Thursday, July 30, 2015

You Belong With Me

(Ditulis 10 Januari 2013)

Ping!

Dengan kesal kututup ponsel mungil yang sedari tadi menjerit atas tuntutan membaca. Aku memutar mataku dan merebahkan diri di ranjang, diselimuti oleh kain manis bermotif bunga karena cuaca mulai mendung. Aku meringkuk dalam kehangatan tersebut seperti lapisan risoles.

Pesan-pesan singkat yang kuterima berasal dari Rio, tetangga dan teman masa kecilku. Kami terbuka satu sama lain, tak ada rahasia yang tidak dibuka. Kami selalu bermain kelereng dan berpetak umpet bersama. Kami berkejar-kejaran seperti polisi dan maling bersama. Kami rutin bermain di taman dan Rio sering kudorong hingga terjatuh dari ayunan.

Hubungan kedua orang tua kami tidak kalah akrab. Mama Rio sering berkunjung dan membawa kue bolu kesukaan adikku, Milly. Anak itu walaupun baru 12 tahun namun memiliki porsi makan dua kali lipat diriku.

Akhir-akhir ini, aku kesal padanya. Cowok ingusan yang cengeng tersebut tengah jatuh cinta pada teman sekelasku, Rena. Ia seorang gadis berambut halus yang baik dan menyenangkan, senyum dan mata indahnya membuat senang siapapun laaan bicaranya.

Rio, yang bersekolah di SMA yang berbeda dariku dan Rena, cukup puas dengan menjadi pengagum rahasia. Pertama kalinya ia melihat Rena, aku melihat sesuatu yang baru di senyum dan tatapannya. Aku ingat bagaimana ia melompat girang saatku berikan nomor ponsel Rena kepada temanku itu.

Ping!

Dengan sigap aku meraih ponsel diatas meja kayu dan menyimak pesan masuk.

From: Rio

Shel, tadi aku melihat Rena pulang dari tempat lesnya. Bandana putih cocok sekali dengan wajahnya.

Jengkel sekali perasaanku saat ia memikirkan Rena dan hanya Rena. Ia heboh saat Rena menguncir rambut. Dan kurasa, ia juga sudah mulai gila. Ia terobsesi dengan jadwal dan cafe-cafe favorit Rena. Aku pun membalas pesan singkatnya.

To: Rio

Ya ampun. Tapi, bagaimana hubungan kalian sekarang?

Aku pun menunggu balasan sembari membaca komik detektif kesayanganku. Dalam tumpukan tersebut, sebuah buku bersampul biru menarik perhatianku. Kutajamkan mataku dan membaca dengan suara lirih tulisan yang tertera; Yearbook SMP Kasih Harapan.

Komik yang tadinya ingin kubaca akhirnya terlupakan dan membaca lembaran demi lembaran buku tahunan SMPku menjadi kegiatan yang asyik. Aku tersenyum kecil melihat fotoku dan Rio yang berpose saling mengejar.

Kusadari ponselku kembali berdering.

From: Rio
Yah, Shelly. Excited-lah untukku. Bagaimana ya, aku malu berbicara dengannya.

Dasar Rio, ia tidak berani bertindak. Aku menghela napas dan menemukan foto yearbook saat Rio bermain piano.

Ada bagian diriku yang kesal saat nama Rena terlontar dari bibir Rio. Aku lupa membalas pesannya dan malah tertidur.

**

"Pagi!"

Rena, cewek manis yang menjabati posisi ketua kelas menyambut sosokku yang mengatur napas. Aku terlambat bangun kali ini. Ini salah ponsel yang lupa membangunkanku. Salahku, aku lupa men-charge baterai ponsel jadulku itu.

"Tumben datang siang, Shel." Ujarnya pelan. "Biasanya lo datang pagi."

Aku pun memberikan cengiran lebar dan duduk di posisi favoritku selama ini; barisan bangku kedua dari depan.

Untunglah, aku tidak telat karena bel berbunyi saat tubuhkan mendarat pada kursi kelas.

Pelajarab pertama adalah Kesehatan Jasmani, dibimbing oleh Pak Tino. Beliau mengumpulkan kami setelah seragam putih abu-abu bertransformasi menjadi seragam olahraga yang didominasi warna coklat.

Rena merupakan bintang pelajaran olahraga. Ia juga bintang pelajaran akademik. Singkatnya, ia cewek sempurna.

Sementara aku, tidak bernasib begitu baik dalam pelajaran olahraga. Aku ngos-ngosan setelah berlari keliling lapangan seluas kolam renang sebanyak tiga putaran.

"Hai." Seorang cowok yang duduk meluruskan kakinya disebelahku menyapa. Kami tidak pernah mengobrol sebelumnya namun tetap kuanggukan kepala untuknya. "Shelly?"

"Ya?" Aku menjawab sopan.

Cowok itu memainkan rambutnya dan tersenyum. "Uhm. Apa kabar?"

Aku bengong. Pertanyaannya membuat alisku naik sebelah.

"Baik." Aku tersenyum dengan jawaban singkap, padat dan jelas. Aku menoleh dan mendapati Vino mengedipkan mata padaku. Pandanganku kembali fokus pada Theo, cowok di hadapanku. "Shel, boleh minta nomor teleponmu?"

**

Rio tertawa terbahak-bahak saat aku pulang bersama dibonceng di motor Rio. Pulang bersama merupakan tradisi tak tertulis kamu yang wajib.

Aku mengernyitkan dahi. "Kok lo malah ketawa?"

"Bukan gitu, Shel. Masa lo nggak mengerti kalau dia suka lo?" Ucap Rio nyengir. "Lo nggak paham?"

Mataku membelalak. Aku pasti terlihat bodoh saat itu. "Oh ya?"

"Iya. Sama seperti gue suka Rena."

Lagi-lagi Rena. Jantungku terasa mau copot mendengarnya.

"Tadi Rena memakai topi putih. Cantik sekali dia." Celoteh Rio dengan pandangan mengawang-awang.

Ponselku bergetar, ada sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan.

Hai Shelly. Ini Theo. Aku boleh jadi pacar kamu?

Inilah yang kutakutkan. Aku seperti mematung cukup lama hingga Rio menepikan motornya di pinggir jalan. "Shelly, lo baik-baik saja?"

"Gue nggak apa-apa." Ujarku sambil mengelap keringat. "Mampir ke rumah gue dulu, ya?"

**

"Kak Shelly!" Milly menyambutku dan Rio yang melangkah masuk sore itu. Seperti biasa, rumahku tersusun rapi berkat Mama.

Milly ngambek saat tahu Rio nggak bawa kue, dan kami dengan acuh duduk di sofa ruang tamu. Rio menjadi pendengar yang baik dan menyimak celotehanku tentang pesan Theo tadi.

"Sebenarnya, ya." Ujar Rio. "Theo cowok baik."

"Tapi." Ujarku merona. "Gue udah suka orang lain"

Rio membelalak dan nyaris tersedak es teh manis yang sedang diminumnya.

"Oh, ya? Siapa cowok beruntung ini?" Ujarnya meledekku, yang ku balas dengan gelengan kepala. Salah tingkah!

"Lo harus ngasih tau Teo yang sebenarnya." Saran Rio sambil mengelap sisa es teh manis disekitar bibir mungilnya. "Jangan menggantung-gantung status. Sakit."

Aku mengepalkan tangan dan berharap aku tidak salah mengambil keputusan.

"Oh, ya. Wish me luck, Shel!" Rio berkata sambil membuka majalah bisnis diatas meja. "Gue akan nembak Rena besok."

**

Rio akan menembak Rena hari ini, sebuah pertemuan di mal sudah direncanakan matang. Aku tahu ini tidak terlalu berhubungan denganku, namun aku jadi ikut deg-degan.

Ia berkunjung ke rumahku terlebih dahulu. Kemeja coklat favoritnya ia kenakan, dan keringat membasahi sekujur tubuhnya.

"Lo pasti bisa." Aku berusaha menenangkannya dan mengacungkan kedua jempolku.

Ia tersenyum manis dan juga mengacungkan jempolnya. Tanpa berkata-kata, ia keluar dan deru motor mengiringi kepergiannya.

**

Telepon rumahku berbunyi.

"Kak Shelly, ada telepon dari Kak Rena!" Milly mengetuk pintu kamarku. Aku pun beranjak ke telepon dan menganggukan kepalaku pada adik yang dua tahun lebih muda dariku tersebut.

"Halo, Ren." Sapaku ceria. "Lagi apa hari Sabtu begini?"

Hening.

"Gue mau main ke rumah lo. Boleh nggak, Shel?" Tanyanya pelan.

"Tentu saja boleh." Jawabku dengan anggukan yang tak mungkin dilihatnya.

"Sip."

**

"Ren, lo nggak apa-apa?" Matanya sembab saat aku membukakan pintu untuk Rena. Ia terlihat lemas.

Aku mengajaknya ke kamarku di lantai dua dan suasana cukup canggung.

"Vino nembak gue."

Aku pun teringat pesan Vino beberapa hari yang lalu.

Rena memiliki banyak hal yang aku sukai. Aku suka suka senyum dan cerianya. Aku suka tatapan ramahnya. Aku akan berani untuk cewek itu.

"Kenapa lo sedih, Ren?" Aku menggenggam erat tangannya yang hampir sedingin es batu. Aku memberi usapan menenangkan kepadanya, aku ingin sekali membantu teman sekelasku itu.

"Kakak gue nggak setuju. Dia marah dan memaksa gue putus."

Aku memeluk erat dirinya. "Ren, lo udah coba ngomong sana kakak lo?"

"Dia bilang gue belom boleh pacaran." Bisiknya pelan. "Gue harus gimana, Shel?"

"Menurut gue, lo harus menurut dan menghormati prinsip kakak lo."

"Gue harus putus?" Tanya Rena cemas.

Walaupun ragu, aku mengangguk. "Mungkin iya, untuk saat ini."

**

Hari Minggu itu sedih sekali. Rena putus dari Vino karena larangan sang kakak. Vino belum menceritakan apapun, namun aku tahu dia juga terpukul.

Aku menatap Rio yang telah menatap keramik lantai selama 5 menit terakhir.

"Rena mutusin gue."

Oh, yes!

Tunggu, aku tak boleh berpikiran seperti itu. Teman macam apa aku.

"Rio. Gue selalu ada buat lo." Aku berusaha menghiburnya. "Gue sahabat lo."

Wajah Rio sedikit memerah, menciptakan tanda tanya besar untukku. Aku pun salah tingkah dibuatnya.

"Kak Vino, bawa kue nggak hari ini?" Milly muncul tiba-tiba dari bawah tangga. Kami berdua dibuatnya tertawa.

"Tenang, kakak enggak lupa kok kali ini." Ia menyengir lebar dan mengeluarkan kardus kue bolu dari ransel hitamnya. Milly dengan sigap melahap kue warna-warni didalam kemasan tersebut.

"Terima kasih, kak Rio!"

**

"Shel. Setelah gue mengikuti pendapat Kakak, gue jadi lebih akur dengannya." Rena bercerita saat bel bubar sekolah berbunyi. "Gue cukup berteman dengan Vino."

Aku pun tersenyum dan mengiyakan. "Memperbanyak teman tidak salah, kok."

Kami berdua membicarakan pempek baru di kantin sekolah saat klakson motor yang familiar berbunyi didepanku. Rio.

"Shel, yuk." Ujarnya sambil memberikan helm tambahan.

Aku bingung. "Kemana?"

"Ikut gue dulu. Gue mau antar lu ke suatu tempat."

**

"Kenapa harus disini, Ri?" Tanyaku heran saat kami sampai disebuah taman penuh nostalgia saat kami kecil dan tanpa beban.

Ayunan mungil tempat penyiksaan Rio masih bertengger kokoh disana.

"Shel, terima kasih mau menjadi teman gue sejak kecil." Ujarnya menunduk. "Lebih dari itu, gue anggap lo sahabat dan saudara gw."

"Gue juga demikian, Ri." Jantungku terasa berhenti. Badanku menggigil.

"Lo selalu ada dan gue selalu mikirin Reba. Rena yang cantik, Rena yang pintar, Rena yang atletis." Volume suaranya semakin menurun. "Sampai-sampai, gue lupa sama lo."

Aku kaget saat ia menyodorkan sebuah kotak mungil berwarna merah. Sebuah kalung cantik bersinar saat ia membuka bagian atasnya.

"Lo bukan pelarian gue." Ucapnya seolah ia tahu pikiranku. Dengan lembut, ia menyingkirkan rambut panjangku dan memasangkan kalung tersebut.

"Maaf gue baru sadar." Ucapnya lirih. "Gue sayang sama lo."

Mataku berair tanpa henti.

"Gue juga sayang sama lo, Rio." Kami berdua duduk di ayunan mungil. Cowok lemah yang sering jatuh itu menjadi seorang cowok gagah, cewek perkasa yang kasar itu menjadi cewek berhati lembut. Ayunan tersebut saksi bisu kami.

Kami saling menatap penuh arti sembari melihat matahari yang mulai tertutup awan. Aku tersenyum lebar.

**

Aku membaca ulang buku tahunan SMPku di ranjang yang kini bermotif buah-buahan. Foto Rio dan aku tampak ceria, riang dan polos.

Dalam hidup, banyak hal yang berubah. Kita harus bisa menerima dan menyesuaikan diri.

Aku mengelus lengan pacarku itu yang sedang mengamati yearbook bersamaku.

"Terima kasih kamu sudah peka."

Resiko ke depan?

"Kita coba jalani bersama." Rio mengedipkan matanya. "Kita sudah menghabiskan  masa kecil bersama dan kita akan terus berusaha bersama."

Yah, perubahan tersebut kadang tak terprediksi. Tapi, disitulah keseruan hidup!


"Oh, iya." Rio menyolek sikutku. "Selamat anniversary dua bulan yah, Shel!"