Tuesday, August 9, 2016

Ide Sistem Poin untuk Pembuangan Sampah

 
Sampah merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan di Indonesia. Menurut sebuah survei yang dibahas dalam buku buku Besarnya eksploitasi perempuan dan lingkungan di Indonesia: Siapa bisa mengendalikan penyulutnya? oleh Irwan, Z. J., masyarakat menempatkan limbah padat (sampah) sebagai hal pertama yang menganggu kehidupan. Sampah tersebut dapat berupa benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi. Boneka, kemasan produk sehari-hari, bahkan hingga kantong plastik pun termasuk sampah. Jika dicermati, di rumah kalian masing-masing pasti banyak sampah juga.

Seringkali, masyarakat tidak tahu kemana berbagai barang tersebut bisa dibuang. Karena kurangnya kepedulian atau karena memang tidak tahu, akhirnya banyak yang salah kaprah dan malah membuangnya ke kali atau tempat-tempat umum seperti di jalanan. Kalau diperhatikan, sungai di Indonesia memang banyak yang tidak bersih dan berbau tidak sedap. Jalanan juga tidak rapi dan bersih karena ada saja bungkus cemilan atau bungkusan air mineral yang berserakan.

Walaupun membuang sampah sembarangan terdengar sepele, sesungguhnya kebiasaan buruk tersebut merugikan orang lain. Jika dibiarkan, kebiasaan membuang sampah sembarangan akan berakibat pada masalah lain seperti saluran air yang tersumbat dan banjir yang meluap. Terkadang pemandangan jalan juga menjadi tidak enak sebagai akibat dari berserakannya sampah. Tidak enak sekali jika keadaan tersebut dilihat oleh turis yang berkunjung. Jangankan wisatawan, sebetulnya dilihat warga sendiri pun tidak layak.

Maka dari itu, kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan perlu dibenahi. Menurut saya sikap masyarakat yang cenderung instan dan tidak mau repot itulah yang menjadi masalah. Pemerintah sudah menyediakan tempat-tempat sampah ditempat umum. Parahnya, banyak orang yang mengacuhkan dan lebih senang melemparkan sampah mereka di sembarang tempat. Sesungguhnya, kebiasaan buruk manusia juga tergolong sampah yang perlu diubah dan dibenahi.

Sebuah inovasi diperlukan untuk perubahan mental masyarakat yang seringkali membuang sampah tidak pada tempatnya. Kebiasaan buruk perlu diberi perhatian oleh kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, sekecil atau sebesar apapun itu. Perlu ada sebuah fasilitas yang dapat mengubah pola pikir masyarakat sehingga membuat mereka merasa bahwa membuang sampah pada tempatnya adalah sebuah perbuatan terpuji. Membuang sampah di tempat sampah yang disediakan sungguh membantu kota dan negara untuk mengalami kemajuan.

Maka dari itu, pada tulisan ini saya ingin menyampaikan sebuah ide untuk menarik minat masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya.

Menurut teori psikolog B. F. Skinner, manusia akan lebih giat melakukan sesuatu jika diberi penghargaan. Menurut saya, pernyataan tersebut dapat dimanfaatkan untuk permasalahan ini. Seandainya setiap orang diberikan penghargaan setiap membuang sampah pada tempatnya, mungkin sampah yang berserakan tidak lagi menjadi masalah. Orang bahkan bisa berebutan untuk membereskan sampah untuk dibuang pada tempatnya.

Bagaimana seandainya ada sistem poin pada tiap tempat  pembuangan sampah?

Jadi setiap kali orang tersebut membuang sampah pada tempat yang telah disediakan, ia akan menempelkan kartu elektronik pada sebuah mesin. Mesin tersebut akan menambah poin pada si pemilik kartu sesuai dengan banyaknya sampah yang dibuangnya. Poin-poin hasil pembuangan sampah si orang tersebut akan diakumulasi dan dapat ditukar dengan hadiah-hadiah seperti diskon-diskon dalam berbelanja, atau hal-hal berguna seperti bahan pangan.

Kekurangan pada sistem tersebut memanglah teknologi yang harus diperbaharui dan biaya yang perlu dikeluarkan. Selain itu, sistem poin pada pembuangan sampah ini memang butuh proses panjang dalam hal sosialisasi maupun pelaksanaannya. Pastilah ada pro dan kontra. Ada dukungan, ada pula ketidaksetujuan. Walaupun begitu, tulisan ini adalah rangkuman dari gagasan dan pemikiran saya.

Bagaimana dengan kamu, apa solusimu untuk kebiasaan membuang sampah sembarangan di masyarakat Indonesia?

 

Monday, August 8, 2016

quote for today

so don't you worry, you pretty little mind
people throw rocks at things that shine

(taylor swift - Ours)

jangan lupa bahagia!

Monday, August 1, 2016

Dilema sharing is caring

Halo,


Diunduh dari link


Kita pasti pernah membantu dan dibantu, entah urusannya besar atau kecil. Membantu teman mengerjakan tugas, dibantu dicarikan gebetan buat dikecengin.. Pokoknya manusia itu mahluk sosial dan nggak bisa sendiri banget, deh. Kita (sebagai manusia) tentunya butuh diperhatikan dan memerhatikan. Dalam buku The Philosophy of Person: Solidarity and Cultural Creativity, disebutkan bahwa manusia dimengerti sebagai homo sociologicus; manusia melakukan aktivitas dengan mengharapkan future returns. Kita membantu dan kita berharap untuk dibantu.

 

"Eh, gue boleh minta kunci jawaban tugas kuliah nggak?"
"Coy, tolongin gue anter ke mall di daerah sebrang dong."

Sampai sejauh mana bantu-membantu itu dapat ditolerir? Ternyata eh ternyata, membantu bukanlah hal yang selalu mudah untuk dilakukan.

Jika kita membantu orang lain namun ternyata hal itu malah merugikan kita, tentunya hal itu sudah tidak wajar lagi. Apalagi jika upaya membantu kita merugikan orang-orang terdekat yang tadinya tidak ada kaitannya.

Contohnya, orang tua yang menjadi khawatir karena kita menjadi sibuk. Atau tugas-tugas kita yang menjadi terabaikan karena prioritas utama kita adalah orang lain. Aku sering banget dikasih tahu untuk tidak terlalu baik pada orang lain karena belum tentu orang tersebut mau berbuat hal yang sama sebaliknya. Wah, kita harus mikir-mikir dulu nih sebelum melakukan pengorbanan membantu orang lain.

Jadi, sebaiknya bagaimana ya?

Menurutku nih ya, kita harus pintar-pintar menetapkan batas. Sedari awal orang lain meminta kita membantu, kita harus udah netapin garis batas atau borderline-nya. Kalau ternyata orang lain itu kelewatan, kita harus belajar berani menolak.

"Sori, untuk kali ini gue nggak bisa bantu."

Jangan pelit untuk berbagi kebaikan, tapi ketahuilah sejauh mana batas yang wajar untuk ditetapkan. Kalau ragu, tanyakan dilemamu pada orang terdekat yang lebih berpengalaman dengan hidup ini. Jangan tidak membantu sama sekali juga, lho. Aku nggak bilang kalau kita lebih baik apatis dan nggak peduli pada orang lain yang meminta bantuan. Kalau nanti kita lagi kesusahan dan orang lain cuek pada kita, bagaimana?

You know what's best for you, so set your limits wisely.