Thursday, June 30, 2016

Manusia yang tidak pernah puas

Halo,

diunduh dari http://i.huffpost.com/gen/3828066/images/n-HAPPINESS-628x314.jpg

Sudah lama banget aku nggak nge-blog tentang hal-hal santai. Entah mengapa, pas mengetik tulisan ini aku juga merasa agak kagok. Waduh waduh, harus membiasakan diri menulis blog lagi nih. :-)

Jadi, kali ini aku ingin membahas tentang manusia yang nggak pernah puas. Pada umumnya, manusia selalu melihat ke atas dan jarang bersyukur. Kebanyakan mengeluhkan kekurangan yang mereka miliki. Contoh, pernahkah kita mengeluh karena merasa apa yang kita dapatkan tidak semaksimal yang kita harapkan? Libur kurang lama, makanan kurang bervariasi, kepintaran kurang mendukung.. Kenapa sih aku begini, kenapa sih dia begitu. Hal tersebut membuat kita selalu mencari-cari sesuatu yang dapat membuat kita merasa lebih oke. Aku ngaku aku juga seperti itu.

Ketidakpuasan tersebut seringkali membuat kita tidak bahagia. Padahal, kalau kita selalu merasa cukup pastilah hidup lebih tenang. Kenapa ya.. Menurutku, kita tidak pernah puas karena tuntutan yang kita ataupun yang orang lain pasangkan untuk diri kita. Tuntutan identik dengan tekanan, dan tekanan tidak selalu menyenangkan.

diunduh dari http://userscontent2.emaze.com/images/5774bd07-b124-4162-8fc0-b055c0f8a5c4/7ffdb4cd-230d-4c81-ae20-a9df9fa05003.jpg

'Pokoknya, aku harus menjadi 'the best''

'Aku nggak boleh kalah si dia.'

Ya, terus aja kita dihantui harapan diri kita sendiri. Kalaupun kita berhasil mencapainya, muncul lagi tuh berbagai tuntutan dan ekspektasi baru.

'Kok cuman segini, sih?'

Sekarang, aku mencoba mencari poin-poin yang dapat membuat kita lebih merasa bersyukur atas apa yang kita miliki. Dengan kata lain, beginilah cara-cara untuk membuat kita merasa puas dan dengan demikian, bahagia;

1. Dengarkan kisah hidup banyak orang yang sedang sedih
Dengan demikian, kita bisa mengerti bahwa tidak selamanya kita dapat mencapai hal-hal yang kita inginkan. Kita bisa tahu juga bahwa kita tidaklah sendirian. Mendengarkan membantu kita untuk bersyukur.

2. Belajar berkata, ya sudahlah.
Memang susah untuk dilaksanakan karena terkadang hati gemas sendiri melihat kegagalan. Untuk itu, kita barangkali perlu memaksa hati tersebut untuk berkata ya sudahlah. Alihkan perhatian dan sibukkan diri untuk berhenti mengeluh. It's okay to be not okay, but you also should let some things go.

3. Ketahuilah bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol
Sadarilah kalau terkadang, we just lose. Jangan merasa putus asa apalagi bahwa semua ini salah kita. Percayalah bahwa ketidakberhasilan bukanlah akhir dari segalanya. Nah, ketidakpuasan macam ini perlu dilampiaskan dengan bersenang-senang secara positif. Nongkrong di kafe, menulis.. Do anything that makes you happy.

4. Abaikan pendapat-pendapat negatif orang-orang yang menuntut berlebihan
Seringkali ketidakpuasan juga muncul akibat pendapat orang lain yang terlalu kita pikirkan. They're not in your shoes, anyway. Prioritaskanlah kebahagiaanmu. Namun, aku tidak berkata mereka tidak perlu didengarkan, lho. Kita harus tahu sampai batas mana pendapat tersebut memperbaiki kita dan sampai mana kita harus tidak memedulikannya. Know your limits.
 

Wednesday, June 22, 2016

Tempat-tempat ketjeh di Bangkok (Swiss Sheep Farm, Santorini Park, Chocolate Ville, Ocean World)

Hai teman-teman,


Jadi, pada 15 Juni 2016 yang lalu aku telah mengunjungi kota Bangkok di Thailand. Kali ini, aku berpergian bersama para sepupu, Mama, Tante, dan adik. Oh ya, tak lupa pula ada keponakanku yang masih kecil dan imutnya luar biasa. Hari rabu ini kami boarding dengan pesawat jam tujuh pagi. Itu juga berarti kami harus bangun subuh, dan ternyata bangun pagi tersebut membutuhkan usaha yang luar biasa untukku.

Nah, selama 15 Juni hingga 18 Juni 2016 tersebut aku telah mengunjungi beberapa tempat yang asyik banget di tongkrongin. Di simak yuk beberapa tempat ketjeh yang ingin kuceritakan ini!

1. Swiss Sheep Farm

Bagian loket Swiss Sheep Farm
Tempat ini adalah salah satu tempat paling menarik dalam kunjunganku ke Bangkok saat itu. Saat pertama kali datang ke Swiss Sheep Farm ini, kita akan dapat melihat banyak kuda dan hewan-hewan ternak lainnya. Suasana tedh sekali karena banyaknya tanaman hijau. Ya, tempat ini cocok untuk orang-orang yang ingin suasana tenang yang jauh dari perkotaan. Banyak aktivitas yang dapat kita lakukan, salah satunya adalah memberi makan satwa-satwa tersebut.

Saat masuk, kita akan mendapati banyak hewan ternak di sekitar kita.
 
Kegiatan memberi makan hewan dan berinteraksi langsung
Selain itu, ada sebuah atraksi yang menurutku menarik sekali. Berinteraksi langsung dengan apalca! Kami diminta menggunakan plastik disepatu kami dan mensterilkannya dengan menginjak suatu matras bercair. Saat kami memasuki sebuah ruangan, disitulah kejutan datang. Kami berhadapan langsung dengan hewan-hewan apalca tersebut! Petugas pun menenangkan kami dengan mengatakan bahwa hewan-hewan tersebut tidak menggigit. Kami pun dengan leluasa memberi makan dan membelai lembut hewan-hewan berbulu itu. Ternyata mereka imut juga!

Apalca yang kita hadapi secara langsung, face-to-face.

Selfie-agak-gagal-tapi-nggak-apa-apa.

Hal lucu lainnya yang terjadi di Swiss Sheep Farm adalah saat aku memainkan sebuah permainan rodeo. Itu lho, yang kita menaiki banteng-bantengan kemudian bertahan hingga selama apa kita bertahan di punggungnya. Banteng-bantengan tersebut mengamuk dan berputar-putar. Aku menjerit hebat saat memainkan tersebut. Rasanya takut sekali saat ia ingin membanting-bantingku. Sebuah pengalaman yang lucu dan berkesan, kan?

Ini bikin aku takut banget.



2. Santorini Park

Bagian pintu masuk.
 
Dekornya keren dan vintage sekali.
 
Bangku-bangkunya juga nggak kalah vintage dari tembok-temboknya.
 
Tempat ini cocok sekali ini kamu yang suka berfoto-foto. Suasana vintage yang didominasi warna biru memberi kesan ceria. Banyak sekali spot foto yang menyenangkan. Oh ya, selain itu terdapat juga toko-toko merchandise di taman itu. Banyak juga permainan-permainan menyenangkan seperti menonton 4D dan bertarung robot. Iya, kalian tidak salah baca. Kita masuk ke dalam sebuah robot dan main tonjok-tonjokkan dengan lawan kita. Seru banget kan?


Aku kalah melawan adikku dipertandingan tonjok-tonjokkan robot.

Siap untuk bertarung tonjok-tonjokkan.



3. Chocolate Ville

Dari depan aja udah imut banget.

Pintu masuk.

Pertama kali ini memasuki tempat ini, aku langsung excited dengan miniatur-miniatur berbagai landmark dari banyak belahan dunia.  Ada kincir angin dari Belanda, Big Ben dari Inggris. Ditambah lagi ada musik pengiring yang ceria banget. Kalau mondar-mandir disana pasti happy deh bawaannya.

Tempat duduk yang asyik banget.
 
Ada sebuah danau di Chocolate Ville.
 
Sebuah etalase mobil yang tentunya nggak boleh dibawa pulang.
Berikut ini adalah suasana di Chocolate Ville, dimana ada danau disertai kapal-kapalnya yang membuat kita merasa bahwa ini berada di sebuah tempat di belahan dunia yang lain. Keren buat para pencinta foto, dan tempatnya asyik banget buat duduk-duduk dan menikmati pemandangan sekitar. Jarang-jarang lho ketemu suasana yang uniknya kayak begini.

Tempat jalan yang jarang ditemui, kan?


Kalian bisa berjalan-jalan dengan nyaman karena jalanannya juga bersih. Semakin mantap deh menikmati suasananya. Tapi hati-hati, jangan sampai menghalangi orang lewat ya karena jalanannya tidak terlalu lebar.

Pelukan dan pamitan sama beruang di Chocolate Ville.


4. Sea Life Bangkok Ocean World

Ocean World yang berada di lantai bawah sebuah mal.


Ocean World yang satu ini dapat tergolong unik karena berlokasi di bawah sebuah mall, yakni di Siam Paragon. Aku pun pada awalnya terkaget-kaget membayangkan adanya ikan hiu dibawah sebuah pusat perbelanjaan. Tidak disangka-sangka, bukan?

Area pintu masuk pun unik karena nuansanya lelautan sekali. Lantai biru, dinding biru, dan banyak patung-patung ornament bernuansa underwater. Tentunya banyak pengunjung yang tak ingin melewatkan momen ini begini saja. Foto dulu, dong.

Jangan lupa selfie!
Sebuah patung milik museum Madame Tussaud yang dipajang di depan Ocean World.


Oh ya, ada spot foto bersama patung lilin juga lho. Nah, setelah masuk ke dalam area Ocean World, kita akan mendapati banya akuarium. Aku mendapati banyak sekali jenis ikan, lho. Ada yang air tawar, air asin, bahkan ada katak pula.

Keren sekali dunia bawah laut ini!
Pada jam-jam tertentu, pihak Ocean World menyediakan pertunjukan-pertunjukan pemberian makan mahluk-mahluk tersebut dan mereka mengedukasi para pengunjung juga. Beberapa show yang kutonton adalah pemberian makan penguin dan juga ikan air tawar. Ada juga kegiatan memeri makan ikan di akuarium besar menggunakan kepal dan diving bersama satwa-satwa. Namun, aku tidak melakukannya sehingga kurang bisa memberikan informasi lengkapnya. Tapi yang bisa kusimpulkan adalah keterawatan hewan-hewannya. Pokoknya seru abis deh, dan edukatif dan mendorong orang-orang untuk mencintai satwa-satwa laut tersebut!




___________

NOTE:

- Kalau mampir ke Bangkok, jangan lupa bawa payung karena sering hujan :-)
 

Synesthesia- BAB X~ Bangunlah Kembali

“Kamu betul-betul tidak ingat aku, Ngga?” Ray bertanya masih dalam kekagetan yang luar biasa. Kak Angga betul-betul tidak ingin pada diri Ray. Ia ingat ia sedang berusaha mencari seorang biang kerok, namun cowok itu sama sekali tidak ingat tentang Ray yang dari awal menemani perjalanan mereka.Tentang Ray yang sama-sama mempunyai alat-alat penemuan unik, dan juga tentang Ray yang mengantar mereka ke berbagai tempat menggunakan mobilnya.

“Bukannya kita dari awal berangkat jalan kaki, Mora?” Tanya Kak Angga dengan ekspresi serius. Aku saling lihat-lihatan dengan Ray. Tampaknya Kak Angga bukan tipe orang yang suka bercanda pada saat-saat genting seperti ini.

“Kak Angga ingat aku?” Tanyaku perlahan sembari menatap luka angka 316 di lengan kanannya yang semakin jelas. Hitam. Aku betul-betul takut kalau ini adalah kenyataan. Kalau ini mimpi buruk, aku akan dengan senang hati bangun sekarang juga. Sayangnya, ini kenyataan. Tidak ada jalan lain melalui kenyataan selain menghadapi realita tersebut. Terpaksa. Kalaupun ingin menolak atau melangkahinya, kita tidak akan bisa menghindarinya. Sesuai kata pepatah, sekarang atau tidak sama sekali.

“Tentu saja ingat, aku tidak akan melupakan Mora-ku.”

Tanpa dikomando, kedua pipiku langsung bersemu merah. Entah untuk keberapa kalinya Kak Angga membuat perutku sakit saking tegangnya. Entah berapa kali juga ia membuatku tersenyum canggung seperti saat ini. Aku pun yakin bahwa ia masih mengingatku.

Laboratorium sore itu cukup panas, menyebabkan Kak Angga membuka jendela-jendela sehingga menciptakan ventilasi udara yang lancar. Aku menuju alat pemancar Kak Angga dan membopong alat mungil tersebut ke hadapannya. “Kak Angga ingat alat ini?”

Kak Angga mengangguk mantap, kemudian menyentuh alat tersebut perlahan-lahan. Ia mulai memencet-mencet tombol di alat tersebut, dan memunculkan warna-warna hijau dan biru yang menunjukan sinyal-sinyal di sekitar kami. Alat tersebut berbunyi pelan, namun Kak Angga menutupnya kembali. “Tenang, itu bukan sinyal amukan. Lagipula aku tidak mungkin melupakan alat ini, aku membuatnya hingga begadang berhari-hari.”

Aku tertawa kecil. “Tentu saja, aku sampai memarahi kakak karena tidak tidur-tidur.”

“Kalau alat ini, Kak Angga ingat?” Aku kemudian mengambil sebuah alat berbentuk blender dari sebuah tumpukan barang, dan menunjukkannya di hadapan Kak Angga. Alat tersebut sudah sedikit berdebu, namun masih berfungsi dengan baik saat kutekan tombol terbesarnya. Kak Angga mengambil alat tersebut dari tanganku dan mengelapnya dengan potongan tissue dari gulungan tidak jauh dari tempat kami bertiga duduk.

“Mesin pencipta wi-fi yang sempat diolok-olok oleh teman-teman Taman Kanak-Kanakku.” Ujar Kak Angga sambil menerawang, kemudian ia memeluk alat blender tersebut erat. “Aku menciptakan jaringan wi-fi dari energi putaran si blender tersebut pada usia 5 tahun. Ya, memang cukup aneh dan agak gagal. Semua menertawakanku.  Tapi,”

“Tapi?” Tanyaku sambil menatap Ray yang mengangguk. Ia memintaku untuk terus mengorek memorinya.

“Tapi, terkecuali ayah. Ia tidak menertawakanku. Ia memuji dan membelikanku sebuah medali plastic sebagai apresiasi atas usahaku.” Suara serak Kak Angga mulai sedikit bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Aku menatap Ray yang masih mengangguk-angguk. “Jangan berhenti dan lanjutkan, Ra. Kita harus tahu separah apa hilang ingatannya.”

Sebetulnya, aku iba melihat Kak Angga yang sedih. Aku mengerti hatinya pasti sensitif sekali saat ini. Namun aku harus memaksanya untuk terus berbicara. Ray mengangguk lagi saat aku menatapnya, mencari petunjuk. “Lakukan, Ra. Demi kebaikannya sendiri.”

“Apa saja yang Kak Angga ingat tentang ayah Kakak?” ujarku akhirnya perlahan. Sebetulnya, ini pertanyaan yang paling kutakutkan. Semua ingatan harus kukorek, yang indah maupun yang menyakitkan. Ah, ini untuk kebaikan Kak Angga, bukan?

“Ayah selalu mengatakan bahwa aku jagoan.” Ujar Kak Angga usai menarik napas panjang. Ia menaruh alat blender ciptaannya tersebut di sebelahnya kemudian berdiri mengitari ruangan laboratorium bawah tanah tersebut. “Ia bilang, jagoan tidak boleh nangis dan harus percaya pada dirinya sendiri.”

“Dan hal itu yang menyebabkan Kak Angga terus menciptakan alat-alat?” tanyaku penasaran. Sebetulnya, ini sudah melenceng dari fokus utama aslinya. Seharusnya aku hanya memastikan separah apa hilang ingatan yang dialami Kak Angga akibat luka di lengan kanannya tersebut. Kini, rasa penasaran dalam sosok robotku menggelitikku untuk membuka hal-hal pribadi dari Kak Angga yang belum pernah ku jangkau sebelumnya.

Kak Angga mengangguk dan mengambil tissue untuk matanya yang mulai berkaca-kaca. “Ya, jagoannya Ayah harus tetap berkarya.”

Aku pun berdiri di sebelah sosoknya yang berjalan-jalan dan malah menemaninya berputar-putar di ruangan tersebut. “Kakak ingat ibu Kakak?”

“Beliau meninggal saat melahirkanku.” Ujarnya berusaha tegar. “Aku tidak pernah melihat sosok ibu. Aku sering menyalahkan diri karena kelahiranku, ibu jadi meninggal. Aku sempat ingin mati saja. Namun aku memikirkan ayah. Aku.. aku..” Tubuhnya mulai sedikit bergetar, kemudian aku menoleh ke Ray yang masih duduk termenung. Aku memeluk erat lengan Kak Angga. Ia tidak kuat lagi dan berlari memasuki lit dan naik ke atas, tanpa menunggu aku maupun Ray. Kak Angga yang biasanya pendiam dan iseng kini menjadi rapuh begini. Sebetulnya, aku juga merasa sedikit bersalah karena menuruti Ray. Aku merasa bersalah karena membuatnya sedih. Hari ini berkesan karena inilah pertama kalinya Kak Angga menangis karenaku.

Duh Amora, apa yang kau perbuat?

Ray mengacungkan jempol dan memanggilku menghampirinya. Matahari terbenam sudah semakin sirna dan langit semakin gelap. Angin sepoi-sepoi di dalam ruangan menjadi semakin kencang dan sesekali membuat bulu kudukku merinding. Ray menjentikkan jarinya dan memotong lamunanku. “Ke sini sebentar deh, Ra.”

“Sepertinya yang ia lupakan hanyalah tentang kamu, Ray.” Ucapku lirih sambil tidak fokus. Bagaimana perasaan Kak Angga saat ini, ya? Aku menarik napas panjang dan menunduk. “Menurut pengetahuan dalam kamus kedokteran dipikiranku, ini mirip gejala amnesia.”

“Hilang ingatan?” tanya Ray perlahan, sembari mengambil jaket dari tasnya dan kemudian melingkarkannya pada tubuhku yang mulai menggigil. Aku kaget karena ia tahu aku kedinginan. Betapa perhatiannya cowok imut berkacamata ini!

“Iya. Kamu pasti pernah mendengarnya di televisi-televisi, Ray.” Ujarku sambil menahan mukaku yang memanas. Jaket tipis berwarna hitam milik Ray tidak terlalu besar, namun cukup untuk menghilangkan hawa dingin dari tubuhku. Aku pun melepaskannya dari lingkaran dan mengenakan jaket tersebut seperti seharusnya. Sebetulnya aku agak heran dengan Pak Handoko yang menciptakanku sama halnya manusia asli. Aku bisa merasakan dingin, merasa kepanasan, merasa malu. Sebetulnya terkadang aku berharap perasaan-perasaan seperti ini dihilangkan saja dari fungsi tubuhku. Perasaan itu mengganggu dan membingungkan!

Ray menaikkan topi dari jaketnya tersebut ke kepalaku, dan ia menyentuh hidungku pelan. “Aku tahu kok, Ra.”

Dasar anak ini, jahil sekali menaik-turunkan perasaanku. Aku pun mengomel-ngomel dalam hati walaupun tahu persis ia  tidak akan bisa mendengarnya. Manusia tidak akan bisa mendengar pikiran robot, bukan? Entahlah, sepertinya aku melantur lagi.

“Ra.” Ujarnya sambil membuka kacamatanya yang sedikit berembun. Lagi-lagi aku terpesona akan wajah tampannya tanpa kacamata. Ray itu memang tidak bisa diduga-duga. Tubuhnya mungil namun ia kuat. Mata coklatnya selalu mempesonaku. Sepertinya ia juga mulai lihai mencuri hatiku. Ya ampun, Amora! Mengapa hati manusia buatan ini bisa jatuh pada dua orang di waktu yang sama?

Ray memegang kedua pundakku dan menatap mata besarku dalam-dalam. Tatapan yang bisa membuat ‘meleleh’ cewek manapun yang memiliki hati. Barangkali yang tidak terenyuh oleh tatapan mata coklat Ray hanyalah orang-orang tidak waras dan tidak punya hati. Eh, walaupun aku robot, namun secara teknis aku mempunyai hati yang bekerja menyaring racun makanan-makanan yang kukonsumsi. “Dengarkan aku.”

Aku mengangguk saat angin kini memainkan rambut cepak Ray. Ya, kini kami persis cowok dan cewek di drama yang kutonton bersama Kak Angga pada liburan tahun lalu. Tadinya aku menertawakan adegan tersebut dan mengatakan hal itu hanyalah dilebih-lebihkan. Namun setelah mengalaminya sendiri, aku tidak tahu aku harus berkomentar apa.

“Luka di lengan kanan Angga semakin lama mempengaruhi syarafnya. Lama-lama ia bisa mati rasa dan kehilangan lebih banyak lagi ingatan. Ada suatu jenis virus yang menginfeksi lukanya. Sepertinya, semua ini disengaja. Luka berbentuk 316 tersebut bagaikan di stempel saja pada lengan kanan Kak Angga.”

“Kak Angga bisa mati rasa?” Tanyaku seperti orang yang memiliki proses pikiran lamban. Aku mengerti setiap kata yang dikatakan Ray, namun entah mengapa otakku membutuhkan usaha lebih untuk memproses kalimat tersebut. Amora yang biasanya bisa sigap kini menjadi lamban. Seperti error dan hang pada sebuah komputer. Semua terasa kosong apabila pikiran menghambat.

“Dia bisa saja tidak bisa berjalan lagi, atau bergerak lagi.” Ucap Ray sambil memakai kacamata bulatnya yang sudah tidak berembun lagi. Mata coklatnya sedikit memudar apabila ia memakai kacamata. Oke, Amora jangan salah fokus pada saat ini. Kondisi Kak Angga mengkhawatirkan, dan kamu tidak boleh berpikir macam-macam.

Fokus, Amora.

“Jadi kami tidak akan bisa berjalan-jalan lagi? Bagaimana dengan misi penyelamatan bumi yang sedang kita jalani?” Ucapku panik. Kini giliran suaraku yang bergetar. Perasaanku kacau mengingat kakak kesayanganku kini dalam ambang bahaya. Aku masih ingin menikmati waktu bersama-sama lagi dalam waktu dekat?

Ray menunduk dan menghela napas pendek. “Maafkan aku, Mora.”

“Bagaimana dengan ingatan Kak Angga?” Tanyaku sembari menutup jendela. Langit sudah benar-benar gelap dan jangkrik-jangkrik mulai mengumandangkan himne rutinnya setiap malam. Malam yang biasanya teduh kini menjadi menyedihkan. Biasanya, aku sering menikmati datangnya malam bersama Kak Angga. Terkadang di kamar tidur di lantai terkadang, terkadang dari ruangan laboratorium ini. Aku juga tidak bisa membayangkan seandainya Kak Angga betul-betul menghilangkanku dari ingatannya.

Bulu kuduk artifisialku merinding kembali memikirkan kemungkinan tersebut.

“Kita tidak tahu kapan ingatan ini akan bertambah parah.” Jawab Ray yang berjalan menuju pintu lift dan menahannya untuk aku masuk. Aku pun berlari kecil menghampirinya. Aku berniat mengembalikan jaket milik Ray karena nampaknya ia kedinginan juga.  Ray menolak saat aku melingkarkan jaket tersebut di sosok mungilnya. Ia tersenyum semanis madu yang pernah kucicipi bersama Kak Angga di rumah tetangga.“Untukmu saja, Amora.”

“Karena kita tidak tahu kapan infeksinya akan bertambah parah, kita harus bergerak cepat.” Ujar Ray sambil menatapku serius. Ia pun keluar dari lift dan bergegas keluar. “Hari sudah malam, dan aku harus pulang.”

“Apa yang harus kulakukan, Ray?” Tanyaku cemas sembari mengantarnya ke pintu keluar. Benar katanya kalau hari semakin larut malam. Bisa bahaya kalau Ray pulang malam-malam, bagaimana kalau ada seseorang atau sesuatu yang berniat jahat pada Ray? Aku tidak mau Ray kenapa-kenapa juga seperti Kak Angga. Terlukanya satu orang yang berarti untukku saja sudah cukup berat, jadi tolong jangan ditambah lagi. Mengapa hidup ini mengerikan sekali?

Ray memegang pipiku dengan tangan mungilnya. Tangannya terasa dingin sekali. Ia menggenggam kedua tanganku erat, kemudian berbalik badan dan berjalan menuju mobilnya yang diparkir di halaman depan. “Untuk saat ini, kau hibur kakakmu dulu ya. Dengarkanlah ceritanya, dan jangan kau beritahukan keadaan sesungguhnya. “

Aku menyaksikan mobil Ray yang melesat pergi meninggalkan asap-asap putih di udara. Kemudian, aku naik ke lantai tiga dan mendapati Kak Angga yang sedang duduk di atas ranjang dengan wajah pucat. Aku duduk disebelahnya dan membelai rambutnya. Kak Angga menyenderkan kepalanya didadaku dan memejamkan mata.

“Kak Angga.” Ujarku lirih. “Tak apa-apa, kok. Ada Amora yang menemani Kakak.”

Sebagian malam itu kulalui dengan mendekap Kak Angga yang tertidur lagi dalam pelukanku. Aku sungguh berharap hubungan aku dan Kak Angga akan tetap seperti ini. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika suatu saat Kak Angga betul-betul melupakanku.

Aku merebahkan Kak Angga diranjang dan menaruh selimut tebal bermotif robot-robotannya di atas tubuhnya. Aku mematikan lampu besar dan menyalakan lampu malam, kemudian menyembunyikan diri dibawah selimut ranjangku sendiri. Sesekali aku menoleh ke arah ranjang Kak Angga dan mendapati wajah polosnya tertidur nyenyak. Semoga kau tidak kenapa-kenapa, Kak Angga.

Kemudian, aku memikirkan Ray yang saat ini pulang sendiri. Aku tahu ia pemberani, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Amora ini selalu memikirkan orang lain, padahal diriku sendiri juga butuh istirahat. Tapi saat ini aku tidak bisa tidur. Aku pun mengingat taktik yang pernah Kak Angga ajarkan padaku.

“Kalau tidak bisa tidur, hitung domba yang melompati pagar saja.”

Satu domba, dua domba, tiga domba.. Setelah domba kesekian, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Semua menjadi gelap dan hitam, dan untuk sejenak bisa kulupakan semua kenyataan yang terjadi. Tidurlah untuk hari ini, dan bangunlah kembali esok harinya.

 

Synesthesia- BAB IX~ Aku Janji

“Kak Angga,” aku memanggilnya pelan. Malam ini terasa dingin. Aku pun memutuskan untuk menggunakan sweater untuk menemaniku bermimpi. Aku dan Kak Angga sudah mandi, sehingga kini tinggal tidur di ranjang masing-masing. Kami satu kamar, namun berbeda ranjang. Kamar ini terasa sepi sekali karena tidak ada foto maupun lukisan yang tertempel.  “Kakak belum tidur?”

“Belum, Mora.” Ujar Kak Angga sembari mendudukan posisi tubuh yang tadinya terlentang itu. Ia nampak imut sekali dengan piyama bermotif beruangnya. Sebetulnya, ia membuatku berjanji untuk tidak memberitahukan piyama-piyamanya tersebut pada siapa-siapa. Malu, ujarnya.

Aku pun ikut menaruh bantal di kayu ranjang dan berposisi duduk. Kak Angga yang posisi ranjangnya lebih dekat ke jendela membuka tirau berwarna kuning tersebut, dan membuat kami yang berada di lantai tiga bisa menyaksikan langit. Tidak ada bintang yang terlihat, namun langit biru yang polos itu juga sudah sangat cantik.

“Mora,” Kak Angga berujar sambil menerawang keluar jendela dan memainkan jari-jemarinya.  Ia duduk bersila kaki dan menopang dagunya. “Menurutmu, Papaku ada dimana ya?”

Suasana hening saat Kak Angga membuka jendela tersebut dan membiarkan angin sepoi-sepoi mengalir dalam ruangan tersebut. Aku pun berdiri dan mematikan pendingin ruangan yang menyala. Kak Angga mengangguk saat aku meminta persetujuannya. Ia masih tidak melepaskan pandangannya dari langit biru tua yang gelap. “Apakah Papa bersama Mama?”

Aku pindah duduk ke ranjang Kak Angga, kami kini duduk bersebelahan. Aku menggenggam lengan kekarnya dan merebahkan kepalanya pada dadaku. Aku pun langsung merasakan nostalgia yang amat hebat. Dahulu saat Angga kecil, kami sering melakukan pelukan seperti ini. Sebelum ia beranjak dewasa, ia amat manja pada Kak Amoranya. Aku yakin, jauh di dalam lubuk hatinya aku tetap merupakan Kak Amora miliknya.

“Kak Angga,” ujarku hati-hati sembari mengusap rambutnya pelan. “Papa dan Mama Kak Angga pasti bangga dengan kakak yang pemberani dan selalu melindungiku. Kita akan menemukan ayah dari Kak Angga, oke? Entah mengapa, aku punya perasaan kalau permainan si biang kerok ini terhubung dengan kasus hilangnya Pak Handoko.”

“Aku janji.” Ujarku lagi sambil mengaitkan jari kelingkingku dengan miliknya. Aku merasa baju piyama merah bermotif polkadot milikku sedikit basah. Kak Angga menangis. Sepertinya ia sudah lelah menjadi si cowok jenius pendiam yang tidak pernah stres. Aku semakin memeluk kepalanya erat. “Aku janji kita akan membereskan semuanya. Aku akan selalu menemani Kak Angga.”

Ruangan 6x6 meter tersebut kini sudah tidak lagi terasa dingin. Dinding berwarna emas yang tidak pernah pudar semenjak aku pertama kali diciptakan juga berwarna hangat dan membuat hati tambah tenang. Kak Angga tidak mau bergerak dan memilih menikmati pelukanku.

“Terima kasih, Kak Amora.” Ujarnya sambil tertawa kecil. Aku semakin keras mengacak-acak rambut jabriknya dan ikut tertawa kecil. Angin yang memenuhi ruangan membawa harum rumput basah yang menyenangkan. Ya, tadi memang sempat gerimis. Aku juga tahu kalau Kak Angga suka sekali dengan aroma basah akibat hujan. Perasaan menjadi tenang, ujarnya.

“Kak Angga, kita tempel foto yah, kapan-kapan? Aku lihat ruangan Pak Toni dan merasa…” Aku melihat meja kecil di tengah-tengah kedua ranjang tersebut dan merasa cocok jika sebuah pigura ditaruh disitu. Aku menghentikan kalimatku ketika merasa dadaku semakin berat. Aku terenyuh melihat wajah Kak Angga yang tertidur dalam pelukanku.

Aku merebahkannya ke ranjang dan menutup jendela. Tak lupa pula, aku kembali menyalakan pemanas ruangan. Posisiku masih duduk disebelah Kak Angga yang telah memejamkan mata. Aku mengelus pelan pipinya, dan tangan kiriku menyentuh pita biru dileher pemberian Pak Handoko. Kak Angga pasti sudah lelah menangis. Ia nampak polos sekali saat tidur, rasanya aku ingin membenamkan wajahku disebelahnya. Tanganku sekali lagi membelai lembut rambut Kak Angga yang mulai mendengkur pelan. Ada sesuatu yang mendorongku untuk menunduk dan mencium pipinya. Sebuah tindakan yang tidak kusangka akan kulakukan. Hatiku berdebar luar biasa kencangnya. Pipiku merona hebat. Bibirku gemetar, namun aku merasa bahagia. Astaga Amora, dia ini kakakmu lho!

“Aku janji, Kak Angga.”

**

“Selamat pagi!” Ucap Ray saat ia muncul di hadapan pintu depan dengan kaos berkerah berwarna kuning yang wangi sekali. Sepertinya kaos tersebut baru keluar dari cucian. Kak Angga dan aku yang memang sudah mandi dan bersiap-siap pergi mengangguk.

“Minum dulu, Ray.” Ujarku mempersilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu. Dengan setengah hati dan bersungut-sungut, Kak Angga mengambil sebuah botol air mineral kecil dari kardus dan memberikannya pada Ray. Cowok imut ahli syaraf  berkacamata itu sudah siap dengan ransel dan peralatannya. Ia pun mengenakan celana coklat yang matching dengan kaos sekuning bunga mataharinya tersebut. Seperti biasa pula, Ray tidak terlalu peduli terhadap ocehan Kak Angga yang sepertinya selalu kurang nyaman dengan kehadirannya.

“Kita hari ini akan berangkat ke sebuah kampus di Jakarta.” Ucap Ray sambil menikmati air mineral bermerek terkenal tersebut. Sesekali matanya melihat-lihat ke sekeliling ruangan, dan menonton televisi yang memang belum dimatikan dari tadi. Dinding kami memang tidak menarik karena tidak ada pajangan ataupun foto-foto yang bisa dilihat. Meja-meja yang berada diruang tamupun hanya berisi benda-benda berupa buku dan peralatan-peralatan milik Kak Angga. Kemudian, Ray menutup botol dan bangkit berdiri dan mengedipkan mata padaku. “Yuk, kita cari sumber sinyal dan mencegah terjadinya pembunuhan lagi. Alatku sudah menunjukan lokasinya, yakni di Kampus Rembulan.”

Ray mengacuhkan Kak Angga yang jelas-jelas memutarkan mata kepadanya, kemudian membuka kunci mobil dan bersiap dikemudi. “Ayo, tunggu apa lagi? Kita tidak boleh terlambat!”

**

Ternyata Kampus Rembulan ramai sekali mahasiswanya. Ada yang berpakaian sangat modis dengan celana ketat dan cardigan dengan model yang panjang, ada pula yang memilih berpakaian simpel dengan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang. Aku jadi teringat Kak Angga yang seringkali menggunakan kaos oblong warna gelap dan celana jeans warna coklat untuk perkuliahannya sehari-hari. Ya, sebelum ia memilih untuk cuti kuliah satu semester dan berfokus pada eksperimen-eksperimennya. Omelan dan nasihatku tidak berguna karena ia seringkali keras kepala.

Tit. Tit. Tit.

Alat miliki Ray berbunyi. Ini bukan pertanda yang baik, sama halnya dengan kejadian-kejadian di berbagai tempat sebelumnya.  Ia pun dengan sigap menggeser benda-benda seperti lemari untuk menutup pintu kelas terdekat.

“Seperti yang telah alatku prediksi, amukan akibat sinyal akan dimulai tiga menit lagi.” Ujar Ray sambil mengotak-atik alat miliknya. Aku pun was-was dan menyiapkan kemampuan synesthesia-ku. Semoga kali ini aku masih memiliki keberuntungan, dan semoga tidak ada korban sama sekali. Selain itu, aku berharap Kak Angga tidak kenapa-kenapa. Aku menyayangi kakakku itu. Tolonglah, Kak Angga, jangan membuatku tambah khawatir.

“Tiga.”

Aku berdebar kencang saat Ray mulai menghitung mundur. Kak Angga menggenggam tanganku dan mempersiapkanku untuk berlari.

“Dua.”

Lampu-lampu mulai mati dan suasana hening sejenak. Rasanya seperti sedang berada di sebuah klimaks film horror. Luar biasa sekali takutnya.

“Tiga!”

“AAAAH!” para mahasiswa yang sedang belajar di kelas mulai mengamuk, termasuk juga dosennya yang kini bagaikan binatang buas yang tidak memiliki hati sama sekali. Mereka melompat-lompat dan mendobrak pintu yang tadinya sudah ditahan menggunakan perlengkapan-perlengkapan berat. Sayangnya, tidak semua pintu sempat ditutup.

Dor!

Lampu-lampu di gedung kampus tersebut menyala lagi. Sebuah pistol berbunyi  kencang dan ternyata seorang mahasiswa dari pintu di ujung tengah berdiri didepan kerumunan mahasiswa yang bagaikan zombie tersebut. Bunyinya menggema ke seluruh lorong kampus tersebut. Aku kaget minta ampun. Darimana ia bisa mendapatkan pistol tersebut?!

“Dia membawa pistol?!” Tanya Ray yang tidak kalah kagetnya denganku. Ia melindungiku di belakang punggungnya, sementara Kak Angga menggenggam erat lenganku. Mereka berdua tentunya sangat khawatir denganku. Ada apa dengan dunia ini, aku menemukan sebuah pistol di sekolah?!

Kami tidak sempat bertanya-tanya lebih lanjut karena mahasiswa tersebut melangkah maju perlahan-lahan.

“Ray, lakukan sesuatu!” seruku ketakutan sembari mencari tahu apa yang bisa kuperbuat. Kak Angga mengeluarkan tembakan sinar inframerahnya dan ternyata tidak menyala pada saat-saat seperti ini. Kak Angga mengumpat kesal saat senjata andalannya kini tidak bisa diandalkan. “Sial!”

Dor!

Si mahasiswa tersebut menembak lagi ke langit-langit atap dengan tatapan sangar. Ayo Amora, andalkan kemampuanmu pada saat ini! Musuh kuat dan banyak, sehingga mengandalkan otot adalah hal yang mustahil. Otak harus bisa lebih bekerja dibandingkan otot.

“Amora, bantu aku.” Ucap Ray yang tetap berusaha tenang saat si mahasiswa cantik berambut panjang tersebut berjalan semakin dekat. Ia seolah memimpin pasukan zombie dibelakangnya yang berjalan-jalan dengan sedikit oleng. “Gunakan kemampuan synesthesia-mu untuk alat penenang milikku ini.”

Fokus, Amora.

Aku menggunakan grapheme-color synesthesia-ku untuk melihat warna dari angka dan huruf yang diberikan oleh Ray untukku pada secarik kertas, kemudian warna-warna tersebut kujadikan nyata sama seperti aku menjadikan nyata angin puyuh di Taman Pacu Kuda. Warna-warna terang berupa kuning, merah, dan ungu tersebut bercampur dengan tembakan ray kemudian membesar dan akhirnya menimbulkan bunyi yang sangat mengerikan.

Duar!

Semua mahasiswa yang berada didepan kami terjatuh, dan mahasiswa-mahasiswa yang terkunci dalam kelas pun terdiam dan tidak berteriak-teriak lagi. Aku menghampiri si mahasiswi cantik yang tidak sadarkan diri, kemudian melihat pistol yang digenggamnya dan merinding seketika.

“Kak Angga! Ray!” Aku menggunakan tangan untuk memanggil mereka kemari. Mereka pun sama kagetnya denganku ketika melihat tulisan dipistol tersebut. Dadaku berdebar kencang. Keringat juga membasahi seluruh tubuhku. Semua ini semakin mengerikan, dan pikiran-pikiran burukku semakin nyata saja. Tulisan tersebut seperti ditulis menggunakan cakaran di pelatuk pistol kecil tersebut. Ya, memang kecil, namun terlihat sangat jelas. Aku tahu tulisan tersebut ditujukan untuk kami bertiga.

Bagaimana, semakin seru kan? Xx 316.

**

“Bagaimana pendapat Dokter Hermawan mengenai penggunaan pistol di Kampus Mentari tadi siang?”  Lita, si penyiar radio yang setiap hari bertugas bertanya dengan suara ceria khasnya. Aku, Ray, dan Kak Angga yang duduk di laboratorium Kak Angga duduk dan berkonsentrasi mendengarkannya. Hari ini memang cukup melelahkan. Sesekali Kak Angga melahap apel yang telah kusiapkan untuknya dan Ray. Ngomong-ngomong, Kak Angga sudah lama sekali tidak makan apel. Padahal dulu saat kecil ia selalu meminta apel sebagai bekal sekolahnya.

“Ya, Lita.” Dokter Hermawan menjawab. Akhir-akhir ini Dokter Hermawan Heru sering muncul di media-media sebagai narasumber atas kasus-kasus yang terjadi. Kami? Tidak, aku, Ray dan Kak Angga lebih memilih bekerja dibalik layar. Kami tidak pernah mau dimintai pendapat ataupun komentar. Padahal, kami selalu ada pada setiap bencana amukan yang terjadi. Tentu saja berkat kerja sama alat-alat Kak Angga dan Ray. Kami terus mendengar Dokter Hermawan berceloteh. “Aku bisa menyimpulkan kalau ada sesuatu yang dengan sengaja mempengaruhi orang-orang ini. Anggap saja sesuatu ini seperti membuat target-targetnya kesurupan. Entahlah, mungkin ia melakukannya untuk kesenangan? Mungkin ia orang psikopat yang berkemampuan khusus?”

“Orang itu tidak pernah memberi kejelasan.” Ujar Kak Angga di sela-sela gigitan apelnya. Ray mengangguk setuju, dan memilih untuk mengiris apelnya dengan pisau daripada menggigitnya secara brutal seperti Kak Angga. Ray mengirisnya dengan rapih dan telaten sekali. Sepertinya ia cocok dengan pekerjaannya sebagai neuroscientist yang sangat mementingkan presisi.

“Ngomong-ngomong, Ray.” Tanyaku karena tidak tahan oleh rasa penasaran. Sore itu, kami menikmati matahari terbenam melalui jendela di laboratorium tersebut. Si pajangan bebek dengan kepala goyang-goyang pun mulai terdiam karena sumber tenaga cahaya yang sudah berkurang. “Mengapa kau bisa memutuskan untuk bekerja sama dengan kami?”

“Aku adalah seorang ilmuwan. Keilmuan membutuhkan persetujuan antar ilmuwan, atau juga yang disebut dengan interrater reliability. Aku membutuhkan Angga untuk berkolaborasi denganku menghentikan semua ini.” Jawabnya. “Dan kau, Amora. Aku harus tahu lebih banyak tentang kemampuanmu agar bisa bisa menggunakannya untuk menyelamatkan dunia.”

“Oh ya, silahkan kau teliti kemampuanku sesuka hatimu.” Jawab diriku sambil membiarkan Ray mengambil sampel darah artifisial-ku. Aku sedikit merasakan sakit pada saat jarum tersebut menyuntik lenganku. Secara tidak terduga, Ray mengelus lembut tanganku dan menciumnya. Saat itu, Kak Angga tidak memperhatikannya. Aneh, aku jadi berdebar tak karuan begini. Ray melepas kacamatanya sebentar, dan aku baru sadar kalau ia selain imut, jugalah tampan. Matanya coklat dan indah. Aku tidak pernah menyadari dan memperhatikannya selama ini.

Amygdala tempatku mengalami emosi memang menyebalkan. Jadi sebenarnya aku mau sama siapa, Kak Angga atau Ray? Ini tidak seperti cinta monyet pada umumnya, dimana orang yang disukai sudah jelas dan pasti. Hatiku seolah terbelah dua, aku tidak tahu lagi yang lebih besar bagian Kak Angga ataukah Ray. Keduanya membuat perasaanku kacau.

Kak Angga tiba-tiba mengerang dan menoleh pada Ray. “Kau siapa, ini dimana?”

 

 

Synesthesia- BAB VIII~ Mainan Belaka

Lagi-lagi, Kak Angga sembuh secara tidak wajar. Memar dengan angka 316 tersebut hanya memberikan efek sakit 15 menit setelah kejadian di rumah hantu tersebut. Aku tidak tahu sebenarnya kode apa 316 itu, namun sepertinya bukan pertanda baik. Hal tersebut sudah mempengaruhi kemampuan fisik Kak Angga untuk berkali-kali.

“Angga, aku malu untuk mengakuinya tapi aku khawatir padamu.” Ujar Ray di belakang kemudi setir. Kak Angga yang duduk di kursi depan sebelahnya hanya menarik napas. Ia nampak lebih baik setelah beristirahat selama satu hari penuh. Tubuhnya bahkan tampak lebih bugar dari sebelumnya. Ray tampaknya tidak menunggu jawaban Kak Angga, dan berbisik pelan sambil memutar stir ke arah kiri. “Semoga kau tidak apa-apa ya, Ngga.”

Ray memang sudah biasa dicuekin oleh Kak Angga. Orang ini memang orangnya bergantung pada suasana hati. Kalau sedang senang, ia akan menyahuti orang. Jika sedang malas atau berperasaan buruk, ia lebih memilih untuk diam. Tentu saja aku pernah menegurnya perihal hal ini. Namun namanya juga Kak Angga, ia tidak merasa ia bersikap demikian. Nasihatku hanya masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.

Mobil Ray memasuki jalanan kecil yang membelok-belok. Rerumputan di sekitar kami terlihat bergoyang-goyang, dan berkilau dibawah teriknya sinar matahari siang itu. Ada gandum, padi, dan juga jagung. Sebuah papan bertuliskan Peternakan Mentari pun terpampang jelas di hadapan kami. Kali ini kami melakukan perjalanan yang cukup jauh. Kami telah meninggalkan kota Jakarta dan memasuki bagian terpencil di kota Bekasi.

“Aku tidak apa-apa kok, Ray.” Kak Angga akhirnya menjawab.

Alat radar Kak Angga dan Ray dua-duanya berbunyi pelan. Tidak salah lagi, kejadian berikutnya akan berlangsung disini. Namun hal yang sedang menjadi pikiranku saat ini bukanlah si biang kerok, melainkan Kak Angga. Secara tidak terduga, ia selalu sembuh cepat dari sakitnya. Aku menatap lehernya panjang dan bekas luka seperti distempel tersebut terlihat semakin jelas. 316. Angka-angka tersebut seolah sedang mengumandangkan bendera peperangan pada kami.

“Kak Angga,” aku berkata sambil membantu Kak Angga turun dari mobil. Tanah dibawah kami agak lembek karena tadi pagi sempat gerimis. Sepatu kets merah kesukaanku menjadi kotor, namun biarlah. Akan kucuci kalau kami pulang dengan selamat hari ini. “Kalau terjadi apa-apa hari ini, serahkan padaku saja ya.”

“Mana bisa begitu, aku kan kakakmu.” Jawab Kak Angga yang keras kepala. Dasar orang ini, sudah bikin khawatir malah seenaknya begitu! Ia terkekeh melihatku yang cemberut, kemudian mengusap-usap rambutku seperti seorang anak memainkan seekor anak anjing. Kebiasaannya tidak pernah berubah. Aku selalu saja dianggap sebagai adik. Padahal, dulu aku jauh lebih tua darinya.

Kami melihat sekitar dan mulai disambut oleh penghuni peternakan dengan suara-suara nyaringnya. Babi, sapi, kerbau, anak ayam, dan juga kuda jadi ribut saat kami melangkah melewati kandang mereka. Sambutan yang heboh sekali, bukan?

Peternakan tersebut cukup luas dan teduh karena banyak pepohonan di sekitar kami. Pohon-pohon tersebut terlihat tua karena tingginya sudah melebihi plafon rumah di hadapan kami. Selain itu, banyak binatang yang memiliki kandang masing-masing sesuai jenisnya. Di bagian kandang ayam, terdapat banyak rumah-rumah kecil tempat si induk bertelur. Aku juga melihat makanan yang disediakan untuk mereka cukup memadai. Untuk urusan bau, tidak perlu dikomentari karena aku memang tidak terganggu dengan aromanya. Rasanya jauh lebih segar dari pada aroma knalpot di perkotaan. Tentu saja pendapatku berbeda dengan Ray dan Kak Angga yang jelas-jelas mengkerutkan wajah setiap bau menyengat terbawa angin. Bahkan, Ray tidak segan-segan menutup hidung menggunakan tangannya.

Aku merasa seperti sedang berkaryawisata. Selama ini aku hanya bisa membayangkan peternakan melalui wawasan yang diberikan Pak Handoko pada otakku dan juga melalui buku-buku dongeng yang kubacakan pada Angga kecil. Akhirnya kini aku melihatnya langsung.

“Selamat siang, kalian rombongan atas nama Ray?” seorang bapak berkumis keluar dari pintu rumah yang telah kami ketuk sebanyak tiga kali. Bapak tersebut memiliki sepasang mata besar yang memancarkan keramahan. Selain itu, ia mengenakan kemeja biru bermotif garis-garis dan sebuah celana jeans. Persis seperti peternak-peternak yang kubayangkan dalam pikiranku.

“Siang, Pak.” Ray mengangguk sambil masih menyerngit menghirup aroma kotoran hewan yang lagi-lagi terbawa angin. Ia barangkali tahu itu tidak sopan dan berusaha tidak menutup hidung menggunakan tangannya. “Ugh. Oh ya, nama saya Ray dan ini teman-teman saya.”

“Saya Amora.” Ujarku sembari menjulurkan tangan dan menjabat tangan kekar si bapak tersebut. Genggamannya kuat dan bertenaga sekali, kurasa tanganku bisa remuk kalau dijabat lebih lama lagi oleh beliau. Aku mengintip sekilas ke dalam rumah, terdapat banyak pigura foto yang menempel di dinding berwarna putih susu tersebut. Sepertinya rumah Pak Handoko perlu kuhias juga dengan foto-foto kami, nih. Misalnya, foto Angga saat memasuki Sekolah Menengah Pertama. Atau saat ia mendapatkan juara satu tingkat kota di bidang eksperimennya. Baiklah, hal ini harus kulakukan. Daripada rumah tersebut terlihat seperti rumah angker saking sepinya?

Kak Angga-lah yang mendapat giliran berjabat tangan setelahku.  Sama sepertiku, ia mengintip sedikit kedalam dan pandangannya malah terpaku pada sebuah bandul pajangan berukuran besar di belakang sosok bapak ini. “Nama saya Angga, Pak.”

“Oke, Ray, Amora, dan Angga. Akan saya ingat.” Ujar si Bapak sembari menutup dan mengunci pintu. Barangkali ia risih barang-barangnya diintip oleh kami. Bapak tersebut kemudian mengantar kami menuju kandang ayam. “Nama saya Pak Toni, dan sangat senang karena bisa memandu kalian mengobservasi di Peternakan Mentari.”

Ray memang sudah menelepon dulu kemarin, dan bilang ia ingin melakukan pengamatan untuk sebuah tugas. Memang tidak bohong, karena kami harus mengamati perkembangan si sinyal berwarna hijau di alat detektor Kak Angga. Mesin pendeteksi milik Ray pun menunjukan gejala-gejala aneh di daerah sini. Pak Toni dengan semangat berceloteh mengenai sejarah peternakannya dan penjelasan mengenai hewan-hewan sekitar. “Ayam kami bertelur sekitar 50 butir per tahun..”

Tit. Tit. Tit.

Alat detektor Ray berbunyi makin cepat. Begitupun sinyal di alat Kak Angga terlihat semakin bergerak tidak beraturan. Kedua peneliti tersebut saling melihat-lihat. Aku menyimpulkan kalau ini bukanlah pertanda baik. Ekspresi Kak Angga dan Ray cemas dan sulit dideskripsikan dengan kata-kata.

“Telur dipindahkan dari sarang mereka ke mesin peretas.” Pak Toni masih lanjut bercerita ketika hawa tiba-tiba terasa tidak enak. Sepertinya bukan aku saja yang merasa begitu, karena Kak Angga dan Ray langsung siap siaga melihat awan yang semakin gelap. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing.

Suasana semakin mencekam, dan Pak Toni mendadak berhenti menjelaskan mengenai siklus bertelur ayam ketika terdengar bebunyian aneh.

Raaa. Raa.

Suara gagak itu lagi. Entah mengapa, waktu dan tempat amukan selanjutnya selalu bisa ditebak dengan tepat oleh alat-alat Kak Angga dan Ray. Bulu kudukku semakin merinding, aku dapat melihat hawa-hawa gelap yang semakin membesar dan mendekat. Semua semakin kacau ketika hewan-hewan tiba-tiba melompati pagar dan mengejar kami.

“AAAH!” Pak Toni yang shock berat langsung berlari sekuat tenaga.

Kak Angga mengeluarkan laser penenang dan mulai menembakkan hewan tersebut satu per satu. Mereka pun mulai roboh dan tidak sadarkan diri. Ray, dengan bantuan kemampuan synesthesiaku melihat kekuatan ruangan untuk menampung sinar inframerah yang menghentikan sementara kerja syaraf. Aku melihat banyak angka dalam ruangan terbuka tersebut. Kemampuan tersebut adalah spatial sequence synesthesia.

Raaa. Raa.

“Hyaaaa! Cepatlah, kalian!” Kak Angga mulai kewalah menembaki kambing-kambing yang semakin parah amukannya. Kecepatan mereka bertambah, dan Kak Angga juga harus lebih gesit menembak-nembaknya. Keadaan memburuk saat sapi-sapi ikut bergabung dalam amukan dan menyerang dari berbagai arah. Kak Angga butuh bantuan!

“Satu, ditambah tiga.. Ray, kekuatan tampungan ruangan ini adalah 50.000 desibel. Cepat, laksanakan tembakan!” ujarku yang sudah selesai menghitung dalam pikiran. Oke, aku sedikit sakit kepala karena penghitungan ini harus melibatkan angka-angka. Ray mengangguk dan dengan gesit memasukkan angka tersebut dalam tembakannya. Ia pun mengacungkan alat yang mirip pistol tersebut ke udara, dan menekan pelatuknya. Sinar yang berupa asap putih pun muncul dan meluas disekujur peternakan.

Sing!

Suasana hening sejenak, dan hewan-hewan kembali tenang dan seperti biasa. Mereka kembali sibuk memakan rumput dibawah mereka dan nampaknya tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Hanya terdengar Pak Toni yang masih berteriak dan berlari-lari panik.

“AAAH! AAAAAH! AAAH!” Pak Toni masih memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya. Ray dan Kak Angga memberi kode kepadaku untuk menghampirinya. Mungkin karena secara teknis aku perempuan, jadi dianggap lebih bisa menenangkan orang. Tanpa paksaan lebih lanjut, aku mengangguk dan menghampiri Pak Toni.

“Pak.” Aku menepuk pundaknya yang bergetar. Ia masih mengerang pelan, dan sekujur tubuhnya jadi berkeringat. “Sudah tidak apa-apa, Pak.”

“Sebenarnya kalian ini siapa, sih?!” Pak Toni mulai bisa menguasai diri dan bangkit berdiri. Matanya nampak berapi-api. Mungkinkah ia marah?

“Aku tidak peduli apa tujuan kalian kesini, karena kalian merusak semuanya!” Pak Toni mengerang melihat pagar-pagar kandangnya yang hancur dan rusak karena diserbu hewan-hewannya sendiri. Kotoran terbawa kemana-mana, dan kini hewan-hewan tersebut sudah tidak memiliki kandang lagi dan saling berbaur. Tentu saja, pagar-pagarnya sudah rata dengan tanah saat ini.

“Maafkan kami.” Ray berkata, membantuku. “Kalau kami bilang jujur, Bapak berjanji tidak akan menganggap kami aneh?”

Pak Toni tidak menjawab dan hanya mendengus kesal. Ia mengambil sapu tak jauh dari tempatnya berdiri dan mulai memberes-bereskan kotoran yang kemana-mana. Aku pun mengeluarkan kemampuan synesthesiaku untuk mengendalikan, dan mengontrol hewan-hewan ternak tersebut untuk kembali ke lahan masing-masing.

Kini, Pak Toni ternganga melihat hewan-hewannya yang berbaris kembali menuju lahan masing-masing. Kemudian, Kak Angga dengan sigap mendirikan lagi pagar-pagar tersebut dan mengeluarkan palu dari tas serba gunanya untuk mendirikannya.

“Pak, kalau kami tidak datang kesini, mereka tidak akan berhenti mengamuk. Kami telah memprediksi kejadian ini dari kemarin dan kami ingin menolong Pak Toni.” Ujar Ray yang menjelaskan. Pak Toni masih menaruh pandangannya pada aku dan Kak Angga yang bahu-membahu membuat kandang baru bagi hewan-hewan tersebut. Kak Angga masih tampak terganggu dengan bebauan yang terbawa angin. Aku tanpa sengaja tertawa kecil melihatnya bersin-bersin.

“Begitukah, Nak?” ujar Pak Toni yang kemudian lanjut menyapu kotoran-kotoran hewan yang terseret. “Maafkan Bapak tadi marah-marah sama kalian. Terima kasih.”

“Oh ya, Pak? Bapak ada melihat sesuatu yang aneh disekitar sini?” Ray lanjut bertanya sambil mengamati sekitar. Ia nampaknya sempat melihat Kak Angga yang menaruh jerami di rambutku dan tersenyum sinis. Aku menggebuk-gebuk manja punggung Kak Angga dan balas menaruh jerami di rambutnya. Dasar orang itu, sempat-sempatnya jahil pada saat-saat seperti ini!

“Hal aneh ada sih, sebetulnya. Kemarin ada surat yang kuterima berisi angka-angka aneh.” Ujar Pak Toni yang berlari masuk rumah, kemudian keluar lagi membawa sehelai kertas berwarna kuning gading. Ray ternganga melihat surat tersebut, kemudian memanggil aku dan Kak Angga yang masih asyik lempar-lemparan jerami untuk melihat bersamanya.

“Nak, aku tidak tahu ini apa. Namun kalau kalian bisa datang kesini hari ini, sepertinya ini ditujukan untuk kalian.” Pak Toni bergumam dan menepuk pundak Ray pelan.

Kertas tersebut memiliki bercak-bercak warna dan lambang seekor burung gagak. Karena kemampuan chromesthesia-ku, aku dapat mendengar bunyi dari warna-warna tersebut. Aku mendengar sebuah suara mengerikan yang serak dan bernada melengking. Kemampuan melihat hubungan warna dan bunyi, chromesthesia. “Ada apa, Amora?” Tanya Ray heran yang melihatku diam, sebetulnya aku tidak tahu harus berkomentar apa. “Apa bunyi bercak-bercak warna ini?”

Aku tahu kalian ada disini.  Yuk, kita lanjut bermain.

Si biang kerok itu tahu kami akan datang ke tempat-tempat yang memiliki sinyal-sinyal aneh. Lebih parahnya lagi, ia tahu aku memiliki kemampuan synesthesia dan ia sengaja mempermainkan kami. Mendadak aku merasa marah. Aku tidak akan membiarkannya menganggap bumi tercinta ini sebagai mainan belaka. Orang-orang bumi lebih daripada sekedar boneka yang bisa diinjak dan dilempar sesuka hatinya.

Synesthesia- BAB VII~ Fantasi Semata

“Aku tidak apa-apa, Amora!” Kak Angga menyentak kesal setiap kali aku menaruh tanganku di dahi lebarnya. Ia masih sedikit pucat namun terlihat lebih sehat dari dua hari sebelumnya. Angin sepoi-sepoi memenuhi laboratorium ruangan Pak Handoko. Ia duduk di dekat jendela, sementara aku kini merunduk dan terus-menerus mengukur dahinya. Anehnya, dokter bilang ia hanya kecapekkan. Tidak ada luka ataupun bekas cakaran yang tertinggal ditubuhnya sama sekali. Ya, kecuali angka 316 itu. Angka yang kini berwarna merah gelap tersebut tidak hilang-hilang dan malah nampak semakin jelas.
“Apa sebaiknya Kak Angga tidak ikut ekspedisi hari ini?” tanyaku khawatir sembari melihat jam dinding besar tak jauh dari situ. Jam 2.15, dan Ray akan menjemput kami lima belas menit lagi untuk menuju daerah Bogor. Katanya sih ia menemukan sesuatu yang aneh melalui radarnya di daerah hujan tersebut. Aku tetap mau ikut, namun tidak ingin melihat Kak Angga terluka lagi. Radio yang telah kuputar berbunyi memecah keheningan.
“Ya, pemirsa. Terkait kasus di Blue Angel Café kemarin, kini kami sudah terhubung dengan pengamat dan pakar syaraf, yang tak lain dan tak bukan bernama Dokter Hermawan Heru. Pagi, Pak!” penyiar wanita bersuara serak tersebut berceloteh dengan nada ceria. Intonasinya naik dan turun, sementara artikulasinya sangat baik dan jelas.
“Halo, Lita.” Seorang lelaki yang disebut Dokter Hermawan membalas si penyiar dengan nada yang tak kalah cerianya. Aku membayangkan Dokter Hermawan sebagai seorang bapak berkacamata berbadan besar dengan rambut yang mulai beruban. Suara beratnya kebapak-bapakan sekali.  “Senang berbincang lagi.”
Lita menarik napas kemudian melanjutkan bicaranya. “Bagaimana pendapat Bapak tentang kasus-kasus yang semakin tidak masuk akal? Salah satunya, kejadian di Blue Angel Café dua hari yang lalu. Dimana anak-anak muda yang sedang nongkrong disana tiba-tiba mengamuk dan menyerang beberapa orang yang masih sadarkan diri.”
Aku menyenggol Kak Angga yang melamun menatap keluar jendela. Mataku memberi kode padanya untuk fokus pada radio dan menjaga agar pikiran tidak menyeleweng kemana-mana. “Kak, tentang kita tuh di kafe.”
“Pertama-tama, saya bersyukur akhir-akhir ini kasus seseorang atau sesuatu yang selalu melibatkan gagak beberapa kali ini tidak memakan korban nyawa.” Ujarnya sambil sesekali berhenti untuk menarik napas. Sepertinya ia memang sudah tua, karena ia tidak kuat lagi menahan napas lama-lama. “Saya memeriksa anak muda yang dikejar kemarin di rumah sakit, dan menemukan bekas luka yang seperti angka 316.”
Kak Angga menatapku dan memegang lehernya. Ia memang telah diperiksa dan didatangi Dokter Hermawan kemarin. Katanya, ia ingin memperjelas fenomena-fenomena yang terjadi dan meminta kami untuk bersikap koperatif. Kak Angga, aku, dan Ray setuju saja dan memperboleh Dokter Hermawan mengambil beberapa sampel bekas luka dan darah Kak Angga. Kakak yang saat ini memakai kaos polos berwarna coklat tua mengangguk-angguk saat aku melototinya, persis seperti harimau mau memangsa rusa. “Jangan dipegang-pegang lukanya, Kak Angga!”
“Ampun, Bu Amora.” Kak Angga terkekeh dan gemas melihatku yang kembali galak seperti saat ia kecil. Dahulu, saat aku masih lebih tua darinya, aku sering memarahinya karena kebiasaannya menggigit kuku. Atau kebiasaannya memainkan sendok dan garpu. Atau juga kebiasaannya tidak mengucapkan pamit saat hendak berangkat sekolah. Rasanya bernostalgia sekali saat Kak Angga kini seolah-olah kembali menjadi anak kecil.
“Jadi,” suara si penyiar bernama Lita tersebut memecahkan lamunanku. “Apakah ada penjelasan logis mengenai hal ini?”
“Oh, saya juga mengambil sampel darah dari salah seorang anak muda yang tak sadarkan diri akibat amukan tersebut. Hasilnya menunjukan ada antigen-antigen aneh yang memasuki darahnya. Lagi-lagi, kejadian ini belum bisa saya simpulkan.” Dokter Hermawan menjelaskan tetap dengan suara teduh dan berat yang menjadi ciri khasnya. “Sementara, salah seorang anak yang mengamuk entah karena apa itu juga mengalami merasa pusing dan setelah di cek, amygdala-nya kini dipenuhi dopamine. Hasil rontgen-nya menunjukkan hal yang sama seolah mereka mengonsumsi narkotika.”
“Ada suatu penyebab yang belum bisa dimengerti saat ini.” Ucap Lita untuk menyimpulkan percakapan dengan narasumber, seperti biasa.
“Angga, Amora!” suara Ray di depan pintu terdenganr jelas sampai lantai bawah. Aku dan Kak Angga saling lihat-lihatan dan bergegas beranjak. Aku segera mengambil sweater abu-abu Kak Angga dan melingkarkannya di tubuhnya. Aku tak mau ia tambah sakit dan kedinginan. Kak Angga tersenyum menatapku, memakai sweater tersebut dengan benar dan mengusap kepalaku. Setelah dua hari yang lalu aku deg-degan karena Ray, kini aku merasa bersalah terhadap Kak Angga. Wajahku merona melihat Kak Angga yang mengelus pipiku dan menarik tanganku keluar. Aku berlari mematikan radio frekuensi 140.00, kemudian menyusul Kak Angga yang menahan lift untuk naik. Pajangan bebek dengan kepala goyang-goyang saat terkena sinar matahari seolah memberi kami semangat untuk masalah-masalah berikutnya.
**
“Kita sampai!” suara ceria Ray membangunkanku dari tidur siang selama perjalanan dari Jakarta ke Bogor. Kepalaku masih pusing kalau baru bangun begini. Rasanya berat sekali untuk membuka mata yang terasa lengket bagaikan ditaburkan lem super ini. Aku merasakan elusan lembut di dahiku, dan perlahan-lahan kubuka mataku.  Terlihat wajah Kak Angga yang nyengir, tepat didepan hidungku. Mendadak, aku merasa segar dan mengikuti langkah Kak Angga untuk turun dari mobil.
Tunggu, kok aku melihat biang lala di hadapanku?!
Musik bernuansa sirkus terdengar hebat, dan banyak orang-orang berkostum badut tersenyum dan melambaikan tangan pada kami. Sepertinya ingatanku mulai bisa mencerna tempat apa ini. Pak Handoko memasukkan macam-macam tempat dalam diriku, dan aku pun mengerti bahwa ini adalah taman bermain.
“Jaringan berikutnya ada di daerah sini.” Ucap Ray seolah ia mengerti apa yang menjadi kebingunganku. Ia membereskan tiket kami bertiga di loket, kemudian dengan kode lambaian tangan meminta aku dan Kak Angga mengikutinya masuk  gerbang. Wah, aku baru pertama kali melihat gerbang yang berbentuk putaran seperti ini. Dasar Amora norak. Kak Angga bukannya iba malah menertawakan ketika aku ketakutan saat hendak di stempel tangannya. Ia merangkulku yang manyun. “Kamu lucu banget sih, Mora.”
“Teman-teman,” ujar Ray yang mulai fokus dengan alat detektornya. Kedua tangannya dengan lincah mulai memencet berbagai macam tombol yang tidak bisa kumengerti. “Sinyal disini masih kecil, jadi bagaimana kalau kita naik jet coaster untuk mengetahui lokasi berikutnya?”
Antrian yang sedikit pun semakin membulatkan keputusan tersebut. Tak sampai lima belas menit kami mengantri, kami sudah mendapat giliran. Kini giliran aku yang mau tertawa melihat Kak Angga yang ketakutan setengah mati. Tangannya basah dan wajahnya berkeringat hebat. Aku menaruh tanganku didadanya dan merasakan jantungnya yang melompat hebat.
“Kak Angga,” ujarku sambil memeluknya manja. Hubungan kami memang sering seperti ini, walaupun kami selalu bilang bahwa kami adalah kakak dan adik. Tetangga-tetangga seringkali menatap saat kami berjalan-jalan keluar rumah. Namun tentu saja, baik aku dan Kak Angga tidak terlalu memedulikan omongan-omongan tersebut. Biarkan saja, mulut khan mulut mereka. Aku mengusap-usap punggung Kak Angga lembut.  “Jangan takut. Ada aku kok disebelah Kak Angga.”
“Dan ada aku juga.” Tambah Ray yang nadanya terasa sinis. Kedua lelaki tersebut bertatap-tatapan tajam seolah siap membunuh satu sama lain. Ah, lebih baik aku tidak ikut campur dan memilih untuk diam saja. Giliran kami pun akhirnya tiba. Tempat duduk yang hanya dua berderet membuat Ray dan Kak Angga berebutan untuk duduk disebelahku.
“Kan tadi Amora bilang dia mau duduk disebelahku!” Kak Angga berseru saat melihat Ray yang memaksa duduk disebelahku. Aku yang memang sudah duduk duluan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.
“Bapak-bapak.” Petugas taman hiburan yang mulai kehilangan kesabaran menghela napas panjang dan menunjukkan sebuah tempat kosong untuk mereka berdua duduki. Maklum, pengunjung yang lain jadi menunggu. Ah, dasar cowok-cowok itu!
Akhirnya, Kak Angga lah yang duduk disebelahku. Aku menoleh ke belakang dan melihat Ray yang duduk sendirian sengaja mencemberutkan wajahnya. Aku nyengir dan menoleh ke depan lagi mendengar instruksi petugas yang menyarankan kami untuk terus berpegangan pada penahan di hadapan kami. Kak Angga yang semakin keringat dingin menyentuh tanganku saat kereta mulai menanjak dan bersiap-siap menuruni yang curam.
“AAAAAAAH!” baru pertama kali aku mendengarnya berteriak melengking saat jet coaster menuruni turunan curam tersebut. Aku yang juga berteriak jadi ingin tertawa. Aku  menoleh ke belakang dan melihat Ray yang diam saja namun wajahnya pucat pasi. Aku pun memilih untuk berteriak juga dan melepaskan stress. “AAAAAA!”
Kereta jet coaster tersebut memiliki kecepatan yang sangat tinggi. Aku menikmati angin yang menyentuh wajahku. Dengan kekuatan synesthesiaku, aku dapat melihat kecepatan dari angin tersebut. Namun aku memilih untuk mengabaikannya. Yuk, kita lupakan kenyataan untuk sejenak.
Setelah dua kali putaran, jet coaster akhirnya berhenti dan Kak Angga tampak senang dan lebih tenang. Malah Ray yang awalnya biasa saja, sekarang malah jadi panik dan mual. Aku menepuk-nepuk punggung Ray yang terbatuk-batuk. Hal tersebut membuat Kak Angga menatapku tajam. Ah, biarkan saja dia. Aku melihat situasi dan mengantar Ray untuk duduk di bangku taman di samping atraksi jet coaster tersebut.
“Ugh, aku sudah mendapatkan lokasinya.” Ujar Ray yang sudah berhenti batuk-batuk. Ia mengelap wajahnya yang penuh keringatan. Karena ia tampak kesulitan menghentikan tangannya yang gemetar, aku membantunya mengelap keringat. Sungguh, Ray pasti benar-benar ketakutan tadi. Keringatnya banyak sekali dan wajahnya terasa dingin.
“Yuk, Mora.” Kak Angga menghentikanku dan menarik tubuhku menjauhi Ray. “Alatku juga sudah mendapatkan lokasinya dan ternyata ada di rumah hantu. Ray, kamu istirahat saja disini. Nanti kami kesini lagi.”
Aku bisa merasakan tatapan Ray di punggungku saat kami menjauh.
**
Aku takut sekali saat mendengar jeritan-jeritan pengunjung lain dari dalam. Musik di wahana rumah hantu tersebut juga semakin memberikan nuansa horror. Apalagi, aku yang memiliki kemampuan synesthesia lebih sensitif terhadap stimulus-stimulus sensoris tersebut. Bulu kudukku merinding semua saat kami dipersilahkan untuk naik kapal dan kapal mulai memasuki ruangan pertama.
“Kak Angga.” Suaraku mulai bergetar hebat. “Aku takut.”
Kak Angga memelukku erat dan tanpa diduga-duga mencium pelipisku. Hal tersebut membuat wajahku tambah panas. Tatapanku terpaku pada Kak Angga dan ia hanya terkekeh lucu seperti biasa. Ia memegang tanganku. “Gantian ya, tadi aku yang takut, sekarang malah kamu.”
Mengapa Kak Angga selalu melakukan tindakan ambigu seperti ini?!
Ruangan sekitar gelap sekali, dan dingin pula. Suara tawa kuntilanak terdengar saat tiba-tiba hening dan kapal berhenti berjalan. Aku punya firasat buruk saat mendengar buruk gagak lagi, dan saling lihat-lihatan dengan Kak Angga saat alat detektor milik Kak Angga bergetar-getar hebat.
Raaaaa.
Dia lagi.
Hantu-hantu di wahana itu mulai menjerit heboh dan hendak menyerang kami. Aku tahu itu hanyalah orang-orang yang berkostum dan didandani sebagai hantu, namun jeritan mereka yang bagaikan orang kesurupan membuatku tambah merinding.
Hi hi hi.
Tawa orang-orang tersebut membuat suasana semakin mencekam. Aku heran, kenapa aku tidak pernah terbiasa dengan kejutan? Mengapa kami tidak terpikirkan untuk mempersiapkan diri?
Ah, seperti hidup saja.
“Aduh!” Aku semakin ketakutan dan panik saat hantu-hantu berupa kuntilanak dan sundel bolong semakin mendekati kapal kami. Kak Angga juga ikut panik dan mengeluarkan alat penangkal radiasi yang ternyata sudah ia bawa dari rumah. Kak Angga juga sudah bekerja keras untuk keberhasilan alat tersebut.
“Amora, gunakan synesthesia-mu dengan alat ini!” Kak Angga berujar panik saat orang-orang berkostum hantu itu mulai menjerit-jerit seolah-olah sedang dikuliti. Lagi-lagi, aku merinding hebat. Konsentrasi, Amora. Konsentrasi.
Aku melihat warna-warna dari alat penangkal radiasi tersebut dan mulai membesarkannya. Kekuatanku mencapai maksimal saat seorang berkostum kuntilanak melompat menuju kapal kami.
“AAAAAH!”
Seolah-olah ada lapisan pelindung, orang berkostum kuntilanak tersebut terlempar kembali ke belakang dan pingsan sejenak. Lampu menyala, musik horror berhenti, dan petugas wahana langsung masuk dan menghampiri kapal kami.  Mereka membawa kotak pertolongan pertama. “Kalian tidak apa-apa?!”
“Orang-orang berkostum itu yang terluka, Pak.” Ujar Kak Angga menunjuk si kuntilanak yang mengerang setelah terlempar. Orang berkostum sundel bolong juga menjadi pingsan dan terbingung-bingung saat bangun.
“Kak Angga.” Ujarku setelah melihat sesuatu yang lebih seram dari rumah hantu. Aku menunjuk tembok disebelah kami, dan mulut Kak Angga pun ternganga melihatnya. Sebuah bekas cat bergambarkan burung gagak.
“Apa sih mau orang itu?!” Kak Angga mulai emosi, dan mengerang tiba-tiba. Aku menepuk-nepuk pipi Kak Angga yang tampak kesakitan.
Aku menatapnya khawatir. “Kak Angga kenapa?”
“Memar di leherku sakit. Yuk, kita ke Ray. Kita berhasil mencegah ada korban pembunuhan lagi hari ini.” Ujar Kak Angga yang langsung berdiri dari kapal dan berjalan menuju pintu keluar darurat. Aku mengikutinya dari belakang seperti anak itik yang mengikuti jejak sang induk.
“Kak Angga tidak bakal kenapa-kenapa, kan?” Tiba-tiba saja pertanyaan tersebut terlontar dari mulutku. Suaraku sedikit bergetar membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terlontar dipikiranku. Bagaimana kalau memar bertanda 316 tersebut membuat Kak Angga sakit? Bagaimana kalau ia lemas, atau menjadi cacat? Lebih parahnya lagi, bagaimana kalau si biang kerok yang menimbulakan memar tersebut membuatnya meninggal? Astaga, ini parah sekali, aku sama sekali tidak sanggup membayangkannya! Aku tidak tahu aku bisa apa tanpa Kak Angga.
Tangan besar Kak Angga yang gemetar membelai rambutku, bersama kami susuri ruangan yang memiliki dua pintu darurat tersebut dan ia menaruh tangannya pada pundakku untuk menopangnya berdiri. Semoga Kak Angga yang membuatku khawatir tidak apa-apa. Aku pun sempat berharap semua ini hanya mimpi, dan keberadaanku hanyalah fantasi semata.