Saturday, June 13, 2015

Coretan Visual Seorang Bocah

Halo,

Setiap orang pernah muda. Setiap orang pernah lahir dan menjadi bayi yang nggak bisa apa-apa, dan kamu juga pasti pernah menjadi seorang anak berimajinasi liar.

Rasanya itu campur-aduk. Kadang ceroboh sehingga melakukan kesalahan yang membuatku diomeli habis-habisan, kadang juga menjadi anak baik yang dipuji kerabat. Bahkan, nggak jarang aku menangis akibat keteledoran dan kepolosanku.

Aku, sebagai seorang bocah, menorehkan imajinasiku pada beberapa buku, aku menyebutnya sebagai Visual Note. Keduanya sahabatku yang bisa kuajak kemana pun aku pergi. Aku bercerita dan tertawa pada mereka, dan sampai saat aku mengetik ini, aku masih bisa merasakan sensasinya.


Biarkan aku cerita sedikit tentang goresan sang bocah ini.

1. Sammie, adik imajinerku.



Kenalkan, ini aku dan 'adik'ku. Saat itu aku adalah awal-awal aku tinggal di Belanda, dan tanteku menghadiahkan sebuah boneka untuk menceriakan aku kembali. Ia membelinya di Jerman saat tengah mengunjungi kerabatnya. Dan aku saat itu berjanji untuk merawatnya dengan baik, botol susu palsu yang juga diberikan selalu kuberikan padanya.

Yah, aku memang punya adik sungguhan, tetapi yang ini bisa kurawat sesuka hatiku. Nah, Sammie ini juga bisa bersuara lho! Biasanya yang terdengar adalah suara tangisan ataupun tawa.

Adik manis ini menjadi bagian dari pembelajaranku akan tanggung jawab.

2. Perjalanan-perjalanan yang kualami.


 Saat aku ke Barcelona, aku menaiki sebuah gunung. Tinggi sekali, dan aku yang masih polos memang belum takut. Mamaku, yang memang panikan, ketakutan. Ia menolak dengan khawatir saat Papaku memintanya foto. Nah, adegan yang ku gambarkan tersebut memang terjadi literally


Ini adalah saat-saat aku bermain ke kebun binatang, Aku menggambar semua yang kulihat, dan inilah salah satunya. Kuda nil yang menjalankan kehidupan mereka dibalik layar kaca seperti biasa, kuanalisa sebisaku. Ada yang sedang dibawah air, ada yang sedang tidur.


Ini adalah saat aku ke monumen perbebasan di Berlin, Jerman. Saat itu aku memang nggak ngerti tentang sejarahnya, namun sangat menarik! Aku bukan sejarawan, namun aku mencoba men-share apa yang aku tahu.

Jadi, di Jerman pernah ada perang dingin dan Berlin terpecah menjadi Berlin Timur dan Berlin Barat. Dibatasi oleh sebuah tembok bernama Tembok Berlin, kedua pihak warga kota tidak bisa saling mengunjungi, dan apabila ia menyelundup untuk ke daerah lawannya, ia akan ditembak dan dihukum. 

Pada akhirnya, perang dingin usai dan tembok Berlin diruntuhkan. Sebuah monumen perbebasan pun dibangun, dan Berlin, yang akhirnya dijadikan ibukota, bersatu kembali.

Menara Eiffel di Paris.

3. Keluargaku, The Uranus




 Jadi, aku berharap mereka nggak marah kugambarkan sedemikian rupa. Mereka-lah yang mengisi hari-hari aku yang suka bertingkah konyol. Di keluarga Uranus, kebersamaan dijunjung paling tinggi. Ulang tahun setiap anggota keluarga nggak pernah terlewatkan dan dirayakan dengan sederhana namun bermakna.



Masing-masing memiliki keunikan masing-masing, kadang menyebalkan dan kadang menyenangkan. Papaku hobi memfoto di setiap objek hingga kami semua kelelahan. Mamaku benci jika ada sesuatu yang tidak rapi. Adikku saat itu sering menangis dan menggangguku. Aku sendiri sangat berantakan dan sering mengejek adikku.

 Kejadian paling parah adalah aku yang menonjok pipi sang adik hingga gigi susu milik bocah berkacamata itu patah sebelum waktunya.
 
Wawancara Eksklufif dengan Papa.



Berikut ini adalah wawancaraku dengan Papa karena terlalu penasaran dan sok jadi jurnalis.

H: Binatang kesukaan?
P: Kelinci.
H: Penyanyi kesukaan?
P: Inul.
H: Teman baik?
P: Trisyanti. (Mamaku)
H: Impian?
P: Jadi orang hebat.

Yah, aku memang seorang anak yang kurang kerjaan. Tapi, itu jugalah yang membuat kami berbeda dan ramai.

_____________

Goresan tangan akan lebih membawa memori dari pada sekedar foto digital, menurutku. Aku bisa mengingat peristiwa dan segala hobiku, karena tanganku sendiri yang mengalaminya.

Sampai sekarang aku memang nggak bisa menggambar dengan baik, tapi setidaknya, aku pernah menggambar dengan sepenuh hatiku. 

Bukan untuk tugas, tapi untuk diriku sendiri.
Show Comments: OR