Sunday, January 31, 2016

Dituntut dan menuntut

Hola!



Jangan cintai aku 
Apa adanya jangan 
 Tuntutlah sesuatu 
Biar kita jalan ke depan 

 (Tulus- Jangan cintai aku apa adanya)


Pernah dengar lagu ini?

Isinya tentang seseorang yang merasa tidak tenang, karena kurangnya tuntutan. Ya, aku akui selama ini aku benci tuntutan. Orang menuntut ini, menuntut itu. Guru yang menuntut performa, teman-teman yang menuntut popularitas, orang tua yang menuntut untuk berlaku sesuai aturan yang berlaku di keluarga besar, bahkan juga diriku sendiri yang menuntut untuk menuruti semua keinginan orang lain.

Sejauh ini, aku selalu kesal dengan tuntutan. Terkadang, aku merasa tuntutan-tuntutan tersebut membuatku tidak bebas menjadi diri sendiri. Pastinya, ada saja yang selalu salah. Mereka yang menuntut akan berusaha mengarahkanku kembali, sementara aku yang dituntut hanya bisa menggerutu dalam hati.



Namun, Tulus berpikiran lain. Penyanyi Indonesia yang sangat menginspirasi tersebut berkata bahwa ia tidak suka jika tidak dituntut. Beliau tidak suka jika tidak dimarahi kalau ia salah, dan ia tidak suka selalu dipuji karena ia tidak merasa selalu maksimal. Tulus berpikiran bahwa hidup tanpa tuntutan itu tidak indah. Lagipula, kalau tidak ada yang namanya tuntutan, kita akan terlalu terlena dan merasa segalanya terlalu mudah. Akhirnya malah kurang bersyukur, cepat puas, dan berhenti di tempat tanpa ada kelanjutan perjuangan. Setelah mencerna dan merenungkannya, mungkin ia benar.

Aku masih berusaha berdamai dengan tuntutan, namun setidaknya aku mau berusaha membuka hati. Untuk menerimanya, butuh usaha dan waktu. Pasti aku akan banyak menggerutu lagi seperti anak kecil yang teriak-teriak karena tidak diperbolehkan memakan permen kesukaannya. Atau, seperti anak anjing yang akan dipisahkan dengan sang induk.

Tapi, kita bisa berusaha untuk menerima tuntutan, demi kebaikan. Diri kita sendiri sepertinya secara tidak sadar dan tidak langsung sering menuntut juga agar kita tidak dikecewakan. Oh ya, menuntut dan dituntut ternyata tidak bisa dihindari. Mungkin menerima hal itu lebih benar dibandingkan dengan menolak dan menentang terus-terusan, menyebabkan kita marah-marah sendiri sampai cepat keriputan.

:P

waktu untuk benar

gambar itu menatapku, mengatakan bahwa ia sudah benar. tapi tetap saja aku merasa aneh. sepertinya, ada sesuatu yang janggal di sketsa diri seorang bapak tersebut. akhirnya, aku memutuskan untuk mengecek kesalahannya besok-besok saja saat aku sudah tidak lelah.

tulisan itu terlihat penuh, mengakui dirinya sebagai selesai dan tamat. tentu saja masih terdapat kesalahan-kesalahan ketik dan mungkin salah rangkaian kalimat. lagi-lagi, aku akan mengeceknya di lain waktu saat aku sedang bersemangat.

intinya, kita butuh waktu untuk mengoreksi dan mencari-cari kesalahan. kita juga butuh waktu untuk menjadikannya benar. luar biasa bukan, kesempatan yang disediakan oleh sang 'waktu'? hanya saja, kita perlu mengingatkan diri untuk tidak terlena dan memanfaatkan kebaikan waktu untuk berleha-leha terlalu banyak :)

Saturday, January 30, 2016

Tipe-tipe orang saat di photobox

Halo!



Jadi, beberapa kali aku jalan-jalan dan ngeceng di mal bersama teman-teman, aku mengambil foto di photobox dalam sebuah arkade game. Itu lho, yang mesin tempat kita bisa mem-print foto dengan latar belakang lucu sesuai keinginan. Bisa dikasih tulisan dan gambar tempel sesuka hati juga, pula. Eits, jangan salah mempersepsikannya sebagai kekanak-kanakan. Sebetulnya asik dan memberi suatu kesan loh! *sok tahu*

Setelah berkali-kali berfoto dalam photobox dengan orang-orang yang berbeda juga, kupikir tidak ada salahnya aku menganalisa bagaimana perbedaan orang-orang (termasuk diriku sendiri) saat berpose untuk photobox. Silahkan dinikmati dan dipikirkan versi masing-masingnya juga. :3

1. Tipe orang yang maunya foto kelihatan sampai bawah




Orang-orang semacam ini akan mundur ke belakang sejauh mungkin dari kamera dan tidak rela jika terlihat kebesaran mukanya. Ia akan merapihkan baju yang dipakai, kemudian mereka harus yakin bahwa mereka terlihat ekspresif melalui gestur tubuh. Ya, pose-pose yang dilakukan bukan hanya mencakup ekspresi wajah, namun juga tangan, posisi berdiri, tegap atau menunduknya. Sebetulnya, aku juga salah satu orang yang masuk ke dalam tipe ini.

2. Tipe orang yang maunya lebih menonjol di wajah




Tidak terlalu suka dengan cara berdiri yang entah mengapa terlihat kaku, beberapa orang akan maju mendekat ke kamera dan menonjolkan wajah. Tentu saja, rambut dan aksesoris rambut harus dirapihkan! Wajah harus jelas dalam menonjolkan ekspresi, dan kadang juga di bantu tangan untuk menambah keseruan foto tersebut.

3. Tipe orang yang awalnya malu-malu dan sampai akhir juga malu-malu



Banyak orang bingung harus bergaya apa, dan bisa canggung. Akhirnya, senyum tidak lepas dan tubuh tidak rileks. Biasanya, mereka senyum dan membentuk 'V' victory dengan kedua jari, namun enggan melakukan hal-hal aneh seperti membentuk heart dengan tangan atau mengedipkan mata. Pokoknya, cari aman saja dan yang standar-standar saja. Less is more. ;)

4. Tipe orang yang awalnya malu-malu namun tiba-tiba heboh sendiri di tengah proses cekrek foto




Aku terkadang juga masuk dalam golongan ini, nih. Pas awal bingung dan kekurangan inspirasi untuk bergaya. Namun, entah karena musik yang menyenangkan atau timer yang bikin panik, kita tiba-tiba bisa 'panas' sendiri dan melakukan hal-hal 'gila' seperti berpelukan atau membentuk gaya sok imut. Mungkin orang-orang ini diam-diam menghanyutkan.

5. Tipe orang yang panik dan bingung sendiri saat memilih latar belakang dan stiker.

Karena banyaknya pilihan yang lucu-lucu, akhirnya orang-orang tersebut nggak bisa mengambil pilihan. Ditambah dengan waktu yang berjalan terus dan dibatasi, mereka menjadi panik dan terus menekan-nekan pilihannya tanpa tujuan yang jelas. Tak jarang pula ada yang tidak bisa mengambil pilihan hingga waktu habis dan akhirnya hanya pasrah menerima yang dipilihkan sang mesin secara otomatis. :')

6. Tipe orang yang standar dan simpel sehingga nggak terlalu memusingkan latar belakang dan stiker

Menurut orang-orang seperti ini, berlebihan itu tidak baik. Mungkin saja latar belakang yang polos dan kalem menjadi pilihan mereka. Stiker-stiker seperti ekspresi binatang imut juga barangkali dihindari, mereka lebih memilih gambar-gambar seperti tulisan 'Friends' atau 'Happy Day'. Bahagia itu sederhana, dan memang betul sih.

----

Ada yang mau share pendapatnya di kolom komentar? :)

Sebetulnya, mesin foto instan ini merupakan salah satu cara untuk menikmati waktu dengan teman-teman tersebut. Keseruannya unik banget, deh. Hasilnya bisa dibagi-bagi dan dinikmati langsung, boleh di taruh di bawah bantal juga kalau mau. :")

Dengan adanya foto, kita bisa mengapresiasi kenangan. Menurutku, hal itu baik sekali selama tidak membuat kita terobsesi dan melupakan kehidupan nyata. Sibuk sendiri dengan foto dan jadi tidak ekspresif di kehidupan sebenarnya juga tidak baik, lho.

Nah, makanya. Buat yang lagi bad day, ayo ajak teman-temannya berfoto bareng dan kalau perlu di mesin photobox. Seru dan unik!

Have a nice day! ^_^

Friday, January 29, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB III~ Menikmati Dahulu

Sebuah gelas berisikan susu coklat hangat setia menemani aku dan Carlos selama berjam-jam. Kali ini, kami kembali nongkrong di ruang kosong di lantai dua. Jendela yang terbuka dan angin sepoi-sepoi yang mengaliri keseluruhan ruangan menjadi sebuah hal yang kami berdua nanti-nantikan. Aku tahu kakakku memang menyukai segala sesuatu yang simpel. Tidak perlu repot-repot membuat spageti dan kue-kue berwarna imut. Dua cangkir berisikan susu coklat yang dibeli di mini market pun sudah cukup menyenangkan.

Carlos terlihat lebih baik, walaupun sesekali masih ingin kabur. Ia memakai piyama baru dan bersih karena membuatnya merasa lebih baik. Laki-laki tersebut juga sering-sering keramas, memakai pewangi, dan melakukan hal-hal yang mampu menghilangkan, atau mengurangi, badai dalam pikirannya. Sesekali, ia mengamati ke jalanan di bawah melalui jalanan. Terkadang ia melakukannya sambil khawatir berat. “Mungkinkah pembunuh-pembunuh itu menyelinap masuk ke kamarku?”

“Tidak.” Aku tersenyum, berusaha mengurangi suramnya wajah. Tulang pipinya kini betul-betul terlihat, ia pasti sudah kehilangan banyak sekali kalori. Aku bersyukur dia belum pantang makan. Tentu saja, aku sebagai adik khawatir jika sakitnya malah merembet ke mana-mana. Piyama putihnya terasa wangi karena pelembut pakaian ku tambahkan saat di mesin cuci. Kurasa itu berefek baik dan membuat suasana Carlos menjadi lebih tenang. Aku, yang saat itu mengenakan kaos oblong berwarna hitam, menyeruput susu coklatku kembali sambil ikut melihat keluar. “Mereka tidak nyata, Kak Carlos.”

Aku tahu persis kakak yang berdiri di sebelahku itu tidak akan memercayainya. Namun, seperti yang kujanjikan pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah bosan mengingatkannya. Fokusku kembali terarah pada angin semilir yang memainkan rambutku dan Carlos. Kami seperti dua anak hilang yang berdiri di depan jendela tanpa harapan. Ruangan tersebut memang terlihat kosong, namun tidak halnya dengan kegundahan kami semua. Dinding putih susu yang seperti biasa mendominasi membuat segalanya menjadi buram. Tanganku bersender pada railing jendela melebar ke samping itu, memunculkan lebih banyak kepalaku ke luar. “Apa yang kamu pikirkan tidak benar, Los.”

Posisi kami yang berada di lantai membuat angin bermain lebih heboh dari di lantai bawah. Aku melihat ke bawah, melihat tetangga-tetangga yang beraktivitas. Seorang pria muda membawa motor sambil mengangkut galon air, sebuah truk kecil membawakan sofa mungil berwarna merah, dan ada pula seorang ibu tua yang berjalan-jalan dengan anjing berbulu empuknya. Mereka semua terlihat normal dan senang. Aku menghela napas. “Mengapa aku sering bingung ketika melihat orang lain selain kita sendiri, Los?”

“Aku juga merasa orang-orang tersebut memiliki dunia yang berbeda.” Carlos ikut mengamati lorong sempit yang sudah menjadi pemandangan rutin tiap kami keluar rumah selama tujuh tahun terakhir. Setiap harinya terlihat sama saja, tanpa adanya perbedaan yang berarti. Hal yang kusadari selama ini hanyalah perbaikan lampu yang kini semakin terang dan tiang-tiang listrik yang semakin bertambah. Carlos menunjuk pada beberapa anak yang tertawa bermain lempar bola. “Menurut kamu, anak-anak itu jarang sedih, ya?”

“Pasti enggak, Los.” Aku berujar, melihat betapa bahagianya mereka saat bermandikan keringat. Keduanya saling sahut-menyahut girang, membuat bola kecil berwarna merah itu tidak jelas arah lemparnya. Teriknya matahari siang itu tidak mengurangi semangat membara keduanya. Rambut yang sudah lepek dan basah keringat tersebut juga tidak dipedulikan sama sekali. Tanpa sadar, aku jadi memainkan jari-jemariku. “Setiap orang punya masalah masing-masing”.

Carlos mengangguk sambil tidak melepaskan pandangan dari bocah-bocah tetangga seberang itu. Jalanan tersebut tidak terlalu luas namun juga tidak sempit sehingga memungkinkan banyaknya kegiatan fisik. Terkadang, ada anak-anak perempuan yang bermain lompat tali dan lompat-lompatan sambil bernyanyi. Tak jarang juga anak-anak remaja yang asik naik sepeda sambil saling bercerita melewati gang ini. Untung saja lampu penerangan kini sudah di perbaiki dan meminimalisir bahaya yang bisa saja terjadi akibat kurang pekanya penglihatan. Bayangkan, bagaimana ceritanya jika ada yang cedera akibat ditabrak motor?

Banyak orang memanfaatkan jalanan beraspal baik untuk bersenang-senang. Anak-anak tersebut rutin bermain beberapa hari sekali, membuat aku kadang merasa iri. Mengapa aku tidak bisa sesenang mereka?

“Los, mungkin kita juga butuh bergerak seperti itu?” Aku tiba-tiba terpikir. Mataku mengerjap-ngerjap akibat sinar matahari yang tiba-tiba silau. Awan-awan yang tadinya menutupi perlahan mulai bergeser. Mereka kembali membiarkan kami merasakan teriknya panas. Aku menatap Carlos yang sepertinya mendapat pencerahan ambigu, badanku semakin berdekatan dengan sosok tingginya. “Siapa tahu kamu juga bisa merasa lebih baik?”

“Kelly, kalau aku keluar rumah aku akan dibunuh.” Carlos tetap kekeuh pada keyakinannya. Keringat yang sedari tadi belum muncul tiba-tiba saja mulai mengalir sedikit demi sedikit. Dahinya mengernyit, walaupun Carlos masih terlihat tenang. Ia membayangkan sesuatu kemudian bergidik ngeri. “Kamu mau hadir di pemakamanku secepat itu?”

“Apaan sih, Los!” Aku menonjok pelan lengannya yang mulai kekurangan lemak. Kurusnya terlihat semakin ekstrim dan mengerikan. Lama-lama, ia terlihat seperti versi lelaki dari nenek sihir cungkring dengan hidungnya yang mengerikan. Tulang-tulang Carlos terlihat makin menonjol dan memprihatinkan. Bisa-bisa orang mengira ia tidak pernah makan kenyang selama berbulan-bulan. Aku menatap dirinya khawatir. “Nggak boleh ngomong begitu, tahu. Kamu berimajinasi.”

Carlos mengangkat bahunya, tampak tidak peduli dengan apapun yang kukatakan lagi. Burung-burung berkicau di atap rumah sebelah malah ia cuekin. Padahal, hal tersebut indah dan menghibur untukku. Mereka selalu berhasil membuatku senang dengan kicauan-kicauan cerewetnya. Aku semakin gemas melihat Carlos yang merosotkan tubuhnya di dinding dan kini berjongkok di bawah jendela. Secara refleks, aku menyejajarkan pandanganku dengannya. “Kak Rina juga menyarankan kamu untuk sering bergerak kan?”

Tanpa memedulikan anggukan yang ia berikan, aku mengeluarkan ponsel jadulku ini dan mulai membuka daftar lagu. Isi musik di ponselku tersebut adalah semua yang kusukai dan sering kudengarkan. Kebanyakan berisi lagu pop, walaupun tetap terdapat segelintir lagu klasik yang terselip di antaranya. Aku men-scroll lagu dan menaikkan alis saat menemukan lagu beirama cepat. Aku berpikir sejenak mengenai emosi yang di kandung lagu tersebut. Sebuah senyuman kecil tersungging saat aku berhasil menyadari lagu tersebut berpesan positif dan semangat. Tangan kecilku menarik lengan kurus Carlos untuk berdiri dan mulai menyalakan lagu milik Adera, seorang musisi yang kukagumi.

Saat ku tenggelam dalam sendu
Waktu pun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu

Mata Carlos terlihat geli melihatku yang kini mulai menari-nari nggak jelas. Entah itu aerobik atau modern dance, aku tidak peduli lagi. Kepala yang mendongak dan menunduk, naik dan turun. Tanganku sesekali terbentang ke atas dan ke bawah, dan juga ke kiri dan kanan tanpa konsistensi yang jelas. Jujur saja, kegiatan random seperti ini membuatku senang. Sepertinya, hal ini juga akan berpengaruh untuk Carlos. Aku menyenggol pundaknya sambil terus melompat-lompat nggak jelas. “Baiklah kalau kamu nggak mau ke depan, tapi kamu harus mau gerak-gerak sama aku sekarang.”

Semakin ku lihat masa lalu
Semakin hati tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat kumelihat senyummu

Gigiku bermunculan dari senyum setelah Carlos mulai ikut memperlihatkan gerakan tarian robotnya. Baguslah, ia sudah mau mendengarkanku untuk hal ini. Ia melonjak-lonjak ke kanan dan ke kiri, laki-laki yang tadinya berpostur kekar tersebut sesekali berputar sembari melompat. Carlos melompat dan menginjak sekencang-kencangnya. Ia melampiaskan perasaan-perasaan buruk yang terus-menerus nemplok.

Dan kau hadir mengubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kaubawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
(Adera- Lebih Indah)

Kini, kami berdua seperti dua kambing liar yang lepas di kebun orang. Loncat sana, loncat sini, jinjit sana, tonjok udara ke kanan dan ke kiri. Menyenangkan sekali rasanya bisa menggila tanpa dikomentari orang-orang sok tahu. Aku benci dengan orang-orang yang gemar sekali membicarakan urusan orang lain yang nggak ada hubungannya dengan mereka. Semua fitnah menyebalkan, termasuk mengenai masalah Papa, membuatku muak dengan yang namanya manusia. Ah, senang sekali rasanya menjadi diri sendiri pada tempat-tempat sepi yang menyenangkan. Inilah aku dan duniaku.

**

Malam itu, aku sudah mandi dan berganti piyama. Carlos sudah kuantar ke kamarnya tadi dan ia pun berjanji akan segera tidur setelah ia merasa mengantuk. Setelah lelah berteriak dan melompat, sepertinya kemungkinan untuk tetap segar bugar semalaman cukup kecil. Aku pun sudah mulai menguap dan masih mengeringkan rambutku yang basah. Betul sekali, mencuci rambut dapat memberikan perasaan segar dan bersih yang sangat menyenangkan. Aku tengah menyisir rambut hitam sebahuku ketika ponselku bergetar pelan. Tanpa basa-basi, aku langsung meraih dan tersenyum melihat nama pengirim pesan itu. Gino.

From: Gino
Halo Kel. Lagi main biola?

Aku tertawa kecil, kemudian merebahkan diriku di atas ranjang yang didominasi warna merah muda tersebut. Tanganku gencar sekali mengetik untuk membalas pesan singkatnya, sampai banyak salah ketik segala. Merepotkan sekali ketika jariku kembali harus menghapus dan mengetik ulang, apalagi ketika layar proses ponselku cukup lamban. Cukup menguji kesabaran, namun tidak apa-apa karena kali ini Gino yang menghubungi.

To: Gino
Nggak, nih. Kemarin udah puas main di sekolah pas ketemu kamu.

Bayanganku sudah kemana-mana setelah pesan tersebut terkirim. Aku membayangkan Gino yang memakai jas hitam dengan pita merah, aku membayangkan kacamatanya yang dilepas, dan aku membayangkan sosoknya yang tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

Astaga, berhentilah berpikir yang tidak-tidak.

Aku selalu  mengingat pesan Mama untuk nggak mengharapkan yang aneh-aneh. Mencegah sakit hati lebih baik dari pada mengobati, begitulah pendapatnya. Mungkin benar juga, namun kali ini aku betul-betul tidak bisa mengontrol diri. Kacamata ber-frame hitam terus -muncul pada saat-saat aneh. Misal, saat aku sedang di kamar mandi dan mengguyur rambutku itu.

From: Gino
Oh, gitu. Hehe. Lo udah belajar buat ulangan hari Senin? Masih tiga hari lagi sih, tapi siapa tahu lo rajin belajar dari hari Jumat begini. J

Alisku naik geli saat aku membaca pesan tersebut. Diriku yang berotak lemot ini sudah pasrah dan sedikit tidak peduli dengan yang namanya ulangan. Seberapapun aku berusaha, nilaiku ya begitu-begitu saja. Tanpa kemajuan yang baik. Kalaupun ada perubahan, hal yang terjadi adalah penurunan nilai yang ekstrim. Mereka barangkali ingin terjun bebas dan mempermainkanku.

To: Gino
Belum, Gin. Lagipula aku sudah lumayan nyerah, aku nggak jago belajar dan nilaiku jelek mulu.

Aku mendesah mengingat guru-guru dan teman-teman menyebalkan. Sebetulnya, ini salahku sendiri yang nggak berani meminta bantuan. Mentalku memang payah dan gampang ciut, tidak berbeda jauh dari keong yang akan langsung bersembunyi dalam cangkangnya. Sejauh ini, aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Terkadang, aku memang sudah kesal dan gemas dengan diriku. Tapi memikirkan ledekan dan omelan yang bisa jadi terjadi, aku lebih memilih untuk cari aman. Lagi-lagi, Gino memecahkan lamunanku dengan pesan singkatnya.

From: Gino
Gue juga nggak terlalu bisa belajar. Gimana kalau kita coba belajar bareng dan siapa tahu saling membantu?

Tanpa direncanakan, aku jadi membantingkan sosok dudukku di ranjang malang yang bagaikan trampolin pelampiasan. Aku tidak berpikir panjang saat aku mengetik ‘tentu saja’ dan langsung mengirimkannya. Sepertinya, hari-hariku akan sedikit membaik. Aku merasa senang mengetahui ada yang kunantikan di sekolah yang selalu kupersepsikan sebagai menjemukkan. Ternyata, perubahan dapat terjadi pada saat-saat yang tidak terduga. Walaupun aku belum mengetahui baik atau buruknya hal ini, setidaknya aku bisa menikmatinya terlebih dahulu.





Thursday, January 28, 2016

Berlari dalam Harmoni- BAB II~ Entah

Ruangan tersebut berwangi harum. Kenyamanan ditambah pula dengan pendingin ruangan yang segar. Aku melihat beberapa gambar di tembok, kelihatannya di hasilkan oleh anak-anak. Ada yang menggambar binatang seperti ikan hiu, ada yang menggambar putri bergaun indah, dan ada pula yang menggambar bentuk-bentuk dengan wajahnya. Di sebelahku terdapat kursi-kursi berwarna hijau muda, sementara di sisi yang satu lagi terdapat karpet halus tempat para anak bermain dengan senang. Di depanku kini terdapat dua orang berseragam hijau, keduanya tersenyum ramah. Wanita di sebelah kiri terlihat ramah dengan rambut yang di kuncir kuda. “Selamat datang di Klinik Kupu-Kupu!”

Aku, Mama, dan Carlos mengangguk. Carlos terlihat murung namun ia untungnya masih bisa tersenyum. Saat itu, ruangan cukup ramai. Aku dan Mama duduk di barisan kursi tunggu, sementara Carlos memilih mondar-mandir mengamati semua pajangan di tembok klinik praktik psikolog tersebut. Untuk sesaat, Carlos terlihat senang. “Betapa asyiknya, gambar-gambar ini.”

Aku bisa melihat ruangan-ruangan di lorong yang lebih dalam lagi. Tempat tersebut ditujukan untuk konseling dan keperluan-keperluan klinik lainnya. Suasana di lorong tersebut agak gelap, namun sama sekali tidak menyeramkan. Mungkin karena warna dindingnya yang warna-warni bagaikan pelangi. Carlos pun akhirnya duduk kembali, dan aku memilih duduk di sebelah laki-laki tersebut. Aku berdecak kagum dengan hal-hal baru yang kuketahui.  “Jadi ini toh, yang namanya tempat psikolog.”

Derit pintu terdengar terbuka perlahan, diiringi oleh tawa teduh seseorang. Ia muncul dari kegelapan lorong tersebut bersama seorang bocah laki-laki, kulihat mereka bergandengan tangan. Sang bocah menyunggingkan tawa lebar dan memperlihatkan gigi ompongnya sambil membawa beberapa lembar stiker robot-robotan. Wanita cantik yang membimbingnya keluar mengusap rambutnya lembut, ia berjongkok menyamakan pandangan mata keduanya. “Tio, jangan lupa lakukan apa yang Kak Rina kasih tahu ya, tadi.”

“Siap, Kak! Tio bakal berusaha!” ujar anak tersebut sambil mengangkat stikernya bangga, kemudian melambai-lambaikannya kepada ibundanya yang sedari tadi duduk di sebelah mamaku. Anak yang bernama Tio tersebut berlari ke mamanya, kemudian bercerita antusias. “Ma, Kak Rina bilang kalau Tio berhasil nggak marah sama adik Tio lagi, Tio bakal dapat stiker lagi dan Tio bakal jadi anak baik.”

“Wah, bagus tuh.” Mama dari Tio tersenyum sambil menghampiri Kak Rina, sang psikolog cantik berkemeja abu-abu dengan rambut bergelombang nan indah. Keduanya berjabat tangan dan saling memberi tepukan erat di pundak. Kak Rina memberi elusan hangat di punggung mamanya Tio. “Semangat ya, Bunda!”

Tio dan mamanya keluar dari pintu dorong transparan tersebut, dan anak itu sama sekali tidak berhenti mengoceh tentang stiker.  Keduanya masih asyik bercengkrama hingga masuk mobil dan menghilang dari pandanganku. Aku tersentuh melihat anak tersebut senang. Terkadang, aku iri juga dengan anak kecil yang tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal nggak penting. Kak Rina mendekati Mama dan Carlos, ia pun menunduk agar tidak lebih tinggi dari orang-orang di bangku tunggu tersebut. “Carlos, kita masuk ruangan, yuk!”

Carlos tampak malu-malu, namun akhirnya menuruti instruksi perempuan anggun nan lembut itu. Keduanya berjalan perlahan sembari mencari ruangan konseling di lorong tersebut. Ah, mereka masuk di ruangan kedua. Kak Rina tertawa, berusaha menciptakan suasana yang menyenangkan. Ternyata, aku menjadi kagum dengan Kak Rina. Ia pasti dulu kuliah psikologi, dan ternyata setelah bekerja pekerjaan ini keren juga. Aku jadi memiliki sedikit keinginan ke sana, walaupun tentu saja belum jelas. Ini sudah awal kelas dua belas, namun aku masih belum memiliki arah yang jelas tentang masa depanku. Biarkanlah waktu yang menjawabnya pada saat yang tepat.

**

Aku mendesah pasrah melihat kertas ujian yang kuambil. 50. Ini sangat mengganggu pagi hariku yang cerah ini, walaupun biasanya sekolah memang tidak pernah menyenangkan. Sepertinya, aku sudah jenuh. Nilai kimiaku jeblok lagi. Aku khawatir aku tidak bisa lulus, atau lebih parahnya lagi, harus mengulang keseluruhan kelas dua belas ini. Duh, amit-amit deh.

Sebetulnya, aku memang sudah menjadi pelanggan setia nilai jeblok dan pas-pasan di sekolah ini. Aku memang jurusan IPA, namun jangan mengharapkan otak encer ala profesor penemu mesin waktu. Kepintaranku pas-pasan, dan aku rajin pun percuma. Menurutku, terlalu berusaha memuaskan diri sendiri hanyalah buang-buang waktu dan menambah beban hidup.

Saat ini, kelas cukup ribut karena guru yang akan mengajar kami sedang ada keperluan dengan kepala sekolah. Bapak berusia 40 itu telah membagikan kertas ujian, dan sepertinya tidak akan kembali ke kelas setelah dipanggil kepala sekolah 20 menit yang lalu. Kini, sisa waktu pelajaran tinggal 15 menit. Baguslah, aku memang sedang tidak ingin berurusan dengan senyawa-senyawa yang entah dari mana asal-usulnya tersebut. Aku tahu aku memang sudah tidak suka dengan kimia dari awal, dan aku jauh lebih menyukai fisika dan matematika yang menurutku lebih rasional. Masih bisa dicari asal-usulnya, dan tentu masih bisa diturun-turunkan lagi persamaan-persamaannya. Namun intinya, nilaiku pas-pasan dan jeblok. Sesuka-sukanya aku sama mata pelajaran di sekolah, aku tetaplah Kelly si nilai pas-pasan yang dicuekin sekelas dan guru akibat perbuatan Papa yang menjadi buah bibir satu sekolahan.

Kadang, aku juga menyalahkan jabatan Papa atas ketidaknyamanan yang menimpa diriku. Sebetulnya, posisinya sebagai menteri ekonomi membuatku dan semuanya bangga. Beliau tegas, disiplin, dan sangat ulet. Aku kagum dengan Papa yang tidak pernah melalaikan tanggung jawab. Namun, tidak sedikit orang yang ingin menjatuhkan pria berusia lima puluh enam tersebut. Memang, yang namanya manusia pasti selalu ada saja yang jahat. Ketika Papa sebetulnya berniat membantu dengan berdonasi untuk sekolah yang sedang bermasalah finansial, ia malah terkena kasus-kasus tidak menyenangkan lainnya. Habislah beliau menjadi bahan gosip, dan nasib yang sama juga di alami putra-putrinya. Aku dan Carlos. Memang, beberapa tahun sudah berlalu semenjak gosip itu. Namun, kerisihan yang kurasakan tidak pernah hilang hingga sekarang.

Ah, semua pemikiran ini membuatku semakin pusing. Ini jugalah yang menyebabkan aku tidak berani bercerita ke Papa dan Mama mengenai nilai-nilaiku. Mereka sudah cukup pusing dengan masalah mereka sendiri, dan juga masalah Carlos. Untuk kali ini, aku harus belajar membela diriku sendiri. Saat-saat waktu bebas tanpa guru seperti ini, aku selalu berusaha membaca dan memahami buku teks yang tersedia untuk setiap pelajarannya. Namun, lagi-lagi aku sudah penat. Pak guru juga sudah tidak kembali lagi, mengingat sisa pelajaran hanya 10 menit dan kemudian di lanjutkan dengan istirahat. Biasanya, waktu istirahat juga kumanfaatkan dengan membaca buku demi adanya suatu perubahan. Ya sudah, aku lebih baik berjalan-jalan dan menyegarkan kepalaku dulu.

Aku menengok ke kiri dan kanan. Kelasku berada di lantai dua gedung besar berwarna biru muda ini, dan aku bisa melihat lantai-lantai di bawahku melalui titik kosong di tengah. Gang-gang menuju ruangan kelas berpola konsisten. Gedung tersebut luas dan memiliki empat arah tangga, memudahkan siswa-siswi dan guru-guru mengakses ruangan kelas. Sejujurnya, aku belum pernah kabur dari kelas begini.

Sebuah ruangan penuh stiker menarik perhatianku saat aku melewatinya. Aku menggenggam daun pintu dan menekannya turun, membuatku sadar bahwa itu tidak di kunci. Pemandangan di dalam membuat terenyuh sejenak. Sebuah ruangan dingin penuh dengan alat musik, dan saat ini sedang kosong tanpa orang.

Tidak tahu hal apa yang mendorongku, namun aku melangkah masuk. Lantai yang mulai dilapisi karpet membuatku refleks melepaskan sepatu hitam. Aku duduk di sebuah bangku, dan mendapati sebuah biola kecil terletak tak jauh dariku. Nekad dan tidak memikirkan apa-apa, aku mengambilnya. Aku berdiri kembali, menatap sosokku yang mengenakan seragam abu-abu dengan rok selutut. Oke, aku masih berada di sekolah namun aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk bermain.

Just a small town girl
Living in a lonely world
She took the midnight train going anywhere

Aku pun mengingat not-not lagu yang pernah kumainkan sebelumnya. Untuk itulah aku selalu membeli buku lagu setiap ke toko buku, walaupun Carlos lebih suka membaca komik dan mengatakan aku ‘kerajinan’.  Lagu-lagu tersebut menyenangkan untuk dipelajari dan dicoba. Anehnya, aku sangat mudah untuk menghafalnya di luar kepala. Seolah-olah, tanganku sendiri yang merekamnya masuk dalam memori. Tentu saja, otakku menikmati harmoni yang tercipta indah dari gesekan-gesekan bow-ku.

Just a city boy
Born and raised in South Detroit
He took the midnight train going anywhere

Sebuah suara nge-bass tiba-tiba terdengar menggema di keseluruhan ruangan. Aku langsung menoleh kaget, mendapati sosok tinggi di pintu. Ia celingak-celinguk dan menghampiriku dengan baju seragam yang dikeluarkan. Laki-laki berambut cepak tersebut tersenyum dan mengangguk padaku. “Lanjutkan saja main biolanya.”

Aku yang masih melongo belum bisa mengembalikan akal sehatku. Tampang bodohku ini disadari oleh cowok tersebut, membuatnya menyenggol lembut lenganku. Ia nyengir nakal, dan ia sangat manis di balik kacamata ber-frame hitamnya tersebut. Ia pun mengulurkan tangan besar dan hangatnya menuju ke arahku. “Gue Gino, gue lagi bolos kelas si guru killer. Oh iya, lo anak IPA ya? Gue kelas dua belas juga, tapi jurusan sosial.”

Aku tersipu malu karena belum pernah ada yang seramah ini dengan ku sebelumnya. Biasanya, yang orang lakukan adalah mencuekin atau menatap sinis. Pilihannya hanya dua itu, tidak ada alternatif lain seperti mengajakku berbincang ringan. Gino, menatapku dari rambut hingga kaki, kemudian mengedipkan mata usil. “Lo lagi bolos juga, ya?”

“Mungkin bisa dikatakan seperti itu.” Ujarku pelan sambil tersenyum tertahan. Sepertinya pipiku sudah sedikit merona karena aku langsung merasa panas sekujur tubuh. Pesona cowok berkacamata dengan gaya cuek itu sungguh kuat, seperti magnet. Bibirku mulai menampilkan senyum tulus tanpa paksaan. “Namaku Kelly. Kelas dua belas, IPA.”

“Nah, Kelly.” Ujar Gino sembari duduk di kursi keyboard tak jauh dari tempatku berdiri. Cowok tinggi tersebut mulai sibuk memencet-mencet tombol hingga layar menyala terang, menandakan alat musik tersebut sudah nyala dan siap dimainkan. “Berhubung kita sedang sama-sama bolos disini, kita main bareng yuk.”

Don’t stop believing
Hold on to the feeling
Streetlights people
(Journey- Don’t stop believing)

Rasanya luar biasa mendapati seseorang yang memiliki kesamaan hobi denganku. Lebih parahnya lagi, ia langsung membuatku nyaman pada pertemuan pertama. Aku menatapnya yang sedang fokus pada tuts-tuts keyboard. Gino terlihat bahagia. Pasti ia memiliki sesuatu di balik seragam berantakannya tersebut, dan entah mengapa aku mulai memikirkan hal itu. Entah aku akan berbicara lagi atau tidak dengannya, namun aku tak bisa menyangkal bahwa aku mungkin akan terus membayangkan senyumnya tersebut. Seiring dengan bel istirahat yang berbunyi nyaring, aku pun nekad menghampiri dan menatap kedua mata tajamnya. “Gino, aku boleh minta nomor ponselmu?”


Berlari dalam Harmoni- BAB I~ Harus Mencobanya

Hari itu cuaca cukup cerah, matahari bersinar terik seperti biasanya. Burung-burung tetap berkicau dan menyanyikan senandung-senandung bahagia. Anjing-anjing di depan rumah tetap menggonggong dan meminta belaian kepada majikannya seperti biasa. Sayangnya, semua hal-hal kecil yang sempurna tersebut belum dapat mengubah keadaan Carlos.

“Carlos?” ujarku memanggilnya yang lagi-lagi termenung, duduk di ranjang dengan pandangan kosong. Sungguh, aku khawatir padanya. “Kakak mau makan apa?”


Carlos menatapku dengan pandangan ambigu, entah ia sedang memikirkan apa. Wajahnya semakin hari menjadi semakin pucat, tubuhnya pun menjadi semakin kurus. Aku menduga ia kurang tidur karena kantung mata yang semakin bengkak dan menghitam. Carlos menoleh kea rah luar, mengernyitkan dahi lapangnya. “Mereka masih belum mau pergi.”

Aku memutuskan duduk di samping Carlos, yang tampak kusut dengan piyama berwarna merahnya. Saat ini jam sebelas, namun Carlos membingungkanku karena belum mandi dan belum sarapan. Ia hanya menatap keluar jendela dengan kegelisahan yang susah kuceritakan. Laki-laki tersebut mengusap kedua pipinya, berharap hal tersebut menjadikannya merasa lebih baik. “Orang-orang itu masih bilang mereka akan membunuhku kalau aku keluar rumah, Kelly.”

Ranjangnya pun terlihat berantakan, dengan selimut yang sudah tidak jelas lipatannya. Sepertinya, kasur tersebut sempat menjadi pelampiasan amukan Carlos. Aku semakin sedih melihat Carlos yang tak menentu namun tetap harus pergi kuliah, nanti sore. Kamarnya yang bernuansa pop dengan warna-warna ngejrengnya menjadi tidak cocok sama sekali dengan keadaan calon sarjana teknik sipil tersebut sekarang. Boneka beruang yang tadinya terduduk tegap di meja sebelah menjadi rusak akibat digepeng-gepengkan. Kini, Carlos menatapku yang sedari tadi memang tidak tahu harus merespon apa. “Kelly, kalau aku dibunuh mereka, aku bakal dikubur dimana?”

Percakapan ini menjadi semakin parah. Aku pun mengeluarkan roti instan yang memang sedari tadi aku bawa dalam sebuah kantong plastik putih, menaruhnya di atas ranjang bernuansa biru tua kakakku tersebut. Tak lupa, aku mengeluarkan botol air mineral dari kantong kain yang kubawa di tangan satu lagi. Sosokku duduk mendekati Carlos yang semakin panik melihat ke luar jendela. “Carlos, kamu terlalu banyak berpikir. Ayo makan dulu, orang-orang yang kau bicarakan itu tidak ada.”

“Kelly, jelas-jelas mereka bilang mereka lagi bawa pistol! Orang-orang itu sudah sangat siap untuk membunuhku!” Carlos mulai berteriak sengit sambil melingkupi kepalanya dengan kedua lengan kekarnya. Matanya tampak berkaca-kaca, ia sudah lelah dengan semua ini. Laki-laki tersebut tiba-tiba memasukkan dirinya dalam selimut, menjadikannya seperti lapisan kebab. “Alasan mereka nggak bunuh aku hanya karena kasihan pada Mama dan Papa!”

“Itu nggak benar.” Aku mengelus buntalan dalam selimut tersebut, walau tidak yakin apa yang aku lakukan ini benar. Carlos bergetar hebat, aku bisa mendengar jelas napasnya yang memburu. Badannya bergoyang-goyang naik dan turun tanpa irama yang jelas. Aku menempelkan sosokku pada selimut tersebut, diriku sangat ingin membuatnya merasa lebih baik. “Kamu lagi berhalusinasi, Carlos. Aku akan terus mengingatkankanmu, dan aku akan terus mendengarkanmu.”

“Kelly.” Carlos tiba-tiba memunculkan wajahnya dari balik selimut. Wajahnya merah dan penuh kerutan. Aku pun baru menyadari ia yang tambah kurus ekstrim dari tulang pipi yang semakin menonjol. Keadaan kakakku tersebut memprihatinkan, namun aku masih belum yakin tentang apa yang kulakukan. “Menurutmu, aku gila kalau aku nggak percaya sedikitpun padamu?”

“Nggak Carlos, kamu hanya butuh waktu untuk membuat dirimu sendiri senang.” Ujarku sambil mengusap punggungnya yang masih bersembunyi di balik selimut. Sosok yang dulu lebih besar dariku tersebut terlihat sangat lemas. Siapapun pasti akan sedih kalau diberitahu keadaan before dan after Carlos. “Kamu hanya sakit hati, dan pasti butuh waktu untuk membantumu mengampuni.”

“Aku bahkan udah nggak bisa mengampuni diriku sendiri, Kel.” Carlos berujar sambil kembali memasukkan kepalanya ke bawah selimut. Mungkin saja, ia berharap ia tidak perlu keluar lagi dari persembunyiannya selamanya. Seandainya saja bisa. Carlos mendesah berat, meluapkan sedikit dari rasa frustasinya. “Kel, aku udah bikin Papa dan Mama nangis melulu kan?”

Papa dan Mama memang sedih akibat keadaan Carlos yang semakin mengkhawatirkan. Di saat yang sama, mereka tidak punya pilihan lain selain mendorongnya tetap kuliah ke kampus. Aku tahu mereka stres. Tapi, aku tahu juga mereka merasakannya karena sayang sama Carlos. Orang tuaku mengasihi Carlos Hutama, putra pertama mereka. Tak jarang, aku melihat Mama dan Papa menitikkan air mata setelah berhadapan dengan Carlos. Kini, aku memeluk buntalan tubuh Carlos tersebut, berusaha menambah kehangatan selimut yang mungkin selalu kurang. “Jangan mikir yang aneh-aneh, Carlos. Mereka sayang sama kamu.”

Melihat kondisi kakakku, aku terenyuh dan sesuatu menguatkanku untuk mulai melangkah ke kamar sebelah. Aku memaksakan diri untuk langkah pertama dan kemudian kaki berjalan begitu saja. Menuju ruangan kosong di lantai dua rumahku, mengambil sebuah alat musik yang entah kenapa membuatku merasa kuat. Aku kembali menuju Carlos dengan membawa task eras besar berwarna biru tua. Tanpa banyak berkata-kata, aku mengeluarkan biola 4/4 dan bow yang sudah tua milikku.

Carlos mendengar suara tersebut dan menaruh selimut tebalnya sedikit demi sedikit. Kakakku, yang memang tidak pernah aku panggil ‘kak’, muncul dan melongokkan kepala. Mata kosongnya kini terlihat lebih bernyawa dari sebelumnya. Ia terlihat lebih ‘manusia’. Aku tersenyum dan kembali memetik-metik senar dengan jariku. Aku mengecek semuanya, senar E, senar A, senar D, dan senar G. Oke, semuanya cukup baik dan tidak fales. Sangat memungkinkanku untuk memainkan sebuah lagu dengan lancar.

I can hold my breathe


I can bite my tongue


I can stay awake for days


If that’s what you want


Tanganku mengayunkan nada-nada tersebut. Lenganku bergerak dengan kekuatan besar dan kecil, aku sungguh terbawa masuk dalam suasana seperti ini. Mendadak, aku lupa waktu dan tempat. Aku tidak memikirkan aku sedang berada di mana, sedang sama siapa, dan apa yang tengah kuhadapi. Aneh, aku menganggap sebuah harmoni bagaikan sihir yang luar biasa indah.

I can fake a smile


I can force a laugh


I can dance and play the part


If that’s what you ask


Be your number one

Ya, mendadak waktu terasa berhenti. Atau, waktu terasa melompat pergi dan kita sedang berada dalam kehidupan berbeda. Kemudian, perasaan senang yang aneh muncul berdesir-desir dalam hatiku. Aku menikmati segalanya. Jari-jari lentikku sangat menikmati sensasinya, pikiranku yang mudah sekali kacau selalu menantikan momen-momen seperti ini. Lenganku rileks, seolah amarah dapat dilampiaskan dengan begitu. Cukup begitu saja.

I can do it.

Suara lembut Carlos tiba-tiba terdengar, mengikuti nada gesekan senar yang kumainkan. Ia memang masih bersembunyi di bawah selimut, namun aku tahu ia sudah tidak setakut tadi. Badannya tampak lebih tenang dan sudah tidak bergetar hebat, Carlos sudah lebih tahu cara mengatur napasnya. Lagi-lagi, ia keluar sedikit demi sedikit dari selimut bermotif pahlawan super itu. Walaupun masih kaku, ia mulai menyunggingkan sebuah senyum kecil.

But I’m only human


And I bleed when I fall down


(Christina Perri- Human)

Tanpa perlu di atur-atur seperti guru yang mengarahkan kelas anak-anak ribut, kami berdua menikmati lagu pop yang berpesan kuat itu. Apalagi, diiringi dengan biola yang sudah menemaniku sejak kegiatan ekstrakulikuler di SMP. Hatiku sudah jatuh kepada benda tersebut. Aku tersenyum melihat Carlos yang sudah bisa mengendalikan dirinya. Ia pun berdiri dan membereskan tas dan buku-buku tebalnya. Ia mengelus kepalanya yang malang dan berjongkok meraih kertas-kertas di bawah meja. “Aku tetap harus kuliah walaupun ada pembunuh-pembunuh itu.”

Aku menemani Carlos turun ke lantai bawah, mendapati Mama yang sedang melihat-lihat brosur. Secara mencurigakan, ia langsung menutup selebaran-selebaran tersebut. Wanita berambut pendek yang masih anggun di usia kepala lima itu tersenyum khawatir melihat kami. Carlos sudah berganti baju dengan kaos berkeras berwarna abu-abu muda, sementara aku yang memang tidak masuk sekolah memakai kaos oblong seperti biasanya aku di rumah. Guru-guru sedang rapat evaluasi sehingga meniadakan kegiatan belajar-mengajar. Tak heran, banyak sorakan yang terdengar dari pelajar-pelajar yang sudah penat bersekolah. Carlos menoleh pada Mama yang sedikit tersenyum padanya, ia mendekati ibunya tersebut dan mengangguk. “Aku pergi kuliah dulu, Ma.”

“Hati-hati, Carlos.” Mama tersenyum perih setelah Carlos membalikkan punggungnya dan meraih motor sporty andalannya tiap hari. Motor memang lebih efisien menghadang macet yang nggak pernah bosan hadir tiap harinya. Apalagi, saat ini sudah siang dan pastinya makin macet. Aku melambaikan tanganku pada kakakku tersebut yang sudah tidak segontai tadi. Carlos pergi, meninggalkan aku dan Mama yang saling lihat-lihatan. “Kel,” Mama mulai berujar khawatir. “Carlos bagaimana keadaannya?”

“Ia masih menganggap ada orang-orang yang selalu membuntuti dan mau membunuhnya, Ma.” Aku berkata lirih, tidak ingin menambah perasaan buruk Mama dan Papa. Mereka berdua yang biasanya tenang dalam menghadapi masalah kini bagaikan anak ayam kehilangan induk. Blank, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Namun tadi kami bermain musik dan kelihatannya ia lebih tenang.”

“Kau tahu, Kel.” Mama berkata sambil membuka kembali brosur-brosur yang sudah bejibun banyaknya. Tulisannya besar-besar, dan semuanya berisikan kantor-kantor psikolog. Kertas-kertas berwarna-warni itu sudah tidak disusun secara beraturan. “Mama dan Papa udah nyari ke banyak sumber untuk memperbaiki hal ini.”

Aku mengangguk mengerti, duduk bersebelahan dengan Mama di meja makan tersebut dan mulai membolak-balik kertas-kertas selebaran itu. Psikolog, psikiater, dan ada brosur dukun penyembuhan pula. Semuanya tidak memiliki banyak gambar. Salah satu brosur berwarna hijau menarik perhatianku. Kemungkinan karena cara penyampaian pesan dan gambar-gambar yang eye-catching. Lagipula, sepertinya aku pernah mendengar tentang Klinik Kupu-Kupu yang dipromosikan kertas tersebut. Aku mendengar dari banyak orang kalau beberapa psikolog yang berpraktek disitu sangat oke dan profesional. “Ma, bagaimana kalau kita coba ajak Carlos berkonsultasi di klinik kupu-kupu? Disitu ada psikolog bernama Rina yang udah sering sekali masuk majalah, sepertinya boleh dicoba.”

Mama tertegun untuk sejenak. Kedua mata yang tak pernah loyo tersebut terlihat berpikir keras, ia menaruh kedua tangannya untuk menopang dagu. Saat itu, ia terlihat energik dengan baju berlengan pendek trendi berwarna ungu. Satu hal yang pasti, kita nggak bisa mengasumsi keadaan orang tersebut dari tampak luar karena banyak orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Mama tiba-tiba tersentak dan mengambil ponsel dari tas kecil berwarna silvernya. Tanpa perlu waktu lama, ia sudah sibuk mengetik-ngetik. Mama mengangguk mantap melihatku, ia menyambungkan panggilan telepon dan menunggu seseorang di ujung lainnya menjawab teleponnya. “Ya, kita harus mencobanya.”

Aku menunduk, cemas dengan dengan benar-atau-tidaknya tindakan ini. Namun, kita tidak akan tahu jika kita tidak mencoba. Resiko tidak besar, jadi mungkin saja jalan tersebut memang harus di ambil. Carlos butuh pertolongan, dan kami harus memberikannya hal tersebut. Semoga semua jalan keluar segera ditunjukkan pada keluarga kami.






Wednesday, January 27, 2016

Berlari dalam Harmoni- PROLOG

Aku memejamkan mata dan menikmati kata demi kata yang muncul dalam benakku.

You’re not alone
Together we stand
I’ll be by your side
You know I’ll take your hand

Tanganku mengayun keras seolah letusan lava vulkanik pun tak akan bisa mencegahnya bercerita. Mungkin saja, aku tetap tidak akan berhenti sekalipun terjadi gempa bumi. Sore itu, aku memberikan perhatianku seutuhnya pada lonjakan-lonjakan pada kekuatan lenganku. Naik dan turun, aku mengungkapkannya lewat dorongan dan tarikan.

And it feels like the end
There’s no place to go
You know I won’t give in
No, I won’t give in

Senar demi senar yang berbunyi memberikanku sebuah kedamaian. Mulutku diam, namun hatiku tidak. Nada-nada yang dihasilkan oleh gesekanku membiarkan otakku bergumam dan asyik sendiri. Ia sibuk mencerna kata demi kata dari lirik lagu tersebut, bagian dari kepalaku itu bergumul sendiri tanpa takut.

Aku menaruh alat gesek bernama bow itu disamping sosokku yang kini berjongkok, menikmati suasana teduh di ruangan kosong tersebut. Diriku juga membiarkan dinding-dinding putih susu memuaskan penglihatanku, dan ternyata menerawang di hadapan tembok cukup seru juga. Biarkan biola ini menenangkanku dari gundah gulana yang melanda. Seorang gadis SMA harus bisa tampil oke dan ceria, bukan?

Setiap aku bertanya, teman-teman di kelas akan bilang aku Kelly. Ada yang bilang, ‘Kelly yang anak pejabat itu?’ dan ada juga yang akan berkata, ‘Kelly itu anak yang aneh itu, kan?’. Kalau guru-guruku, jangan harap mereka mau berkomentar tentang sesosok Kelly yang tidak pernah diajak berbicara di kelas. Aku tahu ini bukan salah Papa yang menjadi sosok penting di sekolah akibat donasinya, ini hanya diriku yang tidak bisa menyesuaikan diri.

Akibat anggapan-anggapan yang seolah nggak berhenti berputar bagaikan siklus pembentukan hujan, aku mulai lelah. Kemungkinan orang untuk berhenti menjadi menyebalkan itu sekecil kemungkinan bertemunya pangeran luar angkasa dengan putri duyung di dasar samudera. Ya sudah lah, kita memang tidak bisa mengubah orang. Namun, aku harus ingat pesan Mama untukku. Seorang Kelly tidak boleh nyerah, seorang Kelly adalah prajurit tangguh. Itu juga doa Mama dan Papa saat memberikanku nama ini, mereka mengharapkan seorang perempuan setangguh prajurit.

Guru-guru risih denganku  sehingga tidak memungkinkan diriku meminta bantuan di kala tidak mengerti pelajaran fisika, kimia, biologi, dan sebetulnya semua pelajaran. Mungkin, mereka yang tidak suka padaku hanyalah perasaanku semata. Intinya, aku sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertanya saat aku merasa tidak jelas dan tidak cukup pintar untuk mengikuti penjelasan yang beliau-beliau ajarkan di kelas. Kalau aku cerita seperti ini ke sanak saudaraku, mereka pasti akan menertawakanku sebagai anak-sudah-kelas-duabelas-namun-masih-lemot. Jangan mengharapkan aku mau ikut berkumpul sekeluarga besar dengan senang hati, aku sudah malas diremehkan. Sepertinya, aku terlalu sensitif dan memikirkan apapun yang pernah terjadi. Termasuk di antaranya bagaimana semua tante dan om menjadikanku bahan olok yang paling enak, sasaran empuk. ‘Lihat, si sepupu A sudah sukses, si sepupu B sudah seperti ini, si anak ini sudah begini, dan kamu masih begini saja?’

Keep holding on
‘Cause you know we’ll make it through
We’ll make it through

Aku nggak bisa mencegah keinginanku sendiri untuk meninggalkan si biola kesayangan. Sosokku yang berjongkok kini menjauhi lantai dan berdiri tegap. Tangan kananku mulai sibuk mendorong dan menarik kembali, sementara jari-jari di tangan kiri sigap menekan dan melepasnya. Sebuah harmoni.
Setidaknya, aku harus memedulikan diriku sendiri. Aku punya nyawa, punya nama, dan aku bereksistensi. Bisa jadi yang lain-lainnya itu simpel, namun aku sendiri yang membuatnya rumit. Terkadang, saat-saat seperti ini memang datang mendera pikiranku yang seperti anak itik kehilangan induk. Kusut. Kacau. Kalau sudah lelah, aku akan mencari perlindungan ke sesuatu yang bisa membuatku lari sejenak. Mungkin saja, cukup itu sajalah yang kubutuhkan untuk menghadapi semua ini.

Just stay strong
‘Cause you know I’m here for you,
I’m here for you

Lagi-lagi, aku menutup mata dan menikmati pemandangan hitam yang tersaji di hadapanku. Sebetulnya, hitam itu indah dan tenang. Tidak ada lagi warna-warna yang membuat pusing, serpihan-serpihan yang menyatukan sebuah luka.  Semuanya hilang, saat pemandangan hitam tersebut memanggil angin untuk menyentuh keseluruhan wajah. Rasanya, saat tersebut adalah masa-masa diriku berteman dengan si Kelly ini sendiri.

Aku pun masih memegang mantap biolaku ketika aku mengingat Carlos, kakak laki-lakiku. Orang itu memiliki alis tebal yang menawan, senyum nakal yang menarik, dan juga sepasang mata indah yang bisa membuat siapapun terpukau. Aku selalu bangga untuk menyebutnya kakakku. Saat aku di sekolah menengah pertama dulu, para senior akan memanggilku sebagai ‘adiknya Carlos’. Lagipula, sedikit sekali kemungkinan anak-anak di sekolah lama tersebut tidak mengetahui Carlos Hutama yang cerdas, atletis, dan berbakat menjadi pemimpin.  Si sosok siswa teladan yang seolah-olah sempurna.

Carlos, si cowok idaman itu, tidak memiliki hidup sesempurna yang orang-orang katakan. Aku sering sedih setiap melihat kakakku termenung saat Mama selalu mendorongnya untuk mempertahankan gelar juara satunya. Atau juga, ketika Papa membujuknya untuk mengikuti klub basket yang memiliki prestige tinggi. Ia memang tetap menyunggingkan senyum manis seperti biasa, namun lehernya menelan ludah yang disertai dengan kepahitan-kepahitan. Ia khawatir akan mengecewakan orang-orang yang ia sayangi. Lebih parahnya lagi, Carlos sering bercerita kepadaku  betapa ia takut tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Sosok yang sudah akrab denganku sejak kami balita tersebut tidak bisa mentoleransi jika dirinya menyia-nyiakan sesuatu yang sebetulnya masih dalam ranah ‘tidak apa-apa’. Ya, begitulah sosok asli si pelajar idaman yang di puja-puja banyak cewek pemandu sorak. Aku tahu ini tidak segemerlap apa yang di bisikkan orang-orang.

Aku dan Carlos masih sering bercerita hingga saat-saat aku SMA dan ia kuliah seperti saat ini. Carlos masih sama baiknya seperti kakakku yang dulu, ia tidak pernah berubah. Dia selalu berhasil menjadi kakak andalan yang selalu bisa menjadi sandaran. Kami seringkali bercerita di tempatku berdiri sekarang ini, sebuah ruang kosong di lantai dua yang memiliki jendela lebar. Ruangan ini belum terpakai hingga sekarang, namun kekosongan tersebutlah yang membuatku cocok nangkring disana. Mungkin memang aneh, namun aku senang sekali membuka dan menutup jendelanya hingga angin bisa memainkan rambutku. Ya, ia memang iseng dan senang sekali memelintir dan membuat berantakan rambutku. Namun tidak apa-apa, aku tetap menyayanginya sebagai salah satu teman yang membuatku tenang.

Kembali lagi ke Carlos, saat ini aku khawatir padanya. Ia menjadi murung akhir-akhir ini. Menurut pengamatanku, ini terjadi semenjak penghinaan yang dialaminya dari dosen beberapa waktu yang lalu. Ia nggak terima di bilang bodoh. Carlos tahu ia pasti akan menghadapi hal-hal seperti ini, entah sekarang atau nanti saat kerja. Namun, kakakku kini tidak ingin sering tersenyum. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mempelajari rumus-rumus konstruksi dengan buku-buku teknik sipilnya. Setiap kali aku masuk ke kamarnya, ia selalu sedang serius membolak-balik halaman buku dengan ketebalan yang cukup enak untuk menimpuk maling. Tangannya dengan gesit selalu mencatat di kertas sebelahnya setiap ia mendapat suatu pencerahan. Namun, ia tidak senang dan tidak rela. Carlos sedih dan terpukul.

There’s nothing you could say
Nothing you could do
There’s no other way when it comes to the truth

Sepertinya keadaannya cukup buruk. Ia bilang mimpi buruk selalu menghantuinya hingga ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lebih parahnya lagi, ia sering berkata orang-orang yang meneriakinya walaupun aku tidak pernah mendapati siapapun melakukannya.  Carlos membelalak setiap kali ia bercerita denganku dan memijit-mijit keras kepalanya, berharap ia dapat mengurangi rasa sakit dan takut yang nggak pernah mau meninggalkannya. ‘Mungkin rasa takut terlalu sayang padaku’, Carlos pernah berujar sambil terkekeh pahit. Tolong, hatiku tidak kuasa melihatnya seperti ini. Mengapa harus Carlos si kakak sempurna yang menjadi idola semua orang yang mengalaminya?

Aku sudah tidak boleh terlalu sedih. Hatiku sudah cukup sakit melihat Carlos, ditambah dengan Mama dan Papa yang juga tidak sejahtera. Semua ini seperti berlari dalam labirin yang terus menduplikat dirinya, menghilangkan jalan keluar yang seharusnya sudah kutemukan.

Hear me when I say, when I say I believe
Nothing’s gonna change
Nothing’s gonna change destiny
(Avril Lavigne – Keep holding on)


Bagaimana ini, biolaku? Tolong ajari aku cara untuk bahagia kembali, mungkin sebuah buku panduan cukup efektif untuk membantuku. Berikan aku tips untuk menyelesaikan teka-teki ini.



Berlari dalam Harmoni #novelproject


Aku Kelly.

Aku sedih saat kakakku, Carlos, terpukul akibat kegagalan yang dialaminya. Teman-teman dan guru-guru di sekolah risih dengan kehadiran batang hidungku di kelas. Lebih buruknya lagi, Papa dan Mama juga tidak sejahtera dengan segala masalah yang menghadang. Terkadang, aku merasa ingin lari tanpa henti saja.

Setiap merasa buruk, aku mencari Gino. Si calon musisi ambisius tersebut selalu punya cara untuk membuatku tenang dan percaya. Setiap kali laki-laki itu muncul dengan seragam SMA yang dikeluarkannya seperti biasa, ia menciptakan harmoni-harmoni yang terus membuatku berani melangkah kedepan. Gino tersenyum, tidak pernah bosan untuk mengingatkan untuk tidak berjalan mundur.


Oh iya, aku juga punya sebuah biola yang kusayangi bagaikan teman sendiri. Bagaimana ini biolaku, tolong ajari aku untuk bahagia kembali.

De Diamant

Ditulis 22 November 2013


Kuelus boneka itu perlahan. Warna biru cemerlang yang menghiasi dirinya membuatku tertarik. Telinganya yang panjang sangat menggemaskan, sementara mata bulat yang teduh itu membuatku terpesona. “Kristel, ayo sayang. Sudah sore, dan kita harus bergegas agar tidak ketinggalan bus.” Seorang wanita paruh baya berkemeja abu-abu berbisik lembut. Ia membelai rambut pirangku dengan penuh kasih sayang. Aku pun menoleh dan tersenyum kepadanya. “Ma, aku boleh beli boneka mungil ini tidak? Kumohon, ia sangat lucu dan menggemaskan..” Sosok yang merupakan Mamaku tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Aku tahu ia sangat sayang padaku. Aku pun mengangguk mantap dan segera membawanya ke kasir yang terletak di depan toko mungil tersebut.

**

Kurebahkan diriku ke sebuah ranjang berwarna abu-abu dikamarku. Aku spontan bergegas ke ruang tamu. Kubuka tirai ungu pucat yang tergantung pasrah dijendela. Aku mendapati daun-daun coklat tergeletak tak berdaya dijalanan. Daun-daun tengah berguguran, Pemandangan ini sangat memanjakan mataku. Aku memang menyukai alam dan segala keindahannya. Aku menyesali manusia-manusia yang dengan seenaknya menghancurkan dan memusnahkan keindahan tersebut. Aku menghela napas. Kubuka jendelaku dan kurasakan angin semilir yang seolah berbisik lembut kepadaku. Aku menghirup napas dan memejamkan mata. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu menyentuh lengan kananku. Aku membuka mataku. Kulihat seekor burung merpati berwarnakan hitam, putih, abu-abu dan sedikit hijau di lehernya tengan hinggap di lenganku. Matanya yang teduh menatapku. Aku pun menyadari kalau terdapat sebuah gulungan kertas tergantung dikakinya. “Jadi, kau mengantarkan sebuah pesan untukku?” Gumamku pelan. Perlahan kubuka gulungan tersebut. Kertas tersebut berwarna kecoklatan. Sepertinya sudah tua. Rasa penasaranku memuncak, rasa ingin tahuku mengganas. Kulihat kata demi kata yang disampaikan kertas itu.

Kristella Beekhuis. Aku ingin meminta bantuanmu. Tolong bawa Fluffy Bluediamond, temui diriku di sebuah perpustakaan di alun-alun kota. Tertanda, seseorang.

Aku mengernyitkan dahiku. Sejuta pertanyaan terbesit dikepalaku. Aku berdilema. Pergi? Tidak? Pergi? Tidak? Ya, Aku akan pergi. Keputusanku telah bulat setelah melalui perdebatan panjang dengan diriku sendiri. Aku tak mengerti Fluffy Bluediamond siapa, namun dilihat dari warnanya sepertinya boneka itu yang surat itu maksud. Kulihat tiraiku, dan burung merpati tersebut sudah menghilang. Apa yang tengah terjadi? Sungguh, aku tak mengerti. Namun aku tahu pula hanya diriku sendiri yang bisa menemukan jawabannya. Aku bergegas ke halte bus dan bergegas menuju alun-alun kota

Malangnya, ternyata bus tersebut terlambat datang. Aku melihat jam tangan hitam yang terikat rapi di lengan kiriku. Sudah pukul 14.00. Seharusnya bus itu sudah datang. Aku pun mendengus kesal. Bagaimana bila aku terlambat? Memang sih surat itu tidak mencantumkan jam, namun aku merasa aku harus secepat mungkin sampai disana. Akupun karena rasa bosan yang teramat-sangat membuka tasku ingin mengambili ponsel mungil berwarna putihku. Tiba-tiba saja tanganku disenggol seseorang. Kualihkan pandanganku, dan seorang kakek tua menatap boneka kelinciku dengan tatapan menyelidik. “Nak, boneka ini milikmu?” bisiknya pelan. Aku pun mengangguk. Aneh sekali kakek ini. Ia sangat mencurigakan. Kemudian bus datang dan aku memilih untuk duduk di belakang. Aku merasa sangat letih. Kupeluk tasku dan aku pun terlelap, mengunjungi dunia mimpi yang berada dikepalaku.

**

“Apa? Fluffy Bluediamond hilang?” Sesosok laki-laki berkepala kelinci melongo. Kepala kelinci tersebut berupa topeng. Ia panik dan mengguncang-guncangkan bahuku. Aku pun ikut panik dan bertanya kepadanya. “Sepertinya Ia diambil seseorang saat aku tertidur di dalam bus. Namun sebenarnya anda ini siapa?” “Tak ada waktu untuk menjelaskannya. Kita harus bergegas! Vuur pasti sudah mengambilnya? Ayo, ikut aku!” Ia menarik lenganku, dan kami berdua berlarian seperti orang gila. Ia menuntunku ke sebuah rak buku, kemudian laki-laki berkepala kelinci tersebut membuka sebuah buku yang berisi ratusan halaman. Buku-buku tersebut berdebu, sepertinya sudah lama digunakan. “Meneertje, open de deur. Ik wil naar binnen gaan.” Gumamnya lirih. Sepertinya ia tengah merapalkan sebuah mantra. Tak lama kemudian rak tersebut berbalik, dan aku melihat adanya sebuah lorong rahasia. Aku pun takjub. Bagaimana bisa terdapat lorong sebesar ini dalam sebuah perpustakaan sekecil ini? 

“Kagumnya nanti saja, sekarang ayo kita bergegas.” Ujarnya menyadarkanku dari lamunanku. Ia kembali meletakkan buku tadi di tempatnya dan berjalan kembali. Aku yakin lorong ini sangat jarang dimasuki. Debu dan sarang laba-laba terdapat dimana-mana. Aku berteriak kecil saat kepalaku mengenai sebuah sarang laba-laba berwarna putih itu. Badut tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya, namun ia tak menghiraukanku. Kami berjalan sampai kami sampai menemui sebuah cermin. “Spiegeltje, oh lieve spiegeltje. Laat ons naar binnen gaan, alsjeblieft.” Tiba-tiba semua menjadi putih. Silau bagaikan sinar matahari yang menyinari. Aku memejamkan mataku. Aku merasa diriku tengah melawan gravitasi. Rasanya seperti berada di puncak jet coaster. Aku merasa tanganku digenggam seseorang. Aku perlahan membuka mataku dan mendapati seorang laki-laki sebayaku, dan demi Tuhan, ia sangat tampan! Ia telah melepas topeng kelincinya. Tatapan matanya yang dalam membuatku terenyuh. Sesaat aku dibuat kagum karena pesona yang terdapat pada dirinya. Kusapukan pandangan ke sekelilingku. Aku tengah terjun bebas, sekelilingku putih. Seakan perjalanan ini tak akan pernah berakhir. Tiba-tiba muncul secercah harapan. Kulihat sebuah titik bersinar diujung sana

Ya, titik tersebut bersinar. Sebelum aku sempat berpikir lebih lanjut, tiba-tiba kecepatan ku bertambah. Jantungku berdetak lebih cepat, aku spontan menjerit kencang. Kurasakan genggaman tangan yang semakin erat. Ku pejamkan mataku, tiba-tiba saja aku tengah berbaring disebuah padang rumput yang empuk dan luas. Aku membuka mataku. Kulihat laki-laki tadi tergeletak jauh dariku, bukan di padang rumput, namun di sebuah tanah yang keras. Kuhampiri dirinya. Ternyata ia tengah tak sadarkan diri. Aku memegang kedua pipinya. Matanya tetap saja terpejam. Aku pun panik. Sepertinya ia telah membenturkan kepalanya ke tanah. Aku semakin panik. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku. Rambut ungu panjangnya terurai. Sangat cantik dan elegan. Ia membisikkan sesuatu di telinga laki-laki itu. Perlahan ia menggenggam tangan lelaki itu. Ia mengeluarkan energi, dari tangannya keluar sinar. Tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya.

 Ia terduduk dan memeluk erat perempuan cantik disebelahnya. Aku pun bingung. “Oke, apakah ada yang bisa jelaskan situasi ini?” ujarku. Sebenarnya dari tadi aku tak mengerti apa yang tengah terjadi. Aku bahkan tidak tahu untuk apa aku berada disini! Mama pasti mencemaskanku. “Maaf, aku tiba-tiba membawa dirimu kesini. Aku Water, sang peri air. Akulah pembuat Fluffy Bluediamond.” Jelasnya. Fluffy Bluediamond? “Maksudmu, boneka kelinci berwarna biruku?” tanyaku. Dengan mantap ia mengangguk. “Aku yang memberinya nama” ujar perempuan cantik disebelahnya. “Di dalam bonekamu itu, terdapat sebuah berlian biru. Berlian tersebut memiliki kekuatan air yang dashyat.” “Mengapa bisa ada didalam boneka itu?” aku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.

 “Sebetulnya aku tak sengaja. Ini semua karena kecerobohan dan keteledoranku.” Ujar perempuan cantik disampingnya. “Maafkan aku, Water.” Perempuan itu nyaris menangis. “Sudahlah, Gezonda. Kau kan tak sengaja.” Water memeluk perempuan yang bernama Gezonda itu. Mereka berpelukan sejenak. Aku pun canggung dan mengalihkan pandanganku. “Maaf, Kristel. Jadi sebenarnya Gezonda tengah melempar-lempar berlian tersebut karena ia merasa bosan menungguku. Tiba-tiba saja berlian tersebut terlempat ke dalam perut boneka yang tengah kubuat. Gezonda dan diriku tidak menyadarinya. Aku pun menjahitnya dan memajang boneka itu dibalkonku. Tiba-tiba saja Vuur mencurinya. Kau tahu, ia mengumpulkan berlian-berlian yang disebut diamant tersebut untuk menghancurkan Negeri Diamant ini.” Aku melongo. “Mengapa ia ingin menghancurkan Negeri Diamant yang indah ini?” 

Water pun lanjut bercerita. “Ia dulu pernah menjadi pelayan Raja Maurice, raja kami. Saat itu ia sedang panik, karena ia terlibat dengan hutang yang sangat banyak. Diam-diam ia mengambil uang kerajaan untuk melunasi hutangnya tersebut. Hutang itu pun lunas. Namun sesuai pepatah, sepandai-pandainya menyembunyikan sesuatu, pada akhirnya pasti akan ketahuan juga. Ia tertangkap basah, dan Raja Maurice sangat murka. Ia mengusir Vuur dari Negara ini. Tentu saja Vuur mendendam dan akhirnya membenci raja beserta kerajaan ini.” “Sepertinya ia berniat membalaskan dendamnya. Ia yang kini tinggal di Negeri Zilver tersebut terobsesi untuk menghancurkan negeri ini.” Timpal Gezonda yang sedari tadi diam saja. Kami semua terdiam. 

“Untuk itu, ia mengumpulkan empat diamant yang memiliki energi dashyat. Entah ia bagaimana memakainya, tapi sebaiknya kita sekarang segera mencarinya. Sepertinya ia mencuri boneka itu, namun tiba-tiba saja datang sebuah angin tornado di daerah ku. Entah bagaimana angin tersebut membawa boneka tersebut, dan boneka tersebut terdampar diduniamu. Seorang pemilik toko boneka melihatnya tergeletak dijalanan, membersihkan dan menjualnya kembali. Nah, saat itulah kau membelinya dan boneka itu menjadi milikmu. Aku menyelidiki dan mencari tahu tentang dirimu melalui cermin ajaibku.” Aku mengangguk-angguk mengerti. 

Kami pun berdiskusi dan berusaha menemukan jalan keluar untuk menemukan Diamant itu. Vuur kemudian menyuguhkan kami teh tradisional di negeri itu. Wanginya harum sekali! Aku baru akan menikmati teh ku ketika terdengar keributan. Muncul seorang kakek mengendarai sebuah unicorn hitam. Betapa kagetnya diriku saat aku menyadari kakek itulah yang aku temui di halte bus! Dan kulihat boneka kelinci biruku berada di tangannya. “Dengan diamant biru, merah, coklat dan hijau ini aku berhasil membuat senjata yang akan menghancurkan kalian! Lihat Maurice, inilah akibat perbuatanmu! Rasakan, kalian semua! Rasakan betapa sakitnya aku dulu!” Teriaknya lantang. Seluruh warga Negara Diamant keluar dari rumah dan melihat keributan apa yang telah terjadi. 

“Bersiaplah!” Teriaknya sambil menarik sebuah tali. Tiba-tiba Water menaiki sebuah Unicorn putih yang sedari tadi terletak di halaman rumahnya. Ia terbang dan mendekati lelaki yang tak lain dan tak bukan adalah Vuur. Mereka berdua beradu pedang diatas. Kemudian dengan sigap Water yang ahli berkelahi menebas tangan Vuur. “Aaw!” Vuur menjerit kesakitan. Aku, Gezonda dan warga yang lain tegang. Kemudian melihat tembakan yang sebenarnya bom itu akan meledak, Water dengan sigap merapalkan sebuah mantra. Namun, terlambat. Tembakan tersebut meledak. Berkat mantra yang dirapalkan Water, ledakan tersebut tidak menyebar. Namun, Vuur dan Water keduanya terkena dan menghilang dalam ledakan itu. “TIDAAKK!” Gezonda histeris. Air mata kesedihan menetes dari kedua mata indahnya. Aku memeluknya. Aku gemetar. Tak terasa aku pun turut mengeluarkan air mataku.

**

“Water adalah pahlawan kita. Ia merelakan dirinya sendiri untuk menolong kita.” Ujar Raja Maurice tegas. Rakyat yang berada dihalaman istana setia mendengarkan, termasuk diriku dan Gezonda. Kami semua menunduk mengenang Water. Tiba-tiba saja terdengar suara Unicorn. Unicorn tersebut lama-lama mendekat, dan aku tak mempercayai penglihatanku. Water! Ia dengan rambut coklatnya yang gagah tengah menuju ke istana. Ia mendarat, Gezonda histeris kembali dan memeluknya. “Kau pikir aku akan kalah semudah itu?” ucap Water tertawa. 

“Aku sempat terluka namun aku sempat mempelajari sihir teleport dari buku di perpustakaanku. Aku langsung mempraktekkannya dan untung saja aku berhasil. Aku kebetulan berpindah ke Negeri Zilver. Warganya baik, mereka melihatku yang terluka dan merawatku.” Kami mendengarkan dengan seksama. “Kemudian aku menjelaskan tentang Vuur. Mereka pun mengajak kami berdamai dan tidak berperang. Setelah aku sembuh aku pun kembali kesini. Oh iya, aku tak lupa membawa keempat diamant nya lho.” Ujarnya yang sempat mengambil keempat diamante tersebut tersenyum. Kemudian ia menyerahkan keempat diamant itu ke Raja Maurice. “Sebaiknya Diamant tersebut digunakan untuk hal-hal positif.” Water tersenyum. Seluruh rakyat bertepuk tangan dan bersorak sorai. Pahlawan mereka telah kembali! Tiba-tiba burung merpati yang mengantar pesan muncul kembali dan hinggap di tangan Water. 

“Duifje, kau antar Kristel pulang yah. Portal antara dunia kita sudah mengecil dan sepertinya akan tertutup.” Aku pun menoleh. Water dan Gezonda tersenyum padaku. “Ini bonekamu, kau boleh bawa pulang kembali. Terima kasih atas bantuannya. Kami tak akan pernah melupakanmu..”

**


Aku menatap ke jendela. Kutatap Fluffy Bluediamond yang tengah berada dalam pelukanku. Aku tak akan pernah melupakan mereka. 

Untitled (unfinished story)

*TIDAK SELESAI DAN MENGGANTUNG :")*
ditulis 11 Maret 2013



Aku merasakan matahari yang mulai menampakan sinarnya melalui celah jendela kamarku. Burung-burung berkicau seolah-olah mereka tengah berusaha membangunkanku. Dari kejauhan terdengar suara ayam yang berkokok, menandakan pagi yang telah tiba. Aku mendesah pelan. Hari yang baru telah menunggu untuk kuhadapi. Namun entah mengapa rasanya berat sekali untuk membuka kembali kedua mataku. Rasanya aku ingin tidur selamanya saja. Aku sesungguhnya tidak ingin terbangun lagi.

“Kak Mit.” Seseorang memanggilku ketika aku tengah berusaha melanjutkan mimpiku. Kurasakan sepasang tangan mungil menguncang-guncang tubuh yang masih dilapisi selimutku. Aku diam dan tak bergeming.

“Kak Mit!” suara tersebut mengeyel. Uh, mengganggu saja. Aku masih ngantuk tahu.

“KAK MITA!” kali ini ia menjerit dengan volume melewati batas maksimal tepat disebelah telingaku. Aku pun spontan membuka mataku lebar-lebar dan melotot ke arah sumber suara tersebut. Aku mendecak marah sembari menenangkan jantungku yang berdetak kencang. Bikin kaget saja!

“Apaan sih!” ujarku akhirnya sambil mengusap pelan kedua telinga malangku. Kuharap indra pendengaranku tersebut tidak mengalami kerusakan apapun karena diperdengarkan volume yang terlalu keras.

“Bangun dong Kak.”

Risa, sumber kegaduhan pagi ini tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi mungilnya. Adikku yang baru berumur enam tahun tersebut berdiri disamping ranjangku dan tampak bersemangat sekali. Walaupun ia terlihat sangat manis dengan gaun merah-muda mungilnya, tentu saja hal tersebut tidak mengurangi kekesalanku karena di”bangunkan” olehnya.

Aku melirik handphoneku yang terletak di sebuah meja mungil yang berdiri kokoh disebelahku. Ku selidiki tulisan yang tercantum di layar blackberry putih tersebut.

05.05

“Risa, ini masih jam lima. Kenapa kamu bangunin Kakak?” ocehku padanya. Rupanya aku tidak bisa menutupi kekesalanku. Aku sedikit tidak terima dibangunkan sepagi ini. Padahal kan aku bisa tidur setengah jam lagi. Ya, perbedaan waktu di pagi hari terutama saat kita tengah mengantuk sangat berarti, bukan?

“Ayo, ke ruang tamu Kak.” Rengek Risa manja. Ia meraih tanganku dan berusaha menariknya. Usahanya menggiringku kurang berhasil. Kurasa ini dikarenakan badan dan tenagaku yang jauh lebih besar dari Risa. Namun rupanya ia pantang menyerah dan ia terus berusaha menyeret aku yang telah berumur 17 tahun ini.

“Kakak masih ngantuk, Risa.” Ujarku pelan sembari berusaha melepaskan diri dari Risa. Aku masih merasa ngantuk dan lelah. Yah, salahku sendiri sih kemarin bermain game sampai larut malam. Game tersebut membuatku ketagihan. Akibatnya, kini aku kurang tidur. Kurasa kantung mataku juga telah menghitam bagaikan panda. Satu hal yang pasti, aku sedang tidak ingin bangun sepagi ini.­­­
Risa cemberut. Ia menatapku memelas dan meraih tanganku.

“Ayo dong Kak.” Ia masih berusaha membujukku. Hah, dia kira aku bakal luluh padanya? Kurasa hal itu tak akan terjadi. Yah, sebenarnya mungkin saja sih. Bagaimana pun Risa merupakan adik yang kusayangi.

“Ada apa Risa?” tanyaku setelah menguap beberapa kali. Rasa kantukku masih belum hilang juga. Risa kembali menarik tanganku. Kali ini aku menurutinya dan berjalan patuh dibelakangnya.
Betapa terkejutnya aku saat tiba diruang tamu. Mama tengah menyiapkan meja yang kini tampak penuh dengan berbagai macam makanan. Balon-balon berwarna-warni bertebaran dimana-mana. Hiasan dan manik-manik pun di temple di berbagai sudut. Spagheti, roti bakar, pizza dan sebuah kue tart yang harum dan tampak lezat telah siap sedia. Tunggu, kue tart? Aku pun penasaran dan melihat tulisan berwarna merah yang tertulis indah dengan huruf sambung diatas kue berbentuk kotak tersebut.

Selamat Ulang Tahun, Papa

Astaga, bagaimana aku bisa melupakannya? Mukaku memerah. Aku malu kepada diriku yang bahkan tidak ingat ulang tahun ayah sendiri.

“Risa tadi bantuin Mama niup balon.” Ujar Risa sembari tertawa lebar. “Balonnya bagus kan, Kak?”
Aku mengangguk pelan dan hatikupun dipenuhi rasa bersalah karena tadi sempat kesal pada gadis mungil yang lucu ini.

“Mita, bantuin Mama menyiapkan makanan yang lain, yah?” ujar sesosok  wanita yang masih tampak anggun di usianya yang sudah kepala lima itu. Blouse ungu yang dikenakannya menambahkan pesona pada dirinya. Tak heran dulu Papa jatuh hati kepada Mama. Ia memiliki senyum yang manis dan menawan.

“Siap Ma.” Ujarnya tersenyum walaupun masih sedikit ngantuk. Aku segera mencuci mukaku dan bergegas membantu Mama. Sesekali Risa menyanyikan lagu mengiringi kami yang sibuk bekerja. Mama dan aku berpandangan kemudian kami berdua tertawa kecil.

Aku pun sibuk menggoreng bakmi goreng yang telah disiapkan Mama. Aku yakin bakmi yang kumasak akan menjadi lezat.

“Hati-hati, Mit.” Pesan Mama padaku. Aku pun mengacungkan jempolku dan mengangguk pelan. Aku pun mulai menumis bawang putih dan bawang merah hingga harum. Tak lupa kutambahkan daging ayam dan telur. Aku pun sangat menikmati harum yang dihasilkan masakanku itu. Perutku tambah lapar dibuatnya.

Tak lupa kutambahkan bahan-bahan lain seperti kecap manis, garam, gula, merica dan air secukupnya. Aku pun sangat menikmati acara memasak ini. Kantukku sudah hilang dan kini aku segar sekali walaupun belum sempat mandi. Aku pun bernyanyi pelan.

Woke up on the right side of the bed
What's up with this Prince song inside my head?
Hands up if you're down to get down tonight
Cuz it's always a good time
.
(Owl City & Carly Rae Jepsen, Good Time)

Aku pun terus bersenandung. Memasak adalah salah satu hobi favoritku, walaupun aku belum bisa memasak yang sulit-sulit. Aku suka membuat nasi goreng, ayam goreng..

“Kak Mita!” sebelum aku tersadar apa yang telah terjadi, tiba-tiba panci tempatku menggoreng terjatuh ke samping. Dengan sigap aku mencoba menangkapnya. Namun malang tak dapat ditolak, bakmi goreng yang hamper jadi tersebut berhamburan ke lantai. Aku menatapnya dengan pandangan kosong.

“Mita! Kamu enggak apa-apa, sayang?” Mama berlari kearahku dan memeriksa diriku. Untuknya aku tidak terluka sedikitpun.

“A-Aku enggak apa-apa, Ma.” Ujarku terbata-bata, masih meratapi mie yang jatuh ke lantai tersebut. Setetes air mata pun jatuh mengaliri pipiku. Aku pasti telah mengacaukan kejutan di pagi ini.

“Enggak apa-apa, sayang. Yang penting kamu nya tidak apa-apa.” mama menenangkanku sembari membereskan kekacauan yang disebabkan olehku. Aku pun ikut membantu Mama membereskan mie-mie yang berhamburan dilantai. Aku mengepel lantai tersebut hingga bersih.

“Maaf yah Ma. Lagi-lagi aku membawa kesialan.” Bisikku pada Mama dikala kami sudah membersihkan semuanya. Aku menunduk. Mama menatapku tajam.

“Hush, jangan berbicara seperti itu tentang dirimu. Mama sayang Mita. Mita tadi tidak sengaja.” Ujar mama meraih tanganku. Risa yang sedari tadi terdiam juga menghampiri kami.

“Kak Mita jangan sedih. Nanti Risa bantuin masak lagi deh.” Gadis mungil tersebut tersenyum memamerkan lesung pipi manis di kedua pipinya. Aku pun memeluk Risa dan Mama erat. Cukup dramatis, memang.

“Ehem.”

Kami menoleh kea rah sumber suara. Papa berdiri di depan dapur sambil nyengir lebar. “Papa enggak diajak nih?”

Risa pun segera berlari kea rah Papa dan mengulurkan tangannya. Papa dengan satu gerakan menggendongnya dan tak lupa ia menciumi kedua pipinya.

Mama pun menyenggol lenganku. Aku juga berlari kea rah Papa.

“Happy birthday to you, happy birthday to you!” aku dan Mama bernyanyi pelan, diikuti oleh Risa juga. Kami semua bertepuk tangan.

“Happy birthday, happy birthday. Happy birthday Papa!”

Kami tertawa. Aku sangat senang dengan suasana bahagia seperti ini. Kuharap perasaan sukacita ini akan terus berlanjut. Tiba-tiba jam dinding kami berbunyi sebuah lagu instrumental yang indah. Aku pun terkejut mengetahui ini sudah pukul 06.00. Aku pun segera mandi dan bergegas pamit ke sekolah. Aku tak mau telat di hari pertama semester kedua ini. Aku sudah kapok dihukum oleh guru piket dijemur dilapangan 2 jam pelajaran penuh. Mengingatnya membuatku kesal lagi. Aku segera dengan cepat melangkahkan kakiku kesekolah yang dekat rumahku tersebut.

“Mita, kamu belum sarapan!” seru Papa cemas. Ia menatapku khawatir. “Ayo makan dulu.”

“Nanti saja Pa, Mita sudah telat. Mita pamit!” ujarku tanpa menoleh lagi.


Papa pasti juga akan mengantarkan Risa yang berbeda sekolah denganku. Sekolah Risa tidak terlalu dekat dengan sekolah sehingga Papa harus mengantarnya naik mobil. Aku yang harus berjalan kaki terkadang iri juga sih. Ah, aku harus cepat kalau tidak mau terlambat!