Saturday, November 18, 2017

Pesona sang Bulan


 

Pesona. Aku tidak memilikinya. Sudahlah, aku sudah terlalu berusaha. Tidak akan ada seorangpun yang mendeskripsikanku sebagai sebuah pesona.

“Pia.”

Suara itu memanggilku lembut, getarannya bermain naik dan turun dalam sistem pendengaranku. Debaran keras mengiringi harmoni tersebut dan menjadikan badanku sebuah alunan penuh dentuman.

Ia menatapku hangat. Aku membalasnya. Sebuah percakapan tanpa kata-kata yang hanya melibatkan kami berdua terjadi di tengah keramaian ruang tersebut.

Aku menunduk malu, ronaku bersemu samar.

“Bolehkah aku meminjam tulisanmu?”

Semua yang ada dalam dirinya mengalahkan keraguanku. Buku mungil tersebut kuserahkan dalam genggamannya, biarlah untaian kata demi kata tersebut yang mewakili diriku bercerita untuknya.

**

Pagi ini gerimis. Dingin dan sejuk, kulitku menyukai sensasinya. Aroma tanah basah kian menyelimutiku dengan kenyamanan tak terdefinisikan. Aku suka hujan dan aku suka gerimis. Aku harus pergi, taman itu menungguku.

Bukan, bukan hanya taman.

Orang itu menungguku.

**

‘Bagaimana, Rio?’ aku bertanya lirih. ‘Ceritaku  tidak menarik, bukan?’

Orang itu duduk seolah tak ada hal apapun yang dapat membebaninya, ia tersenyum kepadaku. Sungguh, matanya bersinar seterang bulan. “Aku sangat menyukai idenya, Pia.” pria berbibir mungil tersebut berbicara sembari masih mengamati lembaran kertas didepannya. “Tolong kau lanjutkan, aku akan menunggu kisah setelahnya.”

Jawabannya singkat namun berputar-putar tanpa akhir dalam pikiranku. “Tentu saja!’ aku tersenyum kecil. “ Aku akan melanjutkannya!”

Rio mengulurkan jemari terkecilnya dan secara spontan aku mengaitkan milikku kepadanya. Waktu dan ruang seolah kami berhentikan saat itu. “Pertemuan kelima kita akan berlanjut disini lagi, oke?”. Aku mengangguk pasti.

Lagi-lagi, aku melewati hari demi hari menantikan Sabtu, hari terjadinya pertemuan rutin kami, yang akan datang. Aku tidak peduli waktu memperlambat pertemuan kami karena penantianlah yang menjadi sensasi dari percakapan dengan dan tanpa kata kami.

**

Kutidak tahu bagaimana kami bisa terikat tanpa ikatan seperti ini. Aku hanyalah seorang gadis muda tanpa pesona yang menganggap ‘teduh’ sebagai teman. Ia mengerti dan memayungi sosokku dari tekanan-tekanan di luar sana. Taman berlari di dekat rumahku merupakan tempat mediasi antara aku dan ‘teduh’.

Secara lebih konkret, ‘aku’ dan ‘teduh’ yang kumaksudkan adalah ‘Pia’ dan ‘Aroma Hujan’. Tak lupa, buku tulis mungil bersampulkan kelap-kelip keemasan menemani jemariku mengutarakan kisahnya. Ia membantu mengutarakan perasaan dan pikiranku yang berada di suatu-tempat-entah-dimana.

Hujan adalah temanku. Bukuku adalah kawanku, dan kelima jariku berkoordinasi bersama saat bercakap dengan semua sahabat-sahabatku tersebut. Semua berjalan biasa saja dan penuh kepastian yang menjemukkan, sampai hinggaplah sebuah sosok dihatiku.

Ia menyukai ‘teduh’, ia menyukai ‘hujan’ dan ia menyukai kisah-kisah tak tergapai oleh logika dan analisa. Menempatkan dirinya disampingku diatas bangku kayu mungil yang terlihat tua, kami saling bercerita.

Ia benci kebanggaan manusia terhadap ilmu, begitupun aku. Rio, nama pria yang berusia sebaya denganku tersebut, juga tidak menyukai ‘kepastian’. Melihat sosok gagah dan tingginya, aku merasa mencerminkan diriku. Bukan, bukan diriku yang diketahui orang-orang.

Aku bertemu dengannya satu bulan yang lalu. Pertemuan pertama kali cukup menyenangkan dan aku sangat menikmati percakapan dengan dan tanpa kata dengan mata indahnya. Hari itu adalah hari ‘kepastian’ memudar.

**

Aku menunggunya. Sore itu memang tidak bau hujan, namun aku tidak mempermasalahkannya. Jaket rajut abu-abu yang kukenakan akhirnya kulepaskan juga. Lelah. Ratusan menit telah berlalu tanpa tanda-tanda.

Rio, kamu jahat. Kalau kamu terlambat ataupun membatalkanku untuk bertemumu, berikanlah jejak dan petunjuk. Aku tidak suka.

Sekelilingku ramai. Seorang anak yang tertawa menikmati berkejar-kejaran dengan kawannya, seorang ibu berjalan perlahan dengan anjing berbulu pendeknya. Pohon-pohon yang tadinya teduh kini terlihat dingin oleh persepsiku.

Aku tidak sendiri,tapi aku adalah aku yang sendirian. Aku juga adalah aku yang biasa, aku yang tidak memiliki pesona. Apa dayaku jika orang-orang disekitarku tidak memahami eksistensiku. Tidak, aku tidak mengekspektasikan apa-apa. “Halo, teduhku.”

Rio muncul dengan jaket rajut yang sama berwarna biru muda dan menempatkan dirinya disebelahku. Kami konsisten menduduki bangku kayu yang terlihat tua ini. “Maafkan aku yang terlambat.”

“Teduhmu?” aku bertanya dalam kebingungan. “Betulkah?”. Ia tidak menjawab pertanyaan tersebut, namun mengisyaratkanku untuk mengeluarkan buku tulis mungil bersampul keemasanku. Tanpa banyak bertanya aku mengikuti instruksinya, tak kuasa aku melawan magnet yang menarikku.

“Kali ini, aku bercerita tentang matahari.” Ucapku lirih. “Kamu tidak bosan mendengarkan kisah tidak masuk akalku?”. Pria berambut cepak tersebut lagi-lagi tidak berucap, namun pancaran matanya sudah cukup memberi aku jawaban. Inilah percakapan tanpa kata yang memang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua.

“Matahari, ia bersinar terang  dan mencolok. Bagaimana tidak, ia hanya satu dan tidak memiliki rival.” Aku mulai berkisah. “Seluruh dunia mengagumi sosoknya. Semua orang menantikan kehadiran sang mentari; setiap hari.”

“Bagaimana kau bisa berkata kehadirannya ditunggu banyak orang?” Rio merespon, ia melayangkan pandangannya ke atas dan terlihat berpikir keras. Aku pun mengikuti arah pandangannya. “Bunga matahari dapat berdiri kokoh karena matahari. Manusia bisa riang bermain dengan kesejukkan juga karena mengetahui tentang panas.”

“Baiklah kalau memang itu pendapatmu.” Rio tersenyum kecil. “Jadi kisah tentang matahari ini melanjuti kisah tentang dingin, betul?”. “Kurasa begitu.” Ujarku membenarkan kacamataku yang merosot. “Mungkin, kita tidak perlu apapun lagi kalau ada sang matahari tersebut.”

“Bukankah kau menyukai ‘teduh’?” Rio menggelengkan kepalanya dan menatapku. “Aku tidak setuju mengenai kesimpulan mataharimu.”. Aku pun terdiam sejenak. “Kau tahu, Rio? Teduh memang menyenangkan, namun tidak semua orang memerlukan teduh. Untuk apa merasa nyaman kalau menggebu-gebu itu lebih indah?”. “Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.” Ujarnya. “Dan matahari itu memiliki kepastian untuk muncul setiap harinya. Sementara, setahuku kau tidak suka kepastian.”. “Bagaimana pendapatmu, Rio?” Aku mendekatkan diriku padanya dan menunggu ceritanya. “Begini, kau tahu mengenai bulan?”

Sosok bulan yang bulatpun muncul dalam bayanganku. Bulan jauh dan tidak mencolok. Kehadirannya tidak disadari dan tidak juga terlalu dinantikan. “Ia teduh. Ia memang bersinar dan membutuhkan matahari untuk bersinar, namun ia tidak garang dalam tindakan berpancarnya.” Rio menggerakan tangannya dengan semangat sembari terus berbicara. “Bagian paling menariknya, bulan tidak memiliki kepastian. Terkadang ia bulan, terkadang ia setengah dan terkadang ia tidak timbul sama sekali.”

“Sama seperti aku, Rio.” Ujarku tanpa berpikir panjang. “Aku adalah orang yang tidak memiliki kepastian. Mungkinkah karena itulah keramaian disekitar tidak menyadariku?” Langit pun semakin gelap dan matahari mulai menyembunyikan sosoknya. Kombinasi merah dan abu-abu sang cakrawala menemani dua insan di bangku mungil tersebut. Indah, matahari yang berusaha bersembunyi itu sebetulnya indah.

“Bulan yang teduh, tidak disadari orang dan tidak memiliki kepastian adalah bulan yang aku sukai.” Ujarnya tiba-tiba sambil menggenggam erat tanganku. “Bulan yang memiliki cahaya minim tidak pernah menyakiti orang. Ia bersinar dengan caranya sendiri, ia tidak mengharapkan bintang-bintang menemaninya.”. Kali ini jantungku seperti mau meloncat keluar sungguhan.

“Bulan yang kini berada dihadapanku cantik. Ia pandai menulis, ia tidak menyukai kepastian namun ia tetap menunggu bintang yang terlambat menemaninya. Ia juga teduh dan tidak akan menyakiti siapapun dengan sinar pesonanya yang lembut.”. Pesona?

“Rio, maksudmu aku memesona?” Aku gelagapan. Tanpa kusadari, bicaraku mulai tergagap dan mataku mulai merah. Pikiranku sedikit kusut. “Kau lihat matahari yang berusaha bersembunyi saat ini, Pia?” tanyanya sambil menunjuk ke atas yang tidak memiliki batas. “Lihatlah caranya untuk menghadirkan bulan. Langit merah keemasan ini, semua untuk menyambut bulan.”. Air mataku mulai menitik.

“Pia, aku ingin kamu tahu kalau kamu memiliki pesona. Kamu adalah sang bulan. Aku adalah sang bintang yang kecil yang berusaha menemanimu di langit gelap sana.” Ujar Rio yang kini juga mulai terlihat gugup. “Aku ingin menjadi kekasihmu, Pia.”

Setelah percakapan itu, aku pulang; kembali ke kamar mungilku lengkap dengan selimut bermotif beruang coklatnya dan berharap semua yang terjadi hari ini bukanlah mimpi. Kalaupun ini hanya bunga tidur belaka, aku tidak ingin seorangpun membangunkanku. Ia memintaku sebuah kepastian. Sabtu depan, hari yang biasanya aku tunggu-tunggu, kini menjadi hari yang ingin kuhindari.

Pesona. Hal yang tadinya tidak ada dalam diriku, namun terpancar dengan caranya sendiri. Dibandingkan sang bintang, sang bulan lebih terlihat dengan ukurannya yang besar. Bulan yang memesona.

Aku bernama Pia. Menurut seseorang, aku seperti bulan. Satu hal yang kuhilangkan dari daftar ketidaksukaanku adalah ‘kepastian’. Bukankah itu tujuannya diciptakan teleskop?

Ia mencari sebuah kepastian dari benda-benda di langit dan bulan termasuk diantaranya. Sama seperti usaha sebuah teleskop, aku pun berusaha mengakrabkan diri dengan sang kepastian.

Bintang, kepastian memang belum akan datang hingga Sabtu depan. Namun tunggulah, bulan akan berusaha hadir untukmu. Bulan ingin bersinar dengan caranya sendiri ditemani oleh bintang. Sebuah bintang kecil yang menganggap besar sebuah bulan kecil.

Biarkan kita menanti melewati waktu yang memisahkan kita ini. Untuk mencapai bentuk purnama sempurna, bulan memang membutuhkan waktu yang tepat.

Aku adalah Pia. Menurut aku sendiri dan juga kebanyakan orang, aku tidak memiliki pesona. Aku adalah bulan. Bagi sang bintang, bulan berukuran jauh lebih besar dan menjadi luar biasa dengan pesonanya.

Tunggu aku di bangku mungil kayu yang terlihat tua itu untuk sebuah kepastian yang tetap akan kuberikan walaupun kau mungkin tidak menyukainya.

Wednesday, November 15, 2017

Titik koma;

Suatu hari, titik ingin mengakhiri suatu kalimat.
Semua yang bermula pasti pula berakhir, katanya.
Kau tidak bisa sok menjadi Tuhan dan menjadi tak terbatas, katanya.

Koma ingin menjadi pengganti titik,
Semua yang bermula tidak harus berakhir, katanya.
Kau tidak bisa sok menjadi Tuhan dan dengan sengaja mengakhiri sesuatu, katanya.

Titik koma pun terdiam;
Semua yang bermula harus naik tingkat, pikirnya.
Kau tidak bisa sok menjadi Tuhan dengan mengendalikan akhir ataupun lanjut, pikirnya.

Titik koma pun merenung;
Kalimat tidak bisa berakhir begitu saja.
Kalimat juga tidak bisa terus melanjutkan panjangnya tanpa faedah lebih.
Kau perlu melanjutkan awal yang sudah ada tersebut; kau juga tidak perlu melanjutkan awal tersebut.

Lanjutkanlah kalimatmu dengan titik koma;
jangan memperpanjang kalimat yang sudah bisa diselesaikan;
Jangan berhenti melangkah mencari kelanjutan yang berbeda dari kalimat tersebut.

Thursday, March 30, 2017

KHIANAT

Aku ketakutan saat aku memasuki mobil miliknya tersebut. Ekspresi wanita di sebelahku itu datar. Namun aku tahu, jauh di dalam hatinya ia sedang murka kepadaku.

"Rei.." Aku berusaha menjelaskan di tengah jantung yang berdebar tidak karuan. "Maafkan aku."

Kami berdua hening. Reina tidak memalingkan wajah dari pemandangan di hadapannya. Ia tetap fokus mengemudikan mobil ini. Aku tahu aku harus melawan rasa takutku untuk memperbaiki hubungan ini. "Anu.. aku tahu kau pasti marah kepadaku. A-aku..."

"Kau mengkhianati kepercayaanku dan kau merasa aku tidak akan marah?!" Reina tiba-tiba menjerit histeris. Aku langsung panik dibuatnya. "R-rei.. dengarkan aku.. Aku tidak bermaksud bercumbu dengan perempuan itu.. Aku tidak bisa menahannya... Suasana tadi gelap dan.."

"Kau hanya milikku seorang!" pekik Reina sembari menambah kecepatan mobil tersebut. Aku merinding karena arah laju mobil ini menjadi tidak terkontrol. "Reina, tenang dulu!" Aku berusaha berbicara kepadanya walaupun aku tahu aku hanya akan memperparah keadaan.

Wanita di sebelahku menangis, dan make up serba hitamnya menjadi luntur. Ia nampak menakutkan. "Tidak akan biarkan kau mengkhianatiku lagi." Ujar Reina sembari tersenyum di sela-sela tangisnya.

Wanita yang berpakaian serba hitam itu tiba-tiba membanting setir. Mobil yang kami tunggangi menabrak pembatas jalan layang tersebut dan menerobosnya tanpa ampun. Aku melotot dan berteriak kencang saat kami mulai melayang karena mobil terjun bebas.

"Kini, kita akan bersama selamanya di alam sana." Ujar Reina yang cekikikan sembari menggenggam kedua tanganku. Ia sama sekali tidak terlihat ketakutan. Hujan yang tiba-tiba turun membuat pandanganku kabur.

"Reina.." Aku mengeratkan genggamanku, dan nama Reina menjadi hal terakhir yang kuucapkan sebelum mobil mendarat dengan keras dan aku merasakan panas akibat api yang menyulut tubuh kami berdua.

Sunday, March 19, 2017

Semua belum berakhir

ia mengucapkan sumpah serapah pada pemakaman ibunya, namun kemudian ia mengutuk semua hal yang telah terjadi. Entahlah, pikirannya sudah kusut. Dirinya ingin hanyut oleh banjir deras saja.

"Reina?"

Sebuah suara berat nan lembut berbisik lembut di sebelah telinga gadis tersebut.

Tes, tes..

Air mata yang ditahannya dari kemarin akhirnya tumpah juga. Satu perkataan dari sosok yang ia kagumi tersebut berhasil membuat pertahanan dirinya runtuh seutuhnya.

"Jangan sok kuat, Rei." Lelaki berbahu lebar tersebut merangkulnya erat. Reina berusaha menahan diri agar tidak terisak. Namun, hatinya sudah lelah memakai topeng. Ia sudah capek menjadi seorang Reina yang tegar dan kuat.

"Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dalam hidupku, Yon." ujar Reina sembari tersungkur ke bawah.

"Kau tidak sendirian. Dunia masih berputar, matahari masih akan terbit. Kau masih memilikiku, Reina." Yono berkata sembari ikut menunduk bersamanya. Bersama, mereka menatap pusara yang memuat nama Juwita Kusnadi tersebut.

"Kau adalah Reina Kusnadi, dan aku tidak akan membiarkanmu menyerah."

Reina menatap pada lelaki tersebut. Mungkin, ini bukanlah akhir dari segalanya. Barangkali, hatinya yang berdegup kencang adalah modal utama untuk melanjutkan hidup. Tambahannya lagi, debaran hati tersebut masih dipacu Yono.

Semua belum berakhir.

Friday, February 17, 2017

Review film: La la Land

Haloo,

Maafkan aku si pemalas ini. Aku selalu menunda-nunda untuk menulis, baik itu untuk blog maupun novel. Rasanya aku selalu kalah dengan bagian iblis dalam diriku yang selalu berbisik untuk bermalas-malasan. But anyways, here I am with this new post.

Dalam tulisan kali ini, aku akan membahas tentang La la land. Wuih, dari judul filmnya saja sudah menarik. Kamu pasti akan sependapat denganku apabila aku menyebut poster ikonik dari La la Land ini sangat cantik.

Gambar diunduh dari link


Di satu sisi, film ini bercerita tentang seorang wanita bernama Mia (diperankan oleh Emma Stone). Ia adalah seorang gadis muda yang bekerja di sebuah kedai kopi. Jauh dalam lubuk hatinya, Mia rindu untuk mengejar mimpinya menjadi seorang aktris. Ia rela meninggalkan pekerjaannya beberapa kali untuk mengikuti audisi. Namun sedihnya, ia tidak pernah berhasil.

Dari sudut pandang yang lain, seorang pianis Jazz bernama Sebastian (diperankan oleh Ryan Gosling) frustrasi karena pekerjaannya yang semakin kacau. Keadaan keuangannya buruk, dan ia harus mencari job  untuk memenuhi kehidupannya dan juga impiannya membangun bar dengan music Jazz.

Pertemuan awal Mia dan Sebastian cukup buruk. Awalnya, mereka saling menjauh dan membenci satu sama lain. Sebastian awalnya ketus sekali terhadap Mia, dan Mia juga kesal dan malah berusaha mempermalukan Sebastian. Hubungan mereka bagaikan Tom dan Jerry, kucing dan tikus legendaris yang terus-menerus berusaha saling menghancurkan.

Gambar di unduh dari link


Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai bermunculan dari hati keduanya. Takdir itu hebat sekali, lho. Mereka selalu bertemu pada momen yang pas, sekeras apapun Mia dan Sebastian berusaha menjauh. Setiap pertemuan itu pun menjadi sesuatu yang bermakna bagi keduanya.

Pada awalnya, alam semesta seolah terus bekerja untuk mereka. Saat keduanya tunduk pada perasaan mereka, Mia dan Sebastian menjadi sepasang kekasih yang saling menyayangi. Sang pria yang mau mendengarkan pasangannya, menjadi landasan tangga Mia untuk terus naik. Begitupun sebaliknya. Sebastian terus berusaha mewujudkan keinginannya dan mencari kebutuhan ekonomi demi mimpi dan masa depannya bersama Mia. Bagaikan mobil dan bensinnya, keduanya saling mendorong dan melengkapi.

Semua terus bergerak maju. Kisah kedua insan ini penuh dengan kemajuan dan juga kemunduran. Ada saatnya keduanya menjadi egois dan saling menyalahkan. Ada masa-masa dimana dua korek yang menyala saling membakar dan merusak. Pada saat itu, dunia seolah-olah menentang keduanya untuk bersatu.

Lucu, ya. Dunia seakan memperlakukan pasangan tersebut seperti mainan.Terkadang mereka di lempar ke atas, dan terkadang pula dijatuhkan dengan begitu kerasnya. Semua memang terasa tidak adil. Seringkali, Mia dan Sebastian tidak pernah tahu apa yang diinginkan dari mereka berdua. Namun mereka terus menciptakan kenangan, bersama-sama. Memori indah tersebutlah yang paling penting.

Walaupun penuh dengan rasa sakit, sebuah hubungan akan membentuk pribadi seseorang menjadi yang lebih baru. Setidaknya, kebersamaan Mia dan Sebastian pernah menjadi landasan tangga bagi satu sama lain dalam meraih impian dan cita-citanya. Keduanya menjadi gas bagi mobil satu sama lain.

Salah satu kelebihan film ini adalah musikalitasnya. Lagu-lagu indah dan menarik berhasil mempermainkan emosiku. Aku tidak akan membocorkan bagaimana akhir dari film musikal La la land ini. Aku harap kalian akan menyaksikan dan menginterpretasikan pendapat kalian di kolom komentar.

Apakah 'mobil yang mereka kendarai' oleh Mia dan Sebastian akan sampai di tempat tujuan dengan selamat? Coba tonton dan nikmati.

Thanks for reading!

 

Sunday, January 29, 2017

Review Tempat: Kalijodo

Perubahan.

Istilah tersebut muncul dalam benakku saat aku melangkahkan kakiku ke dalam area Kalijodo. Kehebohan yang terjadi di media beberapa waktu yang lalu mengenai Kalijodo kini telah surut, dan ternyata wilayah tersebut sudah berubah. Dalam post kali ini, aku tidak akan mengemukakan pendapat tentang kontroversi yang terjadi. Namun, aku akan menceritakan beberapa observasiku tentang Kalijodo yang telah kukunjungi beberapa waktu yang lalu. Selamat menyimak dan jangan lupa meninggalkan pendapat di kolom komentar!

1. Daerah tersebut kini menjadi tempat nongkrong anak-anak muda



Setelah memarkirkan mobil, aku menemukan sebuah arena untuk bermain skateboard. Ternyata, banyak sekali anak-anak muda disana yang sedang berlatih skill mereka. Hal yang keren sekali adalah bahwa arena tersebut luas, dan bukan hanya sepetak kecil. Jadi, walaupun ramai, kamu tetap bisa bermain skateboard dengan leluasa. Track skateboard yang ada pun cukup menarik; ada yang datar, ada yang bergelombang, dan ada yang miring. Tentunya para skateboarders bisa memilih track yang sesuai dengan minat ataupun kemampuannya.




2. Sangat memerhatikan kehijauan lingkungan




Hal lain yang menarik perhatianku adalah pohon-pohon yang menjulang tinggi. Atap tempat bertumbuhnya pohon tersebut berlubang, sehingga tempat pertumbuhan pohon tersebut terbuka. Selain itu, atap-atap tertutup di arena sebelah tempat ber-skateboard ria tersebut juga bening sehingga pencahayaan masih alami. Wangi rumput yang menenangkan pun dengan jelas tercium. Aku sangat menyukai betapa arsitektur dari Kalijodo ini sangat memerhatikan kekuatan alam.



3. Instagram-able
 

 



Zaman sekarang, banyak sekali anak muda yang menggunakan aplikasi Instagram pada ponsel pintar mereka. Biasanya, mereka senang mengupload foto-foto yang unik. Nah, di Kalijodo ini ada banyak spot yang bisa dipakai untuk berfoto. Misalnya, dinding, tangga, dan juga tempat ber-skateboard itu sendiri. Aku sudah men-stalk (duh, ketahuan deh :p) hashtag #kalijodo di Instagram dan menemukan banyak sekali foto OOTD (outfit of the day) yang ketje banget. Kalau dulu kita belum berani check in di media sosial kita di Kalijodo, sekarang dengan kita bisa dengan bangga berkata bahwa kita mengunjungi Kalijodo. Aku sendiri juga tidak mau ketinggalan foto keren di Kalijodo, dong.


4. Terasa hidup dengan banyaknya pengunjung


Salah satu hal yang kuketahui adalah bahwa  Kalijodo ini cukup ramai dikunjungi saat ini. Hal tersebut memberikan perasaan hidup yang menyenangkan. Kita bisa bercengkerama dengan orang-orang sekitar, atau sekedar duduk dan mengamati orang-orang yang asyik beraktivitas. Kita bisa belajar dari setiap orang, dan oleh karena itu tentunya seru sekali untuk nongkrong di Kalijodo. Kemungkinan untuk bersosialisasi di Kalijodo ini cukup tinggi.

Sunday, January 8, 2017

Review Film: Passengers



Sumber gambar: link

Apa yang akan kamu rasakan apabila situasi memaksamu untuk tinggal seumur hidup di dalam sebuah kapal luar angkasa? Barangkali, panik dan frustrasi. Kemudian, mencari jalan keluar dari keadaan tersebut tentunya merupakan sebuah tantangan tersendiri. Kondisi inilah yang diangkat menjadi permasalahan dalam sebuah film berjudul ‘Passengers’. Film ber-genre science fiction ini rilis pada tahun 2016 dan sutradarai oleh Justin Kurzel.

Sebuah perusahaan bernama Homestead memberangkatkan ribuan manusia dari bumi ke sebuah planet lainnya, yakni Homestead 2. Mereka berpindah planet dengan menggunakan sebuah kapal yang kaya akan fasilitas bernama Avalon. Perjalanan migrasi tersebut membutuhkan waktu selama 120 tahun. Selama waktu yang lama tersebut, seluruh awak dan penumpang ditidurkan dalam sebuah kapsul. Rencana awalnya adalah bahwa para awak akan dibangunkan lima bulan sebelum sampai ke Homestead 2. Sementara, ribuan penumpang yang ada akan dibangunkan 4 bulan sebelum Avalon mendarat untuk mempersiapkan diri mebentuk peradaban baru.

Jim Preston (Chris Pratt) adalah seorang montir yang terbangun dari kapsul tidur secara lebih cepat. Betapa terkejutnya Jim saat ia tahu bahwa perjalanan menuju Homestead 2 masih akan berlanjut selama 90 tahun.  Saat itu, pria tersebut mengetahui bahwa ia akan menghabiskan seluruh hidupnya dalam kapal Avalon tersebut. Lebih parahnya lagi, sendirian. Ia berkeliling di kapal Avalon dan berusaha mencari bantuan. Selama proses berkeliling tersebut, ia bertemu dengan sebuah android bernama Arthur (Michael Sheen). Robot yang memiliki wujud seorang pria ramah tersebut adalah pelayan dalam bar yang ada dalam kapal Avalon. Ialah yang menjadi tempat Arthur berkeluh kesah. Selama setahun, Jim berusaha menerima takdirnya dan menggunakan semua fasilitas hiburan dalam kapal luar angkasa tersebut. Jim sudah mencoba area menari, area bermain basket, bahkan hingga area berjalan-jalan di luar angkasa. Sayangnya, semua fasilitas hiburan tersebut tidak bisa menghilangkan rasa kesepian Jim. Ia membutuhkan teman, seorang manusia yang hidup dan memiliki perasaan sama seperti dirinya.

Pada masa-masa Jim merasa terpukul, ia menemukan seorang wanita cantik yang tertidur dalam kapsul. Perempuan berambut pirang tersebut adalah seorang penulis bernama Aurora Lane (Jennifer Lawrence).  Jim mencari tahu semua informasi tentang diri Aurora melalui database yang ada dalam kapal Avalon tersebut. Semakin Jim mencari tahu tentang Aurora, semakin bertumbuhnya rasa tertarik Jim kepadanya. Singkat cerita, Jim jatuh cinta pada Aurora yang belum pernah dikenalnya. Kemudian, sebuah ide muncul dalam benak Jim. Ia mengambil sebuah buku manual dari rak buku panduan dan menemukan cara untuk mengaktifkan kapsul Aurora. Dengan kata lain, apabila Jim melakukannya, ia akan dapat berkenalan dengan wanita pujaan hatinya. Selain itu, Jim tidak perlu menghabiskan sisa hidupnya sendirian. Ia tahu betul ia akan membuat Aurora ikut terjebak bersamanya dalam Kapal Avalon tersebut seumur hidup. Setelah risau dan berusaha melupakan ide yang menurutnya salah tersebut, Jim akhirnya menyerah. Ia membangunkan Aurora dari kapsul tidurnya. Saat itu, keduanya belum tahu bahwa sesungguhnya Kapal Avalon sudah rusak dan akan segera meledak apabila tidak ditangani.

Film ‘Passengers’ memiliki banyak kelebihan yang membuatnya unik. Pertama, aktris dan aktor yang membintangi cukup menjiwai peran mereka masing-masing. Chemistry mereka terlihat natural dan konflik-konflik yang ada dalam cerita ini bisa menyampaikan emosi kepada penonton. Selain itu, tokoh yang sedikit membuat alur cerita lebih mudah dipahami.  Kelebihan film ‘Passengers’ lainnya adalah bahwa efek-efek komputer yang ditampilkan terlihat natural.  Film ini cocok untuk para penggemar tontonan dengan tema luar angkasa dan petualangan.

Bagaimana kelanjutan hubungan Jim dan Aurora? Selain itu, apakah mereka akan selamat dari kapal yang sudah rusak? Silahkan temukan jawabannya dan puaskan rasa penasaran kamu dengan menyaksikan film ini secara langsung.