedikit canggung. "Bisakah kau menjelaskan mengapa kau membawa aku dan Amora ini ke tempatmu?"
"Ya, dan bagaimana kamu bisa menemukan kami?" Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku. Kali ini, aku merasa cukup sigap. Biasanya Kak Angga selalu memarahiku karena tidak sigap. Ah, aku mengalami kemajuan rupanya. Baguslah, omelan dari Kak Angga yang terkadang menggurui ada manfaatnya juga.
"Oh ya, sebelumnya aku minta maaf kalau  aku sedikit lancang langsung 'menyeret' kalian ke tempatku ini." Ujar Ray sembari menganggukkan kepala. Gorden yang berada di samping meja kami berwarna merah, dan membentuk bayangan yang sangat indah. Bayangan tersebut memiliki warna-warna bagaikan pelangi, dan mengeluarkan bunyi-bunyi setiap angin memainkannya. Nah kan, synesthesia kugunakan pada saat yang tidak tepat dan tidak perlu.
"Tidak apa-apa sih, karena kau mengajak kami naik mobil." Kak Angga berkata lagi, membuyarkan otakku yang sudah berpikir kemana-mana. Ya, tadi Ray memang langsung mengajak kami ke tempatnya dan membawa kami melalui mobil berukuran sedang berwarna keemasan. Aku sempat curiga aku dan Kak Angga akan diculik, namun mengingat keadaan yang sudah penuh dengan misteri, tidak ada salahnya kami berusaha menelusuri apa yang tengah terjadi. Kalaupun si Ray yang bertampang polos ini ternyata memiliki niat jahat, barangkali aku tinggal mengeluarkan kemampuan synesthesia lagi dan menggamparnya dengan daun. Atau menelannya di angin puyuh.
Kak Angga menelan ludah, dan kedua mata tajamnya menerawang keluar gorden. Ia terlihat tampan dengan sinar matahari yang tak segan-segan menyapa kulit wajahnya. Hal tersebut membuatku salah fokus dan malah memerhatikan keindahan cowok ini. Kak Angga sepertinya tak sadar ia tengah kuamati, dan masih menatap Ray yang masih terdiam. "Tapi, apa alasannya? Sebelum kau jelaskan apapun, tolong beritahu kami terlebih dahulu."
"Begini, begini." ujarnya sembari mengeluarkan beberapa gambar dari map kuning yang ia taruh disamping sosok mungilnya. "Berhubung aku neuroscientist yang multitasking, aku juga tadi sedang meneliti mengenai kejadian-kejadian aneh di Jakarta akhir-akhir ini."
"Lalu?" Kak Angga tampak kesal dan mulai tak sabaran dengan Ray yang tidak menjelaskan detail dan lengkap. Itulah kebiasaan buruknya, tidak sabaran. Aku sudah terbiasa dengan tempramennya tersebut semenjak kami kecil. Dek Angga dulu tidak pernah mau menunggu dibuatkan bekal, dan lebih memilih membelinya langsung di sekolah. Ia tidak pernah sabar menunggu bajunya diseterika, dan lebih suka memakai langsung tanpa diseterika walaupun kusut. Ah, beberapa hal memang tidak akan bisa berubah.
"Aku mempelajari syaraf-syaraf dari orang-orang yang pernah terkena pengaruh dari radiasi aneh itu. Mereka bersedia memberikan bagian-bagian dari tubuh mereka seperti helaian rambut dan darah untuk kuteliti. Dan kau tahu apa, cairan-cairan tubuh mereka sudah tercemar dengan warna-warna hitam menggumpal yang mengerikan." Ray menjelaskan sembari menegakkan posisi tubuhnya. Mata bulatnya serius menatap Kak Angga. Keduanya tampak tegang, sesuatu yang kutidak mengerti. Mungkinkah cowok dan cowok memang bisa merasa saling terancam? Duh, kok seperti serigala liar saja.
"Nah, tadi itu aku mengamati gumpalan hitam tersebut. Aku menemukan kalau gumpalan hitam tersebutlah yang mengaktifkan neurotransmitter-neurotransmitter di sinapsis otak dan menyebabkan penyimpangan dalam berpikir dan berperilaku." ujarnya sembari mengeluarkan gambar hitam yang ternyata merupakan hasil scan otak seseorang. 
"Lalu apa urusannya dengan kami, Ray?" Kak Angga tambah meninggi nadanya. Ia dengan wajah penuh curiga melihat ke sekeliling dan mendapati suasana sekitar yang sepi. Ia mendekatkan posisi duduknya padaku, dan menaruh tangan besarnya pada punggungku. Aku tahu ia sedang melindungiku. Ia selalu merangkulku setiap ia merasa aku terancam.
"Kalian itu hampir mati tahu, tadi!" Ray tampak mulai kesal dengan Kak Angga yang tidak memercayainya. Ia mengepalkan kedua tangannya, membuat muka Kak Angga makin nyolot. Seperti dua manusia ini tidak cocok untuk berteman. Apalagi, Ray sudah menghela napas super panjang dan aku tahu ia sedang berusaha mengontrol dirinya agar tidak meledak. "Aku menghentikan kalian berdua karena kalian akan meledak jika menghancurkan induk jaringan di Taman Pacu Kuda tadi!"
Mendengar kalimat tersebut, jantungku langsung terasa meloncat kencang. "Mati?"
"Ya, Amora." Ujar Ray serius. Ia menampilkan kerutan pada wajahnya. Sepertinya, wajah imutnya menunjukkan kalau ia seusia denganku, 16 tahun. Ah, aku mulai melantur lagi ya. Beginilah kebiasaanku yang suka membuat orang lain gemas dan kesal.
Ray menyenderkan tubuh pada tembok putih susu disebelahnya, dan melanjutkan kalimatnya. "Aku tadi memang sedang menganalisa di taman tersebut, sampai aku melihat kehebohan yang terjadi. Untunglah, aku tidak terkena pengaruhnya. Namun, melihat burung-burung gagak yang muncul dari patung kuda membuatku menyadari sesuatu."
"Yaitu?" Kak Angga bertanya lagi dengan nada tinggi. Anak ini masih saja membuat kesal pada saat-saat genting.
"Jaringan tersebut memiliki kemampuan mewujudkan apa yang diinginkan si biang kerok pencipta kekacauan di Indonesia ini. Dan kalau kalian menghancurkan induk-induk jaringan tersebut, neurotransmitter kalian juga akan kena dan malah lebih parah karena posisi kalian tepat di depan si induk jaringan. Dan jika itu terjadi, otak kalian akan rusak dan prefrontal tidak berfungsi. Kemudian, si biang kerok pencipta jaringan-jaringan yang bikin ngamuk orang ini bertambah kuat karena fungsi-fungsi otak kalian diberikan kepadanya." Jelas Ray tambah jengkel pada Kak Angga. Aku hanya bisa diam karena tidak tahu apa yang mesti kulakukan.
Kak Angga nyengir menyebalkan dan menaikkan sebelah alisnya. "Jadi intinya?"
"Maksudku adalah, kerusakan yang disebabkan oleh jaringan tersebut diakibatkan fungsi-fungsi otak yang serap oleh si jaringan. Karena otak kalian rusak, si jaringan ini tambah kuat. Ibaratnya, ia menyerap kekuatan kalian untuk kekuatan dirinya sendiri." Ray berkata serius, mengabaikan ekspresi Kak Angga yang semakin lama semakin minta ditabok.
"Berarti di balik semua ini, ada seseorang atau sesuatu yang merencanakan bencana ini?" Aku bertanya serius, memikirkan fakta-fakta baru yang telah kuketahui.
Ray mengangguk kencang. "Dan, Mora.." 
"Heh, cuman aku yang boleh memanggilnya Mora. Itu panggilan sayangku!" Kak Angga tiba-tiba ngamuk seperti kambing lepas. Aku menepuk bahunya dan menyadarkan dirinya untuk tenang. Aku menatap matanya dengan kesal. Sedewasa-dewasanya manusia, tetap saja ada hal-hal yang masih kanak-kanak. Hidup bisa berubah, namun tabiat orang belum tentu berubah. Seperti yang kukatakan tadi, ada hal-hal yang memang nggak bisa berkembang.
"Aku tadi melihat kemampuanmu, Mora. Apa itu yang tadi kau lakukan?" Ray bertanya padaku dan mengacuhkan Kak Angga. Mungkin ia lelah. Kemudian, Ray menaruh tangannya didahiku seolah-olah aku sakit demam. Aku yang biasanya diperlakukan begitu oleh Kak Angga langsung salah tingkah. Si Kak Angga juga tampak risih dan kesal dengan perlakuan Ray yang lembut dan ramah padaku. Ia mendesis pelan persis ular berbisa yang mulai melilit-lilitkan lehernya.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi masalah di dunia ini. Bencana, Kak Angga, Ray, identitas robot, semuanya membingungkan.
"Suhumu hangat, namun kau bukan manusia, ya?" Ray bertanya dan menyamakan pandangan matanya kepadaku.  Ia menggenggam tanganku seolah ingin merasakan suhu lainnya. Aku pun langsung deg-degan, karena memang diriku canggung kalau berurusan dengan cowok. Duh, apa yang sedang Ray lakukan sebetulnya?
"Ya, aku manusia buatan dan angin puyuh tadi adalah hasil kemampuan synesthesia-ku. Bisa dikatakan, aku adalah robot berkemampuan super." ujarku menjelaskan singkat. 
Ray mengangguk dan memegang dahunya.  Wajahnya serius sekali, sepertinya ia sedang berpikir keras.  "Synesthesia, kemampuan merasakan sebuah fungsi sensorik tertentu dari sensor lainnya.."
"Dan pada Amora, kemampuan tersebut tampaknya meluas. Ia bisa menghasil kekuatan-kekuatan aneh seperti angin. Dulu, ia malah pernah berhasil memainkan air melalui pandangan matanya." Kak Angga akhirnya sudah terlihat biasa lagi dan menambahkan penjelasan mengenai diriku. Aku merasa seperti subjek yang sedang diteliti. Terkadang, aku memang merasa bagaikan alien.
"Kau tahu, Ngga?" Ray bertanya dan menghampiri Kak Angga. Ia berdiri tegap di depan kakakku itu, dan mereka saling bertatapan serius. Kak Angga yang masih duduk diatas meja pun ikut berdiri karena sepertinya ingin menyamakan postur tubuh dengan dirinya. Ray tersenyum kecil pada Kak Angga, dan melanjutkan kalimatnya. "Aku berpikiran untuk bekerja sama mencari si biang kerok penyebab kekacauan ini dan menghentikan semuanya."
"Kamu tidak takut?" Kak Angga bertanya serius, tetap dengan ekspresi datar dan alis tebalnya yang selalu bermain dan membuatku kagum. 
"Seseorang harus bertindak." Ujar Ray tersenyum semakin lebar, kemudian menghampiriku yang duduk di sebelah. Ia menunduk dan lagi-lagi menyamakan pandangan mata. Sejujurnya, hal ini membuatku agak tersipu malu. Aku senang dengan bagaimana cara ia memperlakukan perempuan. "Mora, kamu mau kuteliti synesthesia-nya? Aku merasa kamu dan kemampuanmu itu memiliki potensi besar, lho."
"Mau." Aku mengangguk mantap tanpa pikir panjang, kemudian saling lihat-lihatan dengan Kak Angga. Ia juga mengacungkan jempol tanda setuju mau bekerja sama. Aku pun melihat wajah Ray yang tampak senang karena berhasil mendapatkan rekan-rekan tim yang baru terbentuk ini. "Aku ingin tahu bagaimana jaringan-jaringan itu bekerja dan menyebabkan respon dan realita yang aneh. Aku ingin mengetahui motif si biang kerok dalam mengacaukan Indonesia ini. Lagipula, kalau aku bisa membantu mengapa tidak?"
"Baiklah." Ray berkata dan mulai meletakkan tangannya di udara. "Yuk, bersulang untuk tim baru dan proyek dedikasi yang baru. Kita resmikan secara tidak resmi tugas ini, ya."
Aku menaruh tanganku di atas tangan Ray, kemudian diikuti dengan Kak Angga. Ketiga tangan penuh semangat tersebut terangkat ke udara dengan sorak sorai dan ambisi membara. Kami bertiga berteriak antusias dan girang. Padahal, kami tidak tahu untuk berapa lama kegirangan kami ini akan berlangung. Ah, untuk apa berpikir terlalu panjang ke depan.
"Se-ma-ngat!"