Saturday, February 27, 2016

Manjat tebing di Purwakarta, yuk!

Haiii,

jadi pagi ini aku terbangun dengan kaki pegal dan keras. Bukan karena aku habis ngeronda, tapi karena kemarin harinya aku manjat tebing. Iya, bukan memanjati dinding di dalam hatimu kok (?) #masihpagi

Awal mulanya aku bisa ikut pemanjatan tersebut itu karena ajakan teman-teman yang ikut Unit Kegiatan Mahasiswa pencinta alam di kampusku. Aku yang berhasil mendapatkan izin Mama setelah merengek-rengek menyebalkan pun langsung antusias. Kapan lagi bisa seru-seruan begini bareng teman-teman?

azek

Tempat tersebut bernama Tebing Parang, letaknya di Purwakarta. kalau dari Jakarta kemarin sih butuh waktu sekitar 3 jam untuk pergi. Perjalanan menggunakan busnya nggak seram kok, namun cukup berliku-liku. Agak mirip jalan ke Puncak, lho. Makanya, kalau saranku sih pagi-pagi makan dulu yah biar ada energi.

Penampakan tebing Parang dari kejauhan

 Sampai disana, kita bakal di sambut sama orang-orang yang udah bikin perjanjian pemanjatan sebelumnya. Sebelum naik dan bersiap-siap menggunakan alat-alat, kita bisa duduk santai di pendopo dulu. Seru loh suasananya, adem dan ternyata banyak hewan-hewan seperti marmot dan kukang. Kalau kata teman-teman seperjalanan, seperti menonton National Geographic Channel secara live. Betul juga sih, haha.

Duduk nyantai di pendopo
 
suasana hijau di sekitar pendopo

marmot, kukang, ayam peliharaan penduduk sekitar
 
Dari pendopo, kita pun diajak ke lokasi starting point melalui jalur-jalur di tengah pepohonan rindangnya. Setelah beres memakai helm dan harness, serta perlengkapan keamanan secara lengkap, kita bisa mulai memanjat tebing. Jangan lupa dengarkan briefing (jangan seperti aku yang telat datang :P) dari guide dulu, kemudian berdoa. Ingat, walaupun sudah dijamin aman, nasib kita tetap ada di tangan Tuhan.

Oh tahu nggak sih, aku sempat nyasar berduaan sama teman saat mencari toilet. Aku pun merasa seperti di film-film Hunger Games, dimana kita harus mencari jalan balik dan tidak tersasar di hutan belantara. Akhirnya ketemu juga sih meeting point-nya. Tipsnya adalah, ikuti jalan yang terlihat paling besar dan jangan coba-coba kabur sendirian tanpa ada yang tahu jalan.


Seperti yang dapat kalian lihat, ada tangga-tangga kecil yang harus kita tapaki. Setelah kucoba, tangganya kuat sekali! Terkadang ada jalur yang berat, ada jalur yang miring, ada jalur yang mengharuskan kita memikirkan strategi agar dapat menapaki dengan baik. Intinya, selama kita melaksanakan prosedur keamanan dan selalu menapaki tangga besi, kita nggak akan apa-apa. Dan juga, harus tetap berenergi untuk mendorong tubuh kita ke atas walaupun capek.

Prosedur keamanannya juga menggunakan klem, alat pengait yang harus kita cantolkan terus-terusan kepada pegangan baja di sebelah kanan dan kiri kita. Pertamanya sih aku takut, namun aku sadar kalau aku sendiri yang akan menentukan keamananku. Jangan panik, karena biasanya orang panik saat harus mencantolkan klem ke tali disebelahnya. Santai dan nikmati saja, kalau kata orang-orang yang memanjat di dekatku. Rasakan rasa takut dan lawan.

Prosedur keamanan harus diterapkan, walau saat duduk sekalipun

Setelah di ataspun, kita bisa bersantai dan mengambil banyak foto-foto dan selfie, asal tetap hati-hati ya! Kita bisa berjalan di atas batu-batu yang memang sudah dipastikan kuat dan beristirahat sejenak. Ada pula gua-gua kecil yang menjadi rest area kita. Kita akan terus diwanti-wanti untuk tidak melepaskan alat pengait, apapun yang terjadi. Karena, ingat, keselamatan kita bergantung pada alat-alat itu. Jangan sekali-kali lepaskan alat keamanan, karena sebetulnya kita bisa melepaskannya dengan mudah. Oleh karena itu, hati-hati.

Yuhuuu!

Di jalan kecil dimana kita bisa berjalan dan istirahat.
Sering dengar kan, analogi hidup dengan naik gunung? Kita perlu berjuang untuk naik ke atas, namun akan mendapatkan pemandangan yang indah tak terkira. Aku setuju dan kali ini aku telah mengalaminya langsung. Pemandangannya bagus, lho! Ada gunung dan waduk, beserta pulau-pulau kecilnya. Ditambah dengan kabut yang memburamkan pemandangan dari kejauhan, kita akan merasa tersentuh jika melihat langsung. Cantiknya!

Gunung, waduk, pulau, kabut, pohon
Nah, proses menuruni tebing ternyata tidak kalah luar biasanya dibandingkan naiknya. Ketegangan yang dirasakan dibarengi dengan kekaguman akan pemandangan dan kekaguman karena diri sendiri ternyata berhasil sampai ke tahap ini. Setelah turun menyusuri tangga, kita disuruh rappelling. Tahu nggak, dimana kita harus berdiri 90 derajat menghadap dinding dan turun kebawah sambil memegang tali dan menendang-nendang tebing? Takut tapi tidak terlupakan! Tips rappeling adalah, gunakan seluruh telapak kaki, jangan ujungnya saja untuk menghindari terpeleset.

Rappelling, diambil dari google.
Setelah rappelling, akhirnya pemanjatan selesai juga. Aku menarik napas lega saat memastikan aku sudah berada di daratan, kemudian duduk dan makan dengan nasi box yang telah disediakan panitia.. Kami pun melakukan perjalanan pulang setelahnya, disertai dengan pengalaman-pengalaman baru yang bisa diceritakan. Perjalanan balik diiringi hujan, namun untungnya tidak macet sehingga tidak telalu molor dari jam pulang estimasi awal. Akibat dingin dan nyaman, aku tidur di dalam bus. Asik sekali lho kalau beristirahat setelah kecapekan!

Jadi, kalau yang aku dapat dari pemanjatan ini adalah bahwa kita tidak bisa maju kemana-kemana kalau kita membiarkan rasa takut menguasai diri. Itu kerasa banget pada saat pemanjatan yang miring. Kalau kita takut dan nggak berani, ya kita nggak bisa turun juga. Kita mau kembali turun ke daratan, maka kita harus terus bergerak dan tidak menoleh ke bawah. Oke kan, seperti pelajaran hidup yang secara tidak langsung diajarkan alam.

Kalau ada yang ingin mencoba memanjat tebing, Tebing Parang di Purwakarta adalah salah satu rekomendasi tempatku.

Sip, see you!

 

Thursday, February 25, 2016

Kawan-kawan awan

Hai,

hari ini aku suntuk. Sangat suntuk. Banyak hal yang membuat kesal, gemas, dan capek hati hari ini. ah, ya sudahlah. Aku pun tanpa pikir panjang membeli tiga bungkus biskuit dan lima potong risoles untuk menyelamatkan hari menyebalkanku.



Saat itu, aku pulang kuliah dijemput oleh Mama, menggunakan si mobil putih yang sudah familiar sekali beberapa tahun terakhir ini. Sambil mengunyah biskuit, aku pun menyadari awan-awan yang terlihat kontras warnanya. Buru-buru kukeluarkan ponsel untuk kupakai fitur kameranya.


Ternyata, lalu lintas macet dan aku pun dengan semangatnya mengambil foto dari banyak sudut pandang. Pada suatu detik, ada pemandangan awan yang bagus sekali namun ponselku sempat nge-hang dan momen itu terlewati. Percaya atau nggak, aku sempat nangis beneran saat menyadari posisi indah tersebut tidak dapat diabadikan begitu saja.

 Maklumlah, cewek kalau lagi bete emang jadi emosian haha. Yasudah, saat si ponsel sudah benar aku pun mengambil foto yang lain.


 
Menyadari hari yang semakin larut, aku semakin memicingkan mata untuk mencari pemandangan-pemandangan yang kira-kira strategis. Berkali-kali aku menjepretnya. Entah mengapa, aku merasa tenang. Aku merasa ingin diajarkan dan diceritakan sesuatu oleh suasana ini dan emosi naik-turunnya yang bagaikan detak jantung.

 
 

Hari pun semakin gelap dan aku sudah sampai di rumah. Dengan semangat menggebu-gebu aku menuliskan pelajaran hari ini di blog. Semoga aku bias kuat menghadapi masalah-masalah, bisa belajar untuk sedikit bermental 'apa lo liat-liat?!', dan semakin menghargai hal-hal indah yang ternyata menghibur.

Oh ya, shout out untuk Mama yang rela memutar balik mobil di jalanan hanya karena aku ingin memfoto awan. Beliau betul-betul mengerti kecengengan dan kesukaan anaknya ini.

Salam dari si cengeng yang sedang belajar untuk menjadi galak.


Wednesday, February 24, 2016

Let's fictively meet: Sigmund Freud

Halo, berhubung aku memang sedang tertarik pada tokoh-tokoh psikologi dan tokoh-tokoh fenomenal lainnya, akhirnya aku membuat hal-hal seperti ini dengan imajinasiku.  Sekalian menyicil untuk membuat ringkasan, tetap dengan cara yang fun dan mudah untuk kuingat. Oh ya, data-datanya diambil dari catatan dan penjelasan dosen-dosen psikologiku dan buku cetak yang kami pakai. Silahkan di nikmati, karena tulisan ini memang untuk bersenang-senang! :-)

---

 
 
Suasana kafe di dalam mal tersebut ramai saat aku melewati pintu besarnya. Restoran bergaya tradisional ini didominasi warna ungu yang cukup mentereng. Aku merasa cocok dan merasa tenang, apalagi dengan bangku-bangku unik berkonsep trisula, sebuah tombak bermata tiga yang menjadi simbol dari bidang psikologi. Ilmu tentang mental dan perilaku tersebut sebetulnya memiliki banyak tokoh fenomenal.  Lalu, sosokku langsung berdiri dan menyalami seorang bapak gagah yang ternyata sudah datang duluan. Wajahnya serius dan keras, namun teduh saat tersenyum. Kami berdua pun duduk dan mulai membuka buku menu. Saya pun memperkenalkan nama saya, Hanna. Sementara beliau merapikan jas, memberikan kertas pesanan kami kepada waiter dan mengangguk saat menyebut namanya sendiri. Sigmund Freud.

H: Sore, Pak Freud. Terima kasih karena mau datang menemuiku walaupun Bapak pasti sedang sibuk.

F: Tidak apa-apa, saya senang kok berbicara dan mendengarkan orang lain.

H: Bapak ini ya, senang sekali membuat teori dari pembicaraan. Sebagai psikolog, Bapak sudah banyak membuat teori dari konsultasi-konsultasi klien Pak Freud. Keren!

F: Tunggu, sebelumnya, aku ingin meralat pengucapan namaku. Dibacanya ‘Fro-id’ ya, bukan’ Fre-ud’. Hehe, aku sudah terlalu terbiasa dengan orang-orang yang salah menyebut.

H: Oh ya, maaf Pak. Maklum, aku tidak terbiasa menyebut nama asing. Nah, kenapa sih Bapak sempat masuk ke pendidikan kedokteran? Kalau aku tidak salah dengar, di Vienna Medical School ya?

F: Ini pertanyaan menarik, walaupun mungkin jawabanku kurang bisa memuaskan. Kamu percaya nggak kalau aku masuk kedokteran bukan untuk menyembuhkan orang, tapi untuk memuaskan rasa penasaranku karena manusia?
H: Jadi, tidak ada motif yang berhubungan dengan alasan medis ya?

F: Begitulah, aku memang penasaran akan manusia yang luar biasa kompleks. Aku bahkan sempat meneliti tentang tingkat-tingkat kesadaran manusia karena ternyata hal tersebut menjadi inti dari teoriku, psikoanalisis. Begitu banyak hal seru yang bisa diselidiki.

H: Kalau aku nggak salah ingat, psikoanalisis adalah analisa tentang pengaruh dorongan-dorongan yang tidak kita sadari terhadap diri kita yang sekarang? Misalnya nih, kita suka stress, cemas dan juga senang marah-marah sama orang lain. Dengan kata lain, agresi. Bagaimana pendapat  Pak Freud tentang ini?

F: Aku berpendapat bahwa manusia mempunyai tiga tingkatan kesadaran. Alam tidak sadar, alam bawah sadar, dan kesadaran. Semuanya bisa berefek ke tindakan dan cara berpikir kita, lagi-lagi secara tidak sadar. Pasti kamu sering dengar dong tentang istilah-istilahnya, dari acara hipnotis ataupun sumber-sumber lainnya?

H: Boleh dijelaskan lebih lanjut nggak, Pak? Aku masih belum ngeh.
F: Tentu saja. Alam tidak sadar itu berupa hal-hal yang tidak kita sadari. Misal nih, kita sebetulnya marah namun kita tidak tahu dan melampiaskannya melalui ngeledek orang lain, biar kita sendiri merasa lebih senang. Memang tidak terang-terangan dan bahkan tidak disadari diri sendiri, tapi kita sebetulnya marah. Kalau mengenai alam bawah sadar, misalnya begini. kamu ingat tadi di depan pintu ada patung putri duyung warna ungu tua?

H: Ingat dong, patungnya cantik sekali ya dengan berlian-berliannya!
F: Nah, kamu berhasil mengingatnya dengan baik. Padahal, ingatan tentang patung putri duyung tersebut hanya sekilas lewat dan istilahnya, nggak terlalu penting. Tapi kamu berhasil mengingatnya karena hal tersebut masuk ke alam bawah sadarmu. Begitu, Han.

H: Dan mengenai kesadaran, pasti seperti halnya aku sadar aku sedang berbicara dengan Bapak. Betul, kan?
F: Ya.Kamu bisa sadar sepenuhnya seperti ini karena informasi dari panca indramu. Telinga, matamu, semua bekerja untuk memproses kesadaranmu. Ngomong-ngomong, masuknya informasi ke kesadaran itu bagaikan rakyat yang ingin bertemu dengan sang raja, lho!

H: Oh ya?

F: Begini, anggap saja lah informasi yang ingin melewati ketidaksadaran bagaikan mau melewati pintu gerbang sebuah istana. Kemudian ia bertemu dengan penjaga pintu, disaring lagi ke ruang tamu, kemudian di seleksi oleh penjaga. Apakah orang ini layak bertemu sang raja? Setelah lolos seleksi seperti audisi Indonesian Idol, si informasi ini akan bertemu si raja ini di kesadaran.

H: Menarik sekali, Pak Freud! Bapak ini hebat sekali ya, selalu memikirkan hal-hal menarik dan menjadikannya nyata dalam aplikasi sehari-hari juga.

F: Nah, itu ada ego yang berperan. Ego, si pelaku tindakan nyata, yang mewujudkannya menjadi nyata. Tidak seperti Id, si penghasut dalam diri, dan si Superego si hati nurani. Oh, aku lupa menjelaskan kalau Id, ego, dan superego adalah elemen-elemen dalam alam pikiran manusia menurut teoriku. Ingat, pikiranmu tidak boleh didominasi superego lagi. Bisa-bisa kamu merasa bersalah terus-terusan.

H: Pak Freud tahu saja, haha. Tapi kalau pikiran yang didominasi Id seram juga ya, bisa bersenang-senang terus tanpa memikirkan orang lain. Egois.

F: Nah makanya, kalau kamu marah, lebih baik dimanfaatkan dalam bentuk nonjok-nonjok guling, atau disebut dengan istilah 'sublimasi'. Lebih oke kan?

H: Betul tuh, aku harus pandai memilih self defense mechanism yang tepat, ya. Kalau aku melampiaskan marahku dengan ngomel ke adikku, rasanya aku akan memperparah keadaan.

F: Iya nih, lebih baik kamu nari-nari atau karaoke.

H: By the way, Pak Freud, sepertinya Idku mulai mendominasiku dan menyuruhku untuk makan. Memang penghasut, nih. Perasaan yang mendorong untuk makan. Haha, kruyuk-kruyuk perutku.

F: Namanya juga Id, si pemenuh kesenangan. Tuh, pas banget ayam bakar kita sudah datang. Yuk, dimakan dulu . Nice talk, ya!

 Kami masih berbincang mengenai hal-hal menarik lainnya, namun Pak Freud harus izin duluan beberapa saat kemudian karena ada urusan. Ia menitipkan sebuah lembar lima puluh ribuan untuk berpatungan denganku. Aku mengangguk, ia memakai topinya kembali dan pamit. Beliau memang sosok pioneer dalam psikologi yang mengagumkan. Beragam teorinya, mulai dari teori gunung es hingga tahap-tahap perkembangan pola pikir anak menuntun peneliti untuk mencari tahu lebih jauh dan menemukan topik-topik lainnya. Aku pun melanjutkan makanku sendiri, sembari mencerna semua ilmu yang telah ia berikan selama makan sore tadi. Namun tiba-tiba aku berhenti mengunyah. Aku meletakkan sendokku dan berpikir, jangan-jangan ia sedari tadi mengobservasi gerak-gerik dan cara berbicaraku. Akankah muncul sebuah teori baru akibat percakapan ini?Entahlah, psikolog tersebut memang sosok yang misterius namun kece.

 

 

 

Sunday, February 21, 2016

insecurities: tragedi rambut

Hei,

Maaf ya akhir-akhir ini aku banyak pikiran sehingga terlalu sering menulis di blog. Entahlah, aku merasa lebih nyaman mencurahkan uneg-uneg disini dibandingkan curhat sama teman, walaupun itu pilihan yang oke juga. Namun sejujurnya, aku sendiri tidak tahu apa yang kugelisahkan. Jadi, sepertinya random.

Oh, tadi aku berniat mencoba potongan rambut baru dan dimulai dari potong poni. Setelah kutimbang-timbang, ternyata poni rata belum pernah kukenakan. Singkat cerita, aku meminta tolong Mama untuk mengguntingkannya.

Dan ternyata, saudara-saudara, aku terlihat aneh karena poninya kependekan dan mengingatkanku akan sebuah boneka daruma.


Ya sudahlah, que sera sera. Apapun yang terjadi terjadilah :"D

Ngomong-ngomong, aku sudah mengalami banyak masalah karena rambut. Namanya juga perempuan, pasti deh insecure sama bagian-bagian tubuhnya sendiri. Termasuk juga aku. Jadi pas masa-masa puber itu, sekitar masa SMP, rambutku ngembang kayak Toad, si jamur dalam game Mario Bros. Ngembang dan berbentuk aneh, membuat aku selalu gemas melihat bayanganku sendiri.

Berhubung lagi-lagi aku nggak pede (apalagi masa SMP tuh masa-masa labil dan pengen ngeceng), akhirnya aku mengikuti saran orang-orang untuk men-bonding rambut. Jadi rambut jamurku akan diluruskan dengan obat dan bahan kimia. Kalau lihat di foto orang sih, hasilnya bagus. padahal, karena model di foto itu cantik dan berbeda denganku :")

Oke, dengan nekad aku memutuskan untuk mengikuti proses pem-bonding-an ini. Rasanya pantat sampai pegal karena proses pemberian obat yang dilakukan berlapis-lapis dan berkali-kali. Saat bonding, bergerak pun harus seminim mungkin untuk hasil yang maksimal.

Akhirnya proses pem-bonding-an selesai, dan aku dengan pedenya foto selfie untuk dimasukkan ke Friendster *zaman dahulu sekali ya*. Setelah kulihat-lihat, lagi-lagi aku insecure akibat perbedaan dengan rambut-rambut indah teman-teman lainnya. :')

Setelah sekitar setahunan, rambutku kembali ngembang dan aku mencoba smoothing. Kalau kata orang sih, smoothing lebih tidak keras dari bonding. Oke deh, dengan harap-harap cemas aku mencobanya. Proses smoothing memang tidak seribet bonding, namun rambutku menjadi lurus sekali dan kinclong. Kalau laba-laba manjat juga sepertinya bisa terpeleset. Kayak jalan tol. :')


Akhirnya, rambutku mulai tumbuh normal, walaupun bagian bawah masih banyak kerusakan akibat smoothing dan bonding itu. Nah, setelah agak panjangan, aku pun nekad mau meng-highlight rambut. Mumpung masih muda, pikirku. Akhirnya aku memilih warna kuning muda dan jadilah garis-garis mencolok di kepalaku tersebut. Awalnya sih aku suka banget, tapi ternyata banyak orang yang bilang rambutku seperti lampu merah. :')


Beberapa saat setelahnya, aku mencatnya menjadi hitam sepenuhnya kembali akibat ketidak pedeanku. Berkali-kali memotong rambut untuk membuang kerusakan, akhirnya rambutku normal walaupun sedikit berbentuk jamur. Akhirnya, aku udah nggak berani bereksperimen pada rambut keseluruhan dan mau coba-coba di poni saja.

Nah, kalau buat cewek hal-hal kecil seperti ini aja menjadi vital banget. Sebetulnya kita sering mendengar untuk mencintai diri kita sendiri apa adanya, karena we are amazing just the way we are. Tapi, kok kerasanya susah banget ya untuk melaksanakannya? Kalau melihat teman-teman lainnya yang kece banget, kok kita jadi minderan banget?

Ya begitulah, insecurities memang menyebalkan namun itulah yang membantu kita untuk mengenali diri kita sendiri. Oke deh, sekian curhatku. Mana curhatmu?

Udah deh, dengerin lagunya One Direction aja yang mengatakan bahwa kita semua cantik, apapun kekurangan dan insecurities kita. *menghibur diri* :"D








:P

Berlari dalam Harmoni- BAB VI~ Tidak Boleh Mengecewakan

Hari itu sendu sekali. Pohon-pohon rindang yang biasanya ramah kali ini terlihat kejam dan buas, persis singa kelaparan yang sudah tiga hari tidak mendapatkan mangsa. Hujan rintik-rintik menemani sosokku dan Carlos di dalam ruangan kosong di lantai dua di rumah kami. Carlos berjongkok dan mengacak-acak rambut ikalnya frustasi. Wajah dan sekujur badannya dibasahi keringat, matanya menengok ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan maksimal. Kecemasannya kumat lagi.

“Kel,” Carlos berkata sembari menahan air mata yang hendak keluar, berjongkok di depan jendela lebar yang saat ini tertutup rapat. Walaupun tidak dibuka, hawa di dalam ruangan tetap dingin akibat hujan di luar rumah. Kakakku mulai berguling-guling di lantai dengan panik. “Aku mulai disuruh lompat dari lantai atas dan bunuh diri, Kel. Mereka tidak mau pergi.”

Aku mengusap punggung Carlos yang mulai bergetar tak beraturan. Kami sempat ke psikiater ternama tempo hari. Dokter kejiwaan yang bernama Yohan tersebut sudah memberikan beberapa obat penenang seperti remital. Mulutku sudah dower memaksa Carlos untuk mengonsumsinya. Ia saja yang bandel dan keras kepala untuk terus menolaknya. Ia menganggap dirinya gila karena disuruh minum obat, padahal hanya itulah yang bisa membantunya untuk tenang kembali.

“Los, kamu bandel sih, disuruh makan obat setiap malam malah sengaja menghindar.” Aku mulai mengomelinya, walaupun tak tega juga melihat dirinya yang makin ketakutan. Teman-teman Carlos juga mulai curiga, dan hari ini Carlos bilang bahwa teman-temannya dari kelas lain meneriaki dirinya terus-terusan sepanjang kuliah. Suara mereka terdengar  marah dan terus meminta Carlos untuk bunuh diri. Tenang, aku masih punya hati untuk tidak menambah kepanikan kakaku tersebut. “Kel, kamu harus tahu,” Carlos berujar dengan suara lirih. “Mereka menginginkanku mati. Mereka bilang aku bernapas pun tidak ada gunanya.”

“Itu semua hanya pikiran dan imajinasimu, Carlos. Gunakan logika.” Aku menggenggam tangannya yang semakin keringat dingin. Kali ini, aku mengambil obat penenang di dalam kantong plastik berwarna putih yang sedari tadi sudah kubawa untuk memaksa Carlos. Aku menyodorkannya tepat di depan hidung mancung Carlos. Anak menderita itu adalah Carlos Hutama yang dulu populer di kalangan cewek-cewek sekolah. “Tolonglah, demi dirimu sendiri. Makan obat ini.”

“Barusan mereka meneriakiku lagi, Kel. Mereka bilang kamu pun membenciku dan membicarakanku di belakang.” Cowok gagah tersebut semakin berguling-guling tidak karuan. Baju merahnya basah dan menjadi lecek tidak karuan. Lantai keramik 30x30cm yang dingin tersebut menjadi lengket akibat keringat dari sosok Carlos. Ia masih meringis-ringis ketakutan. “Aku tidak perlu obat, ini semua bukan halusinasi!”

“Kalau bukan untuk dirimu sendiri, lakukanlah buat Mama, Los! Kau tahu betul betapa sedihnya ia karena sampai sekarang Papa masih di rawat di rumah sakit? Papa tifus, Los. Mama sudah sangat terpukul!” Aku mulai tidak sabar dan menghentikan tubuh Carlos yang mengeras. Duh, anak ini keras kepala sekali! Tangan kecilku menahan pergelangan kekarnya dengan semua tenaga yang kumiliki. Sekali lagi, aku menyodorkan kantong kecil berisi obat batangan berwarna putih tersebut ke depan hidungnya, yang masih saja meronta-ronta.’

“Kelly, di obat itu ada racun! Aku akan benar-benar mati kalau kau paksa aku memakan itu!” Ia berusaha melepaskan diri dari kekangan tanganku. Tentu saja tenaganya lebih besar dari milikku. Ia menghempaskan diri ke tembok, bahkan menjeduk-jedukan kepalanya ke tembok. Carlos merosot lagi ke bawah, sambil menyentuh tekstur kasar tembok putih susu yang diam pasrah. “Bagaimana cara agar suara pikiranku tidak terdengar orang, Kel?”

“Astaga.” Aku menarik napas kesal dan akhirnya mencekoki obat tersebut penuh pemaksaan ke bibir mungil Carlos. Akhirnya tertelan juga walaupun tanpa menggunakan air. Carlos melonjak kaget dan teriak ketakutan. Cowok tersebut lari ke pojokan dan meraung-raung frustasi. “Aku akan mati karena dibunuhmu dan obatmu!”

Kalau dibiarkan, otak akan mengintimidasi diri kita

Aku mengingat perkataan Pak Yohan dalam klinik psikiatri beberapa hari yang lalu. Aku masuk ruangan bersama Mama, selagi Carlos disuruh duduk dikursi tunggu. Bapak berambut pendek yang sudah berumur kepala lima tersebut menjelaskan baik-baik tentang keadaan Carlos yang kehilangan kesadarannya akan dunia nyata dan dunia khayalan.

Untuk memiliki hidup sehat, kita harus bisa menyeimbangkan antar ekspektasi, perasaan, dan dunia nyata.

Otakku bekerja keras memikirkan bagaimana meningkatkan perasaan yang nyaman. Untuk rileks, Carlos tentunya harus distimulasi dengan sesuatu yang menyenangkan. Sebuah hal yang membuatnya nyaman dan merasa terlindungi, seberapa parahnya pun keadaan dunia khayalnya. Tanpa perlu waktu lama, kakinya melangkah ke biola yang tergeletak pasrah di meja belajar di luar ruangan. Si bow, tongkat penggesek, yang sudah kering tersebut kugosok lagi dengan pelumas yang bernama rosin. Oke, kini bow berukuran panjang milikku sudah berfungsi seperti semula. Tanganku terayun menggesek senar biola yang sudah terpampang rapi di bawah daguku.

Take heart, this world is ours

Run high and fast now they are coming for us

Lirik tersebut langsung ikut bernyanyi dalam pikiranku. Nada-nada melengking dari biolaku ternyata berhasil membuat Carlos berhenti meraung seperti anak serigala tersesat di zaman dinosaurus. Ia menatapku saat mendengar nada lagu kesukaannya, walaupun masih belum berhenti mengacak-acak rambut hingga sudah tidak jelas lagi potongannya.

Take heart, we’ll fight the hours

Fall back in light running through the forest

Matanya sedikit memberi pandangan baik. Ada sinar kecil yang redup sebelumnya, namun setidaknya masih ada harapan untuk mengobarkannya kembali. Aku akan berusaha mati-matian untuk terus menemani kakakku. Malu? Tidak sama sekali, ia tetap kakakku yang dulu berpetualang bersamaku dengan boneka-boneka binatang kami.

Oh, you’re everything to me

Loved you ever since the day we parted

Oh, you’re everything to me

Carlos menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dari penderitaan yang selalu dan tidak pernah bosan mendatanginya. Aku tahu betul rasanya ditindas oleh pikiran sendiri. Kepanikan, kemarahan, keputusasaan, semua bercampur menjadi satu bagaikan bumbu hidangan yang diaduk-aduk dalam pot kuah.

Why, why bring me down

Owe nothing to your frown

Just this kid ain’t your town

Take that walk and turn around

(Take Heart- The Sam Willows)

Biola mulai berani kuletakkan I lantai karena Carlos sudah bisa menenangkan diri dengan latihan pernapasan yang dijelaskan Bu Rina, sang psikolog yang ternyata perhatian sekali padanya. Bayangkan, ia selalu membalas email dan pesan singkat kami dengan cepat walaupun kami mengirimnya di luar jam kerja. Aku semakin terinspirasi olehnya, menjadi seseorang yang membantu tidak hanya demi komersil. Sepertinya aku sudah punya arah yang jelas untuk mengambil jurusan kuliah.

Aku pun mengantar Carlos yang sepertinya lelah dan mengantuk. Tubuhnya tergeletak pasrah di ranjangnya di kamar sebelah, dan terlelap tanpa membutuhkan waktu lama. Ternyata, obat yang diberikan psikiater efektif juga. Ia bisa melupakan sejenak suara-suara menyebalkan yang meneror hidupnya selama 24 jam dalam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Matanya sudah terpejam, aku pun menutup badannya dengan selimut berwarna biru dan menyalakan pendingin ruangan. Lampu kuremangkan saat aku yakin ia sudah masuk ke dunia mimpi sepenuhnya.

Aku turun ke bawah, dan mendapati Mama sedang bertopang dagu. Hal tersebut memang selalu dilakukannya tiap aku bertemunya sore hari setelah ia selesai bekerja dan pulang ke rumah dengan segala permasalahan dengan rekan kerjanya. Wanita tersebut sedang mengenakan blazer abu-abu, namun wajahnya bukan wajah wanita karir ambisius yang biasanya. Mama menghela napas berat sambil meletakkan ponselnya yang sudah berhenti berdering. “Keadaan Papa sudah membaik, namun masih butuh di rawat untuk beberapa waktu ke depan.”

“Mama harus tetap semangat!” Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang semakin hari semakin kurus. Setelah kuperhatikan, ternyata tubuhnya menjadi lebih kurus dan lemas. Tadinya, pandangan matanya selalu semangat walaupun ia habis dimaki bos ataupun difitnah oleh rekan kerja di kantor. Biasanya, ia akan selalu menyapaku seolah tidak ada masalah apapun yang terjadi pada dirinya. Mama adalah wanita kuat yang sanggup melupakan masalah di luar rumah untuk bersenang-senang bersama keluarganya. Ternyata, mata penuh daya juang tersebut sudah tidak kuat lagi dan mulai meneteskan air mata kesedihan.

“Kel, memangnya Mama ada salah apa sama semua orang? Mama sepertinya juga mulai ikut stres.” Ujarnya sambil tetap berusaha berekspresi datar. Aku tahu ia bukan orang yang suka menangis di depan orang lain. Kalau Mama menangis di depanku, maka ia sudah melewati ambang batas ketabahannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang mulai berkeriput tersebut. Air mata tetap mengalir dari sela-sela jari tangan, dan entah mengapa pemandangan tersebut sangat memedihkan hatiku. Biasanya, akulah yang mencari perlindungan dari tangan-tangan tersebut yang dengan hebatnya mendekap tubuhku erat-erat. Mama terlihat sakit dan tirus, posisi duduknya kini menjadi semakin letoy. Tubuhnya kini bergetar pelan. “Kenapa Mama harus menghadapi hal-hal ini, Kel? Kenapa orang-orang yang Mama sayangi juga harus menderita? Papa tifus dan difitnah-fitnah di semua berita media, Carlos stress, dan mungkin Mama sudah tidak kuat lagi kalau kamu juga kenapa-kenapa.”

“Ini bukan salah siapa-siapa, Ma.” Aku memberi pelukan hangat kepada sosok yang lebih kuat dari pahlawan super tersebut. Ia pun menaruh kepala letih beliau di pundakku sembari berusaha mengendalikan diri kembali. Ternyata, setiap orang membutuhkan pelukan, entah dia kuat bagaikan baja ataupun lemah bagaikan tempe. Aku mengusap tangan yang biasa merangkulku tersebut. “Masalah ini adalah ujian yang menguatkan kita.”

“Mama merasa ingin menyerah saja, Kel.” Ujarnya yang sudah lebih tenang. Air mata masih menetes deras, namun kini ia sudah lebih kuat. Mama sudah bisa berbicara jelas, walaupun suaranya parau. Suaranya yang parau lagi-lagi membuatku tambah sedih.

“Tuhan lagi menguji kita, dan akan memberikan rencana indahNya pada waktu yang tepat.” Ujarku tiba-tiba bijak. Waktu yang telah menunjukkan pukul tujuh sore tersebut terasa berhenti sejenak. Entah mengapa, aku merasa ingin kabur ke lubang hitam di luar angkasa sana. Namun aku ingat Mama, Carlos, dan Papa. Mereka semua sedang dilanda cobaan dan aku harus tetap kuat untuk mereka semua.

“Ma, aku juga sedang berusaha menaikkan nilai-nilai ulanganku di sekolah dan kini Tuhan mulai menunjukkan hasil dari usahaku.” Ujarnya sembari Mama mengelap wajah basahnya dengan tissue di meja makan tersebut. Sosok di sebelahku sudah kembali menjadi Mama si wanita baja dan mandiri. Aku mengusap punggung Mama lembut dan tulus. “Ternyata sudah naik dan nggak dalam ambang ketidaklulusan lagi. Tuhan juga udah mengirimkan teman belajar yang menemani dan memotivasiku.”

Mama membetulkan kacamatanya, dan beranjak menuju dapur untuk memanaskan lauk sayur asam dan nasi yang sudah aku rebus tadi pagi. Ia membuang tissue-tissue basah di meja ke tong sampah dengan energi yang terlihat setiap harinya. Wanita tersebut membelai lembut rambut sebahuku dan memberi tepukan hangat di pundak. “Seperti yang kamu bilang, kita harus berusaha dan nggak boleh mengecewakan Tuhan.”

 

 

 

 

 

Saturday, February 20, 2016

mengalami keindahan si pohon yang sepele

Haloooo...

Jadi, hari ini aku menggunakan mobil sebagai kendaraan untuk berpergian ke berbagai tempat. Tenang, tidak terjadi kecelakaan karena bukan aku yang menyetir. Duh, kapan ya aku bisa berani dan nggak panikan untuk mulai membawanya? Sepertinya masih akan butuh waktu lama, haha.

 Selama perjalanan, rasanya jenuh sekali melihat macet dimana-mana. Manusia berlalu lalang, motor yang berebut untuk lewat, dan juga mobil-mobil lainnya yang berklakson tanpa ampun. Debu-debu di luar membuatku malas untuk membuka kaca. Aku tidak ingin terbatuk-batuk seperti nenek-nenek nggak ada gigi. Jadi, tutup kaca saja deh walaupun kurang mantap suasananya.

Kemudian, aku melihat pohon dan dedaunan.

cahaya lampu yang tertahan
 
 
Ternyata eh ternyata, mereka sedari tadi menemani perjalananku. Mereka rindang dan teduh, bahkan rela menutupi keseluruhan atap ruang terbuka tersebut. Cahaya lampu yang berusaha menorobos posisi sang daun terasa keren karena menciptakan siluet-siluet kemerahan. Daripada bosan, akhirnya aku memutuskan untuk menikmati kehadiran mereka yang tanpa kenal takut selalu berjejer di pinggir jalanan tersebut. Ya, selalu.

video
 
Mobil yang bergerak membuat kameraku bergoyang dan buram. Namun setelah kulihat-lihat lagi, ternyata pohon yang buram itu cantik!

Buram namun tidak suram
 

Lalu, langit menjadi semakin sore dan matahari mulai pamit undur diri. Cakrawala pun mulai merah merona, dan tanpa ragu-ragu semakin menentramkan hati. Gemas, rasanya. Aku merasa ingin mencubitnya pakai gunting.

Bersembunyi
 
Nun jauh di sana
Si pohon pun berkolaborasi dengan langit kemerahan tersebut untuk menciptakan sebuah panorama yang sulit dideskripsikan secara harafiah. Cantik, iya. Manis, iya. Anggun, iya. Namun setelah dipikir-pikir, sedih juga iya. Campur-campur seperti cinta pertama yang pedas, asin, manis, pahit. Eh, ini perasaan atau gado-gado ya?

video
 
 
Taraaa, seberapa pun cepat laju kendaraan beroda empat ini, si langit kemerahan tetap berada nun jauh di sana. Barisan pohon yang seolah berlari bersama roda-roda mobil juga tak mampu menjangkaunya. Akhirnya aku mengabadikan momen kejar-kejaran menyenangkan tersebut melalui video dan foto-foto.

Si pohon yang sepele ini indah, sangat indah. Mungkin lain kali aku akan merekam sudut pandang lain dari si pohon ini. Mungkin, kemarahan atau kekesalannya. Untuk hari ini, aku melihatnya sebagai si cantik jelita. Barangkali penafsiranku akan berbeda di lain hari. Weits, berbagai perspektif bisa saja berlawanan dan aku akan mencari kontradiksinya.

Selain si pohon, pasti masih banyak cantik-cantik lainnya yang hanya saja belum kuperhatikan. Setiap merasa jenuh, aku merasa tertarik untuk mengalami hal-hal seperti ini. Sepertinya blog ini akan segera penuh dengan tulisan-tulisan semacam ini. Nah, jangan bosan ya membaca pengalaman-pengalamanku!

Oh, aku menambahkan label postingan yang baru berjudul 'mengalami'.

See you!

 

Thursday, February 18, 2016

I'm dreaming of you and you don't even know




Tanpa sadar, setitik air mata tidak berhasil bertahan setelah mereka membalikkan badannya. Lelaki itu menggandeng Rena, sahabat sejak sekolah dasarku. Mereka berdua tersenyum, Rena terlihat cantik dengan lesung pipinya yang muncul saat Leo memberikan sekuntum bunga beberapa waktu sebelumnya. Keduanya berpelukkan pada senja yang tidak panas tersebut sembari menatap  keindahan langit yang ingin menyambut sang rembulan. Warna kemerahan yang mengelilingi kami menciptakan siluet-siluet hitam yang luar biasa cantik. Pada saat yang bersamaan, aku hanya bisa mengacungkan jempol pada Leo. Cowok berpostur tinggi tersebut menganggukkan kepalanya, berterima kasih atas aku yang bersedia menjadi mak comblang selama beberapa bulan terakhir ini. Tidak, aku tahu aku tidak boleh cemburu begini.

Restoran di tepi gunung tersebut sepi dan tenang. Aku, si cewek kutu buku yang sedang berusaha kerja part time, duduk mojok sendirian dengan seragam restoran yang didominasi warna biru. Aku pun teringat pada Mama yang bangga melihat tekadku berkarir dengan caraku sendiri. Aku lebih menyukai berjalan perlahan namun pasti. Walaupun lelah karena harus selalu bermacet ria setiap selesai kuliah, aku memotivasi diri untuk tidak menyerah. Aku sudah meninggalkan diriku yang dulu, si Freya yang manja dan tidak bisa apa-apa. Kini, aku ingin membuktikan kepada orang-orang yang terus meledekku karena ketidakmampuanku. Aku yang sekarang adalah Freya yang berusaha mati-matian agar tidak diremehkan orang lain. Aku bukan orang kaya, maka yang dapat aku lakukan untuk eksis adalah dengan menggunakan otakku dengan sebaik-baiknya. Harta yang dapat diwariskan orang tuaku adalah ilmu dan pendidikan.

Leo adalah teman sekelasku di jurusan akuntansi. Aku ingat pertemuan pertama kami adalah saat ia di marahi oleh senior karena salah membawa peralatan pada masa pengarahan mahasiswa baru. Ia membawa plastik bening, padahal kakak-kakak senior sudah mewanti-wanti untuk membawa yang berwarna merah solid. Oh, saat itu Leo masih berambut cepak pendek dan hanya bisa cengegesan. Kesan pertamaku padanya adalah bahwa Leo adalah cowok bandel. Semuanya bertambah aneh saat ia mengajakku untuk menjadi sekelompok berdua dalam permainan kebersamaan di akhir masa penyiksaan para mahasiswa baru tersebut. Tangan besarnya sempat menggenggam si tangan kanan kurus milikku, walaupun kejadian tersebut memang hanya berlangsung lima detik. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung mengkategorikannya sebagai lima menit paling menyenangkan seumur-umur.

Si bandel ini semakin hari semakin menarik. Leo selalu memakai kaos berwarna gelap. Entah itu warna hitam, biru tua, hijau tua, abu-abu tua, semua yang serba tua. Banyak penelitian yang bilang orang yang memakai warna-warna gelap itu sedang sedih, bukan? Pernyataan tersebut sama sekali tidak terlihat pada Leo. Ia dengan celetukan-celetukan konyolnya selalu berhasil membuatku tertawa. Leo selalu menceriakan hariku setiap kali aku merasa suasana hati sedang menyebalkan. Pemikirannya yang sebetulnya dewasa juga mebuatku makin terkagum-kagum. Tanpa butuh usaha yang terlalu banyak, aku semakin larut dan jatuh pada semua hal yang ada pada dirinya.

Semua berubah ketika ia melihat sosok temanku. Saat itu, aku menyapa Rena yang dari kejauhan membawa buku-buku tebal dengan tulisan-tulisan berukuran kecil yang bisa bikin sakit kepala. Tak lupa juga, catatan-catatan kecil yang berisikan materi kuliah kedokteran miliknya selalu ditenteng di tangan kiri. Rambut panjang bergelombang menambah pesona keanggunan cewek mungil tersebut. Gigi-gigi menggemaskannya selalu muncul setiap ia tersenyum. Aku yakin, sepasang mata teduh yang tidak pernah hilang darinya membuat setiap orang merasa nyaman berbicara dengannya. Sosok yang sama tersebut memang tidak pernah berubah dari kami masih kecil dan bocah. Ia sedari dulu memang sudah menjadi sosok yang disenangi setiap orang. Tak heran, Leo pun menanyakan perihal Rena.

Sepasang mata yang biasanya bandel terlihat tenang dan antusias pada waktu yang bersamaan saat aku berhasil membuatnya berbicara dengan Rena. Ia melonjak kegirangan di dalam kelas saat Rena membalas pesan singkat pertamanya. Aku mengingat dirinya yang perlahan berubah menjadi lebih rapi dan memerhatikan penampilannya setiap kami kelas. Pertemuan rutinnya dengan Rena selalu ia nantikan, walaupun si Rena selalu memberikan respon malu-malu dan ambigu. Biasanya, Leo akan selalu mengajakku setiap bertemu Rena. Biar nggak deg-degan, ujarnya setiap kutanyakan apa gunanya aku ikut dengan kencan-kencan pedekate mereka.

Saat ini, sudah beberapa bulan semenjak pertemuan pertama Leo dan Rena. Keduanya bergandengan tangan saat langit menjadi semakin gelap. Leo mengusap rambut indah Rena yang berantakan karena dimainkan angin berseliweran. Leo, si cowok bandel yang pernah dimarahi senior tersebut, kini menatap mata cewek idaman di hadapannya dengan begitu teduhnya. Ia semakin gemas untuk memainkan rambut Rena karena gigi ginsul Rena yang menambah kecantikan paras Rena yang tersenyum. Aku pun kagum akan aura cantik Rena yang semakin timbul seiring dengan bertambahnya kami dewasa. Leo mendekap erat Rena yang sudah menjadi miliknya hari ini. Dalam percakapan denganku kemarin, Leo bersumpah untuk menjaga baik-baik hati Rena dan tidak akan menyia-nyiakan cewek sebaik ini. Ia terlihat khawatir akan ditolak Rena. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain memberikan senyum palsu dan menyemangati Leo. Aku ingin sekali melihatnya senang dan tambah percaya diri.

Kini , sepasang kekasih tersebut sudah selesai melihat langit sore di restoran tersebut. Mereka pun mulai membereskan tas dan pamit kepadaku yang masih harus bekerja sebagai waiter restoran makanan barat tersebut.  Rena memelukku erat dan mengucapkan terima kasih atas jasaku sebagai biro jodoh berjalan. Ia berkata bahwa hari ini adalah hari ia membuka hati untuk kesempatan yang baru, dan ini semua berkatku. Aku adalah sahabat Rena sejak jaman kami masih kecil dan aku tahu betul ia bukan orang yang senang bermain-main dengan hati orang lain. Rena adalah orang yang serius dan sempurna.

Senyum palsu masih ku sunggingkan saat Leo mengajakku bertos dan izin untuk mengantar pacar barunya pulang. Pandanganku sedikit buram saat keduanya betul-betul keluar dan masuk mobil, Leo pasti akan mengantarnya pulang dan bertemu kedua orang tua Rena. Dari kejauhan, aku dapat melihat mobil merah berukuran sedang Leo pergi meninggalkan daun-daun yang berseliweran. Mobil tersebut juga meninggalkan kenangan-kenangan yang berkecamuk dalam pikiranku. Aku beranjak dan segera menghampiri pelanggan-pelanggan tetap restoran yang sudah hits di kalangan anak muda ini. Banyak pekerjaan yang masih harus kulakukan, dan aku butuh konsentrasi untuk melaksanakannya. Freya, berhentilah memimpikan orang yang tidak akan pernah tahu keekstriman mimpimu.

Monday, February 15, 2016

Percakapan sang gedung dan langit



Sore tersebut tidak cerah, namun tidak terlalu terik pula. Hawa-hawa mendung yang mulai melingkupi keseluruhan area tersebut terasa sangat terabaikan. Orang-orang berseliweran dengan motor dan mobil. Padatnya lalu lintas di perempatan jalan menjadikan tempat tersebut bising dan sumpek. Tak lupa pula terdapat kendaraan-kendaraan umum seperti bajaj dan bahkan odong-odong yang mengikuti emosi akibat panas dan rasa capek. Di atas keramaian tersebut, terdapat si Gedung dan si Langit yang seperti biasa rutin bercakap-cakap dan menikmati kebersamaan mereka.

Gedung: Duh, betapa sibuknya kegiatan hari ini! Banyak sekali orang berlalu lalang, tak lupa mereka mengenakan gawainya masing-masing. Hiruk pikuk penuh teknologi.

Langit: Ya, dasar manusia-manusia kecil itu. Aku terkadang lelah melihat mereka.

Gedung: Sebetulnya, aku tak mengerti mengapa kamu selalu sebal dengan manusia, Ngit. Mereka semua menjadikan pergantian warnamu tontonan. Mereka mengagumimu!

Langit: Aku tahu, kok. Sudah terlalu sering aku menyempil dalam foto-foto mereka. Mulai dari foto selfie, foto kelas, foto yearbook anak sekolahan, bahkan aku juga selalu hadir dalam foto-foto iklan apartemen. Lucu, bukan?

Gedung: Lalu mengapa kau sengit sekali dengan manusia, Ngit?

Langit: Entahlah, aku merasa mereka menjadi semakin sombong akhir-akhir ini. Kerjaan mereka saat macet marah-marah dan teriak melulu, bikin orang-orang di sekitarnya sakit kepala. Tin-tinan nggak karuan di mobil padahal nggak bawa perubahan apapun selain bikin orang tambah kesal.

Gedung: Wah, tapi memang begitulah tujuan diciptakannya klakson? Sepertinya kamu yang terlalu kuno, Ngit.

Langit: Memangnya tujuan awalnya klakson apa toh, Dung? Aku merasa menjadi lupa tujuan teknologi tersebut untuk mengingatkan kendaraan lain untuk berhati-hati. Kini, bunyi yang bikin sakit kepala malah dijadikan ajang panas-panasan emosi.

Gedung: Itu karena kamu melihat di jalanan saja. Kalau di dalamku nih, bangunan yang ber-AC dan dingin tersebut, mereka tidak berteriak-teriak. Apalagi kalau dalam dunia pekerjaan di kantor-kantor, tenang sekali manusia-manusia tersebut.

Langit: Sayangnya, aku tidak bisa melihat ke dalammu. Semen dindingmu tebal sekali, Dung! Sejujurnya, aku ingin sekali melihat suasana damai di dalammu. Mungkin kau perlu tahu kalau aku iri sekali denganmu, yang nggak perlu sakit telinga setiap hari.

Gedung: Namun orang-orang saat berada didalamku ini tidak lebih baik dari di tempatmu, Ngit. Mereka memang tidak teriak-teriak, namun diam. Hening sama sekali tanpa adanya kebersamaan. Tidak bias santai dan rileks sama sekali! Terkadang, aku menganggap orang yang saling teriak-teriak di kemacetan di bawahmu itu lebih baik.

Langit: Masa sih? Teriak-teriak itu bikin pusing loh, apalagi panas-panas. Aku sampai ikut gerah mendengarkan makian kebun binatang mereka satu sama lain. Pusing banget, Dung!

Gedung: Aku tidak tahu mana yang lebih baik, Ngit. Saling berteriak-teriak namun tetap berkomunikasi atau diam dan hening tanpa pertengkaran, namun juga tanpa keakraban sama sekali.

Langit: Kau tahu, Dung? Aku sudah terlalu jenuh dipenuhi dengan polusi udara. Mana layang-layang yang dulu menghiasiku? Kini sudah berganti dengan banner-banner dan iklan rokok, pula. Dan manusia-manusia yang masih saling mengeluarkan kata-kata makian tersebut, astaga. Aku ingin sekali bertukar posisi denganmu! Capek aku mendengar mereka, Dung!

Gedung: Ngit, aku juga ingin bertukar posisi denganmu dan merasakan suasana baru yang penuh interaksi. Kamu kira aku nggak bosan diam terus, Ngit? Bagaimana ini, apakah manusia-manusia ini memang sudah tidak bisa tersenyum normal lagi?

Langit: Kita saling mengiri dan mengagumi, Dung. Entah sampai kapan hal ini akan berakhir, namun mari kita berharap kita bisa mensyukuri keadaan masing-masing dan tidak mengiri.

Gedung: Ya, Ngit. Semoga manusia-manusia itu juga segera bias mengubah diri dan memberi kita berdua harapan. Sungguh, aku ingin sekali melihat keinginanku menjadi nyata. Kau tahu, Ngit, sebetulnya aku berekspektasi tinggi pada mereka.

Akhirnya, hari menjadi semakin larut. Langit biru muda segera berganti menjadi warna biru tua, membuat si Gedung dan si Langit menghentikan sementara percakapan mereka. Keduanya berpikir keras, tanpa terdengar orang-orang di bawah sedikitpun.

Ternyata eh ternyata, si pengendara motor yang sedari tadi mengomel akibat macet mulai tenang, dan mobil pun mulai saling mengalah hingga perempatan jalan yang tadinya berhenti total tersebut kini mulai bergerak. Lebih okenya lagi, pengendara motor tersebut dengan hati-hati membiarkan mobil di sebelahnya lewat terlebih dahulu.

Beberapa orang terlihat keluar dari gedung perkantoran sambil memakan pisang goreng dan berbagi cerita tentang betapa lucunya ketelodoran dirinya sendiri saat melupakan kunci mobil. Bahkan, si wanita di sebelahnya tertawa saat diperlihatkan gambar lucu dari ponselnya. Mereka berdua tidak lupa untuk tersenyum pada satpam yang membukakan pintu untuk mereka, membuat sang penjaga keamanan tersebut merasa lega dan nyaman di hari pertamanya bekerja. Ia dari tadi sebetulnya merasa deg-degan.

Si Gedung dan si Langit memang belum berbicara lagi, namun aku sempat melihat mereka saling tersenyum penuh arti.

Saturday, February 13, 2016

Tipe-tipe jomblo di hari valentine

Halo!



Hari ini hari apa ya, 14 Febuari 2016? Mungkin hari aku harus keramas, atau hari belanja mingguan? Sepertinya aku melupakan sesuatu yang penting, hmm. Oh, ternyata yang betul adalah hari valentine. Selamat hari kasih sayang, semuanya!

Ngomong-ngomong, sadarkah kita kalau valentine itu identik sekali dengan pasangan yang penuh cinta? Biasanya sih sang cowok yang diwajibkan menyenangkan ceweknya, entah dengan ucapan romantis ataupun kado-kado simpel namun spesial. Duh duh, sweet sekali ya. Maklumlah, cinta itu juga salah satu bentuk dari kasih sayang.

Pasti deh, kita bakal melihat warna pink dan jualan coklat dimana-mana. Para floris pun sedang sibuk-sibuknya merangkai bunga mengingat omset penjualan yang meningkat. Betul sih, cewek macam apa ya yang nggak meleleh dikasih perhatian ekstra dengan hadiah?

Nah, dari tadi kan aku membicarakan mahluk-mahluk yang berpacaran. Namun, nasib para jomblo yang masih atau sudah terlalu lama sendiri bagaimana ya? Akankah mereka bertahan dan baik-baik saja dalam menjalani hari ini? Entahlah, namun aku iseng membuat klasifikasi jomblo-jomblo dalam berperang menghadapi kesendiriannya di hari valentine. Weis, check it out guys!

1. Jomblo-pasrah-dan-ngenes-saja



'Selamat ya, bro!' ujar si jomblo kepada temannya yang jadian di hari valentine. Ia hanya tertawa garing melihat foto-foto penuh cinta di media sosial, mulai dari foto gandengan tangan hingga foto makan malam romantis penuh lilin. Si jomblo cengegesan pasrah sambil memeluk bantal, menunggu kapan datangnya kiriman pacar dari Tuhan.

Tak jarang pula ia menangis di hari valentine sambil menonton drama korea dan meluk guling di ranjang. Atau, ia bisa memilih kabur ke pulau dan minum kelapa sambil berusaha melupakan kejombloannya. Lebih ngenesnya lagi, ia beli bunga dan nulis surat cinta untuk dirinya sendiri. Sabar ya, mblo.

2. Jomblo-sedikit-religius



Jomblo dalam jenis yang ini mendoakan agar jomblo-jomblo di seluruh dunia diberi kekuatan untuk tegar dalam menghadapi cobaan di hari valentine. Ia dengan baik hatinya memberi semangat kepada orang lain, walaupun si jomblo ini juga merasa kesepian. Semoga para jomblo betul-betul diberi ketegaran, ya!

3. Jomblo-berpikiran-positif



Orang macam ini mengharapkan keajaiban yang kemungkinan terwujudnya hanya 0.99%, yaitu adanya seseorang yang tiba-tiba memberinya hadiah valentine dan ataupun menembaknya agar jadian. Ia berusaha mengambil hikmah, namun tetap berekspektasi tinggi. Waduh, mustahil sekali kelihatannya, namun mari kita berharap agar betul-betul kejadian.

4. Jomblo-pemarah



Orang macam ini sudah cukup muak dengan segala hal yang berkaitan dengan cinta-cintaan, dan akan mendumel terus. Ia kesal tiap melihat cowok dan cewek gandengan, ia kesal tiap melihat truk gandengan, ia sebal melihat boneka dan t-shirt couple, bahkan ia marah saat melihat buket-buket bunga yang dipersiapkan untuk hari valentine ini. Dengan sabarnya, orang ini akan menahan diri untuk tidak menyeruduk orang penuh amukan. Tapi, ini orang atau kambing lepas ya? Haha.

5. Jomblo-banyak-ingin-tahu



Jomblo-jomblo jenis ini banyak membaca buku, mulai dari sejarah valentine, membaca tentang bagaimana cara bahagia sendiri, cara menjadi populer dan disukai lawan jenis, bahkan hingga buku-buku mantra tentang mempelet orang pacaran agar segera putus. Ya ampun, semoga tabah ya.

6. Jomblo-pembawa-perubahan



Ia pun tidak mau menjadi 'no action talk only'. Jomblo-jomblo macam ini menggerakan perubahan dengan memberi tahu orang-orang tentang betapa menyiksanya pacaran ini. Provokator-provokator tersebut membisikkan kepada orang lain agar putus hubungan dengan pacar, sehingga menambah kemakmuran populasi jomblo, dan tentu saja jomblo bisa rule the world jika sudah menjadi mayoritas. Who run the world, jomblo!

7. Jomblo-pembawa-perubahan-versi-dua


Orang itu melakukan tindakan nyata dengan menembak orang lain di hari valentine. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan kejombloannya, dan nekad mau masuk ke dalam populasi orang pacaran. Ia pun kekeuh mengirimkan pesan singkat untuk mengajak lawan jenis berhubungan lebih dalam lagi. Walaupun begitu, tak jarang pula yang malah di respon dengan 'kita lebih cocok sahabatan aja'. Tenang, masih banyak ikan di laut!

---

Nah, kalian masuk di versi yang mana? Termasuk golongan apapun kalian, nikmati hari ini ya; entah dengan keluarga, pacar, mantan, gebetan, sahabat, atau bos sekalipun. Semangat dan semoga bisa bertahan dengan kejombloannya melewati hari kasih sayang. Nah, namanya aja udah hari kasih sayang. Yuk, kita berinisiatif membuat orang lain senang dan merasa diperhatikan. Lumayan lho, membuat kita lupa akan kengenesan dan kejombloan kita.



May the odds be in your favor, teehee!


Berlari dalam Harmoni- BAB V~ Terus Berlari

Orang-orang yang berkerumun di pintu gerbang mendadak saling menikung penuh energy saat pintu raksasa tersebut dibuka. Para penjaga yang sudah siap didalam memeriksa tiket setiap orang untuk memastikan tidak ada kecurangan dalam pelaksanaan konser musik klasik tersebut. Aku dan Carlos ikut menyodorkan tiket yang diberikan Gino kemarin harinya secara gratis. Aku sudah memaksa untuk membayar, namun Gino keras kepala dan menganggapnya sebagai dukungan untuk dirinya. Biar nggak terlalu gugup, katanya. Padahal kalau aku jadi dia, aku akan tambah nervous jika dilihat oleh orang-orang yang kukenal. Namun sekali lagi, aku tahu Gino berbeda dan aku cukup menyukai perbedaan tersebut. Ups.
Sore itu sebetulnya menjadi panas dikarenakan ramainya orang-orang, namun aku tetap berusaha menikmati angin sepoi-sepoi. Tubuhku yang dibalut oleh kaos berlengan panjang berwarna merah muda cukup merasa adem, dan sebetulnya deg-degan juga. Perasaanku yang malang kini menjadi makin tidak karuan mengingat aku akan melihat Gino bermain klasik. Si anak berseragam berantakan yang akan menjadi sosok berbeda akan kusaksikan malam ini juga. Ya ampun, perutku geli tak karuan akibat terlalu memikirkannya. Bagaimana jika ternyata ia menggunakan gel pada rambutnya, kemudian aku akan semakin mengaguminya? Apa yang akan terjadi pada rencana belajar bareng kami selanjutnya, aku tidak akan bisa duduk dihadapannya secara normal lagi!
“Kel.” Carlos mencolekku, ia menatap orang-orang di kiri dan kanan dengan gelisah.  Padahal sebelum berangkat aku sempat mengingatkannya untuk melakukan terapi napas yang diajarkan Kak Rina, sang psikolog yang nggak pernah bosan untuk mendengarkan cerita Carlos. Beliau juga menganjurkan tips-tips berguna saat menghadapi kepanikan, dan manfaatnya terasa sampai pada aku juga. Carlos sudah akrab dengan beliau dan keduanya semakin akrab. Ya, aku akui Carlos sudah sedikit mendingan karena tahu cara mengatasi pemikiran-pemikiran anehnya. “Cepat yuk cari tempat di dalam, aku takut para penguntitku akan menemui aku.”
“Iya, kita harus cari tempat duduk kosong dulu.” Aku dan kakakku yang menggunakan kemeja berlengan panjang berwarna hitam saat ini bergegas masuk melalui lorong-lorong dingin yang dijaga ketat. Saat melihat kiri kanan, aku bisa melihat pigura-pigura yang berisi foto dan artikel-artikel koran bersejarah mengenai tempat konser ini. Gedung tersebut megah dan didominasi warna putih, aku menyukai nuansa klasik dan jaman dulu yang sepertinya memang sudah dikonsepkan. Karpet merah yang selalu kami injak dari suatu ruangan menuju ruangan lainnya menjadi ciri khas yang sangat menyenangkan. Aku menggandeng Carlos yang sepertinya sedang berpikir  tak karuan mengenai dirinya yang akan dibunuh. “Ke arah sana, Los.”
“Wah!” Kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang diawasi lagi oleh dua orang penjaga berseragam hitam, kemudian dengan noraknya melihat sekeliling. Luas sekali! Sepertinya suara-suara dengan mudahnya akan menggema ke sekujur ruangan. Diatas banyak balkon-balkon serba guna, dan panggung besar di hadapan kursi-kursi merah kami masih ditutup tirai merah. Dinding-dinding yang berwarna hitam membuatku menganggapnya semakin keren. Carlos melupakan sejenak tentang kepanikannya, ia tersenyum mengamati sekitarnya. Andai saja rumah kami juga semegah ini!
“Sepertinya sudah mau mulai, Kel.” Carlos menunjuk kursi-kursi yang mulai dipenuhi pengunjung. Oh iya, bukan kami saja yang terlihat keren saat itu. Ibu-ibu, bapak-bapak, dan para muda-mudi di sekeliling kami juga mengenakan setelan formal. Gaun biru sepanjang kaki, rok berenda panjang berwarna krem, bahkan tak jarang terlihat lelaki yang mengenakan setelan jas hitam-putih. Suasana terlihat seperti sebuah pesta dansa pada masa-masa dahulu. Astaga, indah sekali rasanya. Dalam hati, aku berterima kasih karena Tuhan sudah mempertemukanku dengan Gino dan membuatku dapat merasakan perasaan aneh sejenis ini. Aku melihat jam tangan pink di tangan kiriku dan melihat jam yang tertera. 18.58. Baiklah, pertunjukan akan segera mulai karena ternyata lampu-lampu sudah diremangkan. Aku duduk tegak, menepuk tangan Carlos yang gugup di sebelahku. “Nikmatin pertunjukkannya aja ya, Los.”
Tirai terbuka, menunjukan para pemusik yang sudah siap di kursi-kursi panjang ditengah panggung. Terlihat seorang bapak yang maju ke depan dan menunduk memberi hormat kepada penonton. Ia pun mengenakan setelan jas, walaupun warnanya berbeda sendiri dari pemusik-pemusik di belakangnya. Jas yang ia kenakan abu-abu berkilau. Tak lupa pula sebuah dasi berwarna merah yang melengkapi penampilannya malam itu. Mataku berlari sekeliling dan akhirnya menemukan apa yang ia cari. Seorang pria dalam setelan jas hitam yang terlihat senang, dan rapi. Gino!
Para pemusik mulai bermain mengikuti aba-aba sang kondektur di hadapan mereka. Aku menikmati emosi dalam permainan musik yang dimainkan. Harmoni-harmoni pada awalnya pelan, dan apa adanya. Membuatku merasa hilang dalam duniaku sejenak. Aku menatap Gino pada bagian piano pojok. Kedua tangan lentiknya menciptakan nada-nada rendah yang berat. Aku terhanyut dan akhirnya malah fokus memerhatikannya. Kacamata yang menemaninya tetap ada, namun ada sebuah pesona yang berbeda. Susah untuk mendeskripsikan jiwaku yang berdesir-desir saat ia mulai memainkan harmoni penuh energi. Lagu-lagu klasik tersebut seolah mempunyai nyawa setiap aku melihat Gino memberikan keseluruhan dirinya dalam permainan musiknya tersebut. Dalam hati, aku berdoa agar Gino selalu merasa sebahagia ini, pada saat ia mengalami harmoni dalam nada-nada yang ia mainkan.
“Ehm.” Carlos ternyata mencolek pundakku yang sudah diam terbeku untuk entah berapa lama. Kakakku itu membawaku kembali dari dunia lamunan, yang kuakui lebih indah dari kenyataan. Ternyata, sedari tadi mataku terpaku bengong pada Gino, sang teman sekolah yang kusukai. Ia nyengir usil melihatku yang semakin salah tingkah. Carlos terkekeh pelan, melihatku yang cemberut diledek seperti itu. “Nggak apa-apa kok, asal jangan sampai kesambet saja.”
Senyumku tersungging kembali saat Gino memulai lagu Canon in D-nya sendirian, sebelum diikuti oleh pianis-pianis pengiring lainnya. Aku mengagumi tubuhnya yang seperti hanyut dan bergoyang ke kiri dan ke kanan seiring dengan perasaan yang ingin harmoni tersebut sampaikan. Sesekali Gino tersenyum dan sesekali ia mengernyit. Terkadang ia terlihat sendu, dan terkadang pula ia terlihat berkobar-kobar. Gino, aku betul-betul berharap kamu bisa menjadi sebahagia itu setiap harinya.
**
“Makasih ya, Kelly dan Kak Carlos.” Gino tersenyum ramah sambil meminum jus jeruk yang telah kami pesan sebelumnya. Ia sudah melepaskan jas hitamnya, namun masih mengenakan kemeja putih berlengan panjangnya dan celana kain berwarna hitam yang sedikit kebesaran namun masih proporsional. Gino terlihat senang saat pasta-pasta pesanan sudah mulai berdatangan satu per satu, ia tersenyum kecil. “Kalian sudah bela-belain naik taksi ke sini, padahal nggak dekat juga.”
“Justru kami yang harus bilang terima kasih.” Ujarku pelan, merasa berhutang budi. Aku sudah melepaskan kunciran rambut yang sedari tadi kumiliki, kini rambut sebahuku terurai dengan sedikit gelombang-gelombang hasil kunciran kuda tersebut. “Kalau nggak ada kamu, No, kayaknya kami nggak bakalan kebayang gimana rasanya nonton konser musik.”
“Sama-sama, gue juga senang bisa sama orang-orang yang mendukung gue.” Ujar Gino yang kini tampak sedih. Aku pun mengingat kembali sepasang suami istri paruh baya yang tampak anggun dan tegas. Kedua orang tua Gino tersebut tadi datang dan mengenakan pakaian formal yang sangat mewah dan berkilau, yang ternyata membuat mereka menjadi tontonan juga. Saat Gino menghampiri mereka usai konser, mereka tidak merespon Gino dengan acungan jempol. Malah, mereka menyarankan Gino untuk jangan sering-sering membuang waktu untuk hobi-hobi yang tidak terlalu bermanfaat. Aku ingat betul mata dan raut sedih Gino saat keduanya pamit pulang duluan, walaupun Gino sudah mengajak mama dan papanya untuk makan malam bersama. Aku sedih saat mendengar mereka yang masih mempunyai janji bisnis dengan kenalan mereka dari luar negeri. Gino menepuk pundakku pelan. “Thanks ya, Kel.”
Setelah kedua orang tua Gino pergi, kami bertiga pun memutuskan untuk makan di restoran bergaya kebaratan tak jauh dari gedung konser tersebut. Suasana di restoran lebih kasual dari gedung konser, walaupun sama-sama bergaya jaman dulu. Dinding-dinding sekitar dibuat bercorak kertas tua, namun terdapat pigura-pigura berisikan lukisan-lukisan Eropa yang berwarna-warni. Bahkan, aku juga mengagumi lampu-lampu bermodel sangkar burung di atasku. Sangat inovatif dan kreatif, berpikir melampaui batas. Seandainya saja bisa, aku juga ingin menghasilkan sebuah karya, entah bagaimana caranya. Kembali dari lamunanku, aku mendecak usil sambil nyengir saat melihat kemeja Carlos yang belepetan saos spageti. Gino pun refleks mengambilkan napkin dan memberikannya pada kakakku itu. “Nggak apa-apa, Kak Carlos. Jangan tegang gitu, Kak!”
“Kamu deg-degan nggak, Gin?” Aku bertanya di saat kami sudah hening, tenggelam dalam kenikmatan hidangan pasta panas kami masing-masing. Kami bertiga memilih menu yang berbeda-beda. Aku mengambil penne carbonara, Carlos memilih spageti bolognaise, sementara Gino memutuskan untuk memakan lasagna saja. Tekstur lembut yang disertai bumbu yang hangat dimulut membuatku sangat menyukai makanan-makanan jenis ini. Aku menatap Gino yang meletakkan sendoknya dan berusaha untuk mengunyah habis keju leleh didalam mulutnya, pipinya yang menggembung tampak imut sekali. “Lumayan, tapi cuman menit-menit pertama doing. Setelah itu gue udah bisa mengontrol nervous itu.”
“Ngomong-ngomong,” ujar Gino yang membuat aku dan Carlos memberikannya perhatian seutuhnya. Suasana restoran cukup ramai namun untungnya masih nyaman untuk bercakap-cakap intim seperti ini. “Lo keren deh kalau rambut lo lagi nggak di kuncir kuda.”
“Eh,” Wush, panas dari kakiku langsung naik ke kepala seketika. Senyum yang tersungging di wajahku semakin tidak terkontrol. Aku yang saat ini tidak mengenakan polesan make up apapun mendadak menjadi rendah diri, mencari tahu apakah ada yang salah di hidungku ataupun jidatku. Duh.
“Cantik.” Ujar Gino sambil mengedipkan sebelah matanya, meninggalkan aku yang semakin tidak karuan. Carlos tampaknya tidak peduli dengan apa yang terjadi antar kami berdua, ia hanya mengangkat bahu cuek walaupun aku tahu anak itu sedikit menahan tawa. Kakakku ini senang sekali tertawa diatas penderitaan orang lain. Aku pun sadar aku belum memberi respon apapun, dan kemudian kebingungan. Astaga Kelly, berhentilah menjadi gugup! Aku menarik napas panjang dan menghentikan jariku yang ternyata sedari tadi menjadi mengetuk-ngetuk meja. “Umm.. Makasih loh, Gin.”
“Habis ini gue antar kalian berdua pulang, ya. Gue bawa mobil kok, jadi lo pada nggak perlu naik taksi lagi.” Ucap Gino, membuat Carlos mengangguk berterima kasih. Kedua lelaki tersebut kini sibuk berbicara tentang masalah kemacetan lalu lintas, sementara pikiranku mengawang entah kemana. Aku memikirkan sang bocah berkacamata dengan kemeja berantakan yang kini menjadi teman belajar barengku, berperan ganda pula sebagai teman berceritaku. Gino..
**
“Kalian habis dari mana?” ujar Papa saat aku dan Carlos masuk ke dalam rumah malam itu, walaupun kami sudah berusaha melakukannya dengan kegaduhan sesedikit mungkin. Mama dan Papa keduanya duduk di ruang tamu sambil menyalakan televise yang seperti biasa hanya menjadi peramai suasana. Volum yang diatur pun hanya pelan-pelan sehingga tidak memungkinkan siapa saja menjadi penonton dengan perhatian penuh. Mama, yang seperti Papa, sudah mengenakan baju tidur longgar, beranjak berdiri dan mengambil tas-tas kami untuk dibereskan. Memang itulah kebiasaan beliau, sejak kami masih kanak-kanak. Papa meneguk air putih hangat yang ada di cangkir di meja di hadapannya. “Kok kalian tidak bilang bakal pulang semalam ini? Sudah jam setengah sepuluh malam, lho.”
“Maaf, Pa.” Carlos mulai bicara. Kami memang tidak izin bakal pulang semalam ini, yang kami ucapkan hanyalah pergi hingga sore. Aku dan Carlos kini memang sewajarnya merasa bersalah karena telah melanggar jam malam yang sudah disepakati bersama. Namun, kapan lagi bukan kami bisa menikmati musik klasik secara gratis dan menyenangkan. Kapan lagi pula kami bisa memberi dukungan pada seorang teman yang begitu ambisius dengan kegiatan bermusik kesukaannya. Carlos mengajak Mama duduk kembali, dan kini kami berempat duduk di sofa yang sudah ada sejak sebelum Carlos lahir. “Tadi kami diajak makan dulu oleh teman kami. Maafkan kami ya, Pa.”. “Lain kali kabarilah dulu.” Papa berceloteh agak kesal dan tetap berusaha membaca majalah walaupun lampu sudah remang. “Jangan bikin Papa dan Mamamu ini khawatir, dong.”
“Papa nggak apa-apa?” Aku bertanya melihat wajahnya yang lebih pucat dari biasa. Ia pun sedari tadi terbatuk-batuk dengan tidak wajar, yang membuatku menjadi khawatir. Papa menepuk-nepuk jidatnya yang sebetulnya terlihat baik-baik saja. Pria tersebut menarik napas panjang, membetulkan posisi duduknya sambil membalikkan lembar majalah walaupun aku tahu betul ia tidak fokus. “Papa tidak apa-apa, Nak. Hanya sedikit sakit kepala.”
“Pa.” Aku lagi-lagi mengumpulkan keberanian, mengingat hubungan orang tua anak yang sedikit menjauh akhir-akhir ini. Carlos dan Mama juga menatapku, walaupun Mama tidak berhenti menyeruput air putih. Cangkir mereka berdua memang bernilai besar karena Papa-lah yang memberikannya sepasang pada Mama pada kencan pertama mereka. “Nilai aku di sekolah sedikit pas-pasan. Namun akhir-akhir ini ada teman yang belajar bareng dan mendukungku.”
“Baguslah, Kel.” Sambung Mama yang akhirnya buka suara. Rambutnya dikuncir asal namun tidak memudarkan pesona hangat dan lembutnya. Aku terkadang merasa sedih belum bisa melakukan apa-apa yang membuat Mama bangga padaku. Bahkan sepertinya, kerjaanku hanya menyusahkan mereka melulu. Aku selalu bermimpi kapan aku bisa membawa mereka pada sebuah panggung yang membuat mereka bangga karena telah berhasil membesarkan aku. Baiklah, aku harus berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk ujian nasionalku tahun depan. Mama mengelus pahaku lembut, memberikanku sebuah kehangatan yang menyenangkan. “Kalau itu positif, Mama dukung kok. Bertemanlah sebanyak-banyaknya, dan banyaklah belajar tentang apapun dari orang-orang.”
“Ma,” Papa akhirnya mulai berujar dengan nada berat. Aku tahu betul kalau Papa bernada seperti ini, itu artinya pria tersebut sedang serius. Super serius. Papa meminum air putih lagi dan mengeluarkan sebuah surat resep dokter. Tunggu, aku bahkan tidak tahu Papa tadi habis dari rumah sakit? Anak tidak berguna macam apa aku ini, aku pun mulai mengutuk diriku yang sering egois. “Papa sepertinya mulai tifus dan lemas.”
Kami mulai panik dan mengerumuni Papa. Carlos apalagi, anak itu pun bernegosiasi dan memaksa Papa yang terus menolak untuk dirawat di rumah sakit. Dasar Papa, orang itu memang terlalu sok kuat dan meremehkan bantuan orang lain. Carlos dan Mama akhirnya memutuskan untuk menculik paksa Papa yang sudah pusing sejak tadi pagi untuk dirawat di rumah sakit, sementara pandanganku terarah ke televisi. Pembawa acara di televisi sedang sibuk bercerita tentang kasus penyelewengan dana yang dilakukan Agung Hutama, pejabat ternama di Indonesia.
Astaga, aku butuh harmoni-harmoni sebelum aku pulang ke rumah. Mereka tadi adalah sebuah pelarian yang cukup oke untuk meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Ayo Kelly, keadaan saat ini kurang baik, tapi kau harus terus berlari.