Skip to main content

Posts

Showing posts with the label puisi

Cintai

Bolehkah aku tahu caramu memaknai cinta? Apakah itu pada saat pasanganmu menaruh lembut tangannya dipunggungmu? Ataukah kamu memaknainya pada saat ia melingkarkan jaketnya diatas pundak gemetarmu? Mungkinkah kamu akan tetap memaknai cinta? Pada saat hatimu penuh dengki terhadap keras kepalanya? Ataupun pada saat kamu menganggap ia tidak memikirkan perasaanmu?   Cinta itu kejam dan lembut Cinta itu tangis dan tawa Cinta itu malu dan bangga Cinta itu sebuah paradoks Dua sisi ... Dua jiwa .   Tidakkah kamu menghargai cinta? Nanti, pada saat kamu berhasil melewati proses panjang dengannya Pada saat kamu akan sangat bangga dengan perjuangannya Jalani. Nikmati. Syukuri. Cintai. #selamatharikasihsayang

Titik koma;

Suatu hari, titik ingin mengakhiri suatu kalimat. Semua yang bermula pasti pula berakhir, katanya. Kau tidak bisa sok menjadi Tuhan dan menjadi tak terbatas, katanya. Koma ingin menjadi pengganti titik, Semua yang bermula tidak harus berakhir, katanya. Kau tidak bisa sok menjadi Tuhan dan dengan sengaja mengakhiri sesuatu, katanya. Titik koma pun terdiam; Semua yang bermula harus naik tingkat, pikirnya. Kau tidak bisa sok menjadi Tuhan dengan mengendalikan akhir ataupun lanjut, pikirnya. Titik koma pun merenung; Kalimat tidak bisa berakhir begitu saja. Kalimat juga tidak bisa terus melanjutkan panjangnya tanpa faedah lebih. Kau perlu melanjutkan awal yang sudah ada tersebut; kau juga tidak perlu melanjutkan awal tersebut. Lanjutkanlah kalimatmu dengan titik koma; jangan memperpanjang kalimat yang sudah bisa diselesaikan; Jangan berhenti melangkah mencari kelanjutan yang berbeda dari kalimat tersebut.

puisi cinta ala mahasiswa stres

Kata orang-orang sih, sistem syaraf pusat adalah otak dan tulang belakang Tapi, pusat dari hati kok kamu ya?   Kamu itu.. bagaikan arousal yang merusak keseluruhan limbic system -ku khususnya di amygdala , segala emosi menjadi bercampur tak karuan Kamu membawa materi-materi berupa cinta ke sistem syarafku, sama seperti si cerebrospinal fluid Superior colliculi terkadang dipersulit olehmu, karena pandangan mata menjadi tidak bisa fokus Selalu ingin menengok ke arahmu kemanapun kamu pergi Selain itu, kamu juga memekakan inferior colliculi Suaramu selalu kucari, dimanapun itu terdengarnya   Kau membuat hipothalamus-ku meledak-ledak, sadarkah kamu? Banyak drive dalam hipothalamus itu yang ingin kulakukan, entah itu mencubitmu, memelukmu Dasar, kau juga merusak pineal gland -ku, ia jadi tidak bisa membuatku tidur karena terbayang-bayang senyummu kemarin Akhirnya, aku pun melakukan circuit formation dan berusaha berfungsi untuk menargetkan diri...

hidup yang plin-plan dan tegas

  ‘Halo’ Hidup berbisik ramah padaku Dengan jabatan tangan hangat dan dua gelas es teh Aku menunggu kelanjutan ceritanya di ruang tersebut   ‘Bangun, bangun’ Bukankah hidup itu aneh seringkali, ia meledek dan mencubitku yang nyaris ketiduran Agar aku tidak bermimpi buruk, katanya   ‘Rasakan, rasakan!’ Selain aneh, ia juga jahat Sambil menjulurkan lidah dan bersorak Ia menikmati diriku yang tersiram teh Bukankah hidup itu lucu? Ia menertawakanku dan orang lain ikut menertawakanku Aku mulai membencinya Lalu, ia bertanya mengapa aku sedih     ‘Tenanglah’ Ia mendatangkan orang-orang untuk memberi pelukan hangat Juga membantuku mencari handuk kering Agar kami dapat melanjutkan perbincangan yang sempat terhenti Hidup masih duduk bersamaku Kami masih bercakap-cakap Ditemani sejuta kisah dan lika-likunya Aku mulai tahu, ia orang yang jahat namun juga baik Si hidup i...

Rumah

Aku ingin ke rumah. Ya, aku ingin kembali kesana. Ruangan yang berisikan bangku-bangku berhiaskan berlian, ia menungguku. Ya, aku mau kesana. Meja kayu jati yang menjadi alas piring-piring cantik, ia menungguku. Ya, aku tahu betul disana. Kamar mungil dengan cermin besar yang indah, ia selalu melihatku. Wanita itu, ia juga menungguku. Ya, kamu. Ia menginginkan aku dan dia. Bangku-bangku berhiaskan berlian itu menginginkan aku dan dia. Piring-piring cantik menantikan aku dan dia. Bahkan, cermin besar yang indah juga mau aku dan dia. Aku mau pulang. Wanitaku, akankah kau menolakku? Akankah kau mengusirku? Ulangi lagi bahwa kau mencintaiku. Kau pasti merindukan hari-hari tua. Ya, samalah denganku. Aku ingat kita duduk di atas bangku berlian saling berpangkuan. Aku ingat kita menggunakan satu piring cantik untuk berdua. Aku ingat kita tersenyum manis dihadapan cermin besar. Bukan hanya kita berdua, si mungil didalam perutmu pun ikut tersenyum. Hari-hari tua yang k...

Iyakah

Kau memberikan senyuman mautmu. Percayalah padaku, ujarmu. Yakinlah padaku, ujarmu. Terima kasih, ujarku. Kau menyalakan lilin yang mulai redup. Kau jugalah yang membuka cakrawala menjadi terang. Kau tahu, ujarmu. Aku senang denganmu. Aku bahagia memilikimu, Miya. Kau memberikan senyuman nakalmu. Bukankah kita memang ditakdirkan bersama, ujarmu. Bagaimana jika tidak, tanyaku. Kilat pada sore gelap itu menggelegar keras. Hujan yang sedari tadi menemani aku dan kau membesar. Ia hujan yang sedari tadi hadir. Ia jugalah yang sedari tidak disadari. Kau mendekapku erat. Mengapa kau mempertanyakan yang tidak perlu dipertanyakan, kau berbisik. Kita akan selalu mempunyai pertanyaan tidak terjawab, bisikmu. Baiklah, lirihku. Aku tidak akan memusingkannya. "Kau rasakan angin dalam ruang?", tanyamu. Aku mengangguk, menikmati sensasi sepoi-sepoi. Kau mengurangi jarak fisik kita. Ruangan yang dingin seketika menjadi hangat. Lagi-lagi, kau berikan senyuman yang menjad...

1,2,...,12,1

1... Aku memulai 1 dengan harap-harap cemas. Sanggupkah aku? Entahlah, aku tidak ada pilihan lainnya 2... Oke, mungkin aku bisa. Hidup memang butuh perjuangan Bohong kalau aku tidak mampu 3... Rasanya aneh aku berada disini Semua baik-baik saja Namun aku merasa aneh 4... Aku terus maju Aku tidak mau diam di tempat Ya Tuhan, aku harus bergerak 5... Aku kesepian Semua orang baik dan tersenyum Tapi aku tidak nyaman 6... Aku masih bisa maju Tapi, ini hidupku Mari, dobraklah batas 'normal' 7... Jangan hanya melaksanakannya dalam kata Tabraklah dan lakukanlah sesuatu Jangan ragu, untuk sekali saja dalam hidupmu 8... Aku sudah meruntuhkannya Tembok batas wajar dan rasa malu itu Ia sudah hancur, aku pergi 9... Rasanya aneh Lompatan yang telah kulakukan Sungguh, aku merasa aneh 10... Diriku bingung Mungkinkah aku akan menyesal Aku takut, Tuhan 11... Jalan mulai terbuka Duniaku baru Perlahan, diriku menjadi baru 12... Aku sudah mele...

Kemari, Kamu Harus Kemari

Selamat datang di dunia Pergi, aku melangkah pergi Arahkan kakiku Menuju sesuatu yang belum kuketahui Terkadang yang manis terasa pahit Antara itu memang pahit sepahit-pahitnya Atau lidah kamu yang memaksanya menjadi pahit Jangan, sayang. Aku bisa menjadi diriku, dan kamu tetap menjadi dirimu. Aku tidak perlu menjadi kamu, dan kamu tidak perlu menjadi diriku. Aku hebat, begitupun kamu. Aku kuat, begitupun kamu. Bibirku bersenandung, begitupun bibirmu. Kakiku menari, begitupun kakimu. Telingaku menikmati irama dalam harmoni, begitupun telingamu. Mataku terpejam beristirahat, begitupun matamu. Manis, semua manis. Antara itu memang manis semanis-manisnya. Atau lidah kamu yang memaksanya menjadi manis. Lanjutkanlah, sayang. Kamu bisa menjadi dirimu, dan aku tetaplah aku. Kamu tidak perlu menjadi aku, dan aku tidak perlu menjadi dirimu. Kamu hebat, begitupun aku. Kamu kuat, begitupun aku. Jangan berhenti bersenandung. Jangan berhenti menari. Jangan berhent...