Sunday, March 25, 2018

Ai

Aku tahu ia selalu mampu membawa tawa, cukup dengan beberapa kedipan mata centilnya. Ampuh. Teman-teman kantorku selalu mencubit pipinya lembut setiap aku membawanya turut serta, bibir mereka tak pernah absen untuk menyunggingkan senyum lebar saat mereka bersama dengannya.
 
Aika, gadis mungil dan cantik kesayanganku dan Thio yang sudah empat tahun terakhir ini resmi keluar dari rahimku dan menjadi buah hati kami.. Sosoknya yang periang dan identik dengan tubuh langsing, rambut bob sebahu dan poni ratanya itu menjadi favorit keluarga besar untuk diajak foto bersama pada acara kumpul-kumpul. Celotehennya yang unik bin ajaib juga selalu kami nanti-nantikan. Bayangkan, Aika dapat tiba-tiba menggombal bagaikan anak baru gede jaman sekarang yang romantis namun lucu. Bagaimana kami bisa tidak sayang dengannya?
 
"Tisha..." suara berat Thio memecahkanku dari pikiran sendiri yang entah sudah berlangsung selama berapa lama.. Tangan kekarnya menggenggam erat tanganku yang tentu berukuran jauh lebih kecil darinya. "Yuk.."
 
Bau rumah sakit yang sangat kubenci itu kembali merasuki benakku. Aku tidak suka melihat para perawat berseragam putih yang berjalan mondar-mandir di hadapanku, apalagi sembari mendorong ranjang-ranjang yang ditiduri pasien-pasien yang nampak terlelap dengan damainya. Tidak, pemandangan ini sungguh membuatku merasa mual dan sakit kepala.. Thio mengikuti arahan petunjuk seorang perawat wanita yang nampaknya berusia paruh baya menuju suatu ruangan tempat Aika dirawat selama seminggu ini, tangannya tak mau melepaskan genggamannya padaku.. Pria yang berpostur lebih tinggi dariku tersebut kemudian merangkulku erat seolah jaringan peredaran darah kami berdua memang menjadi satu.
 
"Selamat sore Bu Tisha dan Pak Thio.." Dokter berkacamata bertubuh gemuk yang telah rutin kami temui menyambut kami ramah, tak lupa pula ia mengajak kami berjabat tangan. "Silahkan duduk.."
 
Thio pun mengarahkanku untuk duduk di meja klien ruang praktek yang didominasi warna putih susu tersebut sebelum ia juga ikut duduk disebelahku. "Pagi, Dokter Purnawan.."
 
Dokter Purnawan membetulkan kacamatanya yang menurun dan membuka sebuah map biru muda yang sudah ia siapkan di meja. "Bagaimana kabarnya, senang bertemu dengan Bapak dan Ibu lagi.."
 
"Baik, Dok.." Ujar Thio sembari melirik diriku, yang juga mencuri-curi pandang ke arahnya. Aku dapat merasakan tangan Thio yang juga sedikit dingin dan gemetar pada saat ia melirik laporan di map dokter senior yang berpengalaman dihadapannya."B-bagaimana hasil laboratorium dari putri kami, Dok?"
 
"Ah, Aika.. Kami memang telah selesai menerima laporan dari laboratorium.." Ujar Dokter Purnawan sembari menarik napas panjang. Perasaanku mulai tidak enak..
 
Deg.
 
"Putri Bapak dan Ibu telah mengalami gejala kejang-kejang sebelumnya, dan kami memang menemukan hambatan dalam syaraf-syaraf di otaknya.."
 
Apakah mimpi burukku selama ini kini menjadi nyata...
 
"Aika mengalami epilepsy."
 
Napasku menjadi berat. Thio terdiam, dan aku juga berusaha mencerna semua perkataan Dokter Purnawan tersebut dengan perlahan.. Pikiranku mulai kemana-mana.
 
Dokter Purnawan nampaknya dapat membaca situasi dan berusaha menenangkan kami. "Namun Bapak dan Ibu jangan terlalu khawatir, tentunya kami akan melakukan penanganan yang terbaik. Apalagi Aika masih kecil, kemungkinannya untuk bisa sembuh masih besar.."
 
"Tolong lakukan yang terbaik untuk Aika, Dok.." Thio akhirnya bersuara lirih, bisikannya penuh dengan rasa khawatir.  Ia mengusap rambut sebahuku lembut. "Kami percaya pada Anda.."
 
Dokter Purnawan sempat menyampaikan beberapa pesan dan wejangan pada kami, namun aku tidak dapat menyimaknya lagi. Aku tahu betul Thio terus mengangguk dan berkata 'baik, Dok', dan Dokter Purnawan pun terus meberikan kata-kata yang menyemangati kami berdua..
 
"Terus ikuti proses, ya, Pak Thio dan Bu Tisha..." Ungkap Dokter Purnawan sebelum kami beranjak meninggalkan ruangan. "Saya perlu kepercayaan dan pengharapan Anda.. Terus berdoa, dan jangan patah semangat.."
 
Aku dan Thio bertatap-tatapan saat kami sampai di ruang perawatan Aika. Si gadis mungil bermata besar yang tidak tahu apa-apa tersebut tersenyum lebar saat melihat kami berdua menghampirinya. Ia berusaha bangun dan masuk ke pelukanku, namun Thio mencegahnya dan menyuruhnya untuk tetap berbaring di tempat tidur. "Aika sayang jangan banyak gerak dulu, ya.. Papa mau kamu banyak istirahat.."
 
"Yah, kok gitu sih, Pa.." Rengek Aika memprotes. "Aika bosen, Pa, tiduran terus.."
 
Aku mulai bisa tersenyum mendengar suara cempreng yang kurindukan tersebut. Ah, Aika..
 
"Mama kok diem aja, sih? Ma, tadi Aika kenalin Whitee ke suster yang tadi temenin Aika.." Celotehnya riang tanpa jeda napas, dengan bangga ia mengeluarkan boneka beruang putih berbulu pendeknya dari persembunyian di balik selimut. Aika tertawa riang. "Kata susternya, Whitee imut."
 
"Ya imutlah, kan ketularan imutnya Aika" ujarku sembari mengubah posisi dudukku menjadi lebih dekat dengan Aika dan memainkan rambut halusnya seperti biasa. "Kalau Aikanya nggak imut, mungkin Whitee-nya juga nggak imut, tuh.."
 
Aika tertawa riang sembari berusaha bangun dari posisi tidurnya untuk memelukku. Aku menahannya lembut, dan mengembalikannya ke posisi berbaring. "Jangan bangun-bangun dulu, nanti Papa sedih, lho.."
 
Thio ikut duduk disisi lain sebelah Aika, dan menatapnya dengan mata teduh penuh arti. Aku ingat betul bahwa tatapan  Thio yang sama-lah yang berhasil membuatku luluh dan jatuh hati kepadanya. Thio mengambil Whitee dari genggaman  Aika dan meletakkannya di dekat kepala putrinya tersebut. "Sabar ya, Aika.. Papa dan Mama bakal terus temenin Aika sampai Aika keluar dari rumah sakit.."
 
"Oke, Papa!" Aika mengeluarkan tangan mungil dan rapuhnya sembari mengaitkan jempol dan telunjuknya dengan tidak rapat. Aku tertawa karena gemas akan tingkahnya, sudah lama aku tidak tertawa lepas seperti ini.
 
Sembari terus mendengarkan Aika berceloteh soal petualangannya dan Whitee di sebuah hutan penuh pohon stroberi, aku mencuri-curi pandang dengan Thio yang seperti biasa berhasil menghibur Aika yang tadinya sempat mengeluh pusing dengan lawakan-lawakan tidak lucu andalannya. Di masa-masa yang berat dan menjadi pikiran ini, aku bisa memiliki tangan yang selalu mendekap dan tidak malu untuk menggandengku. Pada saat-saat yang tidak menyenangkan ini, aku mempunyai cerita-cerita imajinatif tak berbatas yang dinarasikan secara tidak kronologis.. Ketika aku sedih, ingatlah akan 'ai', cinta tak ternilai yang muncul saat aku dan Thio hendak memberi nama pada buah hati yang sudah terbentuk baik adanya dan sempurna di rahimku. 'Ai' yang sama akan menyanggupkan menghadapi apapun itu yang akan kuhadapi nantinya.
 
Aku siap.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Saturday, February 24, 2018

Belajar banyak di konferensi Psikologi ARUPS, Bali

Halo teman-teman,



Kali ini aku menggebu-gebu sekali untuk menceritakan pengalamanku di Bali. Sungguh, sampai detik ini aku masih merasa bahagia dan bangga akan acara yang telah aku ikuti pada 21-22 Februari 2018 waktu itu!



Jadi, awal mulanya seperti ini... Once upon a time, pada 2016 akhir, seorang dosen di kampusku menawarkan aku dan temanku (Desta) untuk ikut berkontribusi dalam penelitian beliau. Oh ya, untuk kalian yang belum tahu, aku sedang mengambil jurusan psikologi di Universitas Tarumanagara, ya.

Aku sempat takut sih, karena belum pernah mengerjakan proyek seperti ini. Waktu itu, aku betul-betul khawatir karena pengalamanku dalam penelitian betul-betul nol besar. Namun, dosenku, Pak P. Tommy Y. S. Suyasa (beliau akrab dengan panggilan Pak Tommy), berbaik hati dan bersedia membimbing dari awal, beliau pun sabar menjelaskan pada kami apabila ada hal-hal yang masih kami belum pahami.

Oh ya, kami belajar banyak dari dosen kami ini; hal-hal akademis dan juga non-akademis. Beliau juga perhatian dan selalu meng-encourage kami untuk tetap semangat dan tidak menyerah, dan tentunya memberi wejangan untuk tidak takut salah ataupun merevisi dan memperbaikinya. Memperbaiki paper hingga berkali-kali itu sangat biasa, ujar beliau.

Pada akhirnya, Pak Tommy pun mendorong aku dan temanku untuk mengikuti konferensi ASEAN Regional Union of Psychological Societies [ARUPS]  6th congress di Kuta, Bali yang di co-found
pertama kalinya oleh Dr. Rahmat Ismail, Psikolog. Oh ya, ketua ARUPS untuk periode 2015-2017 adalah Maria Caridad Tarroja, PhD.


Akhirnya, kami pun mengirimkan abstrak dan paper penelitian keseluruhannya ke panitia, walaupun sempat bingung dalam memilih jenis presentasi yang akan kami lakukan (pilihannya adalah poster presentation [presenter harus stand by di poster masing-masing selama sesi dan menyambut, menjawab dan berdiskusi dengan pengunjung yang lewat dan tertarik dengan poster],  atau oral presentation [presenter berada di suatu ruangan bersama presenter-presenter lainnya, kemudian menjelaskan menggunakan powerpoint. Setelah presentasi, akan disediakan sesi tanya-jawab dari audience]). Setelah melalui beberapa pertimbangan, kami memilih poster presentation dan kami pun cukup bersyukur dan berterimakasih karena ternyata penelitian kami diterima.


Yay, kami melalui banyak proses dan akhirnya bisa tiba di Kartika Discovery Plaza Hotel, tempat berlangsungnya acara ARUPS! Acara diawali dengan registrasi ulang dan pemberian goodie bag pada tiap peserta. Para peserta pun memakai name tag khas ARUPS dan dipersilahkan menunggu di hall yang luas dan nyaman. Tak lama kemudian, dua orang anak muda yang membawa acara (satu orang laki-laki dan satu orang perempuan) menyambut pengunjung dan berterima kasih atas kehadiran dan partisipasi mereka dalam event ARUPS. Oh ya, semua percakapan dalam konferensi ini dilakukan dalam bahasa Inggris karena peserta berasal dari berbagai negara (saya menemukan banyak sekali peserta dari Filipina dan Malaysia). Lagu Indonesia Raya dan himne HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia, ikatan psikologi Indonesia yang diketuai oleh Dr. Seger Handoyo,
Psikolog) ikut dikumandangkan.


Selama konferensi, kami disuguhkkan banyak tarian dan nyanyian tradisional yang menghibur dan menambah wawasan kami (sebelum tarian ataupun nyanyian, pembawa acara selalu menjelaskan latar belakang dan maksud dari kesenian yang akan ditampilkan). Tarian dan lagu tersebut dibawakan oleh mahasiswa fakultas psikologi Udayana. Aku (dan aku yakin semua peserta lainnya juga) kagum sekali dengan kelihaian dan bakat mereka, pasti mereka berlatih keras sekali sebelum dapat tampil di ARUPS. Wow, you guys were so, so amazing!

Kami pun banyak mendengar keynote speech (mirip dengan seminar) oleh pembicara yang kompeten di bidang masing-masing. Ada Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K), menteri kesehatan Indonesia, Dr. Sathasivan Cooper, Professor Emeritus Roger Moltzen, Dr. Cristina Montiel, Assoc. Prof. Claire Thompson, Professor Kwartarini Wahyu Yuniari (atau yang lebih dikenal dengan Bu Bo), Urip Purwono, PhD, Doran French, PhD, dan  Dr. Yudi Latif.

Kami beruntung karena sempat berbincang ringan dengan Dr. Cristina Montiel dan bahkan berfoto bersama. Beliau menyampaikan bahwa kami masih muda dan perjalanan kami dalam bidang psikologi tentunya masih panjang. I absoluutely will try my best to keep loving and never stop learning psychology.

Materi yang dibawakan bermacam-macam, ada mengenai pengolahan data penelitian yang mengambil data di social media, metode-metode penelitian yang unik dan menarik, kepercayaan (belief) yang memang mempengaruhi panjang/pendeknya usia kehidupan kita, hingga tentang perbandingan penyelesaikan konflik dan cara berteman di Indonesia dan negara-negara lain.
Pokoknya seru dan sangat worthy untuk disimak, deh.


Kami pun juga melaksanakan tujuan utama, yakni poster presentation. Selama stand by, ada beberapa rombongan yang menanyakan perihal penelitian. Mulai dari rekan-rekan presenter di sebelah kami, hingga mahasiswa dari Malaysia yang juga penasaran dan ingin sharing perihal topik kami. Walaupun sempat tegang karena tidak terbiasa mengobrol dalam bahasa Inggris, semua berjalan dengan cukup baik dan kami juga menambah kenalan dari acara ARUPS.


Pokoknya kalau ada kesempatan, teman-teman (baik mahasiswa ataupun yang sudah alumni) harus mencoba ikut konferensi, deh. Menambah kenalan (bisa saling bertukar nomor telepon dan mungkin bisa mendirikan proyek baru bersama-sama, karena orang-orang yang kita temukan akan beragam dalam minat dan keahlian). Selain itu, partisipasi dalam konferensi akan terlihat baik dan ditambahkan di Curriculum Vitae (CV) nantinya.

Tips dari pengalamanku dalam mengikuti konferensi:

- Jangan tegang dan memikirkan apakah bahasa Inggrisku bagus atau tidak, yang penting nekad dan berani bersuara.
- Sembari coffee break ataupun jadwal yang santai, coba ajak kenalan orang-orang disekitarmu. Hal ini menambah wawasan sekali, dan juga menambah teman.
- Kalau ada pembicara yang sedang santai, ajak berbincang dan berdiskusi. Kebanyakan dari mereka ramah dan suka berbagi pikiran dan memberi wejangan.
- Jangan minder, percaya diri!

Thanks for reading!

Tuesday, February 13, 2018

Cintai

Bolehkah aku tahu caramu memaknai cinta?
Apakah itu pada saat pasanganmu menaruh lembut tangannya dipunggungmu? Ataukah kamu memaknainya pada saat ia melingkarkan jaketnya diatas pundak gemetarmu?
Mungkinkah kamu akan tetap memaknai cinta?
Pada saat hatimu penuh dengki terhadap keras kepalanya? Ataupun pada saat kamu menganggap ia tidak memikirkan perasaanmu?
 
Cinta itu kejam dan lembut
Cinta itu tangis dan tawa
Cinta itu malu dan bangga
Cinta itu sebuah paradoks
Dua sisi ...
Dua jiwa .
 
Tidakkah kamu menghargai cinta?
Nanti, pada saat kamu berhasil melewati proses panjang dengannya
Pada saat kamu akan sangat bangga dengan perjuangannya
Jalani. Nikmati. Syukuri.
Cintai.
#selamatharikasihsayang

Sunday, January 14, 2018

Memanjakan mata dan pikiran di Taiwan

Selamat pagi/siang/sore/malam gengs!



Hari ini aku akhirnya berhasil mengumpulkan niat untuk membuat tulisan perihal perjalananku ke Taiwan pada 20 Desember hingga 2 Januari 2018 yang lalu. Menurutku, Taiwan merupakan sebuah Negara yang memiliki banyak keunikan menarik; tak heran banyak turis mau bereksplorasi di tempat tersebut. Nah, dalam posting kali ini aku akan mengulas tempat-tempat dan beberapa fakta menarik yang kutemukan selama perjalanan. Hmm, kira-kira ada apa saja sih? Nggak usah tunggu lama-lama lagi, selamat menikmati ulasan ini!

Berbagai tempat di Taiwan yang worth it untuk dikunjungi adalah:

1. Bebatuan alam dengan bentuk-bentuk yang memesona di Yehliu


Pada saat kita sampai ke lokasi wisata Yehliu, kita akan langsung disapa oleh angin sepoi-sepoi (yang pada saat itu cukup menyiksa karena sedang musim dingin). Angin tersebut tentunya wajar karena Yehliu berada di lokasi yang unik, yakni di tepian laut (pinggir pantai). Oh ya, rombongan kami tiba pada saat sedang hujan. Kalian tentu bisa membayangkan angin yang semakin dingin pada saat hujan, kan? Akhirnya, kami pun memutuskan untuk membeli jas hujan yang dijual oleh seorang ibu yang mondar-mandir di tempat tersebut; kami pun kompakan memakai jas hujan warna kuning dan menurutku cukup terlihat seperti rombongan minion.

 


Setelah membeli karcis dan memasuki pintu gerbang, kita dapat menelusuri bebatuan yang memiliki beragam bentuk. Salah satunya diberi nama Cute Princess, dan apabila diamati dengan jeli ia memang terlihat seperti kepala seorang putri dengan rambut yang terangkat. Terlihat kan, lekukan-lekukan wajah sang Putri?

Bentuk lainnya adalah Queen's Head. Aku pun langsung menyadari bentuknya yang juga terlihat seperti wajah, dari sudut pandang samping. Keren sekali, aku belum pernah melihat karya alam yang seperti ini!




Hal cantik lainnya di Yehliu tentunya adalah  bebatuan berbentuk jamurnya. Gradasi warna yang kontras membuat bentuk jamur semakin terlihat jelas. Jujur saja, aku langsung rindu pada jamur bakmi ayam kesukaanku di Indonesia.


2. Kota kucing bernama Hou Tong.


Apa yang kamu bayangkan apabila mendengar kata kota kucing? Tempat para kucing menguasai jalanan dan dilayani bagaikan bos? Yah, sebetulnya tidak salah juga, karena kita dapat melihat kucing-kucing berkeliaran bebas di jalanan Hou Tong dan mereka diberi makan serta disayang-sayang oleh orang-orang yang memang sengaja mau melihat mereka.






Selain kucing-kucing itu, hal yang menarik perhatianku adalah dekor-dekor di setiap sudut yang berbau kekucingan; dimulai dari lorong-lorong stasiun MRT Houtong-nya sendiri hingga instalasi yang banyak tersebar disepanjang jalan.








Oh, jangan lupakan toko souvernir yang menjual segala hal berkaitan dengan kucing. Mulai dari CD lagu-lagu popular yang dinyanyikan dengan suara kucing, kaos kaki bergambar kucing, hingga kue nanas lembut yang semuanya berbentuk kucing.

Bagaikan surga untuk para pencinta kucing, nih. :3

3. Terpesona akan dedikasi para penjaga keamanan di Martyrs Shrine



Apabila penjaga di Indonesia adalah satpam berseragam putih, maka penjaga di Martyrs Shrine menggunakan kostum serba abu-abu dengan segala kedetailannya. Tak lupa, mereka dengan gagahnya harus selalu memegang senapan panjang yang bunyinya saja sudah mengerikan. Para penjaga ini diwajibkan berjaga selama satu jam dan kemudian saling berganti shift. Oh ya, mereka sama sekali tidak boleh bergerak, menoleh, berbicara, ataupun sekedar melirik-lirik selama menjaga. Pokoknya mirip patung lilin banget, deh.

 





Pergantian shift merupakan keunikan yang dinanti-nantikan para pengunjung. Para penjaga melakukan pergantian tersebut dengan formasi dan gerakan-gerakan seragam yang dapat membuat tercengang. Bahkan cara mereka berjalan juga seragam dan sangat tegas. Pokoknya, pergantian shift penjaga ini adalah hal wajib yang harus kalian lihat apabila berkunjung ke Taiwan.

4. Menghirup segarnya alam di desa HuaLien
Taiwan merupakan Negara yang terdiri atas banyak kota, dimana salah satunya merupakan desa bernama HuaLien. Tempat-tempat menarik di daerah HuaLien ini salah satunya adalah Taroko, bebatuan cantik dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata.







Kombinasi bebatuan, pegunungan, pohon-pohon, sungai dan juga jembatan merah ikonik menjadi penghilang penat yang tepat untuk orang-orang yang jenuh dengan wara-wiri di daerah perkotaan.

5. Merasakan sejarah gerobak dorong masyarakat Wu Lai



Di tempat ini, kita akan mempelajari sejarah masyarakat asli disitu yang gemar mengendarai log cart (gerobak kayu yang didorong manual oleh manusia); namun tentu saja saat ini gerobak kayu tersebut dipertontonkan dengan dikendalikan mesin. Tempat ini menceritakan bagaimana pekerjaan sebagai pendorong log cart tidak terlalu manusiawi pada masa-masa colonial (sebagian besar waktu digunakan untuk bekerja dan sulit beristirahat atau berkumpul bersama keluarga), dan para pekerja juga dieksploitasi dulunya.

Saat ini, para turis dapat merasakan berjalan di atas rel-rel log cart dan menghayati pemandangan tradisional yang berpadu dengan pegunungan. Lumayan menyegarkan mata.

6. Melihat dan belajar tentang hewan di Taipei Zoo


Kebun binatang Taiwan ini berlokasi di Taipei, dan areanya cukup luas, lho. Ada banyak satwa yang bisa ditemukan, dan salah satu yang paling berkesan adalah mahluk gembul bernama Panda. Walaupun terlihat lucu dan menggemaskan, kalian juga harus hati-hati karena Panda tergolong buas.


Kalian tahu koala yang berasal dari Australia? Ternyata satwa-satwa ini juga menghuni Taipei Zoo, lho. Oh ya, hal menggemaskan yang kurasakan adalah betapa kreatif dan perhatiannya mereka terhadap para binatang. Taipei Zoo bahkan memberi nama pada masing-masing satwa dan memajangnya untuk dibaca para pengunjung. Foto yang dipajang merupakan foto close up, dan menurutku menggemaskan karena serupa tapi tak sama dengan selfie :D


Hal lain yang menjadi kelebihan dari kebun binatang ini adalah banyaknya instalasi unik yang dijadikan spot foto andalan oleh para pengunjung.





Sungguh kreatif!
______________________

Kalau keunikan yang ada di Taiwan, kira-kira apa saja ya? Nih, aku kasih tahu deh:

1. Ada alat pemacu jantung yang stand by dimana-mana.


Alat dalam keadaan darurat tersebut tersedia di stasiun MRT, dan juga di tempat-tempat wisata. Aku sangat mengagumi kepedulian Negara akan hal tersebut.


2. Para warga boleh membawa anjing mereka ke sebagian besar tempat.







Mereka sah-sah saja main ataupun bersantai di stasiun MRT (bahkan boleh ikut masuk ke dalam kereta, asalkan para anjing ditaruh didalam carrier khusus anjing), tempat-tempat wisata, bahkan di dalam restoran sekalipun. Lucu, ya!

3. Taiwan merupakan Negara yang amat sangat kreatif.






Bahkan aku menemukan instalasi kreatif di tempat-tempat yang tidak terduga (jalan penyebrangan, sudut-sudut kota, dan juga di tempat wisatanya). Very nice!

4. Kebanyakan tempat makan menyediakan minuman gratis self-service yang juga free refill.

Terkadang, ada pula yang menyediakan tambahan sup gratis. Baik, ya.

5. Banyak tempat main gacha dan capit boneka!
 


Itu lho, mesin yang biasa ada di game arcade. Pada permainan gacha, kita harus memasukkan koin (sesuai dengan yang ditentukan dan memutar mesin) dan memutar tuas, hingga menunggu bola berisi souvernir yang disediakan mesin keluar. Kadang ada sensasi deg-degan pada saat mau melihat isi bola karena takut tidak sesuai dengan yang diinginkan. Namun,  disitulah letak keseruannya!


Selain itu, aku bangga karena akhirnya berhasil mencapit sebuah boneka gajah yang kuberi nama Mimmie. Salah satu pencapaian terbesarku, haha. Jika kamu juga seorang pencinta permainan sepertiku, maka sebaiknya sedia banyak koin pada saat di Taiwan, ya.

7. Banyak street food yang menggiurkan.

Mungkin terkenalnya dengan crispy chicken yang juga sudah banyak disediakan oleh orang Indonesia. Oh ya, banyak orang Taiwan makan tam ping sebagai sarapan. Jenis makanan ini sedikit mirip dengan martabak telur, namun biasanya disajikan dengan kecap soya. Menurutku sih cukup enak dan mengenyangkan sebagai makan pagi.



Siap-siap berat badan naik ya, guys.

8. Akses kendaraan dimana-mana mudah.


Kereta MRT mempermudah kami menjangkau berbagai tempat (yang penting kita bisa baca peta, paham harus bertransit dimana dan juga jalur-jalur keretanya). Selain itu, ada pula sepeda sewa yang tersedia di jalanan (gratis untuk 30 menit pertama). Menurut sepupuku yang sudah tinggal di Taiwan, sepeda sewa tersebut sangat mempermudahnya untuk ke sekolah ataupun kerja karena masyarakat Taiwan tidak perlu lagi membeli sepeda masing-masing. Peminjaman sepeda pun dipakai menggunakan kartu yang sama dengan kartu MRT. Canggih, lho.

______

Jadi, aku pun sangat merekomendasikan kunjungan wisata ke Taiwan karena hampir semua aspek ada disitu. Unsur budaya, ada. Unsur alam, ada. Unsur sejarah juga ada. Unsur main dan serunya juga ada, dong.

Nah, tertarik untuk ke Taiwan? Tipsnya adalah untuk selalu membawa jaket dan bahkan terkadang harus memakai sweater berlapis-lapis. Pada bulan-bulan tertentu, suhu disana sangat dingin dan tentunya berbanding terbalik dengan suhu di Indonesia. Selalu siap sedia payung karena kita tidak bisa memprediksi kapan akan hujan. Oh ya, rajin minum vitamin juga ya untuk membiasakan tubuh dengan suhu dan cuaca dingin tersebut.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi kalian, ya.