Friday, April 17, 2015

(Not) Lost in Bali




Bali, a paradise located in Indonesia, was a place I visited with my friends on 11 until 16 April 2015 We, the third semester architecture students under pressure, were super excited for this vacation. 

What clothes should we wear? What places should we visit? How shoud we spend the days there? It was our first trip ever, and our burning spirit was unstoppable. Eventhough our skins will get a lot darker and we definitely will gain calories, it was in fact worth it.

The first three days we go with the campus tour; for there was a study tour held. Our destinations were Taman Nusa Dua, Five Elements, and Potato Head. 

Let me tell you about these places if you don’t mind. 



Taman Nusa Dua contains traditional homes from the whole Indonesia; and the thing that I admire so much is the green environment. It was so refreshing and so different from the traffic  jam I usually embrace in Jakarta; the busy city I lived in currently.

The cave entrance you have to walk through is very impressing to me.




Beside traditional homes, the uniqueness that I faced for the first time is the interactiveness with the guests. You will be accompanied by a very polite guide; she/he explains and answers your curiosity until you’re satisfied. Unlike a museum, you will feel the similarity of the interactions just like a puppet castle; an attraction in a theme park where we ride a kind of train and the dolls surrounding us started singing and dancing when we go pass them. For this case, there were no dolls dancing. It was humans from the real tribes of each district who started interacting when we walked pass them; whether it is playing music, dancing or painting.



I got interested on the roofs.

The track is easy to walk on, so don't worry.






Potato head; you will feel the luxuriousness when you arrived. After being checked up by a security for safety purposes, you will walk within and be amazed by how it is dominated with water. The pool, the sea, they were so breath-taking. There are restaurants where you can feel the breeze of the wind and enjoy the gorgeous panorama while drinking and eating. Feel and relax like you’re home; don’t be a stranger with the surroundings there.


Crowded yet quiet.
Enjoy the view!

Thirsty? No worries!


Five Elements is a meditation place full of philosophy. The buildings there are made of recycled bamboo; and when you’re at the lobby you might wonder why it is so high from the inside. The roofs are made from natural containing, and they check it up routinely; don’t be afraid to ask the guide. Why are the rooms named like that? Why is the kitchen located on a certain direction? How do they make the bamboos look so tall? I won’t spoil; go there and fulfill your curiosity.


The most eyecatching structure. So tall!

All from bamboos.
A view from the restaurant.

Restaurant's ornaments.

The road somehow makes me happy.

Blend with the nature.



You have to walk on feet a bit first to get in, but you will enjoy the green surroundings.



Afterwards; we separated from the campus touring and explored Bali without them. And by ‘we’, I meant me (Hanna), Stevina, Elizabeth and Eria. We might be loud and a little crazy if united; don't tell me I didn't warn you.
Eria, Elizabeth, Hanna and Stevina




Our priority was The Dream Museum Zone in Seminyak; we already planned to go there for we all like to be photographed.

It was not disappointing, the museum was full of creativity! I admit that I really loved the time there, I went running from one pose to another pose because the spots are all camera tricking. We did hilarious poses and got tired of laughing, smiling, and posing. Here are some poses you might want to see:

Mother knows best.

Someone! Save me!

Under the sea.

Oh hey! Bye!


Oh no, I made him angry!

But I regret nothing, I got my phone memory almost full because posing is just addicting and very stress-relieving.


It is so nice to see foreigners and visit spots we never have been. You shouldn’t waste the opportunity you have to visit Bali; the traditions, dances, places and especially beaches shouldn’t be missed.

 Looking forward to see you again; thank you for the sweet memories, Bali!



 One word, one conclusion; enjoyable!






Wednesday, April 1, 2015

Aku Bertahan Karena Kuyakin


Mungkin aku selalu terlihat tegar; senyuman dan tawaku seringkali mengecoh. Aku yang sesungguhnya bukanlah aku yang mereka lihat. Teman, kerabat, tetangga, mereka semua tertipu. Hanya satu individu yang mengetahui kedilemaan hatiku.

“Kamu kenapa?” beliau menyiapkan sebuah susu coklat untukku; rambutnya yang telah memutih di ikat konde dengan apik.

Aku menunduk dan menikmati kesunyian di warung mungil langgananku tersebut. “Tidak apa-apa, Nek.”

Nek Inah memposisikan dirinya disebelahku, ia tahu betul ada yang salah dariku. Perempuan anggun ini tidak berubah semenjak aku kecil; tetap ramah dan baik hati.

“Pasti Dio lagi yah. Mahasiswa berpacaran zaman sekarang memang selalu berliku-liku.”

Aku merasa kacau, kejadian di chat kemarin sangatlah miris. Ketidakpercayaannya padaku, membuatku merasa sakit; tidak berguna.

Kamu tidak mengabariku, Via

Aku memang salah. Diriku yang terlalu sibuk pada tugas kuliah arsitektur ini melupakan kehidupanku. Aku tidak menceritakan kegelisahanku pada pujaan yang telah mengaitkan kailnya pada hatiku.

Apakah hubungan jarak jauh ini memang tidak bisa kita jalani?

Mengapa kamu tidak percaya kepadaku, Vio? Apakah kamu mau ikut menambah diriku yang sudah tertekan ini?

Tetes demi tetes air mataku jatuh; aku tak sekuat itu. Batu karang yang kokoh itu akan retak juga pada akhirnya.

Nek Inah, salah satu sumber kekuatanku, mendekapku hangat. Beliau tidak segan terhadapku dan begitu pula sebaliknya. Mungkinkah kami sesungguhnya sepasang sahabat yang memiliki perbedaan usia?

Apakah sahabat dibatasi oleh umur? Jika kau tanya diriku, dengan tegas akan kujawab 'tidak'.

 “Nenek tidak tahu masalah kalian. Tetapi bukankah cinta itu memang selalu harus diperjuangkan bagaimanapun kendalanya? Apapun ketidakcocokan yang akan muncul, bukankah itu merupakan suatu rintangan yang harus dihadapi dengan berani?”

Badanku bergetar, hatiku ternyata tak bisa lagi bersandiwara. Sudah cukup aku mendustai diriku sendiri. Apakah ‘menyerah’ memang jalan yang terbaik untuk kedua belah pihak?

“Nak Via. Nenek kangen melihat kalian berdua akur dan bersuap-suapan di warung ini. Walaupun itu terjadi saat kalian masih SMA dulu, namun Nenek percaya hal itu masih akan terjadi.” beliau mengusap punggungku. "Janganlah berhenti karena halangan apapun."

Jarak. Sesuatu yang memisahkan raga kami.

“Aku takut, Nek. Aku khawatir.”

Aku merasa dunia sekitar sangat gelap dan suram. Mengapa matahari yang terik terlihat sebagai sebuah petir yang menggelegar?

“Jika kau memang pasangan hidup Dio, semua akan dipermudah untukmu.” Wanita berwibawa yang masih tegak dikepala enam puluh itu tersenyum manis. “Tuhan ingin melihat seberapa kuatnya kalian saling mempertahankan.”

“Aku akan bertahan. Mungkin..”

Tepukan lembut dipundak kurasakan mengusap dengan lembut. Aku menoleh kebelakang dan terbelalak. Jantungku serasa berhenti berdetak saat itu juga.

Dia. Tatapannya. Dirinya.

“Via, aku tidak tahan lagi..”

“Untuk memutuskanku?” aku tersenyum sinis, walaupun aku tidak bermaksud demikian. "Untuk mencampakkanku?"

“Jangan putuskan kalimatku!” Ia menghentak dan mengangkat wajahku sehingga mata kami bertemu; kemarahan terlihat dari raut wajahnya. “Aku rela kembali kesini karena ingin bertemu denganmu!”

Sedih, aku sedih saat dia tak yakin kepadaku. Semua kepahitan yang kurasakan memuncak dalam batin, dan gejolak ini kembali membuatku bersedih.

“Via. Jalan berliku tak akan buatku menyerah. Tatap mataku dan kau akan tahu semua yang kurasakan.”

Sering sekali ia mencoba mematikan hatiku secara tidak langsung.

“Aku menyayangimu, Via. Aku menggila karena kau tidak mengabariku selama seminggu dan sekarang aku disini untuk melihatmu. Untuk bersamamu.”

Aku terbisu.

“Maafkan diriku yang emosional.” Ia mengenggam erat telapakku. Kehangatan yang ingin kurasakan setelah semua sandiwara kekuatanku.

Jangan keraskan hati, Via. Aku harus membuka pintu untuknya dan untukku.

“Aku akan berusaha mengubah diri yang bisa gila rindu karenamu, Via.”

Aku menggeleng dan tertawa pelan.

“Tidak. Tetaplah jadi Dio yang butuh kabarku. Tetaplah jadi Dio yang manja dan tengil.”

Nek Inah menghampiri kami dengan sebuah lilin mungil, beliau mengedipkan sebelah matanya.

Aku tidak tahu akan kuat atau tidak dengan kekurangannya, namun aku sayang dirinya dengan segala ‘paket’ plus minusnya.

Hanya hal itulah yang kutahu, dan aku akan bertahan. Sekalipun keraguan dan ketakutan melingkupi diriku dan dirinya; aku tidak akan goyah karena kuyakin.

Aku yakin pada diriku, dan aku juga yakin pada dirinya.