Friday, February 17, 2017

Review film: La la Land

Haloo,

Maafkan aku si pemalas ini. Aku selalu menunda-nunda untuk menulis, baik itu untuk blog maupun novel. Rasanya aku selalu kalah dengan bagian iblis dalam diriku yang selalu berbisik untuk bermalas-malasan. But anyways, here I am with this new post.

Dalam tulisan kali ini, aku akan membahas tentang La la land. Wuih, dari judul filmnya saja sudah menarik. Kamu pasti akan sependapat denganku apabila aku menyebut poster ikonik dari La la Land ini sangat cantik.

Gambar diunduh dari link


Di satu sisi, film ini bercerita tentang seorang wanita bernama Mia (diperankan oleh Emma Stone). Ia adalah seorang gadis muda yang bekerja di sebuah kedai kopi. Jauh dalam lubuk hatinya, Mia rindu untuk mengejar mimpinya menjadi seorang aktris. Ia rela meninggalkan pekerjaannya beberapa kali untuk mengikuti audisi. Namun sedihnya, ia tidak pernah berhasil.

Dari sudut pandang yang lain, seorang pianis Jazz bernama Sebastian (diperankan oleh Ryan Gosling) frustrasi karena pekerjaannya yang semakin kacau. Keadaan keuangannya buruk, dan ia harus mencari job  untuk memenuhi kehidupannya dan juga impiannya membangun bar dengan music Jazz.

Pertemuan awal Mia dan Sebastian cukup buruk. Awalnya, mereka saling menjauh dan membenci satu sama lain. Sebastian awalnya ketus sekali terhadap Mia, dan Mia juga kesal dan malah berusaha mempermalukan Sebastian. Hubungan mereka bagaikan Tom dan Jerry, kucing dan tikus legendaris yang terus-menerus berusaha saling menghancurkan.

Gambar di unduh dari link


Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai bermunculan dari hati keduanya. Takdir itu hebat sekali, lho. Mereka selalu bertemu pada momen yang pas, sekeras apapun Mia dan Sebastian berusaha menjauh. Setiap pertemuan itu pun menjadi sesuatu yang bermakna bagi keduanya.

Pada awalnya, alam semesta seolah terus bekerja untuk mereka. Saat keduanya tunduk pada perasaan mereka, Mia dan Sebastian menjadi sepasang kekasih yang saling menyayangi. Sang pria yang mau mendengarkan pasangannya, menjadi landasan tangga Mia untuk terus naik. Begitupun sebaliknya. Sebastian terus berusaha mewujudkan keinginannya dan mencari kebutuhan ekonomi demi mimpi dan masa depannya bersama Mia. Bagaikan mobil dan bensinnya, keduanya saling mendorong dan melengkapi.

Semua terus bergerak maju. Kisah kedua insan ini penuh dengan kemajuan dan juga kemunduran. Ada saatnya keduanya menjadi egois dan saling menyalahkan. Ada masa-masa dimana dua korek yang menyala saling membakar dan merusak. Pada saat itu, dunia seolah-olah menentang keduanya untuk bersatu.

Lucu, ya. Dunia seakan memperlakukan pasangan tersebut seperti mainan.Terkadang mereka di lempar ke atas, dan terkadang pula dijatuhkan dengan begitu kerasnya. Semua memang terasa tidak adil. Seringkali, Mia dan Sebastian tidak pernah tahu apa yang diinginkan dari mereka berdua. Namun mereka terus menciptakan kenangan, bersama-sama. Memori indah tersebutlah yang paling penting.

Walaupun penuh dengan rasa sakit, sebuah hubungan akan membentuk pribadi seseorang menjadi yang lebih baru. Setidaknya, kebersamaan Mia dan Sebastian pernah menjadi landasan tangga bagi satu sama lain dalam meraih impian dan cita-citanya. Keduanya menjadi gas bagi mobil satu sama lain.

Salah satu kelebihan film ini adalah musikalitasnya. Lagu-lagu indah dan menarik berhasil mempermainkan emosiku. Aku tidak akan membocorkan bagaimana akhir dari film musikal La la land ini. Aku harap kalian akan menyaksikan dan menginterpretasikan pendapat kalian di kolom komentar.

Apakah 'mobil yang mereka kendarai' oleh Mia dan Sebastian akan sampai di tempat tujuan dengan selamat? Coba tonton dan nikmati.

Thanks for reading!

 
Show Comments: OR